Rezim Probabilitas

Aside

Rezim Probabilitas

_”On a long enough timeline, the survival rate for everyone drops to zero. –Fight Club”_
Ketika kita melihat realita disekeliling kita yang sering kita lakukan adalah mengkategorikan realita tersebut dalam berbagai kategori:
Laki-laki, wanita, anak-anak, orang tua.
Heteroseksual, homoseksual, gay, lesbian, transvestite, belum pasti.
Indah, jelek, biasa aja.
Benar, salah.
Pakar beneran, pakar boongan, pakar-pakaran dan banyak lagi.
_Dengan cara ini realita menjadi lebih mudah untuk dimengerti, gampang dipelajari dan terlihat rapih._

Yahoo! Directory

Lihat halaman depan “direktori Yahoo!”:http://dir.yahoo.com/ misalnya. Setiap website memilik kategorinya masing-masing, yang dibagi atas sub-kategori, yang dibagi lagi atas sub-sub kategori dan begitu seterusnya.
Tertata rapih dalam sebuah struktur hirarki dengan bentuk seperti pohon yang bercabang-cabang.
Jika sebuah situs dapat dimasukkan dalam beberapa kategori, maka Yahoo! dengan baiknya melink kategori satunya lagi di kategori tersebut, terjadilah hubungan relasi antara beberapa kategori.
Ini realita kita. Dunia yang terbagi dalam kategori-kategori deterministik dimana setiap hal, setiap orang, setiap benda memiliki kategori, memiliki tempatnya.
O ya, kita bisa masuk dalam dua atau lebih kategori yang berbeda, tapi masih tetap dalam tatanan struktur hirarki tersebut.
_Dulu mungkin begitu._
Clay Shirky dalam tulisannya “Ontology is Overrated: Categories, Links, and Tags”:http://www.shirky.com/writings/ontology_overrated.html menggambarkan sebuah realita yang berbeda.
Yang dia contohkan adalah layanan social-bookmark yang namanya “del.icio.us”:http://del.icio.us/. Di layanan ini, berbeda dari Yahoo dengan struktur hirarki-nya yang dibuat oleh Yahoo, setiap situs tidak masuk dalam kategori tapi pengguna layanan ini bebas menempelkan tag-tag terhadap situs yang ingin mereka tandai. [My del.icio.us here “http://del.icio.us/enda”:http://del.icio.us/enda]

Enda's del.icio.us

Bebas, dalam arti *del.icio.us* tidak menyediakan kategori baku. Setiap orang bebas menggunakan tag-nya masing-masing. Baik yang masuk akal maupun tidak. Dan tidak perlu [sebaiknya] jangan satu. Apa aja yang bisa kamu pikirkan.
Blog ini misalnya: “Enda Nasution’s Weblog”:http://enda.goblogmedia.com/ bisa kamu beri tag: “enda”:http://del.icio.us/enda/enda “indonesia”:http://del.icio.us/enda/indonesia “bandung”:http://del.icio.us/enda/bandung “blog”:http://del.icio.us/enda/blog “male”:http://del.icio.us/enda/male “ngaco”:http://del.icio.us/enda/ngaco atau apa aja yang kamu mau.
Satu situs, satu hal, satu benda, tidak perlu jatuh *hanya* di satu kategori. Blog gue diatas bisa ditemukan dalam “enda”:http://del.icio.us/enda/enda “indonesia”:http://del.icio.us/enda/indonesia “bandung”:http://del.icio.us/enda/bandung “blog”:http://del.icio.us/enda/blog “male”:http://del.icio.us/enda/male dan siapa saja yang menggunakan tag diatas akan menemukannya, dan siapa saja bebas menggunakan tag-nya masing-masing.
_Tidak ada kategori, tidak ada struktur, tidak ada hirarki._
Lalu realita apa yang bisa diambil dari situ? Bukannya malah *kacau* ketika setiap orang bisa menempelkan tag-nya masing-masing? Ketika tidak ada struktur?
Ternyata tidak *[_ketika dan hanya ketika_]* ada cukup banyak orang yang menggunakan tag tersebut dan berbagi tag yang sama.
Ketika ada 200 [misalnya hehe] orang yang mem-bookmark blog ini, dan 100 diantaranya menandai [menge-tag] blog ini sebagai “indonesia”:http://del.icio.us/enda/indonesia dan 50 orang “bandung”:http://del.icio.us/enda/bandung, maka blog ini 50% Indonesia dan 25% Bandung.
Blog ini tidak harus masuk dalam salah satu kategori Indonesia atau Bandung, tapi masuk di kedua tag tersebut dengan probabilitas 50% Indonesia dan 25% Bandung.
Dan begitu juga dengan situs-situs lain di Internet. Kategori sebuah situs tidak lagi tergantung pada editor direktori tapi terserah pada jumlah orang yang menge-tag situs tersebut [cek tag-tag paling aktif di del.icio.us: “web”:http://del.icio.us/tag/web “design”:http://del.icio.us/tag/design “programming”:http://del.icio.us/tag/programming “howto”:http://del.icio.us/tag/howto etc.]
Inilah realita baru yang lebih benar dan setia pada lingkungan disekeliling kita.
Tidak lagi sesuatu harus ditentukan secara *deterministik* hitam atau putih atau abu-abu sekalipun tapi dengan data yang cukup, maka kita bisa mengatakan bahwa sesuatu itu *hitam 46%*, *putih 34%* dan *merah 20%*.
Seseorang tidak perlu jadi laki-laki atau wanita. Tapi dengan data yang cukup kita bisa mengatakan dia laki-laki 80%, atau dia wanita 75%.
Seorang hakim di muka pengadilan tidak harus berkata “bersalah” atau “tidak bersalah”, tapi bisa berkata dia “85% bersalah” atau “34% bersalah”
Realita dunia, dengan cukup data dan informasi, dikuasai oleh *rezim probabilitas* dan sama sekali tidak deterministik.
Dengan data dan informasi yang cukup:
Tidak ada lagi cap dan kategori “kawan” dan “lawan”, tapi “kawan 96%” dan “lawan 43%”.
Tidak ada lagi “dia juara satu”, tapi “98% dialah juara satunya”.
Tidak ada lagi “saya paling benar”, yang ada adalah “saya benar 93%”.
Tidak lagi “ini kekerasan”, tapi “ini kekerasan 30% dan pendidikan 70%”.
Tidak ada lagi “dia itu pakar cybercrime yang terkenal itu ya?” Tapi “oh dia sebenarnya ga tau apa-apa”. :p
Tidak ada lagi “dia programmer atau manager?” Tapi “dia 45% programmer dan 55% manager”.
Tidak ada lagi “saya seorang blogger”, tapi “saya 30% blogger, 30% suami, 30% ayah dan 10% belum jelas”. 🙂
Tidak ada lagi “mainstream media” atau “blog”. Semua BLOG! :p
Tidak ada lagi 1 dan 0 semuanya _fuzzy_.
Tidak ada lagi kebenaran 100%. Karena tidak ada yang memiliki kebenaran.

Cekin Head

Aside

_Yesterday I dared to struggle. Today I dare to win. –Bernadette Devlin_
*Skinheads*, mereka yang mencukur rambutnya hingga licin, sering diasosikan dengan gerakan *Neo-Nazi* atau *Nazi Skinheads* yang mana merupakan gera’an sosial dan politikal yang mendambakan kelahiran kembali *Nazism yang rasis* dan berdasarkan pada keunggulan *ras arya*.
Gerakan Neo-Nazi ini mengidentifikasikan diri dengan kesetiaan pada *Adolf Hitler* seperti pada seruan _”Heil Hitler!”_ dan penggunaan simbol-simbol Nazi seperti *swastika*.
Kepopuleran gerakan ini di *German*, dipupuk dan digemari oleh *kaum muda kulit putih* di negara tersebut ketika mereka melihat sekeliling dan mendapati bahwa *penghidupan* mereka bertambah susah, ketika mereka harus bersaing dengan para *pendatang*.
_Racism_ memang bukan monopoli orang German, setiap gerakan *ultra-nasionalism* dan *extremism*, berdasarkan ras, agama dan kebanggaan masa lalu lainnya, semuanya, didasarkan pada *rasa takut* melihat perubahan dan *ketidakberdayaan* merespon perubahan tersebut. Apakah itu di German, di US, di Australia atau di Indonesia.
Yang menarik justru bahwa *original Skinhead* bukan berasal dari German, dan tidak membawa misi racism sama sekali. Dari halaman “Skinhead di Wikipedia”:http://en.wikipedia.org/wiki/Skinhead dapat dibaca bahwa sejarah dari munculnya _subculture_ skinheads ini dimulai di *Inggris* pada tahun *60-an*.
Gera’an skindheads original di Inggris ini adalah manifestasi identitas dari kegelisahan *anak muda kelas pekerja* di Inggris sebagai reaksi terhadap kelas anak muda lain yang berasal dari kelas yang lebih berada.
Ketika “The Mods”:http://en.wikipedia.org/wiki/Mod_lifestyle%29, subculture *kelas atas*, menandai diri mereka dengan aksi kosumerisme dan kecintaan pada musik, style dan scooters, maka “The Skinheads”:http://en.wikipedia.org/wiki/Skinhead menandai diri mereka dengan sepatu boots, jeans ketat dan.. skind heads alias kepala gundul.
Selain kepala botak dan atribut kelas pekerja lainnya, para skinheads juga terkenal karena sikapnya yang *menolak otoritas* dan *sebel pada pemerintah serta korporasi*.
Budaya skinhead meledak pada *1969* dan pada pertengahan *1970-an* melahirkan “Punk Rock”:http://en.wikipedia.org/wiki/Punk_Rock. _Generasi Punk Rock pun lahir_.
Di tahun *2005* ini sebuah gera’an yang juga berakar pada _britain working class struggle_ telah kembali *lahir* dengan atribut yang sama, kepala gundul.
*Cekinhead*, dia menamakan dirinya, *tidak muncul karena ketakutan* akan lingkungan seperti para Neo-Nazi skinhead, dan *bukan juga merupakan subculture* dan reaksi terhadap golongan anak muda kelas atas manapun.
_Dia tidak mengenal kelas, tidak mengenal lelah dan tidak takut terhadap apapun._
Cuma ada dunia di depannya dan perjuangan yang dia lakukan baru sebatas mengangkat kepala ketika tidur telungkup serta sorotan mata antusias ketika berhadapan dengan susu ibunya.

ci_cekin_head.jpg

*Cekinhead* yang satu ini tidak berseru “Heil Hitler” dan menggunakan sepatu boots. *Cekinhead* yang satu ini tidak takut berhadapan dengan dunia. Lihat *senyum ganasnya* yang penuh percaya diri menunjukkan dada.
*”Ini dadaku!”* kata sang cekinhead, *”Aku ciap menghadapi apapun”* serunya.
*”Jangan telat beri aku cucu ya, kalo tidak aku akan menangis cekeras-kerasnya”*
_Watchout the world and skinheads everywhere, *CEKINHEAD* is coming._

New Media vs Old Media

Aside

Media Baru

Kami adalah media baru.
Tidak perlu uang untuk membeli kertas. Tidak perlu uang untuk membeli tinta.
Kami cuma berbekal waktu, _bandwidth_, informasi dan segumpal daging diantara telinga kami.
Kami tidak minta pengakuan. Kami tidak berniat menjatuhkan. Karena itu akan terjadi dengan sendirinya. :p
Kamu sudah punya dunia yang begitu luas diluar sana dimana kami tunduk pada aturan-aturanmu.
Ini adalah dunia kami. Taman bermain raksasa kami yang tanpa batas.
Disini: _Those who can do, rule. Those who wish to rule, learn._
SELAMAT DATANG DI INTERNET.
 
_Somasi dan pelaporan *KOMPAS* terhadap *Basuki Suhardiman* adalah kasus sempurna pertama kali di *Indonesia* dimana bentuk media lama ([_old media_]) harus berhadapan dengan media-media di Internet ([_new media_]) dan karenanya menjadi penting serta krusial untuk dicermati._
_Untuk latar belakang, tanggapan dan respon terhadap kasus diatas serta link-link ke blogger lain yang juga menuliskan respon mereka terhadap kasus ini, liat posting *Priyadi*: [“Kompas dan Internet”:http://priyadi.net/archives/2005/05/10/kompas-dan-internet/]_
_Untungnya masih banyak jiwa-jiwa tercerahkan di media massa Indonesia [hehe] , liat artikel “BLOG, MEDIA BARU DI INTERNET”:http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005051123255965 hari ini di *Media Indonesia* atau *download* versi awal dari artikel diatas disini dalam bentuk pdf file: “9 Tips Menghadapi MEDIA BARU”:http://enda.goblogmedia.com/files/9_tips_menghadapi_blog.pdf [pdf 16kb]_
_Selain hal diatas, selamat berumur 3 minggu buat “Gala”:http://enda.goblogmedia.com/laporan-sukacita-telah-lahir.html :)_