Nyatet beberapa pikiran yang sempet gue pikirin supaya ga lupa.
Kali ini tentang dua buku yang sempet gue baca “History of God” beberapa waktu yang lalu, ama “The End of Science” yang baru selesai. Banyak hal yang gue pikirin kepengaruh ama banyak buku. Buku yang bagus buat gue yang “ngasih” sesuatu buat gue, ngerubah atau nambah pengetahuan gue atau “ngehibur” gue. Kalo bisa dua-duanya lebih keren lagi. 🙂
“History of God“, karangan Karen Amstrong. Gue baca terjemahannya terbitan Mizan, beberapa bulan yang lalu waktu gue di Jakarta. Buku ini ninjau Tuhan sebagai suatu konsep dari sudut pandang historic, isinya keren dan dalem dan penuh informasi. Dari buku ini jelas banget buat gue kalo konsep tentang “Tuhan” udah sama tuanya sama sejarah manusia sendiri. Dan itu yang jadi masalah.
Buku ini ngebahas sejarah tiga agama yang punya satu sumber, Yahudi, Kristen dan Islam. Clearly buat gue gimana dari sisi sejarah, agama Islam (agama gue) adalah agama “baru” daripada agama yang dua lagi. Kristen ada dan tumbuh beberapa ribu tahun sebelum Islam dan Yahudi bahkan muncul ribuan tahun lagi sebelum ada agama Kristen. Dan sebelum Yahudi? ada ribuan tahun lagi dimana umat manusia “bikin” agamanya sendiri. Nah, buku itu ngebahas gimana masing-masing jaman diatas punya pandangan sendiri-sendiri tentang konsep “Tuhan” dengan perbedaan-perbedaannya. Yang mana berbeda dengan konsep “Tuhan” di jaman modern sekarang ini. Tapi walaupun begitu kadang ada garis tipis atau cerita atau mitos yang punya kemiripan dari satu konsep ke konsep lainnya itu. Bahkan kadang Agama “modern” punya kesamaan cerita dengan cerita agama kuno di jaman paganisme. Konsep Ketuhanan dan Agama yang menyertainya berbeda-beda dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain tergantung pada jamannya masing-masing. Perbedaan konsep Ketuhanan dan agama di tiap-tiap masyarakat ini membuat buat gue merasa kalo variabel besar dari agama adalah justru masyarakatnya itu sendiri. Agama ditentukan oleh masyarakatnya bukan masyarakat terbentuk oleh agama.
Kesimpulan yang gue dapet dari buku itu: Kalo “Agama” dan “Tuhan” ditentukan oleh masyarakat atau orang-orang pada suatu kondisi/jaman berarti apakah “Agama” dan “Tuhan” ini berasal dari proses PENEMUAN yang dilakukan oleh umat manusia atau PENCIPTAAN? Tuhan ditemukan oleh manusia atau justru diciptakan oleh manusia?
Gue ga nemu jawaban ini, sebagian besar gue rasa karena pengetahuan gue yg masih kurang. Yang jelas baca buku itu cukup mengikis kepercayaan gue sama Tuhan dan Agama. Buku itu cukup sukses mengkontradiksiin keimanan gue. Gue sampai ga tahan buat nerusin baca dan cuma sampai setengahnya dan buku itu kemudian cukup tersimpan rapi di rak buku gue.
Buku kedua baru beberapa hari yang lalu selesai gue baca. Judulnya “The End of Science” karangan John Horgan. Gue pinjem di Perpustakaan sini. Enak nih baca bukunya, John Horgan adalah science jurnalis yang biasa nulis di majalah Scientific American, enak karena dia nulisnya dengan gaya jurnalis lumayan mirip novel malah :). Di buku itu dia cerita tentang teori-teori dan karakter-karekter dari masing-masing scientist yang dia temuin dan wawancarain buat bukunya itu. Cukup banyak scientis yang dia temuin dan dari berbagai bidang-bidang utama science, kayak Philosophy, Cosmology, Physics, Chaoplexity, Neuroscience, dan Bioengineering. Intinya di buku itu dia mau bilang kalo Sciences, sciences beneran yang bukan sekedar teori, science yang bisa dicoba di laboratorium dan diamati hasil experimentnya, yang MAMPU kita pikirin dan yang masih NGARUH ama kehidupan sehari-hari udah BERAKHIR, udah SEMUA ketemu teorinya. Finish, the science as we know it is finish.
Dengan pernyataan ini dia juga sebenernya bilang, kalo umat manusia, kita sekarang ini, bahkan yang paling pinter diantara kita masih ga akan nemuin banyak jawaban atas banyak pertanyaan yang belum terjawab yang mana GA AKAN ketemu jawabannya. Beberapa pertanyaan ini diantara adalah:
1. Gimana asal mula alam semesta?
2. Gimana asal mula kehidupan?
3. Apa itu consciousness?
Cosmology yang nyelidikin asal mula alam semesta ga akan nyampe pada jawaban definite tentang gimana asal mulanya alam semesta ini karena ga akan bisa dibuktikan dan ga akan bisa dicoba. Walo banyak teori yang mungkin bener, tapi teori itu semua ga akan bisa dicoba dan masih lebih banyak pertanyaan yang belum kejawab daripada yg udah kejawab yang bisa dijelasin ama teori awal mula alam semesta tadi.
Gitu juga ama asal mula kehidupan. Tentang kehidupan ada beraneka ragam di bumi ini, udah dijelasin ama Teori Darwin dan teori itu bener-bener ga usah diperdebatin lagi kebenarannya. Para Creationist sebaiknya banyak mikir lagi buat nyangkal teori Natural Selectionnya Darwin. Yang belum kejawab bukan itu, tapi justru gimana asal mulanya kehidupan? Yang namanya HIDUP itu asalnya darimana? Dari elemen-elemen kimia inorganic yang ada waktu umur bumi masih muda sampe bisa muncul kehidupan, walo berupa binatang satu sel doang, gimana caranya? Misteri ini belum kepecahin sampe sekarang.
Terus gimana ama consciousness (kesadaran)? Ilmuwan mungkin bisa nyiptain organ-organ buatan, tapi siapa yang bisa ngasih kesadaran di otak kita pada organ-organ yang hidup ini. Gue rasa consciousness ini yang disebut nyawa. Ilmuwan masih ga bisa nerangin tentang consciousness ini. Kemana mereka pergi waktu tubuh organik kita mati, apakah consciousness bisa ditransfer, disimpan? dll.
Kesimpulan gue sekarang: Masih banyak pertanyaan yang ga kejawab ama science yang mungkin ga akan ketemu jawabannya oleh manusia. Pertanyaan yang mungkin jawabannya adalah rahasia-rahasia TUHAN sang pencipta. Dari sini, kepercayaan gue tentang keberadaan Dia tumbuh lagi, karena walopun Agama mungkin adalah hasil dari proses ke-umat-manusia-an tapi kenyataan bahwa ada SESUATU di alam semesta ini yang masih ga bisa diterangin dan masih ga bisa dijawab adalah bukti (minimal buat gue) kalo memang ada kekuatan lain, ada kekuatan Maha Besar yang bikin semua ini bisa terjadi, ada Kamu yang seringkali memang ga bisa dijelaskan tapi hanya bisa didekati.
Mudah-mudahan yang gue pikirin ini ga terlalu salah, ada yang punya pendapat lain? 🙂
menurut saya ga sepakat kita mencari asal mula kejadian kita karena telah jelas di dalam Al-Qur’an (Islam) telah di jelaskan secara gamblang dan kita ga bisa cuman kalao untuk pengetahuan itu ga papa karena sesuatu yang dipelajari menurut ilmiyah itu tidak masalah.
Dear Enda,
sori sebelumnya karena komentar yang terlambat ini. saya setuju dengan saudara Enda mengenai keberadaan agama yang berasal dari manusia.Memang masih banyak misteri dan rahasia alam yang belum diketahui manusia.dan untuk suatu teori yang menyatakan sesuatu, hanya dapat menguak dalam lingkup tertentu. dan untuk sebuah penjelasan teori, mungkin akan memunculkan beberapa misteri dan pertanyaan baru. membenarkan sebuah agama dari sekian banyak agama di dunia ini, akan memunculkan ketidakadilan yang melibatkan seisi bumi ini dari awal keberadaan makhluk hidup sampai sekarang. saya mempunyai pandangan demikian bukan berarti saya tidak percaya akan adanya tuhan. justru saya percaya seperti yang saudara Enda rasakan bahwa pasti ada yang menciptakan dunia beserta segala isinya dan mengatur jalannya alam semesta ini. Tetaplah meyakini apa yang anda percayai. dalam waktu yang sempit ini saya mengakhiri komentar saya.saya sangat senang sekali jika dapat bertukar pikiran dengan orang seperti anda. jika Saudara Enda ingin mengenal saya lebih jauh, hubungi saya di email.
manusia gak perlu cari asal usul tuhan, karena emang ilmunya gak nyampe. mendingan cukup menjalani perintahNya dan menjauhi laranganNya.
agama itu (yahudi, nasrani, islam) diturunkan oleh tuhan, bukan merupakan proses kemanusiaan.
emang semakin kita baca semakin kita tahu malah semakin banyak pertanyaan yang timbul…ujung2nya malah semakin kita ngerasa gak tahu. Gue setuju ma pendapat hanzky..just do the good thinks. Jadi agama secara universal. 🙂
weh si erly sih telat mlulu..huehe..:P
Nda’, gue pernah ngambil kelas history of religion gitu, dan reaksi gue juga sama kaya pas elo abis baca buku itu, yang bener2 jadi questioning god and my own religion. Tapi in the end of the semester, my teacher made a good point. Katanya, nggak usah bimbang2 lah sama agama kita..yang penting..agama kita itu kan teach us how to do good deeds, jadi kenapa harus di raguin lagi?..as long as it teaches us untuk jadi manusia yang lebih baik lagi yah it’s all good then. Dan kalo pun ada ajaran agama laen yang menurut kita baek yah ambil aja yang baek2nya. Gitu..=)
to erly: wah blum ly, anyway gue rada bosen ama topik itu.. hehe
to trias: ga mungkin yass, kalo ajarah stephen hawking yg bener mah 200% ga percaya Tuhan, ampe cerai ama istrinya. btw gimana mau minjeminnya? 🙂
elu perlu “liat” brief history of time-nya Stephen Hawking versi bargambar (the Illustrated) bisa bikin ngerti kalo Tuhan yg emang hrs elu sembah (ciee).. dan engga perlu takut baca history of god btw. gue pinjem dong …:-)
Oh iya lupa, coba baca satu buku lagi: “Manusia Menjadi Tuhan” dari Erich Fromm. Udah belum?
Aduh belum sempet beli buku Karen Amstrong, eh si Enda dah selesai baca…. 🙂 lumayan dapet resumenya ;p