Krisis Seperempat Baya

Tentang krisis seperempat baya yang melanda saat umur 20-an akhir

Quarter-Life Crisis (Quarter-Age Crisis)
Salah satu yang gue rasa waktu balik dari Indonesia adalah perasaan rada-rada bummed out. Awalnya gue rasa, ah mungkin karena akhir tahun aja, kolega deket gue lagi cuti, kerjaan lagi ga ada makanya gue rada-rada ga jelas.
It turns out, setelah sedikit pembicaraan ama seorang temen yang lebih tua, baru gue punya nama ama apa yang gue rasa ini: quarter-life crisis atau krisis seperempat baya.
Dan seperti orang lain juga (gue liat di mention di bbrp blog) gue pikir gue yang pertama come out sama istilah itu dan mungkin simptoms ini istimewa buat gue. Well I am happy to say that it’s not true. Hehe.
Ternyata ada sekian banyak orang yang kayaknya ngerasain apa yg gue rasa, perjalanan panjang umur 20-an yang belum jelas arahnya. Tapi kenapa kok gue ga denger temen2x gue (yg seumur) ngomongin ini, gue ga liat topik ini dibahas di koran atau majalah? Ga tau. Yang pasti kayaknya term ini kalah populer deh sama middle-age crisis atau krisis setengah baya (tau kan? itu lo waktu bokap2x kita jadi pada dandan dan ngecengin cewek-cewek muda hehe..)
Pas gue pulang kemaren yang utama gue rasa adalah perubahan bukan saja di diri gue sendiri tapi juga di temen-temen gue. Makin gendut-gendut :), orang manggil kita “Pak” (dulu ga kebayang ada yg manggil kita “Pak” hmm..), masing-masing makin sibuk dan walau deep down gue tau bahwa mereka tetep sobat-sobat gue yang dulu tapi gue ga kuasa ngerasa bahwa semuanya ga sama dan ga akan pernah lagi sama.
Pertama gue pikir, kalo gue bareng mereka lagi, kalo gue tinggal di rumah ortu gue lagi, tiduran di sofa, nonton TV atau ngerjain semua hal-hal yang dulu gue kerjain, rasanya bakal serupa ama apa yang dulu gue rasain. Tapi ternyata ga gitu ceritanya.
Orangnya masih sama, rumah gue yang dulu masih sama, kota gue masih sama, tapi ada sesuatu yang berubah. Ada sesuatu yang bilang bahwa kita berbeda, gue berbeda. Ada sesuatu yang bilang betapapun kamu berusaha merekonstruksi kejadian-kejadian yang dulu kamu tetep ga akan ngerasain hal yang sama.
Dan saat itu gue sadari kalo satu babak kehidupan gue udah tertutup dan gue akan bisa kembali lagi kesitu. Tentu aja itu juga berarti bahwa sebuah babak kehidupan lain juga terbuka, gue punya keluarga gue sendiri, menata kehidupan gue sendiri, berusaha menjejakan kaki kehidupan gue kuat-kuat di alam nyata ini. Bakal banyak hal baru, hal-hal yang gue ga pernah rasa sebelumnya dan bahkan ga pernah tau.
Yeah, I knew, it will be an exciting time. Tapi untuk saat ini, ketertutupan sebuah babak itu makes me kind of sad. We just have to let it go. All the wonderful things now has becomes memories, pictures and nostalgic feeling.
OK. We all have to live that.
Anyway, perasaan ini ngebuat gue jadi nyari-nyari tentang so called Quarter-Life Crisis. Dan gue rasa setiap orang punya pengalaman yang berbeda, merasakan hal-hal yang berbeda dan berbeda-beda pula bagaimana cara menanganinya.
Di sebuah Amazon Guide tentang Quarter Life Crisis ada sedikit penjelasan tentang apa itu Quarter Life Crisis, buku-buku yang dia saranin (salah satunya berjudul I Could Do Anything If I Only Knew What It Was : How to Discover What You Really Want and How to Get It by Barbara Sher. TOOUULLOUNG) dan film-film yang mungkin mau kamu tonton dan bercerita ttg Quarter Age Crisis (‘Singles’, ‘Reality Bites’, ‘Bridget Jones’s Diary’ don’t ask!)
Sebuah tulisan berjudul The Quarter-Life Crisis by unknown juga menarik buat dibaca. Disitu ditulis:
You are insecure and then secure. You laugh and cry with the greatest force of your life. You feel alone and scared and confused. Suddenly change is the enemy and you try and cling on to the past with dear life but soon realize that the past is drifting further and further away and there is nothing to do but stay where you are or move forward.
Mungkin kalo kita tau lebih banyak tentang krisis ini kita bisa menanganinya lebih baik, buku lain yang gue temuin bahkan berjudul “Quarter Life Crisis” infonya bisa dibaca di website buku ini di Quarterlifecrisis.com.
Beberapa orang mungkin tidak mempedulikan krisis ini dan cuma dianggap sebagai phase, beberapa orang mungkin menemukan dirinya sendiri (thank God! hehe), beberapa orang mendirikan ROCK BAND (tebak nama band-nya apa? qUArteR LifE CriSis, yep that’s how they wrote it)
Dan tentu saja, beberapa orang melakukan pilihan logis dalam menghadapi krisis ini, NGEBLOG. 🙂
Ada 3 blog yang gue temuin Quarter Life Crisis, Quarter-lifecrisis.com dan Quarter Life Crisis
Ok, anyway, menurut gue, cara terbaik menghadapi krisis seperempat baya ini adalah dengan SUCK IT UP, QUIT ACTING LIKE A BABY AND TAKE IT LIKE A MAN :). That’s what I did and still have. Dan berharap kalo perasaan ini bakal berlalu dan hilang…
Dikutip dari tulisan ini lagi: What you may not realize is that everyone reading this relates to it. We are in our best of times and our worst of times, trying as hard as we can to figure this whole thing out.