Masih Tentang “Buzzer” di Media Sosial

twitter buzzers social media endorsersHari ini kita diributkan oleh opini di media sosial yang seolah-olah akademis dan didukung oleh data dengan tuduhan pada beberapa orang yang katanya adalah “BUZZERS” untuk kepentingan politik tertentu.

Buzzer, sebutan untuk orang yang nge-“buzz” (1. Anything that creates excitement or stimulus. 2. The feeling experienced by someone in a stimulated state. 3. Gossip.) jadi dikonotasikan menjadi kata yang kotor dan salah, sinonim dengan curang bahkan berbatasan dengan tidak jujur.

Tapi sebenarnya apa sih yang namanya Buzzer ini? Dan kenapa perbedaan yang mungkin memang kadang tipis atau bahkan overlap antara pengertian Buzzer dengan terminologi lain yang juga dikenal di dunia media sosial seperti “Endorsers” atau “Influencers” menjadi hilang sama sekali?

Mari kita lihat pengertian masing-masing istilah yang ada:

1. Twitter/Instagram/Social Media Celebrities
Social Media Celebrities, atau dalam bahasa gaul di media sosial disebut juga selebtweet, atau selebgram misalnya adalah akun-akun di Twitter dan di Instagram dengan jumlah follower yang besar. Berapa besar? Tergantung (cau di warung), dari mereka yang punya follower jutaan, sampai puluhan ribu, atau bahkan ribuan pun bisa aja disebut selebtweet atau selebgram. Mungkin yang bisa jadi karakteristik utamanya selain jumlah follower yang cukup besar adalah kelakuan nya juga harus men-seleb, minimal gaul lah, atau tampil, dan rajin meng-update, nah baru sah disebut sbg selebtweet atau selebgram. Apakah pada selebtweet/selebgram ini juga selebriti di dunia nyata dan sebaliknya? Kadang-kadang, walau tidak selalu.

2. Social Media Endorsers
Adalah mereka dengan jumlah follower yang lumayan banyak, yang memberikan “endorsement” (.an act of giving one’s public approval or support to someone or something). Mereka ini meng-endorse, atau merekomendasikan sesuatu, bisa itu produk, layanan, acara, tempat makan dan banyak lagi. Nilai dari endorsement yang diberikan sangat tergantung pada siapa yang memberikannya dan reputasinya. Jadi nilai endorsement seorang yang pakar kuliner tentang sebuah cafe akan lebih berharga daripada endorsement seorang pemain bola pada sebuah cafe. Sebaliknya informasi dari seorang pakar media sosial lebih berharga daripada informasi yang sama keluar dari seorang pengacara misalnya. Jadi endorsement sangat bergantung pada siapa yang bicara. Audiens-nya tidak perlu terlalu besar, tapi jika seorang endorser punya reputasi yang baik dan terpercaya untuk suatu topik, maka nilainya jauh lebih besar daripada orang lain.

3. Social Media Influencers
Di Media Sosial seorang Influencers atau mereka yang bisa berpengaruh/didengar tidak serta merta pakar dibidang tertentu, tapi suaranya masih didengar, mungkin karena reputasi atau selera orang tersebut. Jumlah follower tentu harus signifikan, tapi idenya adalah jika ada beberapa orang influencers yang bicara tentang sebuah layanan atau produk maka audiens akan “terpengaruh” dan setidaknya mau mencoba apa yang dipromosikan olehnya. Dalam bahasa marketing juga dikenal istilah KOL atau Key Opinion Leader, mereka inilah yang secara teori dapat menggiring opini publik.

4. Social Media Buzzers
Dan lalu ada Buzzers, Buzzers ini tidak perlu ketahuan siapa orangnya, bahkan di media sosial sering ditemukan tidak ada orangnya, hanya akun dengan follower yang banyak, tapi misalnya yang secara kontinyu mempostingkan doa-doa atau kutipan-kutipan atau gambar-gambar lucu. Nilai yang mereka berikan hanya sebatas bahwa audiens yang mereka miliki besar, sehingga sebuah informasi bisa tersebar luas. Istilah marketingnya meng-increase awareness. Minimal orang banyak jadi tahu, tapi apakah kita akan percaya pilihan produk makanan, travel, devices, hukum, politik dari para buzzer? Kemungkinan tidak, mereka hanya menyampaikan informasi saja dan pilihan kembali ada di diri kita sendiri untuk menggali informasi lebih banyak lagi.

5. Social Media Promotions/Placements
Apakah ada cara lain untuk meng-increase awareness di media sosial? Sekarang ada (di awal2x dulu belum), baik itu di Facebook, Twitter, Instagram, kita bisa memasang iklan/info yang kita mau, mentarget berapa banyak orang yang kita inginkan untuk melihat, termasuk kita bisa memilih usia, jenis kelamin bahkan lokasi dari mereka yang ingin melihat pesan kita. Ini yang disebut dengan Facebook Ads atau Instagram Ads dan juga Twitter Ads. Di Twitter bahkan sebuah Trend pun bisa disponsori sehingga muncul dalam list trending topic. Inilah cara media sosial mendapatkan penghasilannya.

6. Social Media Supporters
Atau pendukung media sosial adalah mereka yang yaa mendukung saja isu, pilihan, tokoh, termasuk produk atau layanan. Biasanya bentuk dukungan ini bisa dilakukan dalam bentuk retweet/regram misalnya, menggunakan #hashtag tertentu, atau seperti masa Pemilu Presiden di 2014 kemarin, bentuk dukungan bisa juga dalam bentuk mengganti foto profil/avatar kita di media sosial. Pada pendukung ini tidak harus memiliki audiens yang besar, tapi setiap post, setiap cuitan, setiap dukungan akan sebuah tindakan, hashtag, pilihan tentunya tetap tidak kurang nilainya.

Dari beberapa istilah yang biasa digunakan diatas apakah semua mengharuskan adanya dana/bayaran atau insentif lainnya untuk dilakukan? Bisa ya, bisa tidak.

Buzzer, kemungkinan mendapat bayaran, apakah itu dana atau bisa juga berupa produk (barter), karena dengan cara itulah mereka mendapat penghasilan, tapi seperti yang disampaikan diatas nilai yang diberikan sebatas informasi saja. Saya, misalnya, tidak akan mendengarkan rekomendasi buzzer untuk masalah sosial, isu hukum apalagi politik karena buzzer tidak dalam kapasitas untuk merekomendasikan/meng-endorse sesuatu.

Apakah lalu Endorser dan Influencers jadi tidak berbayar atau tidak ada kompensasinya? Tidak juga, tapiiii, kalau pun diberi kompensasi maka Endorsers/Influencers tadi harus lebih berhati-hati pada apa yang mereka endorse atau mereka rekomendasikan, karena ada sebagian tanggung jawab yang jatuh pada mereka sbg pihak yang merekomendasikan.

Di sini ini, kemudian keterbukaan jadi penting dalam rangka menjaga reputasi sang endorser, kalau si endorsernya peduli. Tidak ada yang salah kok dengan mengatakan bahwa sebuah produk/layanan/pilihan bagus misalnya karena memang bagus dan sang endorser memang percaya, atau memang sudah mencoba, atau memang kenal, daaaaan btw, saya memang dapet sesuatu misalnya untuk mengatakan ini, bisa berupa dana, fasilitas, produk dan lainnya.

IMHO dosa besar adalah ketika seorang endorser/influencer, mengaku tulus, tanpa kompensasi, merekomendasikan sesuatu padahal sebenarnya menerima kompensasi.

Jadi apakah ada yang kotor atau curang dari beberapa istilah diatas? Teman-teman yang membaca sampai di sini yang bisa memberikan pendapat masing-masing. Any comments?