Merdeka 2.0 Beta

Merdeka 2.0
_Ultimately we know deeply that the other side of every fear is a freedom. –Marilyn Ferguson_
Ketika kita bicara tentang kemerdekaan, cukup menarik untuk mengamati bahwa “merdeka” punya arti yang berbeda-beda untuk masing-masing orang.
Merdeka atau _freedom_ punya arti banyak dan kita masing-masing punya definisi sendiri terhadap apa itu kemerdekaan.
Dalam salah satu artikel yg gue baca (gue lupa, mkn di NY Times, ada yg pernah baca juga), seorang ahli pernah melakukan survei tentang apa arti kemerdekaan.
_Freedom_ atau merdeka ternyata punya arti yang berbeda ketika dia mengkategorikan strata sosial sumber surveinya.
Bagi mereka dengan tingkat pendidikan tinggi ([_college degree, thus middle class, middle incomes_]) merdeka mereka asosiasikan dengan “kemerdekaan untuk…” ([_”freedom to…”_]).
Kemerdekaan untuk berbuat, kemerdekaan untuk mencapai, kemerdekaan untuk memilih.
Kemerdekaan sebagai bentuk sebuah ekspresi diri dan mencapai potensi pribadi.
Sedang hasil survei dari mereka dengan tingkat pendidikan rendah ([_no college degree, thus low income_]), kemerdekaan untuk mereka adalah “kemerdekaan dari…” ([_freedom from…”_])
Kemerdekaan dari penindasan, kemerdekaan dari rasa takut akan masa depan, akan kelaparan, akan teror. Kemerdekaan dari tekanan sosial, ekonomi dll.
Kemerdekaan adalah bentuk jaminan akan dasar-dasar kebutuhan untuk hidup.
_Freedom to…_ dan _freedom from…_
Dua bentuk kemerdekaan.
Satu negeri.
Dirgahayu Indonesia ke 61.