Reality

I’ve given up trying to escape from reality;
they always find me anyway.

Baru-baru ini gue baru tau bahwa perjalanan waktu (time travel) sebenernya ga mungkin dilakukan karena konsep waktu kita yang salah. (Sumber: novel-nya Michael Crichton, “Timeline“)
Waktu ga mengalir, kita yang bergerak. Hanya panca indra kita yang seolah-olah mengatakan bahwa waktu bergerak. Jam, alat ukur waktu, otak kita yang mengatakan sesuatu sudah terjadi atau belum terjadi, semua itu yg membangun konsep waktu kita, sedang waktu sendiri ga ngapa-ngapain. Time is just is.
Dan karena waktu ga mengalir maka masa depan dan masa lalu bukanlah suatu tempat, seperti Bandung dan Jakarta suatu tempat. Dan karena bukan suatu tempat, kita tidak bisa melakukan perjalanan ke tempat itu. Jadi time travel dalam konsep fisika ga mungkin dilakukan.
Yang bisa dilakukan adalah perjalanan antar semesta.
Salah satu yang bisa menjelaskan teori Fisika Kuatum (Quantum Physics) adalah kenyataan bahwa realitas kita terdiri dari multi-semesta yang tak terhingga (infinite multiverse). Semesta kita selalu membelah setiap pilihan yang kita lakukan (parallel universe).
Jadi misalnya, ada universe dimana tadi pagi gue sarapan ada yang ga. Atau ada universe dimana tadi pagi gue ga ngantor dan tidur seharian, ada universe dimana gue kerja dan bukannya nge-update blog ini, ada universe dimana kamu kerja dan bukannya baca blog ini 🙂 dst. dst. dst.
Dan antara semesta itu ga selamanya berpisah, jika ada result yang sama, maka alam semesta itu bisa berinteraksi satu sama lain.
Dasar teori inilah yg menginspirasi film-film science fiction seperti “The One“-nya Jet Li, atau tv seri “Quantum Leap” dan “Sliders“.
Perjalanan waktu atau time-travel ga mungkin kita lakukan, tapi perjalanan ke semesta/universe bisa dilakukan. Kita bisa pergi ke universe lain yang isinya masa lalu kita.
Hmmm..