Satu Dari Sepuluh

Aside

satudarisepuluh.jpg

_You only get one shot, do not miss your chance to blow. This opportunity comes once in a lifetime yo –Eminem_
Kalo kamu mau mendirikan perusahaan baru (startup), maka statistik ini yang harus kamu selalu ingat, bahwa *2/3* dari seluruh _startup_ yang bertahan hingga 2 tahun, dan hanya *44%* dari seluruhnya yang tetap bertahan hingga 4 tahun. (“10 Tips to Avoid Startup Graveyard”:http://money.cnn.com/2006/09/20/smbusiness/startup_graveyard/index.htm)
“Venture Capital”:http://en.wikipedia.org/wiki/Venture_Capital, yang biasa memberikan modal pada startup sadar akan hal ini, bahkan menurut mereka hanya 1 dari 10 startup yang akan sukses. Tapi toh _Venture Capital_ (VC) sebagai bisnis tetap jaya, karena 1 startup yang sukses itu memberikan _return_ berpuluh kali (kadang-kadang beratus kali) dari nilai yang mereka invest-kan.
Modal yang hilang ke startup2x yang gagal tergantikan seketika dari startup yang sukses tersebut.
Dengan cara ini para VC’s yang ngumpul di “Sand Hill Road”:http://en.wikipedia.org/wiki/Sand_Hill_Road, San Francisco/Silcon Valley, yg ngetop dengan budaya VC yang kentalnya, telah memberikan dunia nama-nama jaminan mutu seperti: Google, Yahoo, PayPal dll
_Kuncinya bagi mereka adalah_, bukan bagaimana tidak menyokong startup-startup yang gagal, tapi justru bagaimana supaya tidak ketinggalan ikut memodali 1 startup yang sangat sukses itu.
Gagal itu biasa, karena satu kesuksesan akan menutup semua kegagalan. _Hujan sehari menghapus kemarau setahun._
Ide para VC’s tentang kesuksesan ini tentu bukan sesuatu yang baru. Sudah sering kita baca bahwa salah satu kunci kesuksesan adalah seringnya kita mencoba. Makin sering kita mencoba makin besar peluang kita untuk sukses.
Para penemu besar tidak menemukan temuan mereka dalam satu kali percobaan, tapi hanya satu percobaan yang dibutuhkan untuk sukses.
Kalau kita buka tirai dibelakang mereka, maka untuk setiap kali temuan saintifik, ada ratusan percobaan yang gagal.
Tapi siapa yang ingat akan percobaan yang gagal? Yang penting dan _diingat orang adalah percobaan yang berhasil._
Begitu juga rahasia kesuksesan dalam hidup yang gue baca. Jangan lelah mencoba kalo belum berhasil, jangan lelah berlatih hingga sukses.
Kegagalan itu tidak penting, gagal sekali _move on_ coba lagi, gagal lagi, _move on_, coba lagi tanpa berhenti. Dari situ kayaknya kita mendapat peribahasa: _kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda._ (ini perlu diingat oleh kamu para pengantin baru di malam pertama hihihi)
Sayangnya, sebagai nasihat optimis yang membangkitkan semangat, pelajaran diatas, kadang melupakan beberapa hal yang tidak dijelaskan dan beberapa asumsi yang belum tentu benar di setiap kondisi.
Misalnya, gagal itu tidak apa coba terus hingga sukses, mengasumsikan _resources_ (uang, modal, sumber daya alam) dan WAKTU yang tidak terbatas.
Kadang (sebenarnya sih sering), kita hanya tidak punya aja _resources_ dan/atau waktu yang dibutuhkan untuk mencoba dan mencoba dan mencoba tanpa kesuksesan yang dijanjikan.
Yang kedua adalah, kegagalan berulang kali diasumsikan tidak memberikan efek apa-apa pada kita. Padahal seperti yang diketahui oleh setiap cowok yang pernah nyatain dan ditolak, kegagalan itu bukan hanyak berefek besar tapi juga rasanya sakiitttt banget deh. ๐Ÿ˜€
Gagal sekali okelah, mungkin lagi sial. Gagal dua kali? Gagal lagi, lagi, lagi dan lagi? Tidakkah sebagian kepercayaan diri itu bakal hilang dari dalam kepala? Dan membuat kita bertanya-tanya tentang dunia?
Karena sebab-sebab diatas, walapun gue menghormati mereka yang sukses dalam dalam percobaan pertama, gue lebih menghormati mereka yang sukses dengan jejak kegagalan di belakang mereka. Karena bukan saja mereka sukses! Tapi juga mereka berhasil mengatasi kegagalan yang mereka alami.
Selain itu, nasihat diatas juga tidak selalu dapat diaplikasikan untuk semua kondisi.
Ada banyak hal yang memang kita bisa mencobanya berkali-kali dan gagal sebelum sukses.
Percobaan-percobaan di laboratorium, investasi, pengantin baru di malam pertama, bikin blog (kalo gagal bikin blog jangan menyerah, coba lagi!), posting di blog (jangan takut gagal, posting lagi!) dan ngisi komen (ayo semangat!).
Tapi juga ada beberapa hal yang rasanya harus sukses di percobaan pertama, seperti misalnya, membesarkan anak, dan, _well_, kehidupan.
Bulan Ramadhan misalnya, menurut gue termasuk yang pertama. Dimana kita bisa mencobanya berkali-kali hingga sukses.
Kita dikasih kesempatan 30 kali dalam setahun untuk mencoba melakukan ibadah puasa yang bener.
Mungkin itu sebabnya perintah berpuasa dilakukan selama satu bulan, karena Tuhan tahu puasa itu ga gampang dan kita butuh waktu mencoba dan bereksperimen berkali-kali.
Puasa hari pertama? Wah gagal, belum kuat, coba lagi.
Puasa hari kedua, hampir sukses ga makan minum tapi nonton bokep. Gagal, coba lagi.
Puasa hari ketiga, gagal lagi. Lupa kalo lagi puasa, baru bangun langsung minum kopi.
Puasa hari ke empat, masih gagal, coba lagi, jangan putus asa, ada kesempatan 30 hari untuk mencoba.
Dan ingat, cuma butuh _satu_ kesuksesan untuk menghapus semua kegagalan. ๐Ÿ˜€

Aku Ingin Terkejut Selalu

Aside

terkejut.jpg

_โ€œSurprise is the greatest gift which life can grant us.โ€ –Boris Pasternak_
Seorang teman baik kemaren mengabarkan (oke, oke, menggosipkan) bahwa ada teman baik kita yang lain, yg baru saja selesai dalam proses penceraian, sekarang tengah menjalin hubungan dengan atasan senior di kantornya yang berasal dari Asia Selatan, seorang duda beranak dua.
Setelah dia menyampaikan berita itu dan gue terlihat tidak bereaksi beberapa saat, kemudian dia menambahkan: _life is full of surprises…_
_Indeed it is._
Terus terang aja, kata pertama yang muncul di otak gue adalah “SHITE!”:http://www.urbandictionary.com/define.php?term=shite (diucapkan _sait_, versi keren dari kata _shit_, seperti _biatch_ adalah versi keren dari _bitch_. Kenapa diterangin nda?) dan setelah terkejut, gue kemudian tersenyum ketika nyadar bahwa masih ada juga yang bisa membuat gue surprise. Membuat gue terkejut.
Karena bukahkah itu artinya gue masih muda? (Yeaa!) ๐Ÿ˜€
Masih bisa terkejut, masih ada yang belum gue tahu, belum gue pikir, belum gue liat, belum gue alami di dunia ini sehingga gue masih bisa terkejut.
Masih ada hal-hal di dunia ini yang mengagetkan gue. Yang memerangkap gue dalam beberapa momen kehilangan kata-kata. Menangkap ke-enam indera di tubuh gue dalam kondisi ketertarikan.
Masih ada yang membuat jiwa gue berteriak: Yes! This is NEW!
Baru di momen itu gue tersadarkan betapa kemampuan untuk terkejut, kaget, _fascinated_ tersebut adalah sesuatu yang berharga.
Sesuatu yang kita punya saat kita kecil dan sedikit demi sedikit hilang bersama bertambahnya umur.
“Gala”:http://www.flickr.com/photos/enda/tags/gala/ misalnya, anak gue yang bulan ini berumur 15 bulan selalu tertarik dan _fascinated_ terhadap hampir semua yang mama papanya lakukan.
Maen komputer, baca buku, nonton tv, cuci baju, kipas angin, laci meja. Semua dia lihat dengan penuh ketertarikan dan keterkejutan.
Saat gue gosok gigi, cuci muka, bahkan cukuran bulu-bulu muka maka dia akan berdiri di sebelah gue, menatap penuh perhatian dan ingin tahu. Tertarik, karena ini sesuatu yang baru buat dia, sesuatu yang mengejutkan!
Bahkan setiap kali gue buru-buru masuk kamar mandi mau kencing maka dia bakal lari-lari kecil di belakang pengen ikut, dan setelahnya dengan penuh antusiasme menarik gagang flush toilet sehingga airnya keluar.
“OMG! Ternyata gagang di toilet ini bisa mengeluarkan air, menyiram air seninya papa!”, begitu mungkin pikirnya.
Coba bayangkan, apakah kamu mau ngikut gue ke kamar mandi dan mem-flush air kencing gue dengan penuh ketertarikan? :p
 
Dari situ gue jadi ngerti dorongan temen-temen untuk selalu “dikagetkan” akan sesuatu yang baru. Musik yang baru, album baru yang akan keluar bulan depan. Film baru dari sutradara yang kita tahu selalu “mengagetkan” kita dengan berbagai cara.
Beli baju baru, sepatu baru, asesoris baru. Kirim-kirim email lucu, baca-baca email lucu.
Gadget baru yang kita baca di satu majalah dan akan _launch di market_ minggu ini. Kawin lagi dan punya “istri baru umur 19 tahun”:http://www.liputan6.com/view/3,129329,1,0,1.html.
Software release baru, “anime”:http://www.id-anime.info/ baru untuk di download, situs baru yang muncul, posting baru di blog ini, komen-komen baru (waa! komen baru! hehe)
Kehausan kita akan sesuatu yang baru, untuk dikejutkan dari waktu ke waktu, adalah cara kita untuk mempertahankan ikatan dan ingatan saat kita masih kecil, masih muda. Dan mungkin supaya berasa muda.
Dengan berbagai cara masing-masing, kita mencari hal-hal baru. Mencari hal-hal yang mengejutkan kita. Yang secara _genuine_ mengejutkan kita, bukan terkejut yang dibuat-buat. Yang membuat kita diam beberapa saat dan berseru _SHITE!_
Dan itu yang mungkin yang kita lakukan sekarang.
Setengah mati ingin terkejut dan dikejutkan.
Setengah mati menunda saat-saat dimana kita berkata, _there’s nothing new under the sun_ dan _nothing surprise me anymore_.
Setengah mati menghindari masa saat kita sudah begitu sinis, _jaded_, dan lelah sehingga apapun tidak menarik perhatian kita lagi.
Semoga hari-hari itu tidak akan pernah datang dan semoga kita selalu mampu untuk terkejut.
_Nah sekarang… jangan ngeliatin aja dong, sudah boleh di-flush tuh toiletnya._ ๐Ÿ˜€
 

Merdeka 2.0 Beta

Aside

Merdeka 2.0
_Ultimately we know deeply that the other side of every fear is a freedom. –Marilyn Ferguson_
Ketika kita bicara tentang kemerdekaan, cukup menarik untuk mengamati bahwa “merdeka” punya arti yang berbeda-beda untuk masing-masing orang.
Merdeka atau _freedom_ punya arti banyak dan kita masing-masing punya definisi sendiri terhadap apa itu kemerdekaan.
Dalam salah satu artikel yg gue baca (gue lupa, mkn di NY Times, ada yg pernah baca juga), seorang ahli pernah melakukan survei tentang apa arti kemerdekaan.
_Freedom_ atau merdeka ternyata punya arti yang berbeda ketika dia mengkategorikan strata sosial sumber surveinya.
Bagi mereka dengan tingkat pendidikan tinggi ([_college degree, thus middle class, middle incomes_]) merdeka mereka asosiasikan dengan “kemerdekaan untuk…” ([_”freedom to…”_]).
Kemerdekaan untuk berbuat, kemerdekaan untuk mencapai, kemerdekaan untuk memilih.
Kemerdekaan sebagai bentuk sebuah ekspresi diri dan mencapai potensi pribadi.
Sedang hasil survei dari mereka dengan tingkat pendidikan rendah ([_no college degree, thus low income_]), kemerdekaan untuk mereka adalah “kemerdekaan dari…” ([_freedom from…”_])
Kemerdekaan dari penindasan, kemerdekaan dari rasa takut akan masa depan, akan kelaparan, akan teror. Kemerdekaan dari tekanan sosial, ekonomi dll.
Kemerdekaan adalah bentuk jaminan akan dasar-dasar kebutuhan untuk hidup.
_Freedom to…_ dan _freedom from…_
Dua bentuk kemerdekaan.
Satu negeri.
Dirgahayu Indonesia ke 61.