Managemen dan strategi Password

Aside

password.jpgSepuluh tahun lalu (waktu gue umur 12 tahun hehe) rasanya jarang deh kita denger atau punya yang namanya *password*.
Pengetahuan password rasanya pertama kali tau waktu baca *Trio Detektif*, *Jupiter* atau siapapun yang berada di markas besar Trio Detektif biasanya baru boleh masuk setelah mengetuk pintu-pintu rahasianya dengan tiga ketuk, dua ketuk, satu ketuk ([_well I guess this is some kind of password_]) πŸ™‚
Anak-anak di *Sapta Siaga* juga punya password, buat rapat-rapat rahasia mereka. Harus ngomong apa dulu gitu, baru boleh masuk.
Ga lama setelah itu, *Internet* dan kehidupan elektronik datang dan kok tau-tau hidup kita diserbu oleh password? Untuk setiap kali registrasi sebuah aplikasi di Internet kita harus punya atau menyediakan password.
Ngecek *email* pake password, login *Yahoo Msgr* pake password, login *blogger.com* pake password, login *Friendster* pake password, login ke komputer kamu aja pake password. Semua layanan pake password sebagai mekanisme keamanannya.
Belum lagi kalo ternyata email kamu ada *lebih dari satu*. Email kampus, email Yahoo, email Hotmail, dan ga tau apa lagi, kamu bisa tenggelam dalam lautan password akhirnya. Dan bukan hanya password, biasanya yang lebih celaka lagi, *user name* juga bisa beda-beda, yang alhasil menimbulkan _kericuhan ingatan_ ketika berusaha mencari user name mana yang harusnya pake password mana. πŸ˜€
Nah, masalah ini bukannya ga dirasa oleh para teknologis. Karena sekian waktu yang kita buang buat masalah ini membuat kita kurang produktif dan jadinya SIBUK nginget password-password dan capek terus-terusan login.
Di bidang ini misalnya ada yang namanya “MSN Passport”:http://www.passport.net/, dari *Microsoft*, yang menjanjikan kemampuan login sekali untuk selamanya untuk semua aplikasi. Sayang layanan ini ga laku, lebih karena orang lain pada ga percaya buat nyimpen informasinya sama *Microsoft* :). Beberapa layanan lain juga mencoba melakukan hal yang sama hanya karena satu dan lain sebab belum ada yang sukses.
Apa mau dikata, untuk saat ini kita harus _memanage_ password-password kita sendiri. Dan untuk melakukan ini perlu ada strategi dan manajemen khusus supaya kamu ga gampang kelupaan password.
*Pertama*, adalah _bad idea_ untuk menuliskan password-password kamu apakah itu di email, di kertas, di buku kamu atau dimana aja. Supaya aman, simpan password kamu di tempat yang paling aman, di kepala. Jadi selama kepala kamu tidak terantuk benda keras dan mengalami amnesia, mudah-mudahan password kamu selalu aman.
*Kedua*, lupakan memakai *password* yang persis sama atau modifikasi dikit dari *user name* atau nama kamu. Misalnya user name: *Ateng*, maka jangan pake passwordnya *sok tahu*, karena semua orang pada tau kalo *Ateng itu Sok Tau*
Lupakan juga memakai tanggal lahir kamu sebagai password, itu udah ketebak banget.
*Ketiga*, tentang pemilihan password itu sendiri sebaiknya apa, biasanya dah pada jago ya, umumnya password kita adalah kombinasi huruf dan angka, juga _case sensitive_ (huruf besar-kecil) membantu untuk menciptakan sebuah password. Apakah itu alamat kost-an yang dulu, atau no rumah mantan cewek/cowok atau grup band atau apa gitu hehe.
DAN, kalo yang diatas itu dah beres dibawah ini adalah *strategi password* yang lumayan berhasil yang gue pake:
* Gue selalu make (sebisa mungkin) *user name* yang sama untuk semua login. Ini mengurangi permasalahan _what user name goes with what password_, karena berarti gue tinggal mengingat passwordnya aja.
* Awalnya gue cuma pake *SATU PASSWORD SAJAH* untuk semua login gue. _Apapun loginnya, password andalah itu kuncinya_ (hehe). Ini menyederhanakan masalah banyak, karena gue ga usah nginget2x password lagi, kalo gue tau user name-nya, karena ya itu tadi, untuk semua login, ya pasti passwordnya itu.
* Ketika gue merasa perlu ganti password andalan itu, maka untuk semua login *gue ganti juga* passwordnya, pokoknya cuma ada SATU PASSWORD deh, ini yang gue namakan *STRATEGI PASSWORD TUNGGAL*.
Sayangnya, ini kayaknya *kurang aman*, bayangin kalo sampe ketauan, maka berarti SEMUA login gue bisa dimasuki oleh hanya satu password sajah. Karena itu lahirlah apa yang gue namakan *STRATEGI PASSWORD BERTINGKAT*. (he)
* Dengan strategi ini gue menciptakan beberapa tingkat penggunaan password, tergantung pada *tingkat kepentingan* sebuah aplikasi/login.
* Dibuatlah kategori, *biasa saja (BS)*, *penting (PTG)* dan *penting banget(PTBT)*. Misalnya kategori *biasa saja* adalah email email yang buat milis aja, sedang email personal dan login yang penting banget, seperti misalnya untuk ke setting website ini, diberi kategori *penting* dan *penting banget*.
* Sekarang kalo mau login tinggal nginget aja, ini *penting* atau *biasa* aja nih? Kalo biasa aja, loginnya A, kalo penting loginnya B. Dan kalo pun lupa, apa aplikasi ini gue kategoriin biasa aja atau penting, password yang perlu *dicoba-coba* juga cuma *3 buah*. πŸ™‚
Dan kalo lupa banget, ya gue *ketuk* aja monitor komputernya, tiga ketuk, dua ketuk, satu ketuk. Biasanya lama-lama juga kebuka. πŸ˜€

Siapa kamu?

Aside

shirt.jpgTidak seperti *kaum wanita*, kami yang cowok-cowok ini kurang lebih terjebak dalam jenis pakaian yang sama sepanjang hidup kami.
Untuk kamu-kamu yang kerjanya “wajar”, pilihan akan terbatas pada *kemeja* dan *celana panjang kain*. Untuk kamu yang beruntung kerjaanya “tidak terlalu wajar” (kayak gue dulu), lumayan, pilihannya rada luas, jeans, celana pendek, kaos, polo shirt masih masuk dalam pilihan, walau ini pun kurang lebih sama. (model baju cowok paling berapa macem sih?)
Baju kerja karenanya kurang lebih sebuah “seragam” juga, karena terdiri dari pakem yang baku, kemeja dan celana panjang kain. Yang membedakan biasanya hanya terletak pada *warna* dan *tekstur* atau *bahan* dari kemeja dan celana panjang tadi.
Bahkan untuk beberapa kantor, warna juga bukan pilihan. Atas harus putih (“terang” masih lumayan) dan bawahan harus gelap.
Anyway, wiken lalu gue dan istri jalan-jalan di *Isetan*, *Central World Plaza* (dulu namanya *World Trade Center*) depan *Gaysorn Plaza* deket *KBRI Bangkok* dan menemukan diri di tengah promosi diskon *up to 50%*. πŸ˜€
_Dasar baru mampu belanja kalo barangnya di diskon_ :), maka jadi seneng aja liat lagi ada diskon dan berniatlah gue beli lagi satu kemeja kerja.
Tentu aja pilihan barangnya cuma yang di diskon 50% (hehe), tapi emang lagi promosi tengah tahun kali ya, jadi lumayan banyak yang bisa dipilih.
Jadilah kita muter-muter, liat-liat, megang-megang *dari satu brand ke brand lain* dan walau gue _secretly_ pengen punya kemeja kerja yang warnanya biru semua (he), tapi kali ini gue pikir warna lain gapapa deh.
Untuk dress shirt, pilihannya ada *Van Heusen*, *Pierre Cardin*, *Alain Delon*, *Daniel Hecter*, *John Langford*, *Christian Lacroix*, *Valentino Rudy*, *John Blair*, *Eddie Bauer*, *Kenneth Cole*, *Paul Fredrick*, *Andrew Brown*, *Austin Reed* …
*STOP-STOP!*
Saat itu gue baru kepikiran, *SIAPAKAH ORANG-ORANG INI* yang namanya jadi nama baju?
Rasanya gue *ga pernah kenal* sama mereka ini. Dari kecil sampe segede ini rasanya gue ga pernah punya keluarga atau tetangga atau temen yang namanya kayak tadi.
*MEREKA* ini siapa? Penjahitnya? Modelnya? Yang punya pabrik atau sapa? Jangan-jangan ini baju MILIK mereka, yang dicuri, makanya ada nama mereka?
Apakah bajunya udah jadi dan yg bikinnya nyari-nyari *nama yang keren* gitu, biar jadi nama baju? Atau mereka-mereka ini yang selalu pake baju keren dan karenanya banyak yang nanya dan jadinya mereka jualan baju?
Apa yang membuat nama mereka jadi nama baju? Apa yang *MEMBEDAKAN* nama mereka sehingga nama mereka *PANTES* jadi nama baju?
Mana nama yang pantes jadi nama baju dan mana yang ga pantes?
Lain kali gue pengen nyari kemeja dengan nama yang bernuasa *Indonesia*. Soemanto atau Soedjana atau apa gitu… πŸ˜€

Blogger Indonesia Riwayatmu Nanti (BlogBugs)

Aside

Setelah tadi malem ngobrol-ngobrol dengan “pak roi”:http://www.blognya-roi.blogspot.com/ tentang komunitas *Blogger Indonesia* jadi kepikiran deh, waktu berjalan, blogger Indonesia tambah banyak dan berkembang terus, mungkin ada gunanya kalo liat kebelakang sebentar dan berhenti sejenak untuk mempersiapkan diri melihat kedepan (ciyeeeeh cuih huh hehe)
Baru aja kemarin, “ibu founder”:http://www.nuniek.com/ ini mengingatkan kita bahwa “milis Blogbugs”:http://groups.yahoo.com/group/blogbugs/ sekarang sudah berusia 2 tahun ([_Founded 23 May 2002_]). Prestasi yang lumayan untuk tetap aktif dan tumbuh bagi sebuah komunitas yang bisa dibilang generasi kedua ini ([“bloggerians”:http://uk.groups.yahoo.com/group/bloggerians/] yang pertama [_founded 6 Mar 2001_])
Anggota milisnya telah berjumlah diatas *500 orang*, “Blogbugs.com”:http://www.blogbugs.com telah melakukan _soft-launch_ dalam minggu ini juga dengan menu utama (saat ini) sebagai *direktori blogger Indonesia*, dan minggu depan, teman-teman *Blogbugs* akan melangsungkan “Gathering Nasional II”:http://www.angkringan.or.id/gathnas/ di *Kaliurang Yogyakarta*. Semua atas jerih payah para blogger yang menyumbangkan waktu, tenaga dan dana dengan sukarela.
Buat gue, prestasi utama *Blogbugs* adalah ketika komunitas ini dengan _mulus dan bijaksana_ bisa menempatkan diri sebagai komunitas blog Indonesia sambil *menjaga hubungan baik* dengan komunitas blog lain yg umumnya berbasiskan kota.
Setelah ini *Blogbugs* akan mengalami *siklus* seperti pada umumnya komunitas yang lain. Lahir, tumbuh, berkembang, dewasa, tua dan suatu saat mati, yang kemudian akan melahirkan komunitas-komunitas baru. Hal yang mana semuanya akan bergantung pada anggota komunitas itu sendiri.
Salah satu kelebihan *Blogbugs* saat ini adalah bentuknya yang *cair* dan *tidak terstruktur* (tidak ada ketua, pengurus, dll) yang mana secara natural sesuai dengan media blog itu sendiri. Makin banyak orang familiar dengan blog ditambah dengan kemudahan membuat blog, yang digambarkan “Blogger.com”:http://www.blogger.com cuma perlu 3 langkah, akan membuat jumlah blog dan blogger bertambah pesat yang mana akan menuntut perubahan (atau minimal penyesuaian).
Direktori “Blogbugs.com”:http://www.blogbugs.com telah menerima pendaftaran *73 blogger*, hanya dalam waktu *2 hari* semenjak kehadirannya diumumkan. “Milis Blogbugs”:http://groups.yahoo.com/group/blogbugs/ hingga hari ini beranggotakan *514 orang*.
“Bandung Blog Village (BBV)”:http://www.bbv.or.id memiliki *65 anggota*, “Blogstation”:http://www.blogstation.org/ yang berkedudukan di *Bogor*, *26 anggota*, sedang “Angkringan”:http://www.angkringan.or.id/ di *Yogya* sekitar *50 orang*. Sedang “Forum Blogger Family”:http://www.bloggerfamily.com/forum/ dihuni oleh *333 blogger*, menjadikannya sebagai forum blogger Indonesia terbesar saat ini.
“Survey blogger Indonesia”:http://www.surveymonkey.com/s.asp?u=38340429262, juga diisi kurang lebih oleh *300 blogger* Indonesia.
Ini belum menyebutkan blogger Indonesia yang berkedudukan di luar negeri, “ibu ini”:http://www.slesta.com/ kalo ga salah mau mendirikan komunitas di *NYC*, dan di *Amsterdam* minimal “sudah”:http://wongiseng.modblog.com “tiga”:http://about-a-girl.blogspot.com “blogger”:http://www.theonlynina.tk/ tercatat asik bermukim disana.
Dan rasanya masih banyak lagi Blogger Indonesia yang *tidak mendefinsikan* dirinya untuk tergabung dalam komunitas mana pun, atau membuat komunitasnya sendiri-sendiri yang juga *sah-sah saja*.
Dari jumlah diatas bisa dilihat bahwa *Blogger Indonesia* lumayan banyak dan hanya akan bertambah banyak lagi di hari-hari mendatang.
Melihat situasi ini terlihat timbulnya *kebutuhan* untuk membuat *aturan* dan *mengambil keputusan* sebagai sebuah komunitas untuk menghadapi masalah-msalah di masa depan yang mensyaratkan adanya sebuah *struktur organisasi*.
*Sebuah dilema telah lahir*. Tetap cair dengan bentuk sebuah forum yang membuat anggotanya dapat mudah datang dan pergi atau mencoba menstrukturkan diri (yang butuh _effort_ lumayan besar) dengan resiko mungkin kehadirannya bisa terasa _elitis_ dan dijauhi oleh blogger lainnya, terutama yang baru.
Jawabannya gimana? Tentu para anggotanya yang akan menentukan, terutama para *aktivisnya*, tanpa melupakan teman-teman yang lain. *Gathering di Yogya* minggu depan ini bisa jadi tempat yang tepat untuk mendiskusikan hal ini.
*Blogbugs* hanya akan bertahan jika kehadirannya dirasa *berguna* oleh para blogger. Direktori adalah suatu usaha yang tepat dan dibutuhkan, langkah berikutnya tentu sudah direncanakan dan bisa dipikirkan sama-sama πŸ™‚
Kedepannya, dengan jumlah yang bertambah terus, akan *makin banyak lahir* dan berkembang komunitas-komunitas Blogger dengan ciri masing-masing yang tidak lagi berbasis geografis: Komunitas Blogger Jurnalis, Komunitas Blogger Penyair, Komunitas Blogger SMA, Komunitas Blogger Kuliah, Komunitas Blogger Pekerja, Komunitas Blogger Alumni, Sekolah dan lain-lain dan lain-lain.
Akan enak rasanya, ketika nanti blogger Indonesia makin banyak, akan *tetap ada* sebuah wadah bagi para Blogger Indonesia seluruhnya, dan akan menyenangkan kalo wadah itu masih bernama *Blogbugs*. πŸ™‚
_ps: selamat bergathering di Yogya buat para blogger yang ikut_