Archive | Social Media RSS feed for this section
Link

Salingsilang.com Pamit Undur

Pengumuman tentang Salingsilang.com resmi ditutup di Beritagar.

Taking a bow.

Comments { 0 }
Link

Blog Menggugat Cocologi

Blog yang “Mendukung pemikiran kritis dan menolak kebohongan”

http://cocologi.tumblr.com/

Menarik dan informatif, karena terlalu banyak Cocologi disekeliling kita, apa itu Cocologi, rasanya kalau saya ga salah Cocologi adalah ilmu yang memaksakan agar satu hal dicocokkan dengan hal yang lain.

Blog Cocologi juga menuliskan bahwa salah satu tujuan dari blog ini adalah untuk Mendukung perilaku beragama yang cerdas, progresif, dan tidak delusif

Mengutip Carl Sagan: “Klaim luar biasa membutuhkan bukti yang luar biasa pula”

Kunjungi blog Menggugat Cocologi sekarang juga! :D

Comments { 1 }
Link

Panduan Media Sosial bagi Partisipan Olimpiade dari IOC

Penyelenggaraan event aja pake social media guidelines sekarang ini.

Guidelines-nya bisa diunduh di (pdf): http://www.olympic.org/Documents/Games_London_2012/IOC_Social_Media_Blogging_and_Internet_Guidelines-London.pdf

…So, while the organization is encouraging athletes to blog, tweet and use Facebook during the games, it has also issued guidelines that must be followed by participants…

via Olympic Social Media Guidelines Muzzle Athletes.

Comments { 0 }
Link

[Link] What’s the Secret to Viral Success?

“The secret to [BuzzFeed’s] viral success is to find stuff that’s already a minor viral success and make it better,” Manjoo wrote. “Repeat the process enough, and you’re bound to get a few mega-hits.

“That’s not genius. It’s a machine.”

via What’s the Secret to Viral Success? It’s So Obvious – The Atlantic.

Comments { 0 }

Tentang Internet, Media Sosial dan Demokratisasi di Indonesia

Keynote Speech di acara  “65 Tahun Ranesi: What’s Next?

Internet dan Media Sosial untuk Demokratisasi

14 Juni 2012 | Erasmus Huis Jakarta

Enda Nasution (@enda)

I.

Internet dan teknologi digital bukanlah hal yang baru di Indonesia, penggunaan Internet sudah mulai sejak pertengahan tahun 90an, blogging sudah hadir sejak awal tahun 2000. Saya beberapa teman lain sudah mulai ngeblog sejak tahun 2001, email dan forum sudah hadir lumayan lama, Apakabar.Net adalah milis pertama yang hadir saat itu dan digunakan untuk berdiskusi dan berdebat tentang isu politik dan sosial.

Tapi dalam perjalanannya, tidak pernah kita lihat hingga sekarang, teknologi ICT ini di elu-elukan sebagai pembawa perubahan, sosial, politik, hingga ketika jejaring sosial dan media sosial, hadir di akhir dekade 2000an.

Kehadiran Facebook dan kemudian Twitter, dipicu oleh platform baru lagi yaitu mobile dan kamera digital, membuat media sosial hadir dalam setiap kesempatan, memproyeksikan pikiran paling pribadi dan memindahkannya ke ruang publik untuk kemudian kita konsumsi sebagai konten.

Tidak pernah dalam sejarah umat manusia, kita melihat ledakan konten digital, di seluruh dunia, dari ratusan juta dokumentasi foto, hingga rekam jejak digital anak-anak muda yang secara obsesif mencatat tempat dimana kita hadir, mengingat setiap kegiatan yang kita lakukan dan menangkap setiap pikiran yang terlintas.

Khususnya di Indonesia, Indonesia adalah negara ke 4 pengguna Facebook di dunia dengan 42 juta akun, negara ke 5 dgn akun Twitter terbanyak, dengan 19 juta akun dan teraktif ke 3 di dunia setelah Amerika Serikat dan Brazil. Indonesia memproduksi 1.5 juta twit per hari dan tidak berhenti ngetwit sepanjang minggu, dari senin hingga senin lagi.

Facebook adalah untuk menyimpan teman lama, istri dan keluarga katanya, sedang Twitter adalah untuk mencari teman baru, pacar dan gebetan rupanya.

Generasi muda, pengguna media sosial yang 90% berusia di bawah 35 tahun, yang mana baru hanya 20% dari total populasi Indonesia ini, setiap harinya bertukar informasi, bersinggungan bahu dengan para pengambil keputusan, politisi, mentri, pebisnis, budayawan, penulis, figur-figur media, jurnalis yang juga aktif di Internet. Mereka menyajikan resep baru interaksi dengan cita rasa digital yang dilahap dengan penuh selera.

Tidak diragukan lagi, kita tengah berada kembali di tengah persimpangan sejarah, perubahan media yang terjadi terakhir ketika teknologi broadcast hadir dalam bentuk televisi dan radio, dan memberikan kita kata mass media, kini hadir dalam bentuk, format, karakter dan kebiasaan yang lebih powerful lagi, selalu menempel, personal, sosial, always on dan memberi kita kata social media.

Media sosial pun kemudian diberikan kredit sebagai pihak yang telah mencampuradukkan ruang publik dan ruang pribadi, membuat semua orang bisa menjadi jurnalis, memaksa brand dan korporasi untuk mendengarkan konsumen, mengorganisir protes, menggulingkan pemerintahan, menaikkan kandidat ke tampuk pemerintahan dan juga menurunkan diktator

Banyak janji yang dibawa oleh Internet dan teknologi digital ini. Janji akan perubahan adalah salah satunya.

Dan setiap perubahan pasti membawa kebingungan, tapi setiap perubahan juga membawa harapan yang baru.

 

II.

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah mengapa media sosial, secara khusus, begitu marak di Indonesia?

Beberapa alasan khusus bisa diatributkan pada pertumbuhan ekonomi positif dimana dgn GDP per capita yang bergerak dari US$ 3,000an menuju 5,000an, membuat masyarakat Indonesia dapat berbelanja kebutuhan informasi, telekomunikasi dan alat elektronik

Penyebab lain adalah terjaganya, hingga tingkatan tertentu, kebebasan berpendapat dan berekspresi, termasuk di dalamnya kebebasan media. Ini memungkinkan orang untuk bebas berkomunikasi di media sosial.

Tapi sebab yang paling penting adalah dari sisi budaya, masyarakat Indonesia yang adalah masyarakat kepulauan dan pesisir terbiasa dan memiliki dasar kebudayaan yang terbuka, sosial, mudah beradaptasi dan nyaman berkomunikasi dengan siapapun

Kejayaan pelaut Indonesia, didasari oleh kemampuan kita menguasai lautan tapi juga didorong oleh budaya eksplorasi, sosialisasi dan adaptasi dengan adat, kebiasaan, bahasa di pulau-pulau yang disinggahi di sepanjang jalan.

Jadi laut adalah medium sosial Indonesia di masa kerajaan-kerajaan kuno, kini teknologi digital menggantikan fungsi laut tersebut, mempersatukan kepulauan yang tersebar di sepanjang nusantara, menyatukan dan membagikan ide, informasi, mimpi dan cita-cita yang kita miliki bersama.

 

III.

Sejak gerakan Koin Keadilan untuk Priya Mulyasari, Indonesia Unite dan 1 juta Facebooker untuk Bebaskan Bibit Chandra diakhir 2009 dan 2010, media sosial dijadikan sebagai alat gerakan sosial yang efektif untuk melawan ketidakefektifan.

Generasi baru yang aktif, gaul, sadar teknologi menjadikan media sosial amunisi dan senjata mereka untuk berkumpul, mengambil inisiatif dan melakukan sesuatu terhadap masalah sosial yang mereka lihat disekeliling mereka, tanpa harus bergantung atau meminta izin pada otoritas manapun.

Dari gerakan Suara Pemuda Anti Korupsi, hingga ke gerakan Selamatkan Ibu, Ayah ASI, mengumpulkan sampah, berdiet kresek hingga mengawasi media yang berat sebelah dan tidak adil. Dari Akademi Berbagi di bidang pendidikan hingga Indonesia Berkebun yang memanfaatkan lahan kota yang terlantar dan mengubahnya menjadi kebun produktif

“Lupakan pemerintah dan negara, kami akan membereskan masalah yang ada di negri ini”, mereka bersuara.

Lewat media sosial kami berkampanye, membagikan informasi dan menyebarkan kesadaran tentang berbagai isu. Menggunakan media sosial kami membuat komunitas, mengumpulkan dana, berjejaring, mengorganisir diri, mencolek media untuk membantu, mendukung dan membahas kami

Kami mengkombinasikan kecepatan informasi dan kolaborasi di dunia maya dengan interaksi, pertemuan dan tindakan di dunia nyata. Kami mengkombinasikan jangkuan online dan kekuatan offline.

Ada sebuah ketidakpedulian yang didasarkan pada keputusasaan melihat bagaimana proses pemerintahan dan politik berjalan saat ini. Ada keenganan untuk berurusan dan ketakutan untuk membuang waktu tanpan bisa berbuat sesuatu, ketika harus melibatkan sistem.

Walau bagaimanapun gerakan media sosial dan penggunaan Internet untuk perubahan sosial bukannya tanpa kritik.

Clickactivism katanya, aktifisme yang mengandalkan klik, fans dan follow, tidak menghasilkan perubahan nyata dalam konstelasi sosial politik.

Dan kritik diatas benar, hilangnya kepercayaan pada proses politik dan riuh rendahnya proses demokrasi membuat gerakan generasi baru ini menghindari politik sebisa mungkin.

Tapi perlu disadari juga bahwa gerakan-gerakan perubahan hanya akan membawa kebaikan hingga tingkat tertentu dan lokasi yang terbatas, pada akhirnya konflik dan perbedaan pendapat memerlukan proses politik yang sehat dan kuat, agar masalah bisa selesai, dan keputusan bisa diambil tanpa harus disertai kebencian yang berlebihan

Kemajuan sosial lambat terjadi dan maju hanya sedikit tanpa kemajuan politik

Gerakan sosial membawa kita maju dan memberikan kepercayaan diri untuk menyelesaikan masalah, tapi tanpa niat dan keingingan untuk berhadapan dan mengkonfrontasi masalah nyata seperti korupsi, pemilu, pembuatan dan penerapan hukum, ketidakadilan, kemiskinan, secara nyata maka tidak banyak hasil yang bisa kita harapkan pada akhirnya.

Kritik ini sesuatu yang makin disadari oleh para aktifis dunia digital dan pelaku perubahan media sosial. Hal yang paling signifikan dari hadirnya media sosial adalah munculnya keyakinan bahwa siapun kita, dimanapun kita, jika kita mau, kita bisa melakukan sesuatu dan turut membantu.

Generasi muda digital sekarang, sudah puluhan kali lebih jagoan mencari informasi dan menyebarkan informasi, ratusan kali lebih aktif bertukar pikiran dan menyuarakan pendapat mereka, ribuan kali lebih yakin akan kemampuan yang mereka miliki.

Dengan Intenet dan media sosial, kita memiliki alat untuk melakukan perubahan, tapi kita membutuhkan insan-insan perubahannya didalamnya.

Kita memiliki alatnya, kita tahu bagaimana melakukan perubahan, PR pekerjaan masih menumpuk, kita sadar bahwa perjalanan masih panjang DAN kita baru saja mau berangkat.

 

IV.

Keluar dari isu demokratisasi dan politik, mari kita tetap sadari bahwa media sosial adalah tentang tentang percakapan antar manusia, antar kita. Dimana didalamnya akan bercampur baur antara informasi, emosi, perasaan tapi juga data serta fakta. Kita menikmatinya sebagai kebutuhan untuk tahu tapi juga sebagai kebutuhan untuk terlibat. Untuk berada di dalamnya.

Internet dan media sosial mengubah serat dan tekstur hubungan sosial kita, antara ayah dan anak, antara teman dan sahabat, antara guru dan murid. Media sosial juga mengubah posisi dan hirarki antara antara media dan audiens, antara brand dan konsumen dan antara rakyat dan penguasa.

Perubahan ini tengah terjadi dan belum selesai, kita beruntung berada didalamnya, kita dapat membentuknya, kita dapat mengarahkannya, kita dapat menggunakannya untuk kebaikan kita bersama, untuk Indonesia yang lebih partisipatif, Indonesia yang lebih majemuk, untuk Indonesia yang lebih demokratis, untuk Indonesia yang lebih baik.

Terima kasih.

Comments { 8 }
%d bloggers like this: