NGIMOD (A tribute to Kiki Sagir)

Aside

ngimod1.jpg

Sudah dari jaman dulu umat manusia selalu terobsesi dengan yang namanya *mimpi*. Karena bentuknya yang macam-macam, dari yang aneh, yang realistis, yang blur, yang basah (!!? hehe) serta yang pada intinya sih ga jelas, maka mimpi jadi barang yang terus menerus jadi bahan penelitian.
Ada yang berpendapat bahwa mimpi itu adalah *alam bawah sadar* yang mengambang ke permukaan kesadaran saat kita tidur. Sebagian orang bilang mimpi punya kemampuan meramalkan kejadian di masa depan. Mimpi itu tanda. Menurut “primbon”:http://www.primbon.com/mimpi.htm, seorang gadis memimpikan *ular* misalnya berarti akan mendapat jodoh (ular = cowok, get it? hehe) sedang kalo kamu bermimpi pergi ke *WC* yg kotor (katanya) itu berarti kamu akan berutung (kok bisa??). Bahkan soal mimpi ini, banyak cerita di buku dan kitab-kita agama tentang mimpi yang berupa pesan gaib.
Mimpi bisa jadi hal yang menyenangkan (basah!!? hehe) atau hal yang ga enak, misalnya kalo *mimpi serem*, atau bisa juga jadi pengalaman yang luar biasa ga enak.
Baru-baru ini gue diingetkan lagi pada sebuah konsep yang berhubungan juga dengan _so called_ mimpi. Konsep yang berdasarkan pada *filosi fatalistis* ini berhubungan dengan sebuah hukum (yg pernah [“dibahas disini juga”:http://enda.goblogmedia.com/if-you-think-it-is-a-law-then-it-might-be.html]) yaitu *hukum Murphy* atau *Murphy’s Law*, yang menyatakan bahwa *segala sesuatu kegagalan yg mungkin terjadi _akan_ terjadi.*
Sejarah umat manusia karenanya, selain penuh mimpi, juga penuh _kegagalan_. Kegagalan yang berarti sesuatu yg jelek yang terjadi yang tidak kita sangka-sangka. Dan tanpa sebab, entah karena *nasib*, karena *apes* atau karena hal lain yang tidak bisa kita kontrol.
Dan ketika ini terjadi (jangan sampeee ama gue he) tidak ada yang bisa kita lakukan. Yang bisa kita lakukan cuma (mungkin) menyangkal, menghela nafas, memaki-maki, menolak dan akhirnya menerima (tidak selalu dalam urutan ini).
*Lalu apa hubungannya dengan mimpi?*
Ternyata menurut penelitian bertahun-tahun para *pakar* dan pengalaman *orang bijak* dari dulu hingga sekarang yang diturunkan dari generasi ke generasi, mengalami nasib buruk atau apes itu dekat rasanya dengan sebuah mimpi.
Nah gue belum pernah merasakan mimpi ini πŸ™‚ tapi katanya mimpi ini adalah _the worst kind of dream you can dream of._
Yang gue maksud disini adalah *mimpi buang air besar*, atau mimpi boker. Atau dalam bahasa Sunda (mohon maaf) disebut *ngimpi modol* … ([_hence the_] singkatan = [*ngimod*]) πŸ˜›
Saking ga enaknya *pengalaman ngimod* ini dan karena sifatnya yang tidak bisa dikendalikan (karena siapa yang bisa ngendalikan mimpi?), sampe-sampe ketika kamu apes, sial, bernasib buruk atau kena sesuatu yang jelek, ekspresi yang bisa kita bandingkan dengan keapesan itu adalah: *ngimod*.
Misalnya kamu lagi ujian akhir di mata kuliah yang kamu *harus lulus* dan dosennya superduper galak. Kamu udah belajaaarr keras (padahal biasanya ga pernah), udah beli buku, udah latihan soal. Segala sesuatu udah kamu kerjain. Pas hari ujiannya, kamu bangun, mandi, senyum-senyum dengan penuh percaya diri, datang ke kampus, masuk ke kelas dan si pengawas ujiannya dengan bengong bilang ke kamu:
_”Loh mas ini bukan *Analisa Struktur 9*, kalo ujian itu udah kemarin, lah si mas ga punya jadwalnya apa?”_
Jreng jreng.
Nah dalam situasi seperti itu, ketika *temen kamu* denger apa yg terjadi sama kamu, ekspresi yang pas diucapkan (dan dengan penuh simpati serta kedalaman perasaan) adalah:
_”Ah itu mah, (maaf) *ngimpi modol* ajah namanya…”_ πŸ˜€
Ada keputusasaan disana, ada ketidakberdayaan, tapi ada juga sedikit (sangat sedikit) elemen ke-optimisan bahwa apa yang terjadi sama kamu (yang intinya sih mau gimana lagi?) juga *bisa bikin ketawa*, terutama bisa bikin ketawa temen-temen kamu, yang gue jamin ketawanya pasti pada enak banget semuanya. πŸ˜€
Tapi ya tadi itu, mau gimana lagi? _”Ya sudahlah”_, kamu bilang itu sama diri kamu, sedang disekeliling kamu temen-temen kamu ga berhenti ketawanya.
_”Mungkin memang harus begitu”_, kamu yakinkan diri kamu, percaya sepenuhnya bahwa itu bukan salah kamu sambil temen kamu masih mengucapkan, _[*”Ngimoooooddd, ngiiimoooodd”*]_ ga berhenti berhenti.
_”Pasti masih ada jalan lain”_, kata kamu di dalam hati. Minggu depan, saat kelas sebelah giliran ujian mata kuliah yang sama, kamu merencanakan untuk ikut ujian dengan mereka, toh nanti dosennya sama, dinilai sama. Tidak masalah saya ikut ujian di kelas saya atau tidak?
Betul juga, kamu tersenyum meninggalkan temen-temen kamu.
*Minggu depan datang*, kamu yakin kamu sudah mengusai materi ujiannya *100%* (700% malah kalo boleh), kamu bangun pagi, mandi, siap-siap, penuh percaya diri datang di kampus, kamu cek lagi peralatan ujian kamu. *Lengkap.*
Ruang kelas sudah keliatan dari jauh. Terbayang di benak kamu muka temen-temen kamu yang ngejekin kamu *ngimod* minggu lalu. _”Heh,”_ kamu pikir, _”kita liat siapa yang *ngimod* sekarang.”_
Kamu buka pintu kelas, kamu langkahkan kaki kamu mantap, tegap, teguh, jujur, bersahaja dan sekali lagi si pengawas ujian (masih sambil bengong bilang ke kamu):
_”Loh mas ini *Teknik Beton 3.5*, ujian *Analisa Struktur 9* tadi pagi jam *07.00*, wah salah si mas. Percis minggu lalu ada juga mahasiswa yang salah jadwal ujian, mas kenal?”_
Nah teman-teman, pada situasi ini bahkan *”ngimod”* pun *tidak cukup* untuk menggambarkan ke-apesan yang terjadi sama kamu. Kita perlu ekspresi lain yang lebih luar biasa daripada sekedar ngimod.
Kita perlu *”super ngimod”*, kita perlu *”ngimod to the max”*, kita perlu *”nguiimhooodd”*, tapi tetep aja bagaimanapun kamu berusaha mencari ekspresi yang menggambarkan perasaan kamu, ekspresi itu tetep *ga ketemu*.
Sampai akhirnya *temen kamu*, setelah mendengar cerita kamu, dengan *senyum lebar tidak kuat menahan tawa*, menyumbangkan solusi yang cuma bisa diberikan oleh *seorang sahabat sejati*.
_”Itu mah bukan (maaf) ngimpi modol lagi, itu mah *ngimpi modol pas dicabak aya’an!!*”_
Bayangkan saudara-saudara, kamu sedang *tidur*, kamu *bermimpi*. Kamu mimpi buang air besar, *boker*. Kamu ngerasa *tersiksa banget* karena kamu *GA MAU* mimpi boker. Tapi akhirnya dalam mimpi kamu boker juga.
Sesaat kemudian kamu bangun, kamu *merasa lega* karena itu cuma mimpi, tapi kamu mulai *curiga* karena mimpinya terasa sangat *nyata*.
Kamu *menjulurkan tangan* kamu ke celana, dan *ternyata memang ada…*
*Itulah artinya.*
Itulah rasanya*
*”Ngimpi modol pas dicabak aya’an!!”*
*NGIMOD! :p*

Lari dari kenyataan

Aside

human were born to run

_Someday girl I don’t know when_
_we’re gonna get to that place_
_Where we really want to go_
_and we’ll walk in the sun_
_But till then tramps like us_
_baby [*we were born to run*]_
— “Born to run”, Bruce Springsteen
 
Dua minggu lalu, seperti yang diberitakan oleh “New York Times”:http://www.nytimes.com/2004/11/17/health/17cnd-run.html dan media lain, dua peneliti di US, *Dr. Dennis M. Bramble* (University of Utah) dan *Dr. Daniel E. Lieberman* (Harvard) melaporkan bahwa manusia modern, seperti gue, kamu dan kita ini dibedakan (atau terbedakan) dari species lainnya terutama karena kemampuan kita untuk… *berlari*.
_We were born to run_, dan bukan saja _born to run_ tapi kemampuan _to run_ itu sendiri yang memungkinkan kita seperti kita sekarang ini.
Menurut mereka, dari hasil analisa fosil ditemukan bahwa dimulai dari sekitar *2 juta tahun yg lalu*, mulai muncul kemampuan pada genus HOMO untuk berlari.
DAN rupanya, kemampuan untuk berlari ini *PENTING* (dan baru disadari), karena ketika kita bisa berlari maka nenek moyang kita dulu (yg sudah pasti [_orang pelaut_]) bisa berburu dan mencari makan dalam radius yang lebih luas, dan kemudian membawa makanan lebih banyak serta ber-protein tinggi yang membuat otak kita berkembang lebih besar.
Langkah proses evolusinya kurang lebih seperti ini:
*Kemampuan berlari* >> *Makanan berprotein tinggi* >> *Otak lebih besar* >> *Bisa ngeblog*. (hehe)
Menurut kedua peneliti tadi, dimulai dari 2 juta tahun lalu itu, keluarga *genus Homo* (Sakti dan Nino contohnya), dimulai dari *Homo erectus* bisa berlari dan berbeda secara anatomi karena dilengkapi oleh:
* Kaki yang panjang dan ramping
* Tangan yang lebih pendek
* Ruang rusuk yang lebih sempit
* Tengkorak (yg rupanya) dilengkapi dengan fitur anti _overheating_ πŸ™‚
* Otot leher, yg menstabilkan tengkorak waktu berlari; dan
* *Gluteus maximus* = otot pantat! untuk kentut (hehe), eh maksudnya untuk menstabilkan tubuh saat kita condong kedepan untuk berlari.
Kamu boleh percaya boleh ga. Boleh meragukan boleh ga. Tapi hal yang membuat *gue yakin* terhadap hasil penelitian tersebut justru bukan hal yang disebutkan diatas.
Setelah dipikir-pikir lagi, ternyata, *[_we ARE born to run._]*
Kita, *manusia modern*, menghabiskan hidup kita dalam keadaan berlari.
_Lari dari keluarga, lari dari teman-teman, lari dari lingkungan, lari dari janji, lari dari tagihan._
_Lari ke film terbaru yang baru diputer di bioskop, lari ke album *U2* yang baru keluar, lari ke game *Half Life 2* yang baru dirilis, lari menuju gaji yang lebih besar, lari ke mobil yang lebih bagus, lari ke henpon model terbaru. Lari dan lari._
Kita, manusia modern, _either_ menghabiskan waktu *”lari dari”* atau *”lari menuju ke”*.
Sedikit waktu kita sisakan untuk “berjalan” dan menikmati pemandangan sekitar dan banyak waktu kita habiskan untuk berlari dari sesuatu atau menuju suatu tempat.
*Kita ingin pergi atau sampai dan berada ditempat lain secepatnya.*
Dan _we can’t help it_, buktinya temuan dua peneliti diatas.
Dalam proses evolusi secara *anatomi*, kita _survive_, berketurunan dan menjadi species dominan karena kita berlari.
Dan liat diri kita sekarang.
Dalam kehidupan, proses evolusi berlari itu juga terjadi. Cuma yang berlari yang akan _survive_, berketurunan dan menjadi species dominan.
Karena yang lain akan ketinggalan, dibelakang.
Terutama kamu, yang hobi larinya sejenis dengan jenis lari favorit gue.
*Lari dari kenyataan*.
 
 

Third anniversary is leather dan Mohon maaf lahir batin

Aside

Third anniversary is leather

Seperti yang udah “Nita posting”:http://nita.goblogmedia.com/tahun-ke3.html, hari ini adalah ulang tahun ke tiga pernikahan kita.
Udah banyak yang kita lewati sama-sama dan semoga begitu terus.
Kamu udah jadi temen yang luar biasa dan (pastinya) _istri paling keren di dunia_. πŸ™‚
Makasih udah bareng gue ya hon. _I love u everyday and everyway._
Tahun depan, _insya Allah_, ga bakal cuma kita berdua lagi.
Sekaligus juga, mengingat *Idul Fitri 1425H* yang beberapa hari lagi (mudah2xan Sabtu di *Bangkok* hehe). Gue mohon *dimaafkan* bila pernah ada tulisan gue, komen gue, email gue yg bikin ga enak.
Semoga dengan ada permaafan yang periodik ini, maka kesalahan gue tidaklah terakumulasi tapi dicicil dikit-dikit dimaafkan, jadi nanggungnya ga begitu berat. πŸ™‚
Udah ada yang dapet THR, ada yang mudik, ada yang pulang, ada yang libur. Sayangnya tahun ini untuk ketiga kalinya kita ga lebaran bareng keluarga dan temen di *Bandung*.
Semoga semuanya lancar, aman dan terkendali πŸ™‚
Met lebaran semuanya. πŸ™‚
_[btw. now I know what I am going to get you for our anniversary present hehe..]._