Emang Penting Ya?

Aside

emang penting?

_Nothing really matters, Anyone can see_
_Nothing really matters, Nothing really matters to me._
_– Bohemian Rhapsody, Queen_
 
Bayangkan kamu berjalan di *pantai* dingin pagi hari. Hujan rintik jatuh kamu sendiri. Langit abu-abu, ombak berdebur datang dan pergi, datang dan pergi. Pasir basah terasa di sela-sela jari kaki kamu yang telanjang, kabut turun sedikit demi sedikit dan yang terlintas di benak kamu adalah, _emang penting?_ :p
Hehe.
Berkali-kali rasanya denger pertanyaan ini, baru kerasa sekarang bahwa *”emang penting?”* atau *”penting ya?”* ini bener-bener bisa menangkap *esensi* kehidupan sehari-hari. Frase ini gue rasa merupakan hasil observasi puluhan tahun dari interaksi sosio-dinamik umat manusia dan juga spesies primata lainnya.
Siapapun yang yang pertama kali come up dengan frase “emang penting” ini gue curigai *jenius dua belas* dan *luar biasa brilliant*.
Bukan aja kamu bisa menggunakan “emang penting?” sebagai filter atau ukuran terhadap semua [and I mean SEMUA!] yang kamu lakukan dan pikirkan setiap harinya, tapi juga frase ini bisa dilayangkan dengan _sentuhan sinisme_ dan _belaian nihilisme_ yang bakal membuat kagum bapak nihilisme *Nietzsche* sekalipun.
Coba deh, ukur setiap hal yang kamu lakukan dengan frase ini dan *TEST* hal-hal apa yang lulus dari ujian “emang penting?” ini dan hal-hal apa yang ga?
Di pagi hari, weker kamu bunyi, kamu masih tergeletak di tempat tidur dalam gelap dan otak kamu ngasih pesan bahwa *kamu harus bangun* supaya ga terlambat. _Emang penting?_
Kamu bangun, ambil handuk [[_emang penting?_]], masuk kamar mandi boker di toilet [_emang penting?_ *PENTING!*], ombeh [_emang penting?_ *PENTING! GILE LO YE!*], trus sikat gigi [_emang penting?_ *PENTING!!!!*].
Abis sikat gigi, kamu mulai shower-an dan mandi pake sabun [[_emang penting?_]]. Abis mandi, keringin badan [[_emang penting?_]]. Pake celana dalam [_emang penting?_ tergantung hehuekehek], trus mikir mau pake baju apa hari ini? [[_emang penting?_]]
Abis itu kamu ngaca [[_emang penting?_]] sambil sisiran [[_emang penting?_]] trus pake make up [_emang penting?_ PENTING untuk cewek dan cowok2x metrominisexual serta semua diantaranya.].
Kamu siap berangkat, ke sekolah [[_emang penting?_]] ke kampus [[_emang penting?_]] atau ke kantor [[_emang penting?_]].
See, semua hal bisa kamu test ke frase ini. Mari kita coba ke hal-hal lain yang lebih besar dan juga kita pikirkan sehari-hari.

Ya kan?
Banyak banget hal-hal yang *ga LULUS* ketika kamu tanyakan pertanyaan ini.
Bahkan menurut hasil perhitungan statistik probabilistik sampling matematika tingkat tinggi superduper-rumit-jadi-jangan-ditanya, _ketika kamu tanyakan “emang penting?” maka *95%* jawabannya adalah GA PENTING._
*Cuma 5%* dari semua hal di dunia ini yang *PENTING*. Dan 95% waktu lainnya, kita habiskan untuk ngurusin hal-hal GA PENTING.

Nihil ga sih?
Penting ga sih?
Apa yang ga penting buat kamu *boleh* penting ga buat gue? Dan bolehkah yang kamu pikir penting mungkin sama sekali ga penting buat gue?
Kok rasanya _*banyak hal-hal ga penting* yang gue rasa PENTING_. Dan banyak hal-hal yang [harusnya atau dulunya] penting sekarang jadi ga penting.
_Penting ga sih untuk selalu melakukan hal-hal yang penting aja?_
Malam-malam ini, tiap malam gue meganging perutnya “istri”:http://nita.goblogmedia.com, ngerasain *sang bayi* yang tumbuh disitu. Satu malam dia menendang-nendang segala arah, malam lain dia cuma sibuk bolak balik mencari posisi enak. Malam lainnya dia nyender ke sisi kiri atau sisi kanan.
Dan gue mikir, apa yang *dia* pikir penting? Ketika kita masih di dalam perut ibu-ibu kita apa yang kita rasa paling penting dan yang kita rasa ga penting?
Apa yang penting buat kita 10 tahun yang lalu. Apa yang penting buat kita 10 tahun kedepan. Apa yang penting buat ibu bapak kita. Apa yang penting buat anak kita. Apa yang penting buat cucu kita.
 
_Penting ga sih mikir gini? Heheh. :p_
 

PESAN CINTA KOMUNITAS BLOG INDONESIA

Aside

Valentine Untuk Roy Suryo

 
 
 
 
 
 
Internet, 14 Februari 2005
Sehubungan dengan berbagai komentar *KRMT Roy Suryo Notodiprojo* akhir-akhir ini di berbagai media, kami, *komunitas blog Indonesia* berkesimpulan bahwa beliau _kekurangan informasi atau bahkan menerima informasi yang tidak benar tentang blog_. Kami sendiri memandang bahwa blog adalah hasil dari evolusi bertahun-tahun di Internet, yang semakin menunjukkan bahwa Internet adalah *wadah nyata* untuk saling menghubungkan orang-orang di dunia nyata.

Pesan Cinta lengkap yang juga di-release ke media-media massa dapat kamu temukan disini: “Pesan Cinta Blogger Indonesia”:http://roysuryowatch.org/2005/02/pesan-cinta-blogger-indonesia/

Kami juga yakin bahwa *KRMT Roy Suryo* sebagai seorang manusia tentulah sangat membutuhkan kasih sayang dari orang lain. Oleh karena itu, kami, komunitas blog Indonesia pada bulan penuh cinta ini sepakat untuk *mendedikasikan* hari Valentine tahun 2005 khusus untuk *KRMT Roy Suryo Notodiprojo*.
Salam hangat selalu serta penuh perhatian dan kasih sayang dari kami untuk *KRMT Roy Suryo Notodiprojo* di Hari Kasih Sayang ini.
Tertanda,
*Komunitas Blog Indonesia*
ps. Hehe, kalo kamu blogger, posting _pesan cinta_ ini di blog kamu. Gampang kamu, pentunjuk lengkap ada disini: “for roy suryo with love”:http://for-roy-suryo-with-love.blogspot.com/
 
_Ah Internet is such a wonderful thing isn’t it_ πŸ™‚
_Ini bukan cuma buat KMRT RS dan bukan cuma dari Komunitas Blog Indonesia aja, menurut gue, ini, bahkan sebagai simbol bahwa dalam masalah apapun, siapapun orangnya, kalo kita tau ada yang salah, *mari kita betulkan bersama, kita bisa dan punya kemampuan untuk itu*. Untuk kita dan masa yang akan datang! :P_

Tentang nakal, batas dan dosa

Aside

apakah kamu nakal?

_The purpose of life is to fight maturity. –Dick Werthimer_
Dari kita kecil kita selalu diajarkan bahwa kita mendapat *skor negatif* alias DOSA untuk setiap perbuatan jahat dan tidak baik yang kita lakukan.
Orang jahat, yang kelakuannya jahat punya banyak dosa. Makin jahat seseorang, maka makin berdosalah dia.
Jadi jangan berbuat jahat. “Hindarilah kejahatan..” kata kitab suci dan orang-orang tua nan bijaksana.
Nah, kalo kita dilarang dan berdosa ketika kita jahat, bagaimana kalo kita tidak jahat tapi… *nakal*?
Ada sih “nakal” yang memang udah jelek banget konotasinya, cewek nakal, polisi nakal, petugas nakal, wartawan nakal, politisi nakal, _si kancil anak nakal_, nyamuk-nyamuk nakal dan lain-lain. Ini adalah orang2x yg udah lebih lagi nakalnya dari nakal biasanya, dan punya konsekwensi penjara juga.
Tapi.
*Apakah jahat = nakal?* Rasanya nggak.
*Apakah nakal = jahat?* Rasanya juga nggak.
Tapi kok mirip. Hehe. πŸ™‚
Pengalaman pertama kenakalan kamu pasti terjadi waktu kamu kecil. Kamu pasti udah ga inget, tapi kalo kamu tanya sama ortu kamu apakah kamu nakal atau ga waktu kamu kecil, jawabannya pasti: _”Nakal, nakal, nakal. Kamu waktu kecil itu naaaaakaaaaaaaal banget!”_
*Ga nurut, ga mau diem, ga bisa dilarang.*
Bonyok kamu bilang gitu, tante kamu bilang gitu, tetangga kamu bilang gitu, apalagi *PEMBANTU* kamu, *PASTI* bilang gitu. πŸ˜€
Tapi coba inget-inget, kapan terakhir kali ada yang bilang kalo kamu nakal? [gue minggu lalu, waktu gangguin Abel hehe]
Pasti malem minggu kemaren kan, waktu lagi pacaran dan kamu sibuk “usaha”! [Hakahkahakkaka]
Anyway, _society_ juga punya hubungan _love and hate_ dengan yang namanya nakal, bandel dan _baong_.
Ketika kita nakal, disuruh jangan nakal, tapi kalo ga nakal, apalagi anak kecil [apalagi kalo cowok] wah, justru harus nakal. Bukan anak cowok kalo ga nakal katanya. Gimana sih? πŸ™‚
Mungkin kebingungan ini lahir karena dalam kenakalan ada niat [yang sering kali kekanak-kanakan] untuk meregang batas-batas norma, hukum dan aturan, sejauh-jauhnya yang mana pada gilirannya, entah gimana, ada gunanya. [?] πŸ™‚
Kenakalan rasanya adalah bagian dari kemanusiaan, sesuatu yang manusiawi. Sebaliknya dari hidup yang bersih, licin, terang benderang dan sterile.
Bener ga sih? Kagumkah kita pada orang-orang yang bisa “nakal”? Atau dunia akan lebih baik jika jenis kenakalan seperti apapun dilarang oleh hukum. Singaporism? _Really?_
Kalo gue harus membayangkan tokoh nakal yang muncul di otak gue adalah *Tristan Ludlow* dan *Chairil Anwar*. Yang satu kerasukan nyawa beruang sampe harus berkelana sampe New Guinea, yang satu meninggal karena raja singa tapi masih dipuja bahkan oleh *Rangga* dan *Cinta*.
Kalo boleh memilih, mungkin gue akan memilih buat _at least_ sedikit nakal, berdoa dikasih kemampuan itu buat selalu punya tenaga buat berjalan di *batas-batas terluar* aturan dan norma sambil masih _having fun_ melakukannya.
Kalo bisa memilih, gue akan memilih untuk berharap untuk *selalu tahu* batas-batas mana yang bisa gue dorong-dorong sejauh-jauhnya dan batas mana yang harus kita buang sekalian. πŸ™‚
Kalo harus memilih, maka nanti *kalo anak gue nakal*, gue akan tersenyum diam-diam, mengucapkan rasa syukur dan berharap kualitas nakal itu akan selalu bersamanya, tapi tentunya sambil gue marahin dan omelin, _”Nakal, nakal, nakal. Kamu ini ga nurut, ga mau diem, ga bisa dilarang!!”_ πŸ˜€