Obama Untuk Dunia yang Lebih Baik

Aside

ukof8DawTfmiekd84aGCczaQo1_500.jpgPada saat gue menulis ini, BBC dan CNN menunjukkan bahwa Obama sudah meraih 333 electoral votes dari 270 yang disyaratkan untuk memenangkan pemilihan presiden di Amerika Serikat.
It’s not official, tapi it’s safe to say, ladies and gentlement, Barack Obama adalah Presiden Amerika Serikat ke 44.
Historical!
Sejak mendirikan Indonesia for Obama 08 serta “berkampanye” untuk Obama di Indonesia banyak yang bertanya dan ngerepotin gue (hehe) dengan pertanyaan2x kenapa gue getol mendukung Barack Obama.
Biasanya pertanyaan dan kritik itu terbagi dalam 2 kategori besar:
**1. Memang ada pengaruhnya Obama menang terhadap kehidupan kita sehari-hari?**
**2. Kebijakan Obama dan US tidak akan berubah banyak, terutama pada Indonesia?**
Setiap kali gue membaca dan mendengar pertanyaan di atas yang terlintas dalam pikiran gue adalah selalu: **C’mon**!
Ada yang lebih luas dari itu!
Pertama, politik adalah selalu tentang kompromi. Iya kebijakan dan rencana penting, tapi yang lebih penting lagi adalah karakter seorang pemimpin. Bisa kah dia kita percaya, bisa kah dia memimpin?
Yang diminta oleh seorang kandidat adalah kepercayaan pemilihnya untuk memberikan tanggung jawab, berpikir, mengambil keputusan yang terbaik untuk seluruhnya, dan bukan untuk individu atau sebagian golongan.
Kebijakan terhadap Indonesia ada disitu, apapun yang kemudian dilakukan oleh kepengurusan Obama gue yakin, karena gue percaya, bahwa kebijakan itu sudah merupakan hasil dan pertimbangan masak dan diputuskan dengan hati-hati.
**Kedua dan yang lebih penting.**
Kenyataan bahwa seorang kulit hitam, dengan nama aneh dan nama tengah Hussein, anak dari seorang berdarah Kenya dengan ibu kulit putih yang dibesarkan oleh kakek-neneknya, bisa jadi orang no 1 di planet harus disadari punya makna yang luar biasa.
Seorang kulit hitam menjadi presiden amerika ke 44, hal yang tidak terbayangkan hal ini bisa terjadi sebelumnya. It’s amazing.
Bahwa dia pernah tinggal di **Menteng, Jakarta, Indonesia** beberapa tahun waktu dia kecil, itu hanyalah nilai tambah saja, _added value_.
Ini adalah sebuah kesaksian bahwa umat manusia bisa dan masih memiliki sisi yang baiknya, bahwa perubahan itu mungkin, bahwa kita sebagai sebuah spesies tidaklah menuju kehancuran tapi justru secara terus menerus memperbaiki diri.
Kemenangan **Barack Obama** karena itu, **memicu imajinasi, menciptakan ribuan inspirasi dan jutaan harapan.**
Gue bisa mendengar, bahkan sekarang, semua orang tua, memacu anaknya yang ketinggalan dan kekurangan dengan kata-kata: “Lihat Obama, dia siapa sebenernya, dan bisa jadi Presiden Amerika, kamu juga bisa!”
That’s the message that the US voters are now sending to the rest of the world. No matter who you are, how you raised, if you want to, you can!

Berhenti berpikir **egois** dan **selfish**, dan mengukur segala sesuatunya hanya dengan apa yang ada di depan mata kita saja.
Betul bahwa apa yang ada di depan mata tentu penting, tapi di moment ini, di kesempatan ini, mari lihat gambar yang lebih besar, mari jadi bagian dari sejarah, mari lihat bahwa gelas tersebut tidak kosong setengah tapi sekarang sudah menjadi berisi setengah.
Lihat bahwa matahari baru bersinar kembali hari ini, membawa hari baru, perubahan baru, keyakinan baru, harapan baru. Tidak saja untuk orang Amerika, tapi untuk semua orang di planet ini.
Hari ini gue makin percaya, bahwa pada sisi baik manusia masih ada dan selalu ada serta bisa diharapkan,
Hari ini, _all of us it’s united under one person_.
_**One Planet. One President. One nation, the nation of human kind.**_
_**Vivat Obama!**_

PS: Indonesia’s Obama Celebration will be held, this afternoon, 5pm di Bellagio Boutique Mall, Mega Kuningan Jakarta. datang aja, terbuka, ajak teman, kita rayakan bersama!

First there was a blog – Memperingati Hari Blogger Nasional 27/10

Aside

hari-blogger-nasional.jpg_Posting ini juga dapat dibaca di buku dengan tajuk “100 Blogger Bicara” hasil kerja keras teman-teman dari BlogFam dan penerbit Gradien Mediatama._ _Image modification by “Ronceh”:http://rony.dgworks.net/ nang Yogya_

**Pada awalnya**
Blog adalah tentang manusia dan hubungan antar manusia yang disampaikan lewat cerita yang kita bagi diblog kita masing-masing. Kekuatan bercerita yang dimungkinkan oleh blog serta tersedia untuk siapa saja itu yang pertama kali membuat saya tertarik untuk ngeblog.
Saya mulai ngeblog pada tahun **2001**, tapi sepertinya bibit-bibit ngeblog sudah mulai hadir 8 tahun sebelumnya saat saya masih duduk di bangku SMP.
Naik ke kelas 2 SMP saya mulai menulis buku harian, mencatat apa yang terjadi pada diri saya setiap hari. Saat itu saya berpikir bahwa hari-hari yang saya lalui dipenuhi dengan banyak hal yang baru pertama kali terjadi di pada diri saya, dan alangkah sialnya dan malangnya kalau saya melupakan hal-hal tersebut. Pertama kali bermain sendiri dengan teman-teman, pertama kali pulang malam, pertama kali malam mingguan berpura-pura jadi orang dewasa, pertama kali mendapat surat cinta atau menyatakannya. Saya merasa hidup baru bermula saat itu dan saya harus mencatatnya!
Percepat 7 tahun ke depan, dengan kombinasi ketertarikan pada Internet yang baru hadir beberapa tahun di Indonesia, saya kembali mencari media personal yang saya bisa gunakan untuk mecatat dan bercerita.
Di tahun 2001, tanpa sengaja, dan bermula serupa dengan cerita semua blogger *rasanya*, saya menemukan yang namanya blog.
Apa ini? Saya bertanya. Bagaimana orang menggunakannya? Di saat itu pun saya sudah merasa bahwa saya berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar dari tampilannya.
Berikutnya selain membuat blog saya sendiri, saya kemudian juga membuat riset panjang yang saya tuliskan dalam tulisan “Apa itu blog?” yang tidak hanya mencoba menerangkan apa itu blog, tapi juga sejarahnya, budayanya, pengguna-penggunanya.
Pada tahun 2001, Blogger Indonesia dapat dihitung dengan jari. Hampir semua saya link dari blog saya. Untuk menemukan blog yang menarik tidak ada cari lain selain meng-klik link-link di blog teman kita. Sebaliknya pun untuk membaca blog teman kita, tidak ada cara lain selain dengan memeriksa blog teman kita satu persatu.
Tidak ada fasilitas komen yang terintegrasi, tidak ada fasilitas untuk mengupload gambar secara otomatis, tidak ada trackback, tidak ada RSS.
Blog adalah blog saat itu, tempat kita berbagi dan berekspresi. Tempat kita mencatat dan bercerita.

**Lalu kemudian**
Di tahun 2002, kebetulan saya mengikuti istri saya tinggal di Bangkok, Thailand. Blog menjadi sebuah media kami untuk sedikit mengobati rasa rindu pada tanah air. Sedikit peluang untuk masih mengecap canda dan tawa serta cerita dengan teman-teman di Indonesia.
Tapi ternyata perasaan saya pertama tadi betul. Blog lebih besar dari yang tampak di permukaannya.
Di tahun-tahun ini, begitu banyak blog dan inovasi yang banyak orang lakukan dengan blog. Muncul blog audio (podcast), blog fotografi yang kemudian disusul dengan blog video (vlog).
Blog rupanya akan menyelamatkan dunia. Blog digunakan untuk memberdayakan masyarakat, menambah kualitas pendidikan, memasarkan produk, mengabarkan kata-kata baik tentang perusahaan.
Blogger makin banyak dan tumbuh. **Konsumerism** digantikan oleh **Produserism**.
Manusia makin dimanusiakan oleh teknologi, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, seorang individu tidak lagi dibatasi untuk menjadi seorang produser materi.
Konten-konten bermunculan. Puluhan, ratusan bahkan ribuan topik hadir.
Dari blog behind the scene-nya sang sutradara **Joko Anwar** saat memproduksi filmnya ”KALA” (“http://deadtimethemovie.blogspot.com/”:http://deadtimethemovie.blogspot.com/), hingga blog **Intelejen Indonesia** (“http://intelindonesia.blogspot.com”:http://intelindonesia.blogspot.com/)yang membahas isu-isu intelejensia secara anonimus.
Dari blog penggemar klab sepak bola **Persib Bandung** (“http://persib.wordpress.com/”:http://persib.wordpress.com/) hingga blog-nya **Bang Reinhard Hutagaol** (“http://reinhardjambi.wordpress.com/”:http://reinhardjambi.wordpress.com/) seorang perwira polisi yang mengemban tugas PBB di Darfur, Sudan.
Topik dan tema yang muncul di blogsphere tidak pernah habis. Seperti kata **Mao Zedong**, sang Ketua Partai Komunis China, ”Biarkan ribuan bunga bermekaran”.
Memang ada sebuah rasa kolektifitas yang tumbuh disertai selera melawan kemapanan yang diemban oleh blog dan blogger.
Melawan kemapanan media dan menara-menara gading pusat informasi. Infomasi kini bebas untuk dimiliki siapa saja dan bukan hak kemewahan media beserta redaktur, editor, pemimpin perusahaan dan gerombolan pengiklannya.
Informasi kini bebas merdeka dan dapat dimiliki serta dimulai hanya dari seorang blogger.

**Sekarang ini**
Blog dapat dibandingkan dengan kehadiran mesin cetak yang dibuat oleh **Johaness Gutenberg** di tahun 1439.
Sebelum Gutenberg menciptakan mesin cetak mudah dan murah (alat cetak **Movable Type**) informasi dalam bentuk buku dan ide-ide dimonopoli oleh institusi kemapanan seperti gereja dan kaum bangsawan semata.
Penyebaran ide lewat buku yang dipermudah dan diperluas oleh alat cetak Gutenberg membuat, dalam waktu singkat, buku dan ide pembebasan dapat dinikmati oleh orang biasa. Masa pencerahan (Renaissance) menjadi bukti nyata dengan dampak luar biasa yang kita rasakan sekarang yang dimulai dari sebuah alat pembebas informasi tersebut.
Berbahagialah teman, sejarah terulang kembali dan kita tengah berada dipusatnya. Blog membuat, untuk kedua kalinya, informasi menjadi bebas kembali.
Dua hal yang dibebaskan oleh blog adalah biaya produksi dan biaya distribusi dari informasi. Dengan blog tidak lagi kita dibebani biaya memproduksi sejuta lembar kertas berisi ide yang ingin kita sampaikan. Dengan blog tidak lagi kita dibebani biaya distribusi menyebarkan sejuta lembar kertas tersebut.
Dengan sebuah blog, tanpa biaya berarti, satu juta orang dapat membaca informasi yang hendak kita sampaikan.
Apa yang bisa kita perbuat dengan kebebasan ini, apa sumbangsih nyata blogger untuk masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia?
Hidup kita jadi lebih kaya, kaya budaya, kaya informasi, ada sebuah kecerdasan dan kesadaran kolektif yang muncul dan tumbuh di dunia blogosphere.
Saat ini ada **500 ribu blogger di Indonesia**, 500 ribu orang, generasi pemroduksi konten yang sudah nyaman menggunakan blog untuk mengirim dan menerima informasi
500 ribu individu dengan sikap yang lebih partisipatif, terbiasa menuangkan pikiran dalam tulisan, berbuat sesuatu dan tidak berpangku tangan, berpikir secara terbuka dan aktif mencari dan membagikan informasi.
Dan jumlahnya bertumbuh sangat cepat, berkali lipat 2 kali setiap 6 bulan sekali.
Kalau itu bukan sebuah masa depan yang lebih baik maka saya tidak tahu harus kita sebut dengan apa.
Blog dan alat-alatnya sudah makin mudah digunakan. Fasilitas sudah tersedia. Tahun 2007 Blogger Indonesia berhasil membuat sebuah acara nasional untuk pertama kalinya **Pesta Blogger 2007** (www.pestablogger.com), media massa secara aktif membahas dan mengutip blog.
Pertanyaan, peran dan kemudian ”tanggung jawab” yang blogger usung menjadi lebih serius, luas dan berat.
Blog mungkin dan akan merubah dunia, menjadi dunia yang lebih baik, menjadi dunia dimana tidak ada lagi monopoli terhadap penyebaran informasi.
Dunia Blogosphere Indonesia sudah makin matang dan dalam, tapi diluar itu semua, yang saya rindukan sebenernya bukan itu.
Lewat blog saya ketemu dengan banyak orang, lewat blog saya berbagi kisah, rasa dan cerita dengan teman-teman yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan untuk bertemu.
Lewat blog kami bercerita tentang pasangan, tentang kehidupan, tentang pacar yang baru ketemu, tentang pacar yang tak akan kembali lagi, tentang pernikahan, tentang kelahiran seorang buah hati, tentang orang tua, tentang sahabat terdekat. Tentang perpisahan, tentang perceraian.
Bercerita tentang blog adalah bercerita tentang para penulisnya, tentang para bloggernya.
Lewat blog kami bercerita dan lewat blog kami menjadi manusia lagi.
**Selamat Hari Blogger Nasional!**
**Selamat Hari Sumpah Pemuda!**
Sampai ketemu di “Pesta Blogger 2008”:http://www.pestablogger.com, tanggal 22 November nanti!
**VIVAT BLOGGER INDONESIA!**

Build me a son, O Lord

Aside

p19-04-08_1518_edited_r.jpgBuild me a son, O Lord,
who will be strong enough to know when he is weak,
and brave enough to face himself when he is afraid;
one who will be proud and unbending in honest defeat,
and humble and gentle in victory.
Build me a son whose wishbone will not be where his backbone should be;
a son who will know Thee and that to know himself is the foundation stone of knowledge.
Lead him I pray, not in the path of ease and comfort,
but under the stress and spur of difficulties and challenge.
Here let him learn to stand up in the storm;
here let him learn compassion for those who fail.
Build me a son whose heart will be clear, whose goal will be high;
a son who will master himself before he seeks to master other men;
one who will learn to laugh, yet never forget how to weep;
one who will reach into the future, yet never forget the past.
And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor,
so that he may always be serious, yet never take himself too seriously.
Give him humility, so that
he may always remember the simplicity of true greatness,
the open mind of true wisdom, the meekness of true strength.
Then, I, his father, will dare to whisper, have not lived in vain.
–A Father Prayer by General Douglas MacArthur (May 1952)
 
_Met ulang tahun “Gaga”:http://enda.goblogmedia.com/laporan-sukacita-telah-lahir.html semoga sehat selalu, tambah pinter, sayang dan disayang sama semua, juga selalu dalam lindungan Allah SWT. Amien. -Papa & Mama_