Pamit undur.

Rangkuman twit-twit saya kemarin, 9 Jan 2013, ketika Salingsilang.com mengumumkan resmi penutupan layanannya.

Mengutip dari pengumuman di atas:

Kami masih percaya pada kekuatan dunia digital untuk mengubah Indonesia jadi lebih baik, melalui media sosial yang masih akan terus berpengaruh di tahun-tahun ke depan. Kami bangga atas apa yang sudah kami kerjakan, pada tim yang sudah terbentuk, dan seluruh pihak yang sudah bekerja bersama. We had fun! Perjuangan belum selesai, dan tidak perlu berhenti sampai di sini. Mari terus berkarya, dan bersama-sama creating something awesome! 🙂

Kami, tim Salingsilang.com pamit undur.

Baca juga posting teman-teman lain tentang Salingsilang:

 

Menjadi Dewasa Bukan Pilihan #LessonLearned2012

2012Things I learned, people I met, stuff I cried on. O, 2012, HAPPY OLD YEAR! –Enda

Banyak orang bilang, memasuki tahun yang baru adalah waktu yang tepat untuk membuat resolusi tahun baru. Semacam janji-janji yang kita niatkan untuk kita lakukan di tahun yang akan kita jalani ini.

Kita beresolusi diantara hujan yang turun, pesta kembang api dan sepiring batagor, atau mungkin semangkuk baso.

Sebagian orang serius dengan resolusi ini, sebagian lagi menganggapnya lebih seperti doa daripada janji. Kalau dikabulkan yang syukur, kalau tidak juga tidak apa-apa.

Tahun ini saya memilih untuk tidak banyak berjanji dan tidak menuliskan resolusi tahun baru, tapi justru mencoba belajar dari tahun yang sudah lewat.

Tahun 2012 adalah tahun yang istimewa buat saya, tahun istimewa lainnya adalah tahun 1995 (baru jadi mahasiswa), 1999 (wisuda, lepas dari kampus), 2000 (pertama kali dapet kerjaan di Jakarta), 2001 (menikah), 2005 (Gaga lahir) dan kini 2012.

Bukannya tahun2x lain tidak ada yang memorable, tapi tahun-tahun inilah yang lumayan membekas dan lebih teringat daripada tahun-tahun yang lain. Dan di bawah ini beberapa hal yang saya ingat dan saya belajar di tahun 2012:

Peran Penting Orang Yang Tidak Kita Suka
Di setiap kumpulan orang, apa itu di kantor, organisasi, di keluarga, kadang ada orang yang posisinya membuat dia tidak disukai karena perannya memang menjadi orang yang tidak disukai. Ini adalah mereka yang biasanya tugasnya meminta laporan keuangan, mengingatkan kita pada kewajiban-kewajiban kecil, meminta detail yang menurut kita tidak penting. Tahun ini saya belajar bahwa peran yang tidak kita sukai ini ternyata penting dan perlu ada. Sebuah kumpulan orang tidak bisa berfungsi tanpa orang yang tidak kita sukai ini. Sebuah kumpulan orang MEMERLUKAN orang yang tidak kita sukai ini. Tidaklah mungkin dalam sebuah kumpulan orang untuk seluruhnya menjadi orang yang disukai semua orang. Someone need to be the bad guy. But who?

Kesucian Tempat Bekerja
Tahun ini saya belajar dan menyadari pentingnya sebuah tempat kerja. Tempat kerja (atau kantor) memisahkan antara dunia luar dengan dunia kerja. Dunia kerja punya maksud dan tujuan, punya aturan dan tata perilaku yang berlaku di tempat kerja. Bekerja di sebuah kantor adalah hal yang tidak natural. Manusia purba tidak pergi ke kantor. Pak tani tidak berangkat ke kantor. Kantor adalah ciptaan manusia baru dan mungkin baru ada sejak tahun 50an. Kalau kamu suka nonton Mad Man, seri televisi tentang advertising agency di tahun 60an, seperti itulah kantor seharusnya. Ada “seragam” khusus untuk ngantor dan peraturan sendiri di kantor.

Dengan pemisahan yang jelas, maka jelas juga bagaimana kita bertindak. Mana yang teman, mana yang kolega. Mana hubungan pertemanan, mana hubungan kerja. The sancity of place of business jadi penting, karena membuat kita jelas berperilaku.

Masuk ke jaman-jaman sekarang, pemisahan itu makin tidak jelas. Tempat kerja makin kasual dan tidak formal. Kantor makin seperti rumah. Dan banyak juga yang memiliki profesi dengan bekerja di rumah.

Sebenarnya sah-sah saja dan enak juga, lebih santai, selama kita tetap sadar kita sedang berada dimana. Kantor kah, atau rumah kah? Dia yang duduk di sebelah sana adalah teman, atau kita punya hubungan kerja profesional dengannya? Tanpa pemisahan yang jelas dengan tanda-tanda yang jelas kita dapat terjebak dalam ketidakjelasan itu.

Kehilangan dan Kematian
Di tahun ini, terutama di penghujung tahun juga ada beberapa kehilangan keluarga dan teman yang duluan meninggalkan alam fisik ini. Ada keluarga yang memang sudah sepuh, ada teman lama yang kena kecelakaan, ada mantan dosen yang mendadak terkena kanker. Semua kematian adalah kejutan. Kita tidak pernah siap untuk mendengarnya. Terutama karena kematian mengingatkan kita akan waktu kita sendiri yang mungkin tiba-tiba dapat berakhir. Terutama karena kita diingatkan pada kesedihan orang-orang terdekat yang ditinggalkan. Proses pemakaman sebuah kematian adalah proses bagi kita yang memakamkan dan bukan untuk orang yang dimakamkan.

Menjadi Dewasa Bukan Pilihan
Bertahun-tahun yang lalu, waktu saya masih berprofesi sebagai Copywriter di Ogilvy & Mather, salah satu kampanye yang kita kerjakan untuk Sampoerna A Mild Bukan Basa Basi adalah rangkaian kata-kata atau kutipan dengan attitude bukan basa basi. Salah satu yang sempat kita luncurkan dan orang masih ingat serta kadang suka dikutip adalah versi yang berkata: Jadi Tua itu Pasti, Jadi Dewasa itu Pilihan.

Tidak terlalu orisinal memang, karena ada beberapa versi lain dengan tema sama yang pada dasarnya mengatakan hal yang sama. Sampai tahun lalu saya masih berpikir apa yang terucap dalam kalimat tersebut betul, baru tahun lalu juga saya menyadari ada kesalahan fatal disitu.

Jadi dewasa itu BUKAN pilihan, jadi dewasa bukan peristiwa yang secara sadar kita ambil, tidak ada tombol jadi dewasa atau tidak, dan tidak ada juga red pill atau blue pill yang ditawarkan Morpheus yang mana kalau kita minum yang red pill maka kita jadi dewasa.

Jadi dewasa adalah kejadian yang terjadi secara gradual, diam diam dan tidak kita sangka-sangka. Dalam kasus saya, saya ngerasa terpaksa harus jadi dewasa, ngerasa harus bersikap dewasa, tidak ada pilihan lain.

Jadi dewasa karenanya bukan pilihan, kamu, saya, kita berproses menjadi dewasa satu langkah demi satu langkah, satu pelajaran demi satu pelajaran, satu kreditan diatas kreditan lainnya, satu tanggung jawab diatas tanggung jawab lainnya, satu kesalahan diatas kesalahan lainnya.

Jadi dewasa, terbalik dari asumsi mayoritas orang adalah by defaultnya. Mayoritas orang adalah mahluk dewasa pada akhirnya. Dan kesempatan untuk nakal, untuk jadi kekanak-kanakan, untuk jadi tidak dewasa adalah kesempatan langka yang harus dicuri setiap kali memungkinkan.

Terakhir
Di alam digital dan media sosial seperti sekarang ini, kadang kita rancu dengan keberadaan teman, mana yang teman beneran, yang teman lama, sahabat, teman di online, teman di facebook, kenalan atau hanya follower misalnya. Satu hal lagi yang saya belajar di tahun 2012, pada akhirnya teman terdekat yang akan selalu ada adalah keluarga di sekeliling kita. Dan saya bersyukur untuk itu, 2012 akan jadi jauh lebih berat lagi tanpa teman hidup untuk berbagi dan sekedar selalu ada, disitu.

Katanya lagi, teman yang baik adalah teman yang kenal siapa diri kita dan tetap menyukai kita, saya bersyukur untuk teman-teman itu.

If you have to make mistake, make excellent mistake kata seorang teman (thanks le!), mistakes, regrets, losing, I did di tahun 2012 ini, tapi di saat yang bersamaan juga datang learned, new trust dan hope.

“No matter how much suffering you went through, you never wanted to let go of those memories”, kata Haruki Murakami. Dan rasanya itu yang harus saya lakukan, keep making memories, keep creating something awesome.

Nah sekarang mana sepiring batagornya? Atau mungkin semangkuk baso? 😀

Akun Facebook yang di Hacked dan Ketahanan Digital Negara?

ketahanan-digital-indonesiaAduh akun Facebook saya di hacked teman-teman, mohon di-ignore kemarin tag-tag jualannya, saya sudah buat akun baru, mohon di-add lagi. –HackedUnitedAnonymous

Berapa sering akhir-akhir ini kita mendapat pesan seperti diatas, dari teman dan keluarga. Ada yang akunnya sama sekali diambil dan diganti passwordnya sehingga terpaksa harus membuat akun baru dan memberi tahu semua jejaring sosialnya bahwa akun tersebut palsu.

Ada juga yang akunnya hanya direbut sementara digunakan untuk jualan “Blackberry BM dimana penjualnya berada di Batam” yang harganya sangat murah dilengkapi dengan nomor telepon yaaaang, setelah uangnya kita transfer no telepon yang asalnya mudah dihubungi lagi itu tidak pernah bisa ditelpon lagi.

Kasus pembajakan akun Facebook ini sudah sangat umum buat pengguna Indonesia bahkan hampir dalam batas klise. Kita tidak terlalu kaget bahkan tidak terlalu mempedulikannya lagi. Yang satu hilang, tinggal ganti dan buat akun yang baru.

Dan kehilangan akun ini pun disebabkan oleh banyak hal. Yang paling sistematis adalah dengan praktek menggunakan worm dimana akun kita secara otomatis menyebarkan link, biasanya lewat FB messenger, dimana ketika teman kita mengkliknya membuat mereka pun akan menyebarkan link yang sama.

Link tersebut bisa berupa link phising, masuk dalam sebuah halaman yang sangat persis sama dengan halaman Login Facebook dan meminta login dan password kita, dan tanpa kita sadari kita dengan santainya memasukkan login dan password kita di halaman tersebut. Membedakan halaman phising ini bahkan lebih sulit dilakukan lagi ketika kita mengaksesnya di tablet atau mobile devices.

#Modus lain biasanya disebabkan keteledoran kita sebagai pengguna, entah kita yang menggunakan komputer bersama-sama di ruang publik sehingga data yg terkirim lewat wifi tanpa dienkrip bisa di-sniff, atau sesederhana kita lupa melakukan logout saat kita selesai menggunakan komputer itu.

Kebiasaan buruk lain adalah saat kita menggunakan password yang mudah ditebak, 123456, gapakepassword, atau tanggal lahir kita, tanggal lahir anak?

Yeah, udah kebuka tuh akun Facebook, atau Twitter atau Gmail, Yahoo Mail dan lain sebagainya.

Jadi bagaimana kalau akun kita atau akun teman kita, terutama akun Facebook di hacked?

Arahkan ke Facebook Help ini untuk baca-baca tindakan apa yang bisa dilakukan, atau langsung ke halaman ini, jika terjadi pada kamu: https://www.facebook.com/hacked

 

Semakin tergantung kita pada layanan digital, semakin seharusnya kita makin sadar akan keamanan penggunaan layanan-layanan digital tersebut.

Nah bagaimana kalau kita adalah sebuah negara?

Negara Indonesia tercinta.

Dalam dunia yang makin digital seperti sekarang, bagaimana sebuah “negara” melihat kondisi ketahanan digital-nya.

Apa sih yang termasuk ketahanan digital sebuah negara?

Website-website resmi negara/pemerintah, komunikasi rahasia antara lembaga dan institusi negara/pemerintah termasuk di dalamnya antara pejabat-pejabat negara/pemerintah, data-data negara dan data-data pemerintah.

Akun-akun sosial resmi milik pemerintah.

Pentingkah keamanannya dijaga? Dijaga terhadap siapa? Bagaimana jika terhadap pemerintah asing yang tidak ramah, bagaimana jika terhadap grup non pemerintah yang bermaksud jahat, teroris, kejahatan, koruptor, pencurian data dan informasi untuk kepentingan bisnis.

Dan yang paling penting jika kita merasa bahwa hal ini penting untuk dijaga, maka tentu ada dua hal yang logis untuk dipertimbangkan:

  1. Siapa yang bertanggung jawab untuk itu semua?
  2. Mapping ukuran tingkat kesiapan dari semua lembaga, institusi, organisasi negara dan pemerintah

Sebenar-benarnya bahwa ini bukan tugas yang mudah dan seringkali tidak dihargai hingga terjadi sesuatu, tapi sudah saatnya Ketahanan Digital Negara ini mulai dipertimbangkan dan dijadikan sebuah isu penting.

Kita punya Lembaga Sandi Negara (akun twitter: @Lemsaneg_RI) sebagai badan yang rasanya paling pas dan memang punya tugas melindungi komunikasi dan interaksi negara dan pemerintah, tapi apakah punya kapasitas yang cukup dalam alam digital mari kita sama-sama lihat dan cermati lembaga yang sudah dibentuk sejak tahun 1946 tersebut.

Tapi tugas pertamanya sudah jelas, di no 2, LSN perlu diberi mandat dan melakukan pemetaan ketahan digital pada seluruh perangkat dan kelengkapan digital negara dan pemerintah karena dari pemetaan tersebut kita bisa mendapatkan pijakan akan langkah prioritas yang perlu dilakukan terlebih dahulu di masing-masing lembaga.

Kalau butuh contoh dalam hal media sosial, bisa lihat bagaimana Angkatan Darat Amerika Serikat, US ARMY, mendata dan mendaftar seluruh akun media sosial resmi yang masih dalam lingkup ARMY itu sendiri, dari Chief of Staff, hingga akun twitter markas militer seperti Fort Bragg. Bukan hanya itu mereka juga menerbitkan panduan social media untuk digunakan oleh masing-masing unit di bawah US ARMY: US ARMY Social Media Handbook

Masing-masing lembaga negara dan pemerintah akan memiliki kebutuhan yang berbeda akan keamanan, tapi yang sudah pasti sama adalah kesadaran akan keamanan perlu dimiliki bersama.

Jangan sampai kejadian misalnya terjadi penyadapan komunikasi Presiden dengan menteri-menterinya, atau emailnya bocor apalagi sampai akun Facebook Presiden RI atau akun Twitternya Menkominfo jualan Blackberry BM yang penjualnya selalu di Batam itu. 😀