Pengakuan Seorang Pemalas

Pemalas

Hai.
Nama saya tidak penting. Saya laki-laki, dilahirkan *30 tahun* yang lalu di *Jakarta*, dengan bintang *Leo*. _In relationship_, punya pekerjaan bagus. Tinggal sendiri di kota besar ini.
Kamu tidak kenal saya, saya juga tidak kenal kamu. Saya orang baru disini.
Di tulisan ini saya mau mengakui sesuatu tentang diri saya yang tidak ada orang lain yang tahu.
Yaitu, saya, *seorang pemalas*.
Saya memulai hari dengan malas. Setiap bangun yang pertama kali saya pikirkan adalah, *apa saya harus masuk kerja?* Berapa hari lagi jatah _sick leave_ saya? Dan kenapa sih orang harus kerja?
Dan kalo pun akhirnya saya bangun, mandi dan pergi ke kantor itupun saya lakukan dengan terpaksa dan dengan satu tujuan: *sebisa mungkin tidak mengerjakan apa-apa hingga jam pulang kantor tiba!*
Oh jangan khawatir, banyak hal yang bisa dilakukan dikantor sambil terlihat kerja. Ada ruang _pantry_ tempat berlama-lama membuat kopi sambil ngobrol, ada _meeting_ berjam-jam dimana kamu cuma perlu duduk manis, ada _lunch hour_, (!) _really loooong lunch hour_. Dan ada *komputer* dan *internet* (ah penemuan yang brilian luar biasa) dimana kamu bisa duduk berjam-jam terlihat bekerja padahal sibuk *mem-forward email lucu* (yang kadang jorok) ke teman-teman kamu.
Kalo satu hari terbuang percuma maka saya akan menepuk dada dan *memberi selamat* pada diri saya sendiri. *Selamat bung, kamu berhasil membuang waktu sehari penuh tanpa kerja!*
*Ya saya seorang pemalas*, keahlian saya adalah membuang-buang waktu.
Oya jangan salah, tidak ada yang tahu tentang hal ini, tidak teman kerja saya, tidak boss saya. Sepengetahuan saya, semua orang menyangka saya seorang yang *normal*. Tapi mereka salah.
Kuncinya adalah, cukup mengerjakan pekerjaan yang *benar-benar harus* disaat yang *benar-benar penting*. Di luar itu, jangan kerja! Cukup duduk manis di depan komputer, berpakaian rapih dan *terlihat sibuk*.
Saya bukan orang yang bodoh, *justru karena saya pintar* maka saya malas dan menerima tawaran pekerjaan ini (saya terlalu malas buat ngirim-ngirim lamaran).
Saya malas kuliah dulu, tapi didaftarkan oleh orang tua saya. Saya lulus karena berpegang pada prinsip kemalasan saya tadi, mengerjakan _hanya_ hal yang harus dikerjakan.
*Ya saya seorang pemalas*, dan saya tidak sendirian.
Sudah dengar cerita tentang lomba malas sedunia? Intinya kira-kira begini.
*Tiga pemenang* lomba malas sedunia diwawancara dalam sebuah _talk show_.
*Juara 3* ternyata ditempati oleh orang yang tidak makan dan minum selama *12 hari* karena untuk makan saja dia MALAS. *Juara 2* ditempati oleh orang yang tidak buang air besar selama sebulan, dan menurut pengakuannya, itu dia lakukan karena dia MALAS.
Dan ketika kamera beralih ke *juara 1*, ternyata sang pemenang sedang menangis tersedu-sedu.
_”Kenapa?”, tanya si pembawa acara, “Kok malah sedih? Harusnya Anda senang dong menjadi juara 1.”_
_”Oh bukan itu, saya senang kok juara. Ini ANU saya kejepit di resleting”, jawabnya sambil terus tersedu-sedu._
_”Loh!? Terus kenapa tidak dibuka?”, tanya pembawa acara keheranan._
*[_”Abis saya malaass”._]*
*Saya seorang pemalas*, dan website favorite saya adalah “malesbanget.com”:http://www.malesbanget.com
Bukannya saya tidak punya inspirasi atau cita-cita. Saya merasa banyak orang yang salah paham tentang pemalas dan saya ingin membenarkan pandangan itu.
Sekitar tahun *2001-an* saya sudah mau mulai membeberkan _true story_ ttg para pemalas dalam bentuk artikel, buku dan seminar-seminar, sayang terus sayanya malas.
Dan karena itulah, sejak *Januari 2004* saya memulai menulis pengakuan ini untuk meluruskan permasalah kemalasan itu. _To keep the record straight_. Akhirnya setelah *11 bulan*, karena nulisnya males-malesan, pengakuan ini syukur rampung juga.
_See_, untuk hal-hal penting, selesai juga kok akhirnya. *Bukannya saya tidak punya prioritas* buktinya saya punya pekerjaan tetap, punya pacar, punya kehidupan.
*Saya seorang pemalas*, dan tokoh favorite saya adalah *Kabayan*.
Dunia penuh oleh para pemalas, bukankah pepatah mengatakan _laziness is the mother of all invention_?
Orang malas jalan, maka diciptakanlah mobil, orang malas membuat tabel dan menghitung dengan sipoa maka terciptalah *Excel*, orang malas memasak maka terciptalah *instant food* dan *microwave*.
Tanpa para pemalas, dunia ini akan tetap di *jaman batu*.
Jadi tidak ada yang salah dengan berlaku malas. Mungkin saya akan menciptakan sesuatu, mungkin sebuah *robot yang persis saya* yang akan mengerjakan segala sesuatu yang harus saya kerjakan.
*Ya saya seorang pemalas*, dan *utopia* saya adalah dunia penuh robot dimana saya bisa hidup di dalam mesin mimpi.
_”Apakah kamu bahagia?”_, kamu mungkin bertanya, _”bukankah kebahagiaan, salah satunya datang dari rasa kepuasaan disaat kamu mengerjakan sesuatu, disaat kamu tahu ada hasil dari yang kamu kerjakan, ada reward, perasaan puas (wekdor)?”_
Oh terima kasih, tapi saya tidak punya waktu (!) untuk memikirkan kebahagiaan saya cukup *sibuk mempertahankan kemalasan saya.*
Saya cukup senang (apakah bahagia itu senang? bukan, senang itu hitut dina se’eng) dengan hidup saya sekarang.
Di akhir sebuah hari, jika saya berhasil _tidak_ mengerjakan apa-apa di hari itu maka saya akan merayakan hari tersebut dengan makan malam yang enak dan menghibur diri dengan cara apapun.
*Kadang sendiri*, kadang dengan teman yang tidak merepotkan atau dengan pacar yang tidak menyusahkan, tapi seringkali sendiri. _Orang lain adalah pekerjaan dan saya malas mengurusnya._
Habis itu saya akan pulang kerumah, memarkirkan mobil ke garasi rumah saya yang tidak pernah ditutup (males nutupnya), masuk ke tempat tidur, melihat langit-langit, mengingat lagi bahwa hari ini saya tidak mengerjakan apa-apa. Satu hari lagi terbuang percuma dan *saya pun menangis tersedu-sedu.*
Tidak apa, tidak apa, *saya tidak apa-apa*, tinggalkan saja saya, saya butuh sendiri, saya sudah terbiasa dengan rasa sakit ini.
Anu saya sudah kejepit resleting sejak *7 tahun* yang lalu. Tiap pagi *robot saya* menjepitkan anu saya di resleting, dan tiap malam dia melepaskannya lagi.
*Ya saya seorang pemalas.*
*Dan inilah pengakuan saya.*