Tentang Relationship

relationship.jpg

_If the only way I can be with you is in my dreams, then I will sleep forever. –anonymous_
Hal pertama yang menarik dari _relationship_ adalah kenyataan bahwa kata ini (seperti juga “penis”:http://enda.goblogmedia.com/quicklinks/the-indonesian-language-donat-have-a-word-for-penis.html hehe) tidak memiliki padanan yang pas dalam bahasa Indonesia.
Misalnya, ketika kita menterjemahkan pilihan status di Friendster yaitu, _in relationship_.
Menurut kamus.net, maka terjemahan dari _in relationship_ haruslah antara “dalam sebuah hubungan” atau “memiliki pertalian”, keduanya tidak mencakup kedalaman makna dari “in relationship” itu sendiri.
Hubungan apa? Pertalian apa?
_In relationship_ mengindikasikan sebuah hubungan romantis dan seksual, unsur yang hilang maknanya dalam “hubungan” atau “pertalian”.
 
Hal kedua adalah dari sesuatu yang gue dapat dari om Steve Pavlina, seorang Blogger dan _self-described personal development guru_ di “postingnya tentang relationship”:http://www.stevepavlina.com/blog/2007/01/understanding-human-relationships/.
Disitu dia bilang bahwa salah satu hal paling penting yang dia pelajari adalah _relationship_ yang kita punya dengan orang lain adalah proyeksi dari _relationship_ yang kita punya dengan diri kita sendiri. _Relationship_ eksternal dan _relationship_ internal adalah sebuah barang yang sama dengan nama yang berbeda.
Lebih jauh dia menambahkan bahwa semua _relationship_ yang kita miliki _[*hanyalah eksis dalam imajinasi, pikiran dan kepala kita*]_. _O how is this true._
Menurut dia, karena dua hal ini, eksternal dan internal itu sama, maka seperti apapun bentuk, jenis, dan kualitas yang kita harapkan dari _relationship_ kita dengan orang lain itulah pula yang kita miliki dengan diri kita sendiri.
Konsekwensinya jika kita ingin meningkatkan kualitas _relationship_ kita dengan seseorang, maka yang perlu kita lakukan adalah melakukan hal yang sama pada diri kita sendiri.
Kita ingin lebih disayang pacar, maka lebih sayangilah diri kita sendiri.
Kita benci sama seorang teman kerja yang nyinyir dan sirikan, maka mungkin kita perlu berhenti nyinyir dan sirik dengan diri kita sendiri.
Kita sebel sama pakar serba bisa yang selalu muncul di TV dan cari-cari perhatian, maka mungkin kita juga ingin tampil di TV dan disebut pakar?
 
Relationship kita dengan dengan orang lain adalah proyeksi relationship kita dengan diri kita sendiri, dan semua itu hanya eksis dalam kepala kita.
Bahkan untuk relationship yang sudah kita konfirmasikan (saya suka kamu, kamu suka saya ga?) pun kita tidak punya standar objektif untuk menilai relationship tersebut, _thus_ relationship yang kita punya adalah relationship yang kita bayangkan.
Gue bahkan bisa mengklaim bahwa 90% dari seluruh relationship di dunia ini hanya berada dalam dunia alam pikiran dan tidak pernah terbukti di dunia nyata.
Itu kenapa ada cinta yang tidak terbalas dan ada dukun yang bertindak.
Dan karena cuma ada di kepala, relationship bisa hadir seketika dan sekejap dengan siapa saja dan apa saja yang kita mau.
Kamu bisa punya relationship dengan _office boy_ di kantor kamu (menurut kamu dia baik, menurut dia kamu pelit kembalian beli nasi bungkus Rp 2000 aja diminta)
Kamu bisa punya relationship dengan SPG yang nawarin HP terbaru di mall (menurut kamu dia suka kamu, menurut dia kamu rupiah berjalan).
Kamu bisa punya relationship dengan boss kamu (menurut kamu dia wangi, gagah dan ganteng, menurut dia kamu mirip dengan anaknya)
Dan kamu juga punya relationship dengan bokap dan nyokap kamu, dengan kakak dan adik kamu, dengan anak kamu, dengan teman-teman kamu.
Jutaan relationship lahir, muncul, mati dan lenyap dalam sehari.
Ga hanya dengan tokoh nyata yang ada di hidup kamu, kita juga memiliki relationship dengan banyak pihak lain.
Dengan bintang sinetron yang muncul di acara gosip (pasti orangnya baik), dengan penyiar radio yang kamu dengar suaranya (pasti orangnya seksi), dengan model yang muncul di majalah (kok dia senyum mulu ya sama gue, duh matanya), dengan blog seleb yang kamu baca blognya (wah pasti orangnya baik budi dan tidak sombong, jagoan lagi pula pintar, hihihihi)
Setiap relationship bersifat pribadi dan kita yakini berjalan dua arah, karena itu di setiap relationship kita percaya bahwa mereka yang kita bayangkan ini memiliki relationship juga dengan kita.
Well, mungkin tidak sekarang karena kita belum pernah ketemu, tapi nanti kalo bersama kita percaya bahwa relationship nanti itu akan seperti yang kita pikirkan.
Ini sebabnya waktu SMP dan SMA dulu ada temen-temen gue yang cinta mati-matian dengan seorang gadis, tanpa merasa perlu memberitahukan perasaannya sama orangnya tersebut.
Kenal aja ga, ngomong aja ga pernah _but yet_ karena besarnya perasaan yang dia rasa terhadap si gadis maka _harusnya_ si dia yang dipuja bisa _merasakan_ perasaannya, dan mereka merasa berada dalam sebuah _relationship_.
 
Relationship dalam kepala semata ini juga terjadi dengan banyak hal lain.
Dengan si putih, kucing piaraan yang seolah mengerti perasaan kita.
Dengan gitar yang jadi teman sejati menemani sepi di malam minggi (hihi biar berima).
Dengan motor tunggangan jantan setia mengantar kemana saja.
Dengan buku, komputer, dengan blog (!), dengan rumah, dengan kota.
Masing-masing kita merasa memiliki relationship dua arah dengan mereka semua dan percaya mereka pun dengan kita, padahal bagaimana bisa kalau mereka merasa saja tidak?
 
Dan yang terbesar dan paling akbar tentu relationship kita dengan Yang Diatas Sana (YDS).
Kita merasa bersalah ketika melanggar perintah-Nya. Yakin ketika kita berjalan di jalan-Nya. Percaya diri ketika mendapat petunjuk-Nya.
Kita meminta, memohon, menangis dan mengampun padanya.
Dengan cari kita masing-masing, kita membangun relationship dengan-Nya.
Walaupun relationship tidak ada padanannya dalam Bahasa Indonesia.