Berkah Dunia Maya

20100326_103234_ilustrasi-national2.jpg

Untuk pertama kalinya, jaringan bytes dan kode tidak lagi dingin dan logikal, membawa angka 1 dan 0, tapi juga membawa pikiran, perasaan dan emosi. Mentransfer bukan saja ilmu dan ide tapi juga budaya dan kebijaksanaan.

Internet mempersatukan dan juga menghargai perbedaan. Di Internet tidak ada yang lebih tinggi daripada yang lain. Tidak penting siapa namamu dan dari mana, tapi apa yang sudah kamu kontribusikan pada komunitas dan ide yang kamu lontarkan yang lebih penting.

Untuk pertama kalinya sejak manusia mengenal Internet kita menggunakannya untuk kebutuhan yang lebih manusiawi. Internet bukan sebuah saluran lain saja setelah cetakan, radio dan televisi. Internet juga bukan sekedar pipa yang bisa diisi lagu dan video, mp3 dan unduhan torrent, tapi juga sebuah kesempatan untuk berpartisipasi dalam sebuah percakapan global.

Sebuah undangan untuk proaktif, untuk menentukan arah kehidupan kita sendiri, untuk membuka pikiran dan berinteraksi dengan manusia dan kepercayaan lain yang ada di dunia ini. Yang mungkin berbeda dengan yang kita percayai, yang mungkin berbeda dengan yang ada di sekitar kita.

Sebuah ajakan untuk berdialog, bertukar pendapat, bertemu dengan teman-teman lama dan berkata hai. Bertukar foto bayi dan foto culun saat kita masih SMA. Dan sejak tahun 1997 itulah, dimulai dengan kata “weblog” lahirlah Internet yang baru yang kita kenal berkembang hingga sekarang, orang marketing menyebutnya Web 2.0. Kita menyebutnya “social web”.

Tulisan lengkap “Berkah Dunia Maya” oleh yours trully di Majalah Rolling Stone Indonesia, edisi April 2010 tentang Internet, Social Web, Blog, Kebebasan Berekspresi dan RPM Konten dapat dibaca lengkap di:

2 thoughts on “Berkah Dunia Maya

  1. Halo mas Enda, salam kenal…
    Saya Erina, mahasiswi LSPR, dalam rangka menyelesaikan tugas saya, saya ingin berdiskusi dengan mas Enda mengenai ‘PR 2.0’. Adakah keterkaitan antara 2 buku Deirdre Breakenridge (PR 2.0 New Media New Tools New Audiences dengan buku Putting the Public Back to PR (Breakenridge dan Brian Solis)
    Saya ingin menanyakan pendapat mas Enda, apakah dengan adanya PR 2.0, aktifitas PR yang lama (traditional PR) dapat tergantikan? sehingga menjadikan ‘social media’ sebagai medium utama dalam aktifitas PR itu sendiri?
    Terima kasih mas Enda.

  2. Halo mas Enda, selamat pagi.. salam kenal…
    Saya Erina, mahasiswa LSPR, saya ingin berdiskusi dalam rangka tugas yang diberikan oleh dosen saya. Saya ingin menanyakan pendapat mas Enda mengenai ‘PR 2.0’ dalam buku PR 2.0 New Media, New Tools, New Audiences (Deirdre Breakenridge) serta kaitannya dengan buku Breakenridge yang lain (bersama Brian Solis) yang berjudul “Putting The Public Back to Public Relations.
    menurut mas Enda, apakah dengan adanya PR 2.0 dengan menggunakan media sosial yang ‘menjamur’ sekarang ini menjadikan ‘social media’ tersebut sebagai media utama dari aktifitas PR itu sendiri (traditional PR)?
    Terima kasih sekali, saya sangat ingin mengetahui pendapat mas Enda.
    Selamat beraktifitas.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.