Surga dan Neraka

heaven-hell.jpg

_In heaven all the interesting people are missing. –Friedrich Nietzsche_
Surga dan Neraka rasanya lebih dekat bersama kita saat kita kecil.
Perkenalan pertama gue dengan Surga adalah tentunya saat gue dikasih tau semua orang supaya jangan nakal dan jangan membuat ibu (terutama) marah-marah, karena surga katanya ada di telapak kaki ibu.
Sebagai anak kecil sejati, apalagi yg punya adik laki-laki cuma beda setahun, tentu informasi ini ga cukup kuat menghalangi kita berbuat seperti anak kecil. Untungnya walaupun ibu dulu suka marah-marah kalo kami nakal, kita tetep punya waktu idul fitri untuk minta maaf dan ibu selalu maafin. Jadi tentunya jatah surga di telapak kaki beliau masih ada. 🙂
Neraka gue kenal dengan lebih _graphic_ lewat komik serem, yang dibeli _emang-emang_ yang menjual komik dari rumah ke rumah (komik kok ttg neraka gituloh), dimana di dalamnya digambarkan siksaan neraka yang dialami oleh mereka yang jahat saat hidup. Orang-orang dibakar, dicambuk, ditusuk, wanita digergaji payudaranya dan segala macam siksaan. _(Siapa sih yg bikin komik ini!?)_
Takut sih saat liat gambarnya. Tapi itu kan cuma komik (hakhaka). Terlalu jauh dari realitas sehari-hari yang melibatkan sebagian besar lari-lari sampe keringetin dan ga pulang sampe sore.
Kadang-kadang memang kedua konsep abstrak itu muncul di hadapan gue. Misalnya saat belajar ngaji terbata-bata di rumah dulu kalo memang ada ayat ttg surga atau neraka.
Atau muncul saat ada anak cewek di kelas waktu SD (selalu cewek), sok alim yang ga bisa ngomong apa-apa lagi waktu kami gangguin ini selain bilang, _”Ntar masuk neraka lho!”_
Dan saat dia ngomong gitu tentu gambaran neraka buku komik muncul di benak kami dan membuat kami terdiam sejenak (paling lama 5 menit) lalu ngeganggu anak cewek lain yg ga bawa-bawa neraka.
Di lain waktu seorang teman (yg gue udah lupa namanya) memberi peringatan dengan penuh keseriusan, _”Eh jangan maen sama si A dia kan nanti masuk neraka.”_
Gue ga ngerti saat itu kenapa dia bakal masuk neraka. Besoknya baru gue “ngeh” rupanya menurut sang teman si A bakal masuk neraka karena beragama X.
_”Tapi kenapa gue ga boleh maen sama dia sekarang, toh masuk nerakanya masih lama?”_ adalah pertanyaan gue selanjutnya yang terpikir dan tidak terjawab.
 
Kalo neraka jadi sebuah alat untuk melarang-larang kita, maka surga jadi sebuah tempat menyenangkan yang cukup sering gue bayangin waktu kecil.
Gue ngebayangin, nanti di hari akhir kalo gue, adik gue, ibu, bapak dan keluarga-keluarga gue bakal ngumpul bersama di surga dan kita bakal seneng banget bisa ketemu satu sama lain diantara milyaran manusia yang dibangunkan di hari akhirat.
Ga hanya keluarga, tapi terus gue juga pengen temen-temen gue masuk surga juga. Tetangga karena baik sama gue juga. Bahkan _bintang film_ yang gue suka, dalam dan luar negeri juga. Kita nanti semua ketemuan di surga pokonya! (padahal pas idup aja ga pernah ketemu hehe)
Surga bagaikan sebuah _country club_ dimana orang-orang yang gue sukai dan gue anggap baik boleh masuk.
 
Setelah agak besar gue kemudian belajar bahwa masing-masing agama punya Surga dan Nerakanya sendiri-sendiri.
Bagaimana hubungan antara surga masing-masing agama ini tidak begitu jelas diterangkan. Apa sebenarnya itu semua satu tempat yang sama, atau misalnya bertetangga. Tempatnya beda tapi berdekatan. Dan kalo memang berbeda, surga mana yang lebih bagus?
Surga sendiri berasal dari kata Hinduism, “Swarga”:http://en.wikipedia.org/wiki/Swarga yang letaknya ada di puncak “Gunung Mitologis Semeru”:http://en.wikipedia.org/wiki/Mt._Meru (bukan Semeru yg di Jawa) yang artinya tempat transisi, menunggu antara proses reinkarnasi. Bukan tempat akhir, yg disebut “Moksha”:http://en.wikipedia.org/wiki/Moksha yg justru lebih mirip dengan Surga.
Orang *Polinesia*, memiliki 10 lapisan surga _Kiko-rangi, Waka-maru, Nga-roto, Hau-ora, Nga-Tauira, Nga-atua, Autoia, Aukumea, Wairua dan Naherangi_. Dimana masing-masing diperintah oleh seorang dewa.
Sedang agama yang berasal dari “Tradisi Ibrahim”:http://en.wikipedia.org/wiki/Abrahamic_religion kurang lebih memiliki konsep yang sama tentang Surga, dimana intinya kalo kamu jadi orang baik, maka kemungkinan kamu masuk surga bakal jauh lebih tinggi daripada kalo kamu jadi orang jahat.
 
Beranjak dewasa (beranjak dewasa kakakku rani tercintaaaa…) Surga dan Neraka (ini juga dari Hinduism, “Naraka”:http://en.wikipedia.org/wiki/Naraka) karena suatu sebab, kemudian jadi kehilangan tempat istimewa lagi dalam kehidupan gue.
Tentu gue masih berusaha jadi orang baik yang melakukan ritual dan kewajiban agama gue. Sholat, puasa, zakat menikah, bertanggung jawab. Tapi entah kenapa surga dan neraka seperti kehilangan relevansinya dari kehidupan sehari-hari.
Gue ga inget kapan gue terakhir mikirin surga dan neraka sebelum gue nulis posting ini.
Kapan terakhir kali surga dan neraka jadi hal yang memotivasi gue untuk melakukan sesuatu?
_Gue bangun pagi ah dan kerja, supaya nanti masuk surga_
_Gue ngisi kencleng waktu jumatan, supaya nanti masuk surga_
_Gue dengerin curhatnya temen ah yang lagi susah, supaya nanti masuk surga_
Ga pernah pikiran-pikiran di atas terlintas di kepala gue. Saat gue ngerjain sesuatu, motivasi gue udah lain berlapis-lapis seperti surganya orang polinesia.
Dan begitu juga orang banyak rasanya.
Apa “Sergey”:http://en.wikipedia.org/wiki/Sergey_Brin dan “Larry”:http://en.wikipedia.org/wiki/Lawrence_E._Page bikin Google karena pengen masuk surga?
Apa “Bill Gates mundur dari Microsoft”:http://www.pcmag.com/article2/0,1895,1977363,00.asp karena pengen masuk surga?
Apa “Warren Buffet mau mendonasikan $37 bilyun”:http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2006/06/26/AR2006062601229.html (80% dari kekayaannya) untuk amal karena pengen masuk surga? (kalo ini iya kayanya hehe)
Apa kita diet atau ganti handphone karena pengen masuk surga?
Apa kita ngikutin gosip artis karena pengen masuk surga?
Apa adik-adik yang ikut “Ujian”:http://puspendik.com/ebtanas%5Cujian2006%5Cindex.htm “Nasional”:http://groups.yahoo.com/group/ujiannasional/ juga karena pengen masuk surga?
Apa kita begadang nonton sepakbola karena pengen masuk surga?
Apa gue ngeblog karena pengen masuk surga?
_Sedihnya_, gue merasa jawaban “biar masuk surga” sebagai alasan terdengar _kekanak-kanakan_ dan bukan sebab valid untuk menjelaskan sesuatu.
Sekian banyak hal yang gue kerjain hari ini, dan sayangnya ga satupun yg gue kerjain, yang kalo ditanya, gue bisa jawab karena pengen masuk surga.
Semoga itu cuma gue, dan semoga surga dan neraka masih memotivasi kamu setiap hari.
_Dan semoga kamu ga pernah liat komik serem tentang neraka tadi waktu kamu kecil._