Panduan dalam “Menyelesaikan Sesuatu”

Menyelesaikan Sesuatu*Menyelesaikan sesuatu* adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Tanpa kita sadari dalam kehidupan, segala sesuatunya kurang lebih adalah “menyelesaikan sesuatu”.
Sesuatu ini bisa jadi penting atau tidak, hal yang besar atau tidak, butuh durasi lama (bertahun-tahun) atau tidak (10 menit), tapi *pada dasarnya* dari pagi kita bangun hingga malam kita tidur segala sesuatunya adalah dalam rangkaian suatu bentuk *”menyelesaikan sesuatu”*.
Dari perbendaharaan katanya, menyelesaikan sesuatu terdiri dari dasar kata *”sesuatu”* dan *”selesai”*.
Sesuatu ini berdasarkan dari kata *”satu”*, sedang *”sesuatu”* adalah.. ya sesuatu (hehe) atau yang dalam bahasa Inggris disebut _”a thing”_ atau kalo banyak _”things”_ atau _”stuff”_.
Dalam konteks “menyelesaikan sesuatu” ini maka “sesuatu” *bisa berarti apa saja*, dari sebuah masalah, sebuah pekerjaan (baik rutin atau spesial), sebuah pembicaraan, sebuah sistem yang mengatur dan lain-lain.
Jika kita *”mandi”* maka menyelesaikan mandi berarti “selesai mandi”, jika kita *ngeblog* maka menyelesaikan ngeblog berarti “selesai posting di blog”.
Maka “sesuatu” bisa berarti *apa saja*, yang pasti, kapanpun dan dimanapun, kita selalu berada dalam suatu *proses menyelesaikan sesuatu*.
Sedang *”selesai”* disisi lain berarti habis atau _finish_. “Sudah selesai” berarti tidak ada lagi yang tersisa, jika kita katakan “selesai” maka “sebuah pekerjaan” atau “sesuatu” itu sudah beres atau sudah “selesai”. (huhuy rieut hehe)
Di saat kita tidur malam nanti, maka kita telah *menyelesaikan sebuah hari*. Hari ini sudah selesai, dimana didalamnya banyak terdapat “sesuatu”.
Menyelesaikan “sesuatu” karenanya adalah *bentuk sangat dasar* dari apa yang kita lakukan setiap hari.
*MENGAPA* kita ingin “menyelesaikan sesuatu”?
Jawabannya adalah karena menyelesaikan sesuatu memberi kita _perasaan_ *produktif*, bahwa kita tidak membuang-buang waktu, bahwa hari ini ada hasilnya dan (entah kenapa) memberi kita rasa *PUAS* (wekkdoorrr siah) yang kita butuhkan.
Jadi jawaban singkatnya karena *”menyelesaikan sesuatu” memberi kita kepuasan*.
Dibawah ini adalah panduan dalam “menyelesaikan sesuatu” tersebut.
*PANDUAN MENYELESAIKAN SESUATU*
# *Tetapkan “sesuatu” yang dimaksud*. Tanpa kamu tau apa yang akan kamu selesaikan _niscaya_ ia tidak akan selesai.
# Pastikan kamu *tahu bagaimana “menyelesaikannya”*. Jika “sesuatu” yang kamu maksud itu adalah menulis artikel (misalnya) maka pastikan kamu tau BAGAIMANA caranya menulis sebuah artikel, karena jika kamu tidak tau cara menyelesaikannya maka _niscaya_ ia juga tidak akan selesai.
# Jika kamu tidak tahu bagaimana menyelesaikannya, maka *CARI TAHU*. Tanya teman, tanya guru, tanya orang di jalan, baca buku, _googling_ pokoknya kamu cari tau bagaimana caranya agar sesuatu itu bisa selesai. Tanpa kamu mencari tau, maka kamu tidak dapat menyelesaikan dan _niscaya_ ia tidak akan selesai dan kamu akan gagal dalam tugas menyelesaikan sesuatu itu.
# Tahap TERPENTING: *Selesaikan*. Walo kamu tahu sesuatu yang dimaksud, dan kamu tahu cara menyelesaikannya, tapi tanpa kamu *beneran* ([_”actually”_] bahasa Indonesianya apa sih?) menyelesaikannya maka _niscaya_ ia tidak akan selesai.
Panduan yang *LEBIH PENTING* dari panduan diatas:
Bagaimana caranya *TIDAK* “menyelesaikan sesuatu”, tapi tetap merasa *PUAS*?
* *Buatlah to do list* yang isinya segala “sesuatu” yang harus kamu “selesaikan”. Makin panjang *to do list* yang kamu bikin, kamu akan merasa lebih puas. Walau kamu tidak menyelesaikan apa-apa, tapi minimal kamu *menyelesaikan* membuat *to do list*.
* Kerjakan *hal lain* yang *lebih gampang* atau *lebih kamu sukai* terdahulu, sehingga “sesuatu” yang harusnya kamu selesaikan mungkin tidak selesai, tapi kamu malah menyelesaikan hal-hal lain tadi, yg lebih gampang atau lebih kamu sukai. (Inilah gunanya blog).
* Dan terakhir serta paling mantep adalah: Mendeklarasikan bahwa kamu *menolak sistem penindasan* yang namanya “menyelesaikan sesuatu” tersebut dan nyatakan bahwa mulai sekarang kamu *tidak akan* menyelesaikan apa-apa. Dengan cara ini kamu mungkin *tidak akan hidup lama*, tapi minimal kamu bakal punya pengikut, mereka yang juga memiliki keinginan terpendam untuk *berhenti* “menyelesaikan sesuatu” belum lagi ada kemungkinan dicap pahlawan oleh mereka yang masih takut dan masih rajin “menyelesaikan segala sesuatu”.
Begitulah sedikit panduan buat kita-kita dalam “menyelesaikan sesuatu” yang gue buat *dalam rangka mengerjakan hal lain* (sesuai panduan diatas) dimana harusnya gue “menyelesaikan sesuatu” tapi gue malah buat “Panduan Menyelesaikan Sesuatu”.
Semoga baca posting ini membuat kamu merasa *PUAS*, karena minimal kamu telah “menyelesaikan sesuatu” yaitu, ya baca posting ini. (hehe).
*UPDATE 10/08/2004:*
_Ah inilah sisi luarbiasanya blog, posting bukanlah produk akhir, tapi juga bisa di tambah dan dikurangi, terutama kalo dapet tambahan ide dari para komentator :)_
Ide-ide menarik diantaranya:
[“Om Avianto”:http://www.avianto.com]: _”Darimana kita tahu sudah selesai atau belum?”_ bener juga, ini harus masuk dalam panduan, untuk memulai “menyelesaikan sesuatu” kita harus punya *indikator selesai* sehingga kita tahu kapan “sesuatu” itu “selesai”.
[“Irwien Satria”:mailto:pradien@yahoo.com]: _”Sesuatu tidak perlu diselesaikan jika tidak perlu (atau bahkan kalo perlu), tapi bisa juga *dinikmati*”_ ho ho ho keren 🙂
[“Fanny”:mailto:fannyp@cbn.net.id]: _”Hidup adalah rangkaian ‘selesai’ dan ‘mulai’ yang berkesinambungan”_ plok plok plok kerreeeen :).