Tentang Popularitas

Aside

Popular opinion is the greatest lie in the world” kata Thomas Carlyle, sejarawan Inggris yang hidup di abad ke 19.

Datangnya dari orang kebanyakan, orang-orang biasa, yang kita lihat sehari-hari, tapi tidak pernah kita sentuh.

Karena siapa yang akan mendengar nasihat dari sang office boy saat kita bingung mau nonton special show yang mana di JavaJazzFest minggu ini, misalnya?

Atau pendapat dari sang tukang parkir tentang produk mobil paling canggih atau paling ramah lingkungan?

Opini
populer karenanya adalah sebuah produk massal, seperti mie instant.
Cepat saji, dengan rasa standar dan harga murah. Dan tidak baik jika
dikonsumsi terus menerus.

Opini populer juga tidak peduli tentang mana yang benar dan mana yang betul. Opini populer memuja kesesaatan, simbol bala, dan air mata.

Keadilannya adalah keadilan yang populer, pemihakannya adalah pada insting kita yang paling kuno.

Itu kenapa sang jagoan bisa melanggar hukum dan James Bond bisa membunuh dengan izin.

Itu juga kenapa penjahat pasti buruk rupa dan sang putri pasti berakhir dengan sang pangeran di akhir cerita.

Karena sesaat, maka paketnya harus lengkap dan menghibur. Penampilan lebih penting daripada isi. Bungkus lebih menarik daripada substansi.

Karena
sesaat. Maka kedalaman hanya buang-buang waktu. Durasinya hanya cukup
mengisi ruang yang dangkal, tapi tetap full color, bahkan kalau bisa 3D.

Tapi
begitu rendahkah opini populer? Bukankah popularitas berarti disukai
oleh orang banyak? Dan apa yang disukai oleh orang banyak tidak bisa
jelek.

Dan karena tidak bisa jelek, maka berarti BENAR (is right). Dan karena benar maka kita mencampurbaurkannya dengan BETUL (is true).

Dan
oh begitu menyenangkan ketika kita populer. Menjadi populer membukakan
pintu lebih banyak. Menjadi populer menghemat waktu untuk tidak
menerangkan berulang kali.

Menjadi populer memberikan
kebahagiaan bagi orang banyak. Membuat orang banyak menjadi lebih baik.
Membuat orang banyak hidup DENGAN lebih baik. Lebih SUUPPEERRR.

ririn-dumin-page.jpgRirin Dumin misalnya. Ririn ingin jadi bintang. Karena menjadi bintang berarti menjadi populer.

Untuk menjadi bintang Ririn ngeblog dan memasang video-video amatir yang ia buat, memohon (dan bercerita) tentang keinginannya menjadi seorang bintang

Ririn seperti anak muda jaman sekarang, tidak pusing keliling kota atau ikut manggung di SMA-SMA

Ririn menggunakan Facebook dan Twitter untuk berpromosi. Kita bisa menjadi temannya atau fans-nya.

Kita bisa melihatnya dalam video minta di-casting atau saat Ririn menunjukkannya kebolehan ber-acting.

Tapi.

Justru itu.

Karena kemudian.

Begitu salahkah menjadi populer? Begitu salahkah kemudian ketika kita INGIN populer?

Begitu salahkah ketika anak-anak kita, lahir, menangis dan ingin menjadi peserta Indonesian Idol?

Hidup ini singkat. Jalani hidup dengan maksimal. Eksis, narsis, be populer.

Karena rupanya, menurut opini populer, menjadi populer juga berarti menjadi dicintai.

Karena rupanya, menjadi dicintai, adalah cita-cita kita semua, terutama cita-citanya Ririn Dumin.

Will this be here

FOREVA?
Powered by KuyaBerry™ Let’s ask “Why not?” more often,
Enda Nasution.
YM: enda_001 | BBM *NEW!*: 2172C0F6 
http://enda.goblogmedia.com | http://www.politikana.com »

Posted via email from Enda @ posterous | Comment »

Cerita Subversif

Aside

bob-marley

Tulisan di bawah ini adalah “Kata Penutup” dari buku “Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com” yang saya tulis di September 2009 atas permintaan sang kurator Mas Chus dari Sriti.com. Selamat buat temen-temen dari Sriti.com atas terbitnya buku ini, dan dapatkan bukunya kalau belum punya sekarang juga hehe.

CERITA SUBVERSIF
oleh Enda Nasution

Cerita dan cerita pendek bagaikan wafer cokelat bergambarkan superman buat saya.

Sesuatu yang enak, manis, membangkitkan kenangan masa kecil dan sudah hilang dari pasaran.

Satu generasi dengan coklat ayam, permen lima perak-an dan permen karet bunder warna-warni.

Sesuatu yang rasanya datang dari masa lalu dan entah kenapa seperti tidak menemukan tempatnya lagi di keseharian jaman yang baru ini.

Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya benar-benar menikmati sebuah cerita, di sebuah buku, dari awal hingga akhir. Dari huruf besar hingga titik dan kata tamat atau selesai.

Kemana saja saya ya?

Mungkinkah electronic bubble itu sudah begitu sempurna terbentuk sehingga sebuah cerita sederhana tidak lagi dapat menembus masuk.

Sudah begitu instankah keseharian kita ketika berita kematian Nordin M Top dan perceraian KD & Anang harus kita terima dalam bentuk status update di akun Facebook teman-teman kita?

Ketika percakapan dan kegenitan dikirimkan dan diterima hanya dalam 140 karakter saja via twitter atau plurk.

Ketika semua pesan lewat SMS, Yahoo Mesengger dan BlackBerry terasa membuat mereka jadi lebih penting 10x lipat dan harus dijawab sekarang juga.

Ketika waktu keseharian berjalan begitu cepat sehingga kesempatan untuk duduk diam dan berefleksi menikmati kini dan memanjakan saat jadi sesuatu yang jarang dan langka.

Buku memberhentikan kita dari rutinitas, seolah-olah berujar stop! Berhenti! Tinggalkan media-media instan yang memanjakan mata dan berikan waktumu yang tidak terbagi buat saya.

Dan cerita dalam buku tersebut membuka dunia dan membawa kita hidup dalam alam yang lain, efeknya seperti menonton televisi dalam kepala. Channelnya adalah imajinasi dan volumenya adalah emosi.

Itulah yang saya rasakan setelah membaca "Bob Marley dan 11 Cerita Pilihan Sriti.com " ini.

Saya diingatkan bukan saja pada sebuah masa yang lebih sederhana dimana saya mencintai cerita dan bagaimana orang bercerita.

Tapi juga pada sejarah umat manusia, yang setelah berjalan sejuta tahun ini, dengan teknologi yang luar biasa yang kita rasakan setiap hari ini, dimana tradisi bercerita menjadi sebuah media penyampaian informasi dan dimana, apa yang kita lakukan sekarang ini dalam segala bentuknya adalah bentuk ekstensi dari tradisi bercerita tadi.

Membaca buku ini menutup sebuah lingkaran penuh, a full circle, dimana cerita pendek, yang mana menandai bukan saja formatnya yang pendek tapi jendela baca-nya yang juga pendek (harian atau mingguan), kemudian dipindahkan ke format keabadian dalam bentuk elektronik hadir di dunia maya.

Bukan saja abadi dan tersedia untuk siapa saja, tapi dalam bentuk koleksi di sebuah website Sriti.com maka praktis cerita-cerita tersebut juga menjadi dapat dicari, searchable, dapat ditemukan saat diperlukan, ketika dibutuhkan.

Dan kini kita berada di penutup lingkaran tersebut, bentuk elektroniknya kini dikumpulkan dalam sebuah pilihan dalam bentuk penyampaian informasi yang bertahan sejak abad ke 15 saat teknologi percetakan ditemukan.

Dalam sebuah buku, teknologi informasi yang user interface-nya paling dipahami manusia.

Membaca cerita dalam sebuah buku menjadi terasa… menyegarkan dan penuh, ketika dibandingkan dengan bombardir email dan pesan messenger, atau keriuhan milis, forum dan kicau status teman kita terbaru.

Kita teringatkan oleh buku ini bahwa cerita itu menghibur, menelisik alam bawah sadar, mengejutkan dan membuat kita menerima ide dan informasi yang secara normal mungkin tidak akan kita terima.

Cerita mengimitasikan realita, sedangkan essay analitis menjelaskan realita. Itulah sebabnya kita lebih mudah menerima ide dan informasi dalam format cerita dibandingkan dalam bentuk yang lebih analitis.

Cerita karena itu adalah sesuatu yang bersifat subversif

Seperti drama dimana kita mengambil bagian di dalamnya, cerita membuat pengalaman menjadi milik kita.

"Kematian Bob Marley" yang mengisyaratkan kita pada kematian Mbah Surip bercerita tentang berakhirnya sebuah masa yang aneh tapi familiar. Sedang "Tanah lalu" membawa kenangan akan sebuah kampung halaman yang tidak pernah kita miliki.

Eep Saefulloh Fatah di "Cinta pada Sebuah Pagi" bermain dengan sebuah twist ending sambil menyambar ide dilematis feminisme modern dan "Malam Kunang-Kunang" mengingatkan pada mitos rakyat yang kental dengan pesan lingkungan.

Membaca cerita yang bagus karenanya, seperti menyematkan sebuah ingatan akan masa lalu yang tidak pernah kita jalani sendiri.

Suaranya tinggal di belakang kepala kita, seperti teman lama.

Mengubah file-file informasi yang ada dalam otak kita, mengubah susunannya dan hingga sebuah titik mengubah eksistensi dan juga realita.

Selesai membacanya maka kita tidak akan menjadi orang yang sama lagi.

Buku ini karena itu bagaikan sebuah tombol pause pada sebuah DVD Player, kita butuh waktu untuk berhenti dan menikmati sesuatu yang lain.

Yang melepaskan kita dari rutinitas dan membawa kita pada sebuah dunia yang baru.

Yang mengingatkan kita bahwa dunia tidak selamanya hadir dalam bentuk elektronik, di masa lalu yang tidak terlalu jauh dimana ide memang memakan ruangan, dimana ide dapat rapuh termakan ngengat dan usia.

Kita butuh untuk lebih sering menekan tombol pause itu, kita butuh lebih banyak lagi buku seperti Antologi Cerpen, Matinya Bob Marley dari Sriti.com ini.

Kita butuh untuk membuka bungkusan, mengecap rasa manis, mengigit kerenyahan dan menelan lebih banyak lagi wafer coklat bergambar superman itu.

Bandung, 19 September 2009