BUKTI

Aside

trust.jpg

_Faith is believing what you know ain’t so.. :)_
Setiap tahun majalah *Edge.org* mengajukan pertanyaan pada para saintis dan pemikir lainnya untuk dijawab. Di tahun ini pertanyaan mereka adalah _”What do you believe is true even though you cannot prove it?”_
_Apa yang kamu percaya BENAR walaupun kamu tidak bisa membuktikannya?_
Pertanyaan sederhana tapi dalem ini dijawab oleh *120* saintis, pemikir dan peneliti [[“bisa kamu lihat disini”:http://www.edge.org/q2005/q05_print.html]] dan mendapat ratusan respon di Internet serta dari berbagai media massa.
Berbagai jawaban dari berbagai bidang didapat, dari yang _lumayan_ umum seperti misalnya seorang saintis yg percaya pada _true love_ hingga hal yang _kayaknya_ agak-agak rumit seperti *”Tuhan”* atau misalnya percaya bahwa pada manusia selalu melakukan pilihan *tidak rasional* ketika harus memilih hal-hal penting: karir, pasangan, jurusan.
*NAH!* Yang lucu adalah: Apa hebatnya pertanyaan diatas tadi? Apa yang luar biasa?
Yang gue tangkap sekilas, pertanyaan tadi jadi *”heboh”* karena para saintis, peneliti dan akademisi ini adalah mereka-mereka yang _kerajingan dengan BUKTI_. Mereka yang ga akan ngeluarin pernyataan apapun tanpa BUKTI NYATA [[_bubuk tai dina mata_]], yang gandrung, yang tergila-gila pada apa yang namanya _prove_.
Dan [rupaya ini yg lucu, aneh dan heboh] ketika mereka ditanya ada ga sih yg kamu percaya benar, tapi ga ada [atau belum ada] buktinya? *Ternyata ada.*
*New York Times*, di artikel yang membahas pertanyaan ini malah sampe niat harus nulis besar-besar “[“Scientists Take a Leap”:http://www.nytimes.com/2005/01/04/science/04edgehed.html]”.
Adalah sebuah demonstrasi “luar biasa” ketika mereka ini ternyata juga punya [GASP!]: *FAITH*.
Punya “kepercayaan”, punya “keimanan” terhadap sesuatu yang mereka TAHU, tidak bisa mereka buktikan tapi mereka IMAN bahwa hal tersebut benar adanya.
Kalo kita gimana?
Oh jangan kuatir. Dalam pendapat gue, kita [apapun “kita” disini artinya], hidup dalam dunia *sebaliknya* dari mereka.
Kalo mereka hidup dalam dunia BUKTI, dalam dunia kepastian. Kita hidup dalam dunia keimanan, dalam FAITH, dalam sisi dunia lainnya.
Kita percaya dengan apa yang ditulis oleh para teman jurnalis di media massa. Kita percaya dengan janji-janji anggota *DPR* dan mentri. Kita percaya dengan ancaman pengkhotbah di mimbar-mimbar. Kita percaya dengan celotehan selebritis di layar tivi. Kita percaya dengan forward-an email di milis-milis dari email2x gratisan [hekehke!!].
Padahal tidak ada bukti yang menyertai.
_Kita terlatih untuk percaya._
Pada orang tua, pada guru, pada dosen, pada sesepuh, pada ketua RT, pada “pemimpin”, pada kyai, pada pacar, pada iklan, pada do’a.
Padahal tidak ada bukti yang menyertai.
Dan apakah kamu pengen tahu apa sebabnya? Kenapa kita begitu mudah percaya. Begitu mudah beriman tanpa menuntut? Begitu gampang menggangguk tanpa membuka mulut?
Buat gue, karena rasanya kita *[_tidak sanggup untuk tidak percaya_]*, tidak sanggup untuk tidak beriman.
Tidak sanggup, untuk meminta bukti dan menangguhkan keimanan kita hingga bukti tadi muncul.
Tidak sanggup untuk tidak percaya ketika teman bicara kita memulai kalimat dengan “Pokoknya…”.
Ada dorongan kuat yang mendasar di dalam diri kita, keinginan raksasa untuk… percaya.
Jadi, kembali ke pertanyaan majalah *Edge.org* diatas tadi. Apa susah, apa istimewa. kalo pertanyaan itu diajukan pada kita, saya, kamu dan Anda?
Hehe.. rasanya ga ya. Karena begitu *BANYAK* hal yang kita percaya *BENAR* tapi kita ga punya *BUKTI*-nya.
Termasuk gue.
Dibawah ini hal-hal yang gue percaya, gue imani adalah benar, walau gue ga punya buktinya:
* Gue percaya, bahwa manusia pada dasarnya memiliki karakteristik yang *cenderung pada kebaikan*, sehingga bagaimanapun rasanya begitu banyak berita brengsek tentang “kita” yang kita dengar gue percaya semua itu karena faktor luar dan bukan karena manusianya jahat.
* Gue percaya, bahwa dengan usaha dan apa yang kita punya sekarang *Indonesia* dan dunia _insya Allah_ akan selalu jadi baik, akan selalu sanggup berkelit dari perangkap kesempitan otak dan mampu memperbaiki diri terus menerus, karena inilah tempat dimana gue, kamu, kita dan Anda akan membesarkan anak dan cucu kita.
* Gue [masih] percaya, sama kita.
 
_Gimana kamu? :)_
_Apa yang kamu percaya *BENAR* tapi kamu ga punya *BUKTI*-nya?_
 

Noda Kemanusiaan

Aside

noda kemanusiaan

Akhir tahun lalu gue sempet nonton “The Human Stain (2003)”:http://www.imdb.com/title/tt0308383/ yang maen *Anthony Hopkins* dan *Nicole Kidman*. Film yang berasal dari novel dengan judul yang sama ini bercerita tentang hidup seorang kulit hitam, yang saking putihnya warna kulitnya, dia bisa berpura-pura dan akhirnya mengambil identitas serta hidup sebagai seorang kulit putih. Kenyataan yang dia sembunyikan selama hidupnya.
“Philip Roth”:http://en.wikipedia.org/wiki/Philip_Roth yang menulis novel ini [gue belum baca] _kind of a big deal_ di US sana. Buku-bukunya yang dianggap sebagai sastra sana, banyak yang mendapat penghargaan. Filmnya sendiri _yah_ biasa aja buat gue. Ga _gimana gitu_. Maksudnya gue ga nangkep _what so big deal about the story?_ 🙂
Setelah baca-baca dari sumber lain baru gue ngerti apa yang dia maksud dengan “Human Stain”:http://en.wikipedia.org/wiki/The_Human_Stain disitu.
Setiap novel yang ditulis Philip Roth dimulai dengan sebuah IDE. Dalam “Human Stain”:http://en.wikipedia.org/wiki/The_Human_Stain, IDE-nya adalah bahwa setiap manusia dalam masanya dia berjalan di muka bumi ini selalu dan setiap saat meninggalkan noda, meninggalkan sisa.
Dari napas yang kita keluarkan, dari jejak langkah yang kita tinggalkan, dari partikel kulit yang kita jatuhkan, dari rambut yang jatuh, dari suara yang keluar dari mulut kita.
Manusia modern karenanya punya *”jatah” lebih* dalam usaha penodaan segala yang murni dan bersih di bumi ini.
Setiap pikiran yang kita utarakan adalah “noda” kita di bumi ini. Setiap gambar, setiap kata, setiap tulisan adalah “kotoran” kita yang kita tinggalkan untuk generasi yang akan datang.
Apalagi di jaman ini.
“Noda” itu jadi segala sesuatu yang tercecer atas nama kita.
Kalo kamu seorang komentator, setiap komentar yang kamu keluarkan. Kalo kamu seorang pejabat, setiap janji yang kamu gantungkan. Kalo kamu seorang jurnalis, “setiap berita”:http://www.detik.com yang akhirnya terbit dan dibaca banyak orang. Kalo kamu seorang pemusik, setiap lagu yang kamu senandungkan. Kamu kamu seorang lelaki, setiap rayuan yang kamu kumandangkan.
Kalo kamu seorang penulis, setiap buku yang kamu terbitkan. Kalo kamu seorang _filmmaker_, setiap film yang kamu produksi [sukses [“Janji Joni”:http://nikimovie.blogspot.com/2005/01/janji-joni-beratnya-perjuangan.html]-nya jok hehe]. Kalo kamu seorang penyair, setiap puisi yang kamu ciptakan.
Setiap gosip yang kita sebarkan, setiap email yang kita forwardkan, “setiap upaya kita”:http://secandri.com/blog/2005/01/10/pelawak-sejati-salut/ “dalam mencari kepopuleran”:http://yulian.firdaus.or.id/2005/01/10/roy-suryo-memancing-di-air-duka/.
Kalo kamu seorang blogger, setiap entry yang kita post-kan.
Ah.
Kenapa harus mulai peduli?
Mungkin gue mulai tua.
 
 
_Selamat tahun baru semua. Di tahun baru ini gue akan mencoba mengurangi jumlah kotoran yang gue bagikan ke kamu semua. :)_
_Nothing was solved when the fight was over, but nothing mattered. -Fight Club_

Pengakuan Seorang Pemalas

Aside

Pemalas

Hai.
Nama saya tidak penting. Saya laki-laki, dilahirkan *30 tahun* yang lalu di *Jakarta*, dengan bintang *Leo*. _In relationship_, punya pekerjaan bagus. Tinggal sendiri di kota besar ini.
Kamu tidak kenal saya, saya juga tidak kenal kamu. Saya orang baru disini.
Di tulisan ini saya mau mengakui sesuatu tentang diri saya yang tidak ada orang lain yang tahu.
Yaitu, saya, *seorang pemalas*.
Saya memulai hari dengan malas. Setiap bangun yang pertama kali saya pikirkan adalah, *apa saya harus masuk kerja?* Berapa hari lagi jatah _sick leave_ saya? Dan kenapa sih orang harus kerja?
Dan kalo pun akhirnya saya bangun, mandi dan pergi ke kantor itupun saya lakukan dengan terpaksa dan dengan satu tujuan: *sebisa mungkin tidak mengerjakan apa-apa hingga jam pulang kantor tiba!*
Oh jangan khawatir, banyak hal yang bisa dilakukan dikantor sambil terlihat kerja. Ada ruang _pantry_ tempat berlama-lama membuat kopi sambil ngobrol, ada _meeting_ berjam-jam dimana kamu cuma perlu duduk manis, ada _lunch hour_, (!) _really loooong lunch hour_. Dan ada *komputer* dan *internet* (ah penemuan yang brilian luar biasa) dimana kamu bisa duduk berjam-jam terlihat bekerja padahal sibuk *mem-forward email lucu* (yang kadang jorok) ke teman-teman kamu.
Kalo satu hari terbuang percuma maka saya akan menepuk dada dan *memberi selamat* pada diri saya sendiri. *Selamat bung, kamu berhasil membuang waktu sehari penuh tanpa kerja!*
*Ya saya seorang pemalas*, keahlian saya adalah membuang-buang waktu.
Oya jangan salah, tidak ada yang tahu tentang hal ini, tidak teman kerja saya, tidak boss saya. Sepengetahuan saya, semua orang menyangka saya seorang yang *normal*. Tapi mereka salah.
Kuncinya adalah, cukup mengerjakan pekerjaan yang *benar-benar harus* disaat yang *benar-benar penting*. Di luar itu, jangan kerja! Cukup duduk manis di depan komputer, berpakaian rapih dan *terlihat sibuk*.
Saya bukan orang yang bodoh, *justru karena saya pintar* maka saya malas dan menerima tawaran pekerjaan ini (saya terlalu malas buat ngirim-ngirim lamaran).
Saya malas kuliah dulu, tapi didaftarkan oleh orang tua saya. Saya lulus karena berpegang pada prinsip kemalasan saya tadi, mengerjakan _hanya_ hal yang harus dikerjakan.
*Ya saya seorang pemalas*, dan saya tidak sendirian.
Sudah dengar cerita tentang lomba malas sedunia? Intinya kira-kira begini.
*Tiga pemenang* lomba malas sedunia diwawancara dalam sebuah _talk show_.
*Juara 3* ternyata ditempati oleh orang yang tidak makan dan minum selama *12 hari* karena untuk makan saja dia MALAS. *Juara 2* ditempati oleh orang yang tidak buang air besar selama sebulan, dan menurut pengakuannya, itu dia lakukan karena dia MALAS.
Dan ketika kamera beralih ke *juara 1*, ternyata sang pemenang sedang menangis tersedu-sedu.
_”Kenapa?”, tanya si pembawa acara, “Kok malah sedih? Harusnya Anda senang dong menjadi juara 1.”_
_”Oh bukan itu, saya senang kok juara. Ini ANU saya kejepit di resleting”, jawabnya sambil terus tersedu-sedu._
_”Loh!? Terus kenapa tidak dibuka?”, tanya pembawa acara keheranan._
*[_”Abis saya malaass”._]*
*Saya seorang pemalas*, dan website favorite saya adalah “malesbanget.com”:http://www.malesbanget.com
Bukannya saya tidak punya inspirasi atau cita-cita. Saya merasa banyak orang yang salah paham tentang pemalas dan saya ingin membenarkan pandangan itu.
Sekitar tahun *2001-an* saya sudah mau mulai membeberkan _true story_ ttg para pemalas dalam bentuk artikel, buku dan seminar-seminar, sayang terus sayanya malas.
Dan karena itulah, sejak *Januari 2004* saya memulai menulis pengakuan ini untuk meluruskan permasalah kemalasan itu. _To keep the record straight_. Akhirnya setelah *11 bulan*, karena nulisnya males-malesan, pengakuan ini syukur rampung juga.
_See_, untuk hal-hal penting, selesai juga kok akhirnya. *Bukannya saya tidak punya prioritas* buktinya saya punya pekerjaan tetap, punya pacar, punya kehidupan.
*Saya seorang pemalas*, dan tokoh favorite saya adalah *Kabayan*.
Dunia penuh oleh para pemalas, bukankah pepatah mengatakan _laziness is the mother of all invention_?
Orang malas jalan, maka diciptakanlah mobil, orang malas membuat tabel dan menghitung dengan sipoa maka terciptalah *Excel*, orang malas memasak maka terciptalah *instant food* dan *microwave*.
Tanpa para pemalas, dunia ini akan tetap di *jaman batu*.
Jadi tidak ada yang salah dengan berlaku malas. Mungkin saya akan menciptakan sesuatu, mungkin sebuah *robot yang persis saya* yang akan mengerjakan segala sesuatu yang harus saya kerjakan.
*Ya saya seorang pemalas*, dan *utopia* saya adalah dunia penuh robot dimana saya bisa hidup di dalam mesin mimpi.
_”Apakah kamu bahagia?”_, kamu mungkin bertanya, _”bukankah kebahagiaan, salah satunya datang dari rasa kepuasaan disaat kamu mengerjakan sesuatu, disaat kamu tahu ada hasil dari yang kamu kerjakan, ada reward, perasaan puas (wekdor)?”_
Oh terima kasih, tapi saya tidak punya waktu (!) untuk memikirkan kebahagiaan saya cukup *sibuk mempertahankan kemalasan saya.*
Saya cukup senang (apakah bahagia itu senang? bukan, senang itu hitut dina se’eng) dengan hidup saya sekarang.
Di akhir sebuah hari, jika saya berhasil _tidak_ mengerjakan apa-apa di hari itu maka saya akan merayakan hari tersebut dengan makan malam yang enak dan menghibur diri dengan cara apapun.
*Kadang sendiri*, kadang dengan teman yang tidak merepotkan atau dengan pacar yang tidak menyusahkan, tapi seringkali sendiri. _Orang lain adalah pekerjaan dan saya malas mengurusnya._
Habis itu saya akan pulang kerumah, memarkirkan mobil ke garasi rumah saya yang tidak pernah ditutup (males nutupnya), masuk ke tempat tidur, melihat langit-langit, mengingat lagi bahwa hari ini saya tidak mengerjakan apa-apa. Satu hari lagi terbuang percuma dan *saya pun menangis tersedu-sedu.*
Tidak apa, tidak apa, *saya tidak apa-apa*, tinggalkan saja saya, saya butuh sendiri, saya sudah terbiasa dengan rasa sakit ini.
Anu saya sudah kejepit resleting sejak *7 tahun* yang lalu. Tiap pagi *robot saya* menjepitkan anu saya di resleting, dan tiap malam dia melepaskannya lagi.
*Ya saya seorang pemalas.*
*Dan inilah pengakuan saya.*