Thaksin PM Thailand akhirnya mundur

thaksin-quits.jpg

_If voting changed anything it would be illegal. –Anonymous_
Akhirnya setelah 34 hari demonstrasi marathon yang dimotori oleh “People?s Alliance for Democracy”:http://alliance4democracy.blogspot.com/ (PAD) menuntut agar “PM Thaksin Shinawatra”:http://en.wikipedia.org/wiki/Thaksin_Shinawatra mundur dari jabatan Perdana Menteri membuahkan hasil.
Tadi malam, di televisi setelah mengucapkan maaf karena menggunakan TV Pool (nah gitu kalo pake TV Pool minta maaf dulu karena mengganggu hehe) selama 15 menit Thaksin mengatakan bahwa dia tidak akan lagi menjadi PM pada pemerintahan yang akan datang.
Dia juga meminta maaf pada 16 juta orang, dari 28 juta pemilih yang sudah memilih partainya, “Thai”:http://en.wikipedia.org/wiki/Thai_Rak_Thai_Party “Rak Thai”:http://www.thairakthai.or.th/ [Orang Thai Cinta Thai] pada pemilu dadakan hari minggu kemarin, 2 April 2006, karena mengecewakan mereka.
Tapi, dia menerangkan alasannya, kehadiran dia sebagai PM ternyata menyebabkan perpecahan diantara orang Thai, dan karena dalam waktu 60 hari, Juni nanti akan diadakan peringatan 60 tahun “Raja Bhumibol Adulyadej”:http://en.wikipedia.org/wiki/King_Bhumibol_Adulyadej_of_Thailand menjadi raja, dan perlu persiapan matang, maka dia akhirnya memutuskan untuk tidak akan menjabat kembali sebagai PM.
Keputusan yang dia ambil setelah beraudiensi dengan Raja Bhumibol, yang besar artinya bahwa kemunduran ini disarankan juga oleh Raja.
 
Dengan kemunduran ini maka tuntutan para demonstran yang dimotori oleh “Sondhi Limthongkul”:http://en.wikipedia.org/wiki/Sondhi_Limthongkul pemilik suratkabar besar di Thailand dan mantan pendukung Thaksin serta *Chamlong Srimuang*, demonstran kawakan, mantan jendral, mantan Gubernur Bangkok dan mantan mentor politik Thaksin berhasil sudah.
Dengan teriakan para pendemo _”Thaksin Ok Pai!”_ yg artinya _”Thaksin get out!”_, maka tuntutan demonstran terfokus pada mundurnya Thaksin semata, sedang reformasi di bidang politik dan hukum, serta modifikasi konstitusi Thailand agar pemerintah lebih terkontrol oleh masyarakat masih jadi pertanyaan besar.
*Hasil Pemilu Dadakan*, 2 April hari minggu kemarin, masih menghasilkan Partai Thai Rak Thai (TRT) sebagai pemenang mayoritas. Yang artinya TRT masih akan memimpin Thailand hingga pemilu berikutnya lagi.
 
Demonstrasi Anti Thaksin, dipicu oleh penjualan perusahaan telekomunikasi “Shin Corp”:http://www.shincorp.com/indexen.asp milik keluarga Thaksin Shinawatra ke investor konglomerat milih pemerintah Singapura, “Temasek Holding”:http://www.temasekholdings.com.sg/ pada 23 Januari 2006 lalu.
Penjualan bernilai *US$ 1.9 milyar* [Rp 17.3 trilyun] ini, dimata kaum menengah Thailand, walaupun memenuhi syarat legal tapi dinilai *tidak etis*, karena memanfaatkan celah hukum yang baru disyahkan 2 hari sebelumnya oleh parlemen Thailand, yang memungkinkan pemindahan kepemilikan _tanpa harus membayar PAJAK_.
Karena demonstrasi yang berkelanjutan maka pada 24 Februari, Thaksin *membubarkan Parlemen Thailand* untuk mengembalikan mandat pada rakyat serta menjadwalkan pemilu kembali pada 2 April.
Thaksin yang mendapat dukungan besar dari kalangan bawah dari daerah pedesaan, yakin bahwa dalam waktu singkat (1.5 bulan), dia akan kembali memenangkan pemilu.
Dukungan kalangan bahwa ini, terutama di *Chiang Mai* di utara Thailand, kota kelahiran Thaksin, didorong oleh kenyataan kebijakan populis Thaksin selama dia memerintah yang memberikan banyak bantuan pada kalangan bawah, diantaranya: *layanan kesehatan universal 30 Baht*. Tidak peduli sakitnya apa, kecelakaan motor, diabetes dll. Layanan kesehatan bagi mereka yang tidak mampu ini, termasuk obat hanya men _charge_ 30 baht saja (Rp 7,000).
Yang lainnya termasuk pinjaman mudah dan lunak untuk masing-masing desa, pembekuan pembayaran hutang selama 3 tahun, pembasmian pengedar obat terlarang (walau ini berbatasan dengan pelanggaran hak asasi, mirip petrus) dll.
 
Partai Oposisi dan elemen-elemen anti Thaksin menyatukan barisan dalam “People?s Alliance for Democracy”:http://alliance4democracy.blogspot.com/ (PAD) menyerukan agar pemilih melakukan _abstain_ atau memilih pilihan *”NO VOTE”* serta menyerukan bahwa pemilu kali ini adalah _pemilu tanpa legitimasi_.
Selama waktu tersebut demonstrasi berjalan terus, sebagian besar mengambil tempat di *Sanam Luang*, lapangan luas di dekat istana raja yang memang merupakan mimbar demokrasi jalanan di Thailand.
Minggu lalu, dengan dihadiri *200,000 orang*, demonstran merubah strategi dengan melakukan demonstrasi berjalan yang berujung di depan lokasi turis dan perbelanjaan terkenal di daerah SIAM, dihadapan mall yang baru dibuka Desember lalu, “Siam Paragon”:http://www.siamparagon.co.th/
 
*Beberapa hal yang bisa dipelajari dari pengalaman Thailand 2006 diatas*:
* *Pemilu bukanlah demokrasi*. Penguasa yang mendasarkan legitimasi berkuasanya pada diadakannya pemilu tidak bisa mengklaim berada dalam tatanan demokrasi sejati. Indonesia harus ingat akan ini dimana selama 32 tahun *Soeharto* sebagai presiden selalu menang dalam “pemilu”.
* *Adalah mungkin mengusir penguasa dengan mempermalukannya*. Strategi dengan asumsi penguasanya memang punya malu.
* *Vox Populi tidak selamanya Vox Dei*. _Sadly this is true._
* *Demonstrasi tidak selalu berujung pada kekerasan*. Tidak ada kekerasan atau kericuhan yang berkaitan dengan demonstrasi selama aksi protes dilangsungkan. Dengan 100-200 ribu orang di jalan, ditandingin oleh kekuatan massa lain, kita akan mengira, minimal akan terjadi _clash_, tapi ini sama sekali tidak terjadi.
* *Kehidupan tidak harus berhenti karena demonstrasi*. Kalo ke Bangkok di saat-saat demonstrasi kemarin, maka dijamin akan heran karena secara sekilas tidak ada perbedaan yang terjadi. Orang tidak takut untuk keluar, kantor dan mall tetap buka, turis tetap datang. Bahkan hari ini ketika PM turun, tidak ada _euphoria_ berlebihan.
* *Militer tidak perlu ikut campur*. Militer di Thailand membuat pernyataan di awal demonstrasi dengan mengatakan tidak akan ikut campur sama sekali dalam proses politik.
* *Tangan-tangan kekuasaan tidak bisa turun di negara yang mengaku “demokratis”*. PM Thaksin tidak bisa dan memang tidak memerintahkan untuk melenyapkan lawan politik, atau mengintimidasi dengan menangkap dan memasukkan ke penjara, karena _image_ Thailand sebagai negara “demokratis”. Lain halnya dengan negara tanpa image demokratis yang harus dipertahankan.
* *Negara bukan perusahaan*. Tidak bisa menjalankan sebuah negara dengan gaya menjalankan sebuah perusahaan, kecuali kalo mau _semi-diktatorial ala Singapura_, karena rakyat tidak bisa dipecat.
* *Punya Raja sangat menguntungkan sebagai pemberi jalan keluar kebuntuan politik*. Dengan adanya Raja yang mengambil keputusan atau “menyarankan” agar satu pihak mengalah, maka tidak perlu ada pihak yang *malu* karena bisa beralasan bahwa keputusan yang dia ambil semata-mata karena raja dan rakyat seluruhnya. Hal ini berkali-kali terjadi dalam politik Thailand, dimana Raja menjadi pengambil kata akhir yang tidak lagi bisa ditantang oleh pihak manapun. _Kelemahannya_ tentu hal ini sepenuhnya tergantung pada pribadi raja, disaat raja yang berkuasa tidak bijaksana, maka campur tangan raja pada situasi politik bisa berakibat fatal.
*Kesimpulan:*
_Business as usual_ kemungkinan besar akan terjadi di Thailand, karena TRT tetap berkuasa, ini tergantung pada pemerintahan yang akan dibentuk nanti. Tapi memang minimal Thaksin tidak lagi ada di pucuk pimpinan, walau dia masih tetap akan menjadi anggota parlemen.
Tapi mudah-mudahan, ada pembelajaran (walau mahal) yang bisa diambil oleh orang Thai, dan oleh kita semua negara tetangga di Asia Tenggara ini.
 
_Sekian laporan dari Bangkok, Thailand, the land of smile. Signing out for now hehe_
 
*Related Links:*
* “Foto-foto demo di The Media Slut”:http://themediaslut.com/?cat=19&submit=View
* “Thaksin Get Out.org”:http://www.thaksingetout.org/, kampanye online anti Thaksin
* “Thaksin Shinawatra di Wikipedia”:http://en.wikipedia.org/wiki/Thaksin_Shinawatra
* “Thaksinomics”:http://www.thaksinomics.com/ tentang policy ekonomi Thaksin