Aku Ingin Terkejut Selalu

Aside

terkejut.jpg

_“Surprise is the greatest gift which life can grant us.” –Boris Pasternak_
Seorang teman baik kemaren mengabarkan (oke, oke, menggosipkan) bahwa ada teman baik kita yang lain, yg baru saja selesai dalam proses penceraian, sekarang tengah menjalin hubungan dengan atasan senior di kantornya yang berasal dari Asia Selatan, seorang duda beranak dua.
Setelah dia menyampaikan berita itu dan gue terlihat tidak bereaksi beberapa saat, kemudian dia menambahkan: _life is full of surprises…_
_Indeed it is._
Terus terang aja, kata pertama yang muncul di otak gue adalah “SHITE!”:http://www.urbandictionary.com/define.php?term=shite (diucapkan _sait_, versi keren dari kata _shit_, seperti _biatch_ adalah versi keren dari _bitch_. Kenapa diterangin nda?) dan setelah terkejut, gue kemudian tersenyum ketika nyadar bahwa masih ada juga yang bisa membuat gue surprise. Membuat gue terkejut.
Karena bukahkah itu artinya gue masih muda? (Yeaa!) 😀
Masih bisa terkejut, masih ada yang belum gue tahu, belum gue pikir, belum gue liat, belum gue alami di dunia ini sehingga gue masih bisa terkejut.
Masih ada hal-hal di dunia ini yang mengagetkan gue. Yang memerangkap gue dalam beberapa momen kehilangan kata-kata. Menangkap ke-enam indera di tubuh gue dalam kondisi ketertarikan.
Masih ada yang membuat jiwa gue berteriak: Yes! This is NEW!
Baru di momen itu gue tersadarkan betapa kemampuan untuk terkejut, kaget, _fascinated_ tersebut adalah sesuatu yang berharga.
Sesuatu yang kita punya saat kita kecil dan sedikit demi sedikit hilang bersama bertambahnya umur.
“Gala”:http://www.flickr.com/photos/enda/tags/gala/ misalnya, anak gue yang bulan ini berumur 15 bulan selalu tertarik dan _fascinated_ terhadap hampir semua yang mama papanya lakukan.
Maen komputer, baca buku, nonton tv, cuci baju, kipas angin, laci meja. Semua dia lihat dengan penuh ketertarikan dan keterkejutan.
Saat gue gosok gigi, cuci muka, bahkan cukuran bulu-bulu muka maka dia akan berdiri di sebelah gue, menatap penuh perhatian dan ingin tahu. Tertarik, karena ini sesuatu yang baru buat dia, sesuatu yang mengejutkan!
Bahkan setiap kali gue buru-buru masuk kamar mandi mau kencing maka dia bakal lari-lari kecil di belakang pengen ikut, dan setelahnya dengan penuh antusiasme menarik gagang flush toilet sehingga airnya keluar.
“OMG! Ternyata gagang di toilet ini bisa mengeluarkan air, menyiram air seninya papa!”, begitu mungkin pikirnya.
Coba bayangkan, apakah kamu mau ngikut gue ke kamar mandi dan mem-flush air kencing gue dengan penuh ketertarikan? :p
 
Dari situ gue jadi ngerti dorongan temen-temen untuk selalu “dikagetkan” akan sesuatu yang baru. Musik yang baru, album baru yang akan keluar bulan depan. Film baru dari sutradara yang kita tahu selalu “mengagetkan” kita dengan berbagai cara.
Beli baju baru, sepatu baru, asesoris baru. Kirim-kirim email lucu, baca-baca email lucu.
Gadget baru yang kita baca di satu majalah dan akan _launch di market_ minggu ini. Kawin lagi dan punya “istri baru umur 19 tahun”:http://www.liputan6.com/view/3,129329,1,0,1.html.
Software release baru, “anime”:http://www.id-anime.info/ baru untuk di download, situs baru yang muncul, posting baru di blog ini, komen-komen baru (waa! komen baru! hehe)
Kehausan kita akan sesuatu yang baru, untuk dikejutkan dari waktu ke waktu, adalah cara kita untuk mempertahankan ikatan dan ingatan saat kita masih kecil, masih muda. Dan mungkin supaya berasa muda.
Dengan berbagai cara masing-masing, kita mencari hal-hal baru. Mencari hal-hal yang mengejutkan kita. Yang secara _genuine_ mengejutkan kita, bukan terkejut yang dibuat-buat. Yang membuat kita diam beberapa saat dan berseru _SHITE!_
Dan itu yang mungkin yang kita lakukan sekarang.
Setengah mati ingin terkejut dan dikejutkan.
Setengah mati menunda saat-saat dimana kita berkata, _there’s nothing new under the sun_ dan _nothing surprise me anymore_.
Setengah mati menghindari masa saat kita sudah begitu sinis, _jaded_, dan lelah sehingga apapun tidak menarik perhatian kita lagi.
Semoga hari-hari itu tidak akan pernah datang dan semoga kita selalu mampu untuk terkejut.
_Nah sekarang… jangan ngeliatin aja dong, sudah boleh di-flush tuh toiletnya._ 😀
 

Merdeka 2.0 Beta

Aside

Merdeka 2.0
_Ultimately we know deeply that the other side of every fear is a freedom. –Marilyn Ferguson_
Ketika kita bicara tentang kemerdekaan, cukup menarik untuk mengamati bahwa “merdeka” punya arti yang berbeda-beda untuk masing-masing orang.
Merdeka atau _freedom_ punya arti banyak dan kita masing-masing punya definisi sendiri terhadap apa itu kemerdekaan.
Dalam salah satu artikel yg gue baca (gue lupa, mkn di NY Times, ada yg pernah baca juga), seorang ahli pernah melakukan survei tentang apa arti kemerdekaan.
_Freedom_ atau merdeka ternyata punya arti yang berbeda ketika dia mengkategorikan strata sosial sumber surveinya.
Bagi mereka dengan tingkat pendidikan tinggi ([_college degree, thus middle class, middle incomes_]) merdeka mereka asosiasikan dengan “kemerdekaan untuk…” ([_”freedom to…”_]).
Kemerdekaan untuk berbuat, kemerdekaan untuk mencapai, kemerdekaan untuk memilih.
Kemerdekaan sebagai bentuk sebuah ekspresi diri dan mencapai potensi pribadi.
Sedang hasil survei dari mereka dengan tingkat pendidikan rendah ([_no college degree, thus low income_]), kemerdekaan untuk mereka adalah “kemerdekaan dari…” ([_freedom from…”_])
Kemerdekaan dari penindasan, kemerdekaan dari rasa takut akan masa depan, akan kelaparan, akan teror. Kemerdekaan dari tekanan sosial, ekonomi dll.
Kemerdekaan adalah bentuk jaminan akan dasar-dasar kebutuhan untuk hidup.
_Freedom to…_ dan _freedom from…_
Dua bentuk kemerdekaan.
Satu negeri.
Dirgahayu Indonesia ke 61.

Kita Tidak Harus Bahagia

Aside

bahagia.jpg

_Happiness is wanting what you have –Anonymous_
Hidup ini pendek dan cuma sekali. Manfaatkan sebaik-baiknya. Optimalkan semaksimum mungkin.
Jangan disia-siakan. Ngapain hidup menderita. Ngapain hidup tidak bahagia.
Lakukan yang bisa kamu lakukan. Ambil langkah-langkah untuk berubah.
Karena hidup cuma sekali. Karena waktu kita pendek.
Karena untuk apa hidup kalo tidak bahagia?
Siapa yang ingin menderita? Semua orang ingin bahagia.
Betul?
Betul?
Jadi kita lahir dan ada disini untuk bahagia?
Betul?
Betul?
Kata siapa?
Kata kamu? Kata dia?
Kata Tuhan?
Saya ga ingat Tuhan bersabda: _”Jadilah kamu mahluk-mahluk yang berbahagia!”_, atau _”Carilah kebahagiaan ke negeri Cina!”_
Apakah Tuhan ingin kita bahagia? Atau cukup sekedar berhamba?
Kalo kamu memang ingin tahu, sini saya kasih rahasia.
Adam dan Hawa tidak hidup bahagia.
Hidup untuk bahagia tidak dimula dari mereka.
Tapi baru jadi kata, saat Amerika Merdeka.
Ya, “di tahun 1776”:http://en.wikipedia.org/wiki/Declaration_of_Independence_%28United_States%29, baru 230 tahun yang lalu. Saat mereka menulis, “[“Life, liberty and the pursuit of happiness”:http://en.wikipedia.org/wiki/Life,_liberty_and_the_pursuit_of_happiness]” di naskah proklamasinya.
*Pursuit of Happiness* katanya, adalah hak dasar, hak hidup manusia. Kita harus bahagia kata para _founding fathers_ negara Amerika.
Karena untuk apa kalo tidak bahagia? Karena untuk apa kabur jauh-jauh dari daratan Eropa. Kalo tidak bahagia?
Sebelum itu, manusia _tidak harus_ bahagia.
Sebelum itu, kita tidak berpayah-payah mencari tahta, harta dan wanita yang katanya bikin bahagia.
Sebelum itu, ada nilai-nilai lain selain bahagia, ada cerita lain selain kebahagiaan.
Ada kepahlawanan, ada pengorbanan, ada kematian, ada tragedia, ada romi dan julia.
Karena itu, cuma Ratu dan Raja yang masuk dalam cerita-cerita rakyat.
Karena itu, cuma dongeng yang diakhiri dengan “mereka hidup bahagia selamanya”.
Manusia tidak hidup dalam cerita anak-anak. Dan itu dimengerti dengan bersahaja.
Dimengerti bahwa ada yang lebih dari kebahagiaan dalam hidup manusia.
Lalu haruskah sekarang kita mengejar kebahagiaan?
Pantaskah kita mengedepankan hak kita untuk bahagia?
Bolehkah kita beralasan, bahwa kita tidak bahagia dan karenanya…
Sepatutnyakah kita meminta tidak kurang dari kebahagiaan? Dan tidak lebih dari kebahagiaan?
Sebagai seorang wanita.
Sebagai seorang pria.
Sebagai manusia.
Pantaskah? Bolehkah? Sepatutnyakah?
Karena toh hidup cuma sementara. Dan ada banyak pilihan mengangkasa.
Jadi kenapa tidak?
Lagipula.
Apa kalo tidak bahagia?
_Mungkinkah cuma hidup sederhana, bersahaja dan berhamba?_
_Mungkinkah cuma hidup merdeka, pencarian kebenaran dan fakta serta realita?_
_Mungkinkah cuma istri, anak, suami dan keluarga?_
 
_*Catatan*_: Selamat hari kemerdekaan Indonesia ke 61, 17 Agustus 2006. Semoga kita semua selalu bahagia dan merdeka! Jangan lupa nasihat orang bijaksana: Carilah kebahagiaan ke Amerika! 😀