Semua laki-laki pembohong!

Aside

liar-paradox.jpg

_A man says that he is lying. Is what he says true or false? –Eubulides, 4th century BC_
Abis baca judul diatas, kamu-kamu yang cewek pasti dengan semangat berkata “iya tuh!”, sedang kamu-kamu yang cowok paling tersenyum simpul dengan sorot mata ga bersalah sambil bersiul-siul “duu duuu duuu duuu” :p
Hehe, tapi sebelum kamu semangat ngasih komentar setuju atau ga setuju, coba kita garuk lagi pernyataan diatas.
Ketika saya menulis: “Semua laki-laki pembohong!” maka ada sesuatu yang aneh disitu, karena:
1. Saya seorang laki-laki
2. Saya berkata _semua_ laki-laki pembohong
Maka dari dua elemen diatas terlihat kalimat “semua laki-laki pembohong” pun adalah sebuah kebohongan karena yang mengucapkannya adalah seorang laki-laki.
Artinya, semua laki-laki pembohong itu adalah bohong = semua laki-laki bukan pembohong?
 
Paradoks diatas dikenal luas diungkap oleh seorang filsuf dan penyair Yunani bernama *Epimenides* yang hidup diabad 6 sebelum masehi.
Epimenides, seorang Cretan, dilaporkan berkata: _The Cretans are always liars._
Karena dia sendiri seorang Cretan, dan semua orang Cretan menurut dia adalah seorang pembohong, maka pernyataan _Orang cretan selalu berbohong_ adalah juga tidak benar.
Contoh paling sederhana lain dari paradoks yang sama adalah kalimat:
_Pernyataan ini salah_
Kalo pernyatan diatas benar, maka seharusnya kalimat diatas mengandung kebenaran, tetapi kalimatnya sendiri sudah berkata bahwa kalimat tersebut salah. Maka pernyataannya jadi benar atau salah?
Kalau saya berkata _”Saya berbohong”_, maka apakah saya sedang berbohong bahwa saya bohong?
Kalo saya berkata _”Jangan pedulikan kalimat ini”_, maka apakah saya harus peduli pada peringatan jangan pedulikan kalimat tersebut?
Kita tidak bisa 100% berkata bahwa kalimat diatas salah atau benar. Yang terjadi adalah kontradiksi, karena sebuah kalimat bisa benar sekaligus salah dan bisa salah sekaligus benar.
Kalau begitu mana yang benar? Dan mana yang salah?
Hal yang paling mengganggu dari paradoks yang dikenal dengan nama “Epimenides Paradox”:http://en.wikipedia.org/wiki/Epimenides_paradox atau “Liar Paradox”:http://en.wikipedia.org/wiki/Liar_Paradox ini adalah karena ia menunjukkan bahwa kepercayaan yang kita pegang erat tentang mana yang benar dan mana yang salah ternyata membawa kita pada sebuah _kontradiksi_.
 
Tulisan “This is Not the Title of This Essay”:http://singlenesia.com/eris/selfres mencoba menjawab bahwa masalah dari *Liar Paradox* adalah _self-reference_.
Paradoks terjadi karena kita mengambil referensi dari diri kita sendiri.
_Apa yang saya katakan salah_, maka pertanyaan salah ini mengambil referensi dari kalimat itu lagi.
Paradoks diatas jadi masalah besar, terutama buat para matematikawan, dimana dunia adalah 0 dan 1 dan, sebuah pernyatan harus punya nilai jelas antara True (T) atau False (F).
*Kurt G?del*, di tahun 1931, menjelaskan problema _self-reference_ diatas dalam sebuah teorema yang dikenal dengan nama “G?del’s Theorem”:http://en.wikipedia.org/wiki/G%C3%B6del%27s_incompleteness_theorem, yang mengatakan:
_To every ω-consistent recursive class χ of formulae there correspond recursive class signs r, such that neither v Gen r nor Neg(v Gen r) belongs to Flg(&chi) (where v is the free variable of r)_
Teorema G?del yang terlihat persis seperti sebuah paradoks sendiri (karena sumpah saya ga ngerti apa maksudnya hehe), pada intinya berkata bahwa niscaya kamu akan bertemu dengan kontradiksi kalo kamu melakukan _self-reference_ atau kalaupun kamu melakukan _self-reference_ pastikan kamu tahu bahwa itu adalah _self-reference_:) (btw jangan percaya sama G?del hehe)
 
Lalu buat kita yang bukan matematikawan dan bukan G?del apa artinya *Liar Paradox* ini?
Ada dua artinya.
*Pertama*, bahwa permasalahan ini adalah masalah khas manusia karena cuma manusia yg punya _consciousness_, dan cuma mahluk ber-[_consciousness_] yang bisa berbohong.
*Kedua*, berhati-hatilah ketika ada orang atau pihak yang meng-claim memiliki kebenaran dan benar 100% sehingga semua yang lain salah. Karena sudah kita sama-sama tahu bahwa benar dan salah adalah sebuah kontradiksi
Yang penting bukan *benar* atau *salah* karenanya, yang penting adalah _[*percaya*]_.
Tidak penting apakah kita benar dan dia salah, yang penting adalah ketika kita percaya kita benar (percaya? hehe).
Makanya, ketika kita berhadapan dengan sesuatu cuma ada dua hal yang bisa kamu lakukan.
_Percaya_ itu benar. Atau percaya itu salah.
Atau.
Kamu bisa lakukan apa yang saya lakukan, tersenyum simpul dengan sorot mata ga bersalah sambil bersiul-siul “duu duuu duuu duuu” :p
 

Hikikomori

Aside

hikikomori.jpg

_?Solitude is fine, but you need someone to tell you that solitude is fine.? –Honore de Balzac_
Baru-baru ini New York Times menurunkan artikel dengan judul “[“Shutting Themselves In”:http://www.nytimes.com/2006/01/15/magazine/15japanese.html]” yang bercerita tentang fenomena sosial di Jepang, dimana saat ini diestimasi ada 1 juta remaja, kebanyakan laki-laki di Jepang melakukan Hikikomori yang secara literal berarti _withdrawal_ atau menarik diri.
Pada prakteknya para Hikikomori ini, yang rata-rata berusia 13-15 tahun, pada suatu hari masuk ke kamar mereka dan tidak mau keluar lagi hingga bertahun-tahun yang pada banyak kasus bertahan hingga lebih dari 10 tahun.
Masuk kamar dan tidak keluar lagi. Meninggalkan dan menutup diri dari dunia luar. Kebanyakan menghabiskan waktu dengan bermain game atau musik, atau menghabiskan waktu di depan komputer dan entah apa lagi yang mereka kerjakan di dalam kamarnya.
Hikikomori dimungkinkan salah satunya karena budaya Jepang yang memungkinkan seorang anak untuk tinggal bersama orang tuanya melewati masa remaja [familiar ya], dan juga karena pekerjaan orang tua memungkinan mereka untuk menghidupi anaknya tersebut.
Di sisi lain ada kekhawatiran orang tua bahwa sang anak tidak akan bertahan hidup diatas kaki mereka sendiri. Apa yang terjadi jika sang orang tua tidak bisa menghidupi para Hikikomori lagi? Para Hikikomori tidak memiliki teman, pengetahuan dan keahlian untuk hidup bersama orang lain, atau untuk mencari penghasilan mereka sendiri.
Tekanan lingkungan, terutama di sekolah, dan juga tekanan dari orang tua dan masyarakat disebut sebagai penyebab utama Hikikomori terjadi. Mereka yang tidak tahan lagi dari tekanan-tekanan ini kemudian melakukan Hikikomori, sebagai bukan suatu solusi, tapi mungkin sebagai upaya melarikan diri dan lari dari tekanan hidup.
*Terus terang gue bisa ngerti* perilaku Hikikomori. Berkali-kali gue melakukan Hikikomori dalam versi gue sendiri. Untungnya periodenya sangat pendek. Biasanya satu atau dua hari. Saat gue ngerasa udah males banget, lakukan Hikikomori, ga pergi sekolah atau ga ngantor. Dan, alhamdulillah besoknya gue ngerasa bisa lagi menghadapi dunia. Ga sampai Hikikomori sampai bertahun-tahun.
Tapi yang pasti proses _withdrawal_ itu gue lakukan.
Hikikomori karenanya jadi fenomena yang cukup khusus ke terjadi ke cowok karena cowok rasanya ga punya kebutuhan besar untuk berbagi tekanan yang dirasakan seperti cewek. Cukup didiemin aja dan mudah-mudahan bisa hilang. Lari. Lari dari tanggung jawab dan lari dari kenyataan.
*Yang menarik di dunia online* kamu bisa melakukan Hikikomori lebih mudah. Tidak perlu proses masuk kamar. Jika tekanan dunia online sudah terasa sangat berat, belum lagi ditambah informasi _overload_ kamu bisa tinggal lari dan meninggalkan identitas online kamu: *Hikikomori Online*.
Dan mungkin muncul dengan identitas online baru, tanpa beban dan tekanan dari identitas yang lama. Fresh, seperti baru lahir.
*Di dunia International*, mungkin Hikikomori juga ya yang terjadi pada beberapa negara yang merasa: _”Perlu ga sih gue bergaul dan menerima tekananan dari banyak negara lain?”_ Apa ga bagusnya gue menutup diri aja, lari dari kenyataan sekitar? Kuba, Myanmar, Iran, Korea Utara: *Hikikomori Bangsa*.
Mungkin Indonesia perlu melakukan Hikikomori barang setahun dua tahun. Lupakan dunia luar sementara dan kerjain apa yang bisa dikerjain sendiri dengan sumber daya sendiri. Akankan jadi lebih baik atau lebih buruk saat kita keluar nanti?
*Atau perlukah kita* yang melakukan Hikikomori dari Indonesia? Mungkin itu sebuah bentuk yang gue dan teman-teman di luar negri lain lakukan.
Minggu lalu gue bercakap-cakap di Bangkok dengan seorang seorang teman yang akan bekerja di Vietnam. Hidupnya sudah lumayan stabil di Jakarta sebenarnya, mobil, rumah dan pekerjaan serta salary bagus. Entah kenapa menurut dia kok rasanya capek banget hidup di Jakarta.
Mungkin, gue mencoba menebak dan menjawab kebingungan dia, karena elu ga bisa cuek sama sekeliling elu. Setiap ada berita kriminal, kemiskinan, bencana alam, ketidakberesan, seketika itu pula terasa bahwa yang terjadi itu merupakan bagian dari identitas elu sendiri.
Di sini, di Bangkok. Gue _bisa memilih_ untuk ga peduli kalo pemerintahnya korupsi. Kalo ada bencana alam, kalo ada yang ga beres, kalo ada yang kacau, karena gue cuma numpang disini bukan pemilik. Tekanan lingkungan itu lebih sedikit di sini karenanya.
Kalo elu pemilik elu ga bisa cuek. Kalo elu numpang elu bisa.
Atau kalo elu pemilik yang _serasa atau berasa numpang_ elu bisa cuek dan lari dari tekanan.
Masalahnya sekarang, dia cerita lagi, gue ga yakin sebenarnya apa gue pemilik apa bukan?
Mungkin elu perlu melakukan Hikikomori kata gue.
Apa tuh? Dia bertanya.
Menutup diri.
Menutup diri dari diri sendiri?
Hikikomori Otak.
 

Konflik

Aside

conflict.jpg

_Pick battles big enough to matter, small enough to win. –Jonathan Kozol_
Kalo kamu ga ada kerjaan wiken ini, gue saranin untuk membaca buku yang judulnya “The Naked Ape”:http://www.amazon.com/gp/product/0385334303/102-9272347-0764914?v=glance&n=283155. karangan Desmond Morris. _Highly recommended and amusing reading_, The Naked Ape yang ditulis tahun 1967 dan bercerita tentang Manusia (dengan M besar) dari sudut pandang seorang _zoologist_.
Dari banyak hal yang menarik di buku tersebut, satu topik meloncat dari halaman buku dan nempel di kepala gue. Topik tersebut adalah tentang anatomi konflik yang dihadapi oleh sang “kera telanjang”.
*Desmond Morris* menulis bahwa CUMA ada dua jenis konflik di _animal kingdom_ yaitu jenis *konflik teritorial* dan *konflik hirarkikal*.
Karnivora yang hidup di dataran luas, seperti singa, macan, dan serigala _hanya_ memiliki jenis konflik teritorial sedang primata, seperti monyet, kera, simpanse, gorila dan keluarganya _hanya_ memiliki jenis konflik yang berhubungan dengan hirarki di kelompoknya atau hirarkikal.
Manusia, sebagai keluarga primata yang meninggalkan pepohonan dan hidup di dataran terbuka serta mengadopsi gaya hidup karnivor memiliki _kedua_ jenis tipe konflik tersebut sekaligus.
*Konflik teritorial* adalah jenis konflik yang paling umum dan sudah berlaku sepanjang sejarah. Perang antar negara mempertahankan daerahnya [teritorinya] adalah contoh jelas dari jenis konflik ini.
Jenis konflik ini dan perilaku manusia sehubungan dengan teritorinya sangat tertanam dalam. Itu mengapa kita memagari rumah kita dan mengapa konsep “rumah” adalah sesuatu yang penting. Bandingkan dengan komunitas kera yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Bayangkan tipe konflik ini ketika kamu dengar preman saling meng-[_claim_] teritori mereka.
Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Konflik teritorial terjadi dalam bidang kepakaran dan ilmu. Seorang insinyur tidak seharusnya berbicara tentang politik karena itu bukan bidangnya. Sebaliknya pakar politik merasa gerah kalo seorang lulusan teknik sipil bicara politik.
Bayangkan tipe konflik ini kalo nanti kamu dengar kalimat-kalimat: “Ini urusan saya, kamu jangan ikut campur”. “Militer ngurusin militer dan sipil harus diurus sipil” dan _”Untuk mu agamamu dan untuk ku agamaku.”…_
Kekuasaan atas satu area atau teritori jadi sesuatu yang sakral, _worth fighting for_, _bahkan worth dying for._
 
*Konflik hirarkikal* ([_tolong polisi EYD bener ga nih hirarkikal? hehe_]), adalah sumber konflik yang kedua. Setiap sistem primata memiliki *mahluk dominan* di dalamnya. Dalam kelompok simpanse atau kera _the big bad hairy chimp_ punya paling banyak akses ke _chimp babes_ tapi dia juga yang bertanggung jawab atas keselamatan kelompoknya.
Begitu juga pada manusia, hirarki adalah sesuatu yang intrinsik dalam kehidupan kita. Ada mereka yang dominan dan ada mereka yang tidak begitu dominan dalam masyarakat kita. Ada kelompok yang dominan dan ada kelompok yang suka bermain kartu domino.
Kalo dominasi dalam komunitas kera didasarkan pada otot, maka dominasi di sistem manusia didasarkan pada beberapa hal. Kadang otot, kadang otak, kadang umur (senioritas) tapi *umumnya uang*….
Konflik tipe ini terjadi ketika ada yang melawan struktur hirarki yang sudah ada. Ada kera-kera muda yang coba-coba ngetes kekuatan sang kera dominan.
Dalam kehidupan manusia, konflik tipe ini umumnya terjadi ketika seseorang bingung atas “tempatnya” di masyarakat, _hence_ istilah “tidak tahu diri” atau “ngelunjak” lahir.
Pengetahuan atas hirarki manusia ini makanya *jadi penting*. Siapa yang harus dihormati, siapa yang diatas, siapa yang dibawah.
Kera mana yang dominan, bagaimana menempatkan diri, bagaimana berbicara, bahasa apa yang harus digunakan ke “atas” ke “bawah” jadi sesuatu yang dipelajari dan diajarkan oleh kita pada anak-anak kita.
*Potensi konflik hirarkikal* juga besar terjadi ketika sebuah komunitas menerima anggota baru, karena sang _new member_ kemungkinan besar tidak tahu “posisinya” di komunitas yang baru.
Untuk meminimalisir konflik karenanya dibuatlah *ritual-ritual perkenalan* dengan sebab utama agar para anggota baru bisa mengenali siapa-siapa kera dominan yang harus ditakuti sehingga proses adaptasi bisa berjalan lancar.
*Ritual perkenalan* inilah yang kita kenal dalam berbagai istilah, dari sekedar perkenalan, orientasi, OSPEK hingga… “Nungging”:http://wiki.id-gmail.info/Nungging.
 
Dan kemudian tentu ada kombinasi diantara dua konflik diatas. Bukan saja kita masing-masing memiliki “teritori” kita sendiri, tapi kita jadi sering _concerns_ dengan posisi teritori kita sendiri dibandingkan dengan teritori lainnya.
Rangking antar negara, negara mana dengan korupsi tertinggi. Rangking antar kota, mana kota yang terkotor. Rangking antar universitas, mana yang paling bagus. Semua ini adalah hasil kombinasi perilaku teritorial dan hirarkikal.
Kita [sebagai sebuah teritori] jadi *terobsesi* dengan posisi kita [hirarki] di semua bidang.
Di sisi lain, tidak banyak yang kita tahu bagaimana _menghadapi sebuah konflik_ ([_kecuali bagi mereka yang pernah mengalami “management by conflict” hehe_]) yang harusnya umum diajarkan sejak SD. Yang banyak adalah ajaran tentang _mehindari konflik_, padahal sepertinya konflik bisa juga berguna dan mendewasakan kita.
 
*Di tahun 2005*, rasanya begitu banyak konflik yang kita dengar dan bahkan kita alami sendiri. Dari yang kecil dan remeh hingga yang besar dan mengambil korban nyawa. Antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan alam.
Gue pribadi tidak banyak mengalami konflik dalam kehidupan sehari-hari, _kayaknya kebanyakan konflik yang gue alami terjadi kedalam. Dengan diri gue sendiri._
Banyak hal yang gue syukuri terjadi di tahun 2005, Gala lahir di bulan April, _joining the thirty something club_ di bulan Juli. Makin tua dan makin dewasa mudah-mudahan. Dan juga mudah-mudahan makin bijaksana menghadapi dan tidak lari dari konflik dalam kehidupan.
Dua minggu ke depan, Insya Allah lancar, kita sekeluarga bakal ada di Bandung, ada rencana ke Jakarta juga. Mudah-mudahan bisa ketemu sama temen-temen di Bandung dan Jakarta, _keep watching this page for the details hehe_. :p
_Perjalanan pertama “Gala”:http://enda.goblogmedia.com/laporan-sukacita-telah-lahir.html ke “tanah kelahiran” papa dan mamanya. :)_
Perjalanan untuk kenal, biar Gala tau posisinya dalam struktur hirarki komunitas yang namanya *keluarga* dan mulai merasa memiliki bahwa dia juga punya _claim_ atas teritori yang namanya *Indonesia*. 🙂
 
*UPDATE: BANDUNG 11 JANUARI*
Sudah tiba dan menikmati beberapa hari hujan kota Bandung :p
Nomer untuk dihubungi: 0818 0925 3522