PESAN CINTA KOMUNITAS BLOG INDONESIA

Aside

Valentine Untuk Roy Suryo

 
 
 
 
 
 
Internet, 14 Februari 2005
Sehubungan dengan berbagai komentar *KRMT Roy Suryo Notodiprojo* akhir-akhir ini di berbagai media, kami, *komunitas blog Indonesia* berkesimpulan bahwa beliau _kekurangan informasi atau bahkan menerima informasi yang tidak benar tentang blog_. Kami sendiri memandang bahwa blog adalah hasil dari evolusi bertahun-tahun di Internet, yang semakin menunjukkan bahwa Internet adalah *wadah nyata* untuk saling menghubungkan orang-orang di dunia nyata.

Pesan Cinta lengkap yang juga di-release ke media-media massa dapat kamu temukan disini: “Pesan Cinta Blogger Indonesia”:http://roysuryowatch.org/2005/02/pesan-cinta-blogger-indonesia/

Kami juga yakin bahwa *KRMT Roy Suryo* sebagai seorang manusia tentulah sangat membutuhkan kasih sayang dari orang lain. Oleh karena itu, kami, komunitas blog Indonesia pada bulan penuh cinta ini sepakat untuk *mendedikasikan* hari Valentine tahun 2005 khusus untuk *KRMT Roy Suryo Notodiprojo*.
Salam hangat selalu serta penuh perhatian dan kasih sayang dari kami untuk *KRMT Roy Suryo Notodiprojo* di Hari Kasih Sayang ini.
Tertanda,
*Komunitas Blog Indonesia*
ps. Hehe, kalo kamu blogger, posting _pesan cinta_ ini di blog kamu. Gampang kamu, pentunjuk lengkap ada disini: “for roy suryo with love”:http://for-roy-suryo-with-love.blogspot.com/
 
_Ah Internet is such a wonderful thing isn’t it_ 🙂
_Ini bukan cuma buat KMRT RS dan bukan cuma dari Komunitas Blog Indonesia aja, menurut gue, ini, bahkan sebagai simbol bahwa dalam masalah apapun, siapapun orangnya, kalo kita tau ada yang salah, *mari kita betulkan bersama, kita bisa dan punya kemampuan untuk itu*. Untuk kita dan masa yang akan datang! :P_

Tentang nakal, batas dan dosa

Aside

apakah kamu nakal?

_The purpose of life is to fight maturity. –Dick Werthimer_
Dari kita kecil kita selalu diajarkan bahwa kita mendapat *skor negatif* alias DOSA untuk setiap perbuatan jahat dan tidak baik yang kita lakukan.
Orang jahat, yang kelakuannya jahat punya banyak dosa. Makin jahat seseorang, maka makin berdosalah dia.
Jadi jangan berbuat jahat. “Hindarilah kejahatan..” kata kitab suci dan orang-orang tua nan bijaksana.
Nah, kalo kita dilarang dan berdosa ketika kita jahat, bagaimana kalo kita tidak jahat tapi… *nakal*?
Ada sih “nakal” yang memang udah jelek banget konotasinya, cewek nakal, polisi nakal, petugas nakal, wartawan nakal, politisi nakal, _si kancil anak nakal_, nyamuk-nyamuk nakal dan lain-lain. Ini adalah orang2x yg udah lebih lagi nakalnya dari nakal biasanya, dan punya konsekwensi penjara juga.
Tapi.
*Apakah jahat = nakal?* Rasanya nggak.
*Apakah nakal = jahat?* Rasanya juga nggak.
Tapi kok mirip. Hehe. 🙂
Pengalaman pertama kenakalan kamu pasti terjadi waktu kamu kecil. Kamu pasti udah ga inget, tapi kalo kamu tanya sama ortu kamu apakah kamu nakal atau ga waktu kamu kecil, jawabannya pasti: _”Nakal, nakal, nakal. Kamu waktu kecil itu naaaaakaaaaaaaal banget!”_
*Ga nurut, ga mau diem, ga bisa dilarang.*
Bonyok kamu bilang gitu, tante kamu bilang gitu, tetangga kamu bilang gitu, apalagi *PEMBANTU* kamu, *PASTI* bilang gitu. 😀
Tapi coba inget-inget, kapan terakhir kali ada yang bilang kalo kamu nakal? [gue minggu lalu, waktu gangguin Abel hehe]
Pasti malem minggu kemaren kan, waktu lagi pacaran dan kamu sibuk “usaha”! [Hakahkahakkaka]
Anyway, _society_ juga punya hubungan _love and hate_ dengan yang namanya nakal, bandel dan _baong_.
Ketika kita nakal, disuruh jangan nakal, tapi kalo ga nakal, apalagi anak kecil [apalagi kalo cowok] wah, justru harus nakal. Bukan anak cowok kalo ga nakal katanya. Gimana sih? 🙂
Mungkin kebingungan ini lahir karena dalam kenakalan ada niat [yang sering kali kekanak-kanakan] untuk meregang batas-batas norma, hukum dan aturan, sejauh-jauhnya yang mana pada gilirannya, entah gimana, ada gunanya. [?] 🙂
Kenakalan rasanya adalah bagian dari kemanusiaan, sesuatu yang manusiawi. Sebaliknya dari hidup yang bersih, licin, terang benderang dan sterile.
Bener ga sih? Kagumkah kita pada orang-orang yang bisa “nakal”? Atau dunia akan lebih baik jika jenis kenakalan seperti apapun dilarang oleh hukum. Singaporism? _Really?_
Kalo gue harus membayangkan tokoh nakal yang muncul di otak gue adalah *Tristan Ludlow* dan *Chairil Anwar*. Yang satu kerasukan nyawa beruang sampe harus berkelana sampe New Guinea, yang satu meninggal karena raja singa tapi masih dipuja bahkan oleh *Rangga* dan *Cinta*.
Kalo boleh memilih, mungkin gue akan memilih buat _at least_ sedikit nakal, berdoa dikasih kemampuan itu buat selalu punya tenaga buat berjalan di *batas-batas terluar* aturan dan norma sambil masih _having fun_ melakukannya.
Kalo bisa memilih, gue akan memilih untuk berharap untuk *selalu tahu* batas-batas mana yang bisa gue dorong-dorong sejauh-jauhnya dan batas mana yang harus kita buang sekalian. 🙂
Kalo harus memilih, maka nanti *kalo anak gue nakal*, gue akan tersenyum diam-diam, mengucapkan rasa syukur dan berharap kualitas nakal itu akan selalu bersamanya, tapi tentunya sambil gue marahin dan omelin, _”Nakal, nakal, nakal. Kamu ini ga nurut, ga mau diem, ga bisa dilarang!!”_ 😀
 

BUKTI

Aside

trust.jpg

_Faith is believing what you know ain’t so.. :)_
Setiap tahun majalah *Edge.org* mengajukan pertanyaan pada para saintis dan pemikir lainnya untuk dijawab. Di tahun ini pertanyaan mereka adalah _”What do you believe is true even though you cannot prove it?”_
_Apa yang kamu percaya BENAR walaupun kamu tidak bisa membuktikannya?_
Pertanyaan sederhana tapi dalem ini dijawab oleh *120* saintis, pemikir dan peneliti [[“bisa kamu lihat disini”:http://www.edge.org/q2005/q05_print.html]] dan mendapat ratusan respon di Internet serta dari berbagai media massa.
Berbagai jawaban dari berbagai bidang didapat, dari yang _lumayan_ umum seperti misalnya seorang saintis yg percaya pada _true love_ hingga hal yang _kayaknya_ agak-agak rumit seperti *”Tuhan”* atau misalnya percaya bahwa pada manusia selalu melakukan pilihan *tidak rasional* ketika harus memilih hal-hal penting: karir, pasangan, jurusan.
*NAH!* Yang lucu adalah: Apa hebatnya pertanyaan diatas tadi? Apa yang luar biasa?
Yang gue tangkap sekilas, pertanyaan tadi jadi *”heboh”* karena para saintis, peneliti dan akademisi ini adalah mereka-mereka yang _kerajingan dengan BUKTI_. Mereka yang ga akan ngeluarin pernyataan apapun tanpa BUKTI NYATA [[_bubuk tai dina mata_]], yang gandrung, yang tergila-gila pada apa yang namanya _prove_.
Dan [rupaya ini yg lucu, aneh dan heboh] ketika mereka ditanya ada ga sih yg kamu percaya benar, tapi ga ada [atau belum ada] buktinya? *Ternyata ada.*
*New York Times*, di artikel yang membahas pertanyaan ini malah sampe niat harus nulis besar-besar “[“Scientists Take a Leap”:http://www.nytimes.com/2005/01/04/science/04edgehed.html]”.
Adalah sebuah demonstrasi “luar biasa” ketika mereka ini ternyata juga punya [GASP!]: *FAITH*.
Punya “kepercayaan”, punya “keimanan” terhadap sesuatu yang mereka TAHU, tidak bisa mereka buktikan tapi mereka IMAN bahwa hal tersebut benar adanya.
Kalo kita gimana?
Oh jangan kuatir. Dalam pendapat gue, kita [apapun “kita” disini artinya], hidup dalam dunia *sebaliknya* dari mereka.
Kalo mereka hidup dalam dunia BUKTI, dalam dunia kepastian. Kita hidup dalam dunia keimanan, dalam FAITH, dalam sisi dunia lainnya.
Kita percaya dengan apa yang ditulis oleh para teman jurnalis di media massa. Kita percaya dengan janji-janji anggota *DPR* dan mentri. Kita percaya dengan ancaman pengkhotbah di mimbar-mimbar. Kita percaya dengan celotehan selebritis di layar tivi. Kita percaya dengan forward-an email di milis-milis dari email2x gratisan [hekehke!!].
Padahal tidak ada bukti yang menyertai.
_Kita terlatih untuk percaya._
Pada orang tua, pada guru, pada dosen, pada sesepuh, pada ketua RT, pada “pemimpin”, pada kyai, pada pacar, pada iklan, pada do’a.
Padahal tidak ada bukti yang menyertai.
Dan apakah kamu pengen tahu apa sebabnya? Kenapa kita begitu mudah percaya. Begitu mudah beriman tanpa menuntut? Begitu gampang menggangguk tanpa membuka mulut?
Buat gue, karena rasanya kita *[_tidak sanggup untuk tidak percaya_]*, tidak sanggup untuk tidak beriman.
Tidak sanggup, untuk meminta bukti dan menangguhkan keimanan kita hingga bukti tadi muncul.
Tidak sanggup untuk tidak percaya ketika teman bicara kita memulai kalimat dengan “Pokoknya…”.
Ada dorongan kuat yang mendasar di dalam diri kita, keinginan raksasa untuk… percaya.
Jadi, kembali ke pertanyaan majalah *Edge.org* diatas tadi. Apa susah, apa istimewa. kalo pertanyaan itu diajukan pada kita, saya, kamu dan Anda?
Hehe.. rasanya ga ya. Karena begitu *BANYAK* hal yang kita percaya *BENAR* tapi kita ga punya *BUKTI*-nya.
Termasuk gue.
Dibawah ini hal-hal yang gue percaya, gue imani adalah benar, walau gue ga punya buktinya:
* Gue percaya, bahwa manusia pada dasarnya memiliki karakteristik yang *cenderung pada kebaikan*, sehingga bagaimanapun rasanya begitu banyak berita brengsek tentang “kita” yang kita dengar gue percaya semua itu karena faktor luar dan bukan karena manusianya jahat.
* Gue percaya, bahwa dengan usaha dan apa yang kita punya sekarang *Indonesia* dan dunia _insya Allah_ akan selalu jadi baik, akan selalu sanggup berkelit dari perangkap kesempitan otak dan mampu memperbaiki diri terus menerus, karena inilah tempat dimana gue, kamu, kita dan Anda akan membesarkan anak dan cucu kita.
* Gue [masih] percaya, sama kita.
 
_Gimana kamu? :)_
_Apa yang kamu percaya *BENAR* tapi kamu ga punya *BUKTI*-nya?_