Dicari Copywriter dengan pengalaman MILITER

Ditulis berdasarkan artikel “A Name Too Far
Pas jaman perang dunia ke 2, nama2x operasi yang diluncurkan sekutu biasanya ngambil nama2x yg ga deksriptif dan ga punya arti apa-apa kayak yg digunakan Winston Churchill:
Avalanche, Market Garden, Mulberry, atau Overlord
Baru setelah WW II disadari kalo pemilihan nama buat operasi yg bakal dilangsungkan bisa punya peranan penting juga dari sudut pandang bagaimana masyarakat mengambil karakteristik dari nama yg digunakan.
Di lain pihak, pemilihan nama dari sebuah operasi militer adalah juga kesempatan PR yang bisa digunakan buat kepentingan2x psikologis massa, images dan juga nama yg bagus bisa mempunyai kemampuan buat menjelaskan dirinya sendiri.
Walo itu sudah disadari setelah WW II nama-nama operasi militer yg non-deskriptif masih digunakan kayak: “Operation Blue Bat” buat Operasi mengirim marinir ke Lebanon tahun 1957.
Atau nama-nama seperti: End-Sweep, Pocket Money, atau Abilene yg digunakan di Vietnam
Dan karena sebagian besar para Jendral ga berbakat jadi Copywriter, maka sudah pasti banyak juga pemilihan nama operasi militer yang bukannya bagus, tapi malah jadi blunder, seperti:
Operation Killer” di perang Korea atau di Vietnam juga ada yg namanya “Operation Masher” (masher: tukang ngejar cewek). Atau saat pemerintahan Reagan, dipilih nama “Operation Urgent Fury” (urgent fury = amarah yg penting dan perlu) buat operasi invasi ke Grenada.
Sejak itu pun pemilihan nama operasi-operasi militer ini tidak begitu sempurna, kadang ekspektasi yg dingginkan tidak tercapai karena justru nama yg dipilih memiliki makna ganda atau terlalu ambigu.
Misalnya Presiden Bush pertama memberi nama “Operation Just Cause” untuk operasi di Panama tahun 1989, nama ini jadi lucu karena debat di masalah legitimasi operasi ini sendiri yg jadinya sama sekali tidak memiliki sebab (cause) yg benar/legitimate (just).
Setelah itu munculah operasi2x militer yg namanya kita kenal hingga sekarang seperti pembebasan Kuwait dari Irak (1991): “Desert Shield” dan “Desert Storm“.
Lalu juga operasi militer US di Somalia, “Restore Hope
Di Haiti, “Uphold Democracy“, dan di daerah Balkan, “Shining Hope“, “Determined Force“, dan “Provide Promise“.
Penggunaan “Provide” jadi digemari pada masa itu, sejak 1989, militer US sudah melancarkan operasi militer yang namanya “Provide Promise“, “Provide Refuge“, “Provide Hope“, “Provide Transition“, “Provide Comfort“, dan “Provide Relief“.
Dari sini kita tau, kalo pemilihan nama operasi militer persis sama dengan cara pemilihan nama buat sebuah BRAND dan ngikutin guidelines yg sama.
Yaitu, nama yg dipilih harus ada maknanya, identifikasi audiensnya (customers) harus tepat, dan nama yg digunakan harus singkat, padat dan mudah diingat. (anjirr berima heheh)
Walo ini sudah disadari, bukan berarti ga ada kesulitan dalam menemukan nama yg pas buat operasi-operasi militer ini.
Setelah peristiwa 9-11, operasi militer menentang terorisme diberi nama: “Operation Infinite Justice” yg mana kurang sreg buat orang muslim dimana keadilan “justice”, yang maha/tidak berbatas “infinite” hanya bisa dilakukan oleh Allah SWT.
Akhirnya tahun 2001 itu, nama operasinya diganti dengan nama “Operation Enduring Freedom“, DAN sekarang operasi militer ke Irak tahun 2003 diberi nama “Operation Iraqi Freedom” yang pastinya ingin memberi kesan bahwa operasi ini dimasudkan untuk memerdekakan/membebaskan rakyat Irak.
Seperti kita tau, ada BANYAK sebab lain yg bisa kita pikirkan sebagai sebab utama US melakukan operasi ini. Alasan humanisme pembebasan rakyat Irak mungkin adalah salah satunya, tapi ada banyak sebab dan motif lain, dengan prioritas yg lebih tinggi seperti faktor ekonomi yg lebih tepat disebut sebagai sebab utama dari operasi militer ini.
Pemilihan nama “Operation Iraqi Freedom” karenanya bukan saja TIDAK TEPAT karena masyarakat dunia akan melihatnya sebagai sebuah sebuah pemaksaan ISU, ditambah lagi karena justru pemilihan nama ini akan lebih membangkitkan sinisme terhadap ketidakjujuran motif dibelakang operasi ini.
Nah, mungkin ada yang punya nama yg lebih tepat buat operasi militer US kali ini?