Tentang Warna 2

warna-2.jpg

_Ini email kedua yang gue terima, masih dari orang yang sama dan masih misterius bagaimana bisa sampe ke inbox gue._
_[Email yang pertama bisa dibaca “di sini”:http://enda.goblogmedia.com/tentang-warna.html.]_
 
 
 
——- Original Message ——-
From: <editor@****.worldnet>
To: “whoever” <whoever@g****.com>
Sent: Fryday, October 11, 3768 9:19 PM Planet Bumi
Subject: Untuk kamu yang mau baca 2
Halo semua,
Di bawah ini akan saya teruskan cerita dunia kami, dunia yang penuh warna.
Dunia memang tidak lagi HITAM dan PUTIH sekarang, di tahun 3618 warna telah menyebar begitu cepat, 250 tahun setelah turunnya warna yang pertama 50% penduduk planet kami telah menjadi pemeluk salah satu warna.
Mereka yang menyebut dirinya berpendidikan, berbudaya dan beradab bisa dipastikan telah memeluk salah satu warna dan memanggil manusia lain yang belum mengenal warna tidak beradab, liar, barbar!
Ketika ditanya apa sebabnya warna begitu cepat menyebar, dan apa keuntungan dari memeluk warna, maka 80% pemeluk warna menjawab bahwa warna memberikan mereka sesuatu untuk dipercaya. “MERAH itu indah dan penuh kekuatan”, kata Karma Suwarna, bapak 3 anak berumur 45 tahun yang memiliki perusahaan sendiri.
“Dengan adanya MERAH maka hidup saya jadi berarti dan memiliki makna, begitu juga hidup anak dan istri saya”, dia meneruskan, “saya tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa warna MERAH.”
Sarwa Sukarma, juga memiliki pendapat yang kurang lebih sama tentang warnanya. “HIJAU adalah kehidupan dan membuat saya percaya pada kekuatan alami dan perlindungan lingkungan”, dia berkata di depan rumahnya yang dikelilingi hamparan sawah milik keluarganya. “Pada HIJAU saya menemukan ketenangan karena saya percaya dan saya beriman” tandasnya.
Bagi para pemeluk warna KUNING, MERAH, HIJAU, BIRU dan UNGU, warna-warna yang mereka percayai itu selain memberikan panduan tentang hidup berdasarkan nilai-nilai yang dibawa oleh warna-warna tersebut (menurut mereka) juga memberikan perlindungan, penghargaan, karunia kalau mereka mengikuti aturan warnanya, dan hukuman jika mereka melanggar apa-apa yang dilarang (menurut mereka) oleh warna tersebut.
Aturan sosial dan norma dalam hubungan sosial manusia medapat legitimasi _suprawarna_, karena aturan-aturan tersebut seolah-olah datang dan dipandu dari warna-warna tersebut, walaupun sebenarnya sudah ada sebelum warna-warna ada, ketika dunia masih HITAM dan PUTIH.
Warna karenanya, baik itu KUNING, HIJAU atau manapun dianggap sebagai sumber kebaikan dan hidup setelah ada warna sebagai masa yang lebih baik dan _lebih berwarna_ daripada masa sebelumnya yang gelap dan pucat.
 
Hingga tahun 3868, kehidupan di planet kami mendengung dinamis dengan diskusi, pemikiran, ide dan inovasi yang berkaitan dengan warna-warna.
Selain nilai-nilai kebaikan yang katanya “berasal” dari warna, salah satu kelebihan warna yaitu: _Karena warna adalah sesuatu yang sosial, dan karena manusia adalah mahluk sosial._
MERAH akan berkumpul dengan MERAH, dan KUNING akan berkumpul dengan KUNING, karena warna tersebut adalah sesuatu yang mereka miliki bersama, sesuatu yang mereka _share_, dan karena itu sesuatu dimana mereka terikat dan mengikat diri.
“Dengan warna, maka kami menemukan persamaan diantara wajah-wajah yang asing”, begitu ungkap Rahwarna Karma, aktivis muda calon pemimpin bangsa.
Berkumpul bersama warna yang sama jauh lebih mudah daripada berkumpul bersama warna lain, karena pertama, lebih enak dimata, kedua pada saat itu masing-masing warna telah memiliki kebiasaan dan gaya mereka masing-masing sehingga berkumpulnya warna yang berbeda akan membuat situasi yang kurang nyaman.
Warna juga diturunkan pada pada keturunan. Bapak ibunya yang berwarna HIJAU, maka anaknya juga HIJAU misalnya.
Karena itu perkawinan, pertemanan, hubungan sosial maupun ekonomi sebaiknya pun harus dalam warna yang sama. Bertemanlah dengan teman dari warna yang sama. Menikahlah dalam warna yang sama. Berkumpulan dalam warna yang sama. (ini semua ada di kitab masing-masing warna).
 
Warna juga merubah cara manusia melihat dunia. Pemeluk MERAH akan melihat dunia dengan kemerah-merahan. KUNING dengan kekuning-kuningan. Hijau akan melihat dunia dengan bernuansa HIJAU.
Karena ini maka masing-masing warna tidak bisa melihat warna lain dengan sebenarnya. HIJAU yang dilihat oleh KUNING akan menjadi HIJAU kekuning-kuningan. MERAH yang dilihat oleh mereka yang hijau akan menjadi hijau kemerah-merahan.
Yang menarik adalah, walaupun ikatan dan tekanan untuk mempertahankan sebuah warna sangat kuat, tapi orang bukan tidak mungkin berganti warna. Bukan tidak mungkin untuk berganti warna, terutama tentu untuk mereka yang sudah istilahnya sudah “tercerahkan” atau sudah mendapat cahaya, menurut warna barunya. KUNING menjadi HIJAU. HIJAU menjadi MERAH. MERAH menjadi KUNING.
Ini tentu ditentang dan dihujat dengan keras oleh masing-masing pemeluk warna. Orang yang berpindah warna dari warna manapun akan dicap sebagai pengkhianat, walaupn yang mereka lakukan hanya berubah warna. Orangnya sama dan hampir semua warna mengajarkan nilai-nilai yang sama.
 
Di tahun 4031, lebih dari 1000 tahun setelah warna pertama turun, kehidupan warna di planet kami telah menjadi begitu _established_. Warna adalah sesuatu yang menuntut ekslusivitas, pemeluk warna tertentu hanya bisa memeluk warna tersebut dan tidak yang lain.
Masing-masing pemeluk warna percaya bahwa warnanyalah yang benar dan warna lain salah.
Pemikiran yang menyebabkan sebagian orang-orang melek warna geleng-geleng kepala, bagaimana mungkin ada warna yang benar dan warna yang salah?
Ini kan “WARNA”.
MERAH tidak lebih benar daripada KUNING, dan KUNING tidak lebih benar daripada HIJAU.
Bagaimana menetukan warna mana yang lebih benar atau lebih baik? WARNA tidak bisa dibandingkan, mereka cuma berbeda tapi bukan berarti yang satu lebih baik daripada yang lain.
Walaupun begitu toh para pemeluk warna yang lebih banyak tidak peduli. Apalagi ini sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan mereka, dengan _keimanan_ mereka, buat banyak orang _warna adalah segalanya_.
Karena mereka percaya warna mereka adalah yang terbaik, maka _penyebaran warna_ menjadi krusial karena dengan begitu mereka menyebarkan kebaikan bagi mereka yang belum tahu.
Niatan ini dan digunakannya warna oleh mereka yang berkuasa menjadi sumber konflik, kesedihan dan kesusahan pertama yang dibawa oleh warna di planet kami.
 
Penguasa senang menggunakan warna karena orang lebih _bersedia mati_ untuk warna daripada untuk penguasa dan warna bisa menyatukan kekuasaannya dengan lebih sempurna
Pemimpin warna pun senang berdekatan dengan penguasa karena bisa menyebarkan warnanya lebih luas dan dengan kekerasan
Konflik antar warna tidak terhindarkan, untuk menghindari konflik maka ada dua alternatif, hidup dengan memisahkan diri dan tidak bercampur, atau mencari sebuah mekanisme khusus yang mengatur hubungan antar warna.
Walaupun konflik antar warna cukup keras tapi ternyata itu belum apa-apa.
Sejarah telah menunggu untuk memperlihatkan kami antara konflik dasyhat antara warna itu sendiri.
&nbsp
Pada tahun 3242, 1200 tahun dari warna pertama turun, warna-warna telah menjadi begitu bervariasi sesuai dengan selera dan kebiasaan masing-masing tempat.
MERAH tidak lagi cuma “MERAH” tapi juga ada merah marun, merah tua, merah muda, merah darah, merah menari, merah konservatif, merah tradisional, merah kota, merah desa, merah santri, merah liberal dan tentu, merah fundamentalis.
Masing-masing merasa sebagai MERAH, sebagian lagi merasa sebagai MERAH yang paling benar dan memaksakan merahnya pada yang lain.
Konflik di dalam warna ini untuk sementara waktu membuat konflik antar warna mereda.
Perbedaan paham dan iman yang berlangsung selama beratus-ratus tahun juga menyebabkan perbedaan pemahaman akan warna yang sama.
MERAH MARUN bermusuhan sengit dengan MERAH MUDA. Masing-masing mengkafirkan MERAH yang lain. Menjadi MERAH MARUN bahkan dilihat sebagai _lebih buruk_ daripada menjadi HIJAU atau KUNING.
Ketika terjadi peperangan antara MERAH MUDA dan HIJAU maka MERAH MARUN akan diam menunggu dan melihat-lihat keadaan.
Tidak berlaku _my enemy’s enemy is my friend_. MERAH MARUN memilih untuk bermusuhan dengan semua pihak, _thus_ berlaku my enemy’s enemy is stil my enemy.
Dan ini masik berlaku hingga sekarang.
Pada tahun 3542, kelompok-kelompok HIJAU terbagi menjadi dua bagian besar. HIJAU MUDA dan HIJAU TUA, dan dengan didukung oleh kekuatan militer dan raja-raja, konflik antara hijau muda dan hijau tua ini terjurumus pada konflik paling berdarah selama sejarah planet kami, yang melibatkan penyiksaan, pemaksaan warna dan lain-lain.
Di ujung masa konflik ini, beberapa kelompok orang berpindah mecari lokasi baru dan BERSUMPAH untuk mencari tempat dimana mereka bisa bisa bebas dari ketakukan dan kejaran para pemeluk WARNA. Suatu tempat dimana semua orang bisa memiliki kebebasan memilih WARNA yang mereka inginkan tanpa rasa takut.
Singkatnya mereka berangkat untuk mencari surga.
 
1,500 tahun telah berlalu sejak WARNA pertama hadir di dunia kami dan sudah sedemikian lama pula kami terlupa akan realita planet kami sebelumnya dimana hanya ada HITAM dan PUTIH, dimana kami semua sama.
Bukannya WARNA tidak membawa kebaikan dan manfaat bagi kami, hanya sekarang ini banyak orang bertanya-tanya manakah yang lebih besar, manfaatnya atau keburukannya dari warna. Apakah kita akan lebih baik jika WARNA tidak pernah ada? Jika dunia hanya HITAM dan PUTIH.
Sebagian orang menuduh bahwa WARNA adalah ciptaan manusia biasa dan bukan diturunkan dari langit dan karenanya tidak dimaksudkan untuk dipercaya apalagi, dijadikan alasan untuk memerangi orang lain yang berbeda WARNA-nya.
 
_Tapi sejarah belum lagi berhenti._
_Akankah mereka yang mencari surga di dunia menemukannya?_
_Dan bagaimana akhir cerita dunia kami?_
_Kamu bisa baca di email terakhir saya berikutnya…_