Why Facebook is Killing Silicon Valley

Link

Worth to link if only to read the JFK quote at the beginning. 😀

We choose to go to the moon in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard, because that goal will serve to organize and measure the best of our energies and skills, because that challenge is one that we are willing to accept, one we are unwilling to postpone, and one which we intend to win… –John F. Kennedy, September 1962

Full post here: Why Facebook is Killing Silicon Valley

Tentang Twitter Khusus Orang-Orang Keren

Di bawah ini mencatat kembali apa yang saya twitkan kemarin tentang sesuatu yang sama dengan judul diatas.

https://twitter.com/#!/enda/status/164719004068495360

https://twitter.com/#!/enda/status/164719222453317632

https://twitter.com/#!/enda/status/164719423276580865

https://twitter.com/#!/enda/status/164719598963408896

https://twitter.com/#!/enda/status/164719758313406466

https://twitter.com/#!/enda/status/164720068431847424

https://twitter.com/#!/enda/status/164720288179822592

https://twitter.com/#!/enda/status/164720503557337088

https://twitter.com/#!/enda/status/164724267987116032

https://twitter.com/#!/enda/status/164720691747373057

Weekend di The Papandayan

Kalau hujan hanyalah tetesan air, maka kenapa dia mengubah perasaaan begitu dalam?

Mungkin bukan airnya, tapi payung-payung dan genangan air yang muncul tiba-tiba, membuat kita harus melompat. Mungkin bukan lompatannya, tapi kaki yang basah dan cipratan air yang mendinginkan hati.

Dimana tempat parkir yang kosong di hotel ini, oh itu aku sudah melewatkannya, kita harus berbalik kembali sayang. Aku suka berada di mobil saat hujan turun, kering dibalik jendela, seperti menonton sebuah acara realiti tivi.

Mari kedatangan kita sudah ditunggu, sayang. Aku membuka payung, menggandeng tangannya, mengarahkan jalannya agar tidak terlalu jauh dari payung yang kupegang.

Aku melihat ke atas, kau lihat itu sayang? Langit Bandung yang abu-abu, dengan awan yang tidak mau hilang. Dengan awan yang tidak mau berganti.

Handphone-ku bergetar kembali. “Sudah sampai dimana Pak?” tertulis dalam pesan yang masuk. Sudah sampai di lobby jawabku dalam hati, aku tidak perlu menjawabnya lagi, kita sudah sampai disini, dan kehadiranku akan menjawab pertanyaan itu dengan sendirinya.

Bandung, menghadirkan kenangan, kamu tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Dia merampas sebagian dirimu dan menjebaknya. Membuatmu jadi bagian dari dirinya.

Tujuh juta orang tinggal di kota yang dulunya danau kuno ini, dikurung oleh pegunungan, kota terbesar ke-3 di Indonesia, 768 m diatas permukaan laut, didirikan oleh bos perkebunan Belanda, dipersamakan dengan kota Paris di Jawa. Dengan kata lain, inilah dia, rumah.

Adalah kelembutan di telapak kaki dari permadani yang tebal yang mengingatkanku lagi. Aku pernah berada di hotel ini.

“Selamat datang Pak di The Papandayan Hotel“, terima kasih, aku menjawab dengan tersenyum. Lihat sayang, kita sudah sampai.

The Papandayan Hotel adalah salah satu hotel bintang 5 di Bandung yang menawarkan kenyamanan dan keramahan, dan baru selesai di renovasi. Bapak bisa tunggu sebentar di sini, kami akan ambilkan kunci kamar Bapak.

Kau dengar sayang? Mereka akan mengambilkan kunci kamar kita.

“Bapak hanya berdua?” aku tidak menjawab pertanyaan itu. Kita hanya berdua sayang? Kamu mengangguk dan menggeleng. Pilih salah satu.

Hujan belum berhenti. Hanya guruh dan guntur yang sudah berkurang.

Mari kita langsung naik ke lantai 5 saja Pak, ada Executive Lounge di sana, dan kamar Bapak pun sedang kami siapkan di lantai 5, Executive Floor.

“Hotelnya bagus” aku pun berkata sambil kami berjalan. “Renovasinya sudah selesai ya?”, aku melanjutkan sambil melirik mencari-cari kamu, kemana kamu sayang?

Iya pak, sekarang sudah lengkap. Yang istimewa juga di The Papandayan adalah Cantigi Fine Dining, restoran yang menyajikan konsep Fine Dining, satu-satunya di Bandung. Selain fasilitas lain tentunya.

Terima kasih. Rasanya kami akan baik-baik di sini.

Hujan sudah berhenti, masihkah baunya sama ketika hujan berhenti? Bau asap basah dan rumput. Bau kenangan yang bersembunyi.

Silahkan pak, ini kamarnya, Executive Suite, kamar tidur dengan king size bed, dengan ruang tengah yang juga ada tivinya. Dua tivi, dua kamar mandi. Dan untuk Bapak kami bukakan juga connecting room dengan twin bed, jadi total ada 3 ruangan di Executive Suite ini yang bapak bisa gunakan.

Semuanya tampak nyaman ya kan sayang? Elegan, nyaman dengan sentuhan kemewahan. Rasanya kami akan baik-baik di sini.

Perfect room for perfect weekend. Salahkah kita sayang kalau kita tidak pernah keluar lagi dari kamar ini? Meninggalkan dunia, meninggalkan hujan. Bersembunyi dari daunnya yang basah dan mahkotanya yang berduri.

Maukah kamu sayang?

“Bapak hanya berdua?” kembali pertanyaan itu lagi.

Aku mengambil key card dari tangannya dan berbalik melihat cermin.

Melihat wajahku di situ, melihat kamu sayang, melihat wajahmu yang tersenyum, maka aku pun menjawab.

Tidak kami bertiga, ada yang masih kami tunggu. Aku pun tersenyum. Hujan sudah berhenti.

Kamu memandangku dan matamu pun kini tersenyum dan berkata: “Iya kami selalu bertiga. Papa, Mama dan Gaga, kita kan bertiga terus ya Pa? 😀

 


Beberapa weekend yang lalu, atas undangan The Papandayan Hotel Bandung, gue, Nita dan Gaga sempat merasakan tinggal di hotel tersebut, setelah tinggal di sana gue bisa bilang it is highly recommended to stay there untuk kamu yang ingin merasakan sesuatu yang berbeda di Bandung. 😀

Info lengkapnya:

The Papandayan Hotel