Tentang Rivalry

proton-post2.jpgPiring di rak hanya berdenting dengan piring terdekatnya – Nenek Radio Ardiwinata

Nenek almarhum saya dari ibu, yang saya kutip diatas, bukan orang yang sekolahnya tinggi, tapi beliau cukup bijaksana untuk mengetahui bahwa perselisihan dan persaingan, atau rivalry, sering terjadi justru pada orang yang punya hubungan dekat.

Dalam hubungannya dengan nenek, yang dia maksud biasanya adalah diantara anak-anaknya yang ada 12 orang (ibu saya no 10).

Rivalry karenanya sering terjadi antara adik-kakak, sepupu, sehabat dekat, tetangga.

Rivalry bukan saja persaingan karena sekedar bersaing, tapi juga karena banyak persamaan.

Dalam skala yang lebih besar misalnya, rivalry antara SMA 3 dan SMA 5, antar jurusan, antar universitas, antara Yogya dan Solo.

Dan kemudian juga antara Malaysia dan Indonesia?

We share too many things sampai-sampai kita males kalau dibandingkan atau disama-samain.

Rivalry antara Malaysia dan Indonesia ini juga kemudian berbuntut panjang, dari soal “curi-mencuri” hasil kebudayaan dari Batik, lagu Rasa Sayange dll, indon sampai isu pelecehan TKI di Malaysia.

Kita bilang Malaysia kampungan, Malaysia bilang kita miskin.  

Menkominfo Tifatul Sembiring, kita harus belajar dari Malaysia tentang Internet.

Pak Tif lupa Indonesia punya Pesta Blogger yang selalu dibuka oleh Mentri, dari Menkominfo Pak Nuh, Menristek hingga Menkominfo Pak Tif sendiri tahun 2009.

Tanya ke Pemerintah Malaysia apa ada dukungan Kerajaannya pada Blogger di sana?

Tapi kita juga jangan lupa Malaysia punya Multimedia Super Corridor, sebuah National ICT Initiatives, apa pemerintah Indonesia pernah punya program seperti itu?

Malaysia bilang kita Indon, kita bilang Malaysia kuno.

Siapa yang lebih maju, apa ukurannya?

Iri tapi benci, rindu tapi cinta.

Rivalry bisa jadi sesuatu yang sehat, keep us in check, give us fighting spirit. Tapi jadi jelek kalau kemudian jadi kebencian.

Produk-produk Malaysia misalnya, Pom Bensin Petronas di Jakarta, masih saja sepi pengunjung.

Proton, mobil buatan Malaysia, bukan saja masih harus bersaing dengan merek2x mobil yang sudah merajai pasaran, dari sisi teknologi, desain, harga, tapi juga harus melawan stigma Malaysia itu sendiri.

Katakanlah dengan kualitas, harga, support yang sama dengan produk mobil dari negri lain, akankah kamu memilih Proton buat jadi kendaraan sehari-hari kamu?

Apakah kamu akan bangga? Apakah kamu akan malu?

Kalau bangga kenapa? Kalau malu kenapa?

Padahal ada sebuah sudut percakapan yang menarik buat Proton misalnya, untuk angkat bicara di Indonesia.

Khususnya karena keberadaan mereka yang berasal dari Malaysia itu sendiri.

Using the weakness as strentgh, if you can play it right.

Komunikasi Proton perlu diubah sebagai mobil yang paling mengerti orang Indonesia, yang paling depan mendukung Indonesia, yang paling tekun menawarkan persahabatan dengan Indonesia.

Apakah itu dari sisi teknologinya, desainnya, sumber daya manusianya dan sikapnya. Hingga pada satu titik Proton bisa bilang: Proton, kami Indonesia juga!

Hehehe.

Playing the nationalism card seems working for T-Shirt sales, mari kita lihat apakah juga bekerja untuk jualan mobil 😀

Proton bahkan bisa menjadi duta Malaysia di Indonesia dan menjadi jembatan bagi orang Indonesia dan Malaysia.

Teman-teman seperti Unspun, orang Malaysia yang sudah berpuluh tahun tinggal di Indonesia dan Fairy Mahdzan, MyIndo.com, orang Malaysia yang ngefans berat terhadap all things Indonesia bisa jadi ambassador dan orang yang diajak ngobrol duluan.

The brand will be bigger than just brand, it won’t be about car, but about an Idea of shared cultures, common tribes.

Hingga suatu hari, orang Indonesia juga bisa bangga naik dan punya Proton.

Hingga suatu masa, kita juga bisa bilang, Proton mobilnya Indonesia juga.

Rivalry ga harus selalu jadi masalah, tapi juga bisa jadi berkah.

Nenek saya tau itu, dan kalau almarhumah masih hidup, mungkin saya kebayang dia masih memberikan nasihat yang sama, sambil naik Proton. 😀