Hating yourself with style

hate.jpg

_?When we don’t know who to hate, we hate ourselves.? –Chuck Palahniuk_
Gue benci diri gue sendiri, dan kayaknya gue ga sendirian. (Maksudnya ada orang lain yang membenci diri mereka juga, bukannya membenci gue hehe.)
Di *43Things.com* setidaknya ada 135 orang yang menyatakan bahwa _[“Stop hating myself”:http://www.43things.com/things/view/14835]_ sebagai tujuan mereka. Bahwa mereka pengen berenti ngebenci diri mereka sendiri.
Membenci diri sendiri kayaknya merupakan salah satu gejala manusia modern.
Lagipula _how can we not hate ourself?_ Begitu banyak hal di luar sana yang kayaknya berkonspirasi membuat kita ngerasa ga enak sama diri kita sendiri.
Temen kuliah yg kayaknya lebih sukses, temen SMA yang lebih pinter, lebih cantik/ganteng, lebih keren, lebih banyak testimonialnya di *Friendster, pakar kurang ajar, berita korupsi, berita kriminal, tim sepak bola unggulan kalah, blog lain yg lebih keren (hehe), bencana alam, dan so on dan so on.
Dengan segitu banyak sebab untuk kita sebel ama diri kita sendiri, adalah sebuah keajaiban kita masih jadi mahluk yang bangun di pagi hari dan mau ketemu orang lain.
Terus apa obatnya? Banyak.
Salah satu pengobatan dari kebencian pada diri sendiri ini adalah dengan *menyenderkan diri pada keburukan orang lain*. πŸ˜€
Film-film, cerita fiksi dan infotainment sudah mengajarkan kita dengan telaten bahwa (gasp!) ga ada orang yg sempurna, dan Thank God for that!
Lihat lebih dekat dan kamu bakal menemukan banyak kekurangan semua orang. Ceburkan diri kamu dalam kenyataan itu, dan bersyukur: _ya mendingan gue biasa-biasa tapi gak korupsi, ya mendingan gue masih jomblo daripada diselingkuhin, ya mendingan gue ga punya mobil orang harga bensin naik terus, ya mendingan gue bukan artis tapi ga kena *AIDS* dst._
 
Kalo perasaan kamu udah lebih enak maka selamat(!), kebencian diri kamu cuma berada pada _level elementary_. Masih ringan. Kurangi mikirin orang lain dan coba pikirin mereka yang lebih ga beruntung daripada kamu, maka kamu akan sembuh. (istilah keagamaannya adalah “bersyukur”.)
Tapi bagaimana kalo perasaan benci pada diri sendiri itu bukan datang dari luar, tapi dari dalam diri kamu sendiri?
Ini adalah *level intermediate* yang lebih berat.
Penyebab dari kebencian ini biasanya adalah sesuatu yang kita sesali. Sesuatu yg kita lakukan, atau yang tidak kita lakukan. _Sesuatu yang kita tahu _harusnya_ kita lakukan, tapi tidak kita lakukan._
Sesuatu yang kita tahu jelek untuk kita, tapi tetap kita lakukan juga.
Nah ada *dua alternatif solusi* dari masalah diatas.
Satu, yaa kerjain apa yang harusnya lakukan dong. Cari tahu kenapa kamu tidak lakukan yg harusnya kamu lakukan itu. Apa karena malas? Takut? Tidak percaya diri? Atau apa?
Cari penyebabnya dan hadapi.
Dan kalo kamu *sukses* mengatasinya, maka selamat! Anda layak dapat bintang.
Kamu adalah termasuk golongan mereka yang _overachiever_, yang percaya pada diri mereka sendiri, mau melakukan sesuatu dan berhasil melakukannya. Kamu termasuk 1% dari umat manusia dan juga akan mati duluan karena kanker. (hehehe kidding!)
Karena _the rest of us_ ga bisa melakukan apa yang kamu lakukan, maka kami harus tetap membenci kamu(!) tentunya yang pertama dan kemudian membenci diri kami sendiri karena kenapa ga bisa seperti kamu.
 
Rahasianya adalah, karena kita membenci diri kita sendiri bukan karena sesuatu yg tidak kita lakukan atau kerjakan, tapi _kita membenci diri kita sendiri justru karena diri kita sendiri._
_We hate ourselves not because of what we do or what we don’t do, but because of who we are._
Dan kita ga bisa mengubah _who we are._
_We are what we are_ kata orang-orang bijak. Dengan naluri dan instink yang sudah menjadi bagian dari diri kita.
*Kamu ga bisa jadi orang lain. Kamu ga bisa jadi saya dan saya ga bisa jadi kamu. Kita adalah kita.*
Dan kalo kita membenci diri kita, karena kita adalah kita, maka… ya itu adalah kita. πŸ™‚
Dan siapalagi yang bisa kita benci dengan bebas kalo bukan diri kita sendiri?
Dan setelah kamu menyadari ini, membenci diri sendiri bukan soal besar kok. Biasa aja. Agak membosankan malah. *Ada yang baru ga?*
Minimal dengan menyadari bahwa kita adalah kita dan ga ada yg bisa kita lakukan untuk mengubah kita, maka kita akan berhenti menghabiskan waktu setiap saat berusaha menjadi diri kita yang lebih baik dan mulai menikmati hidup apa adanya. _(anjis kalimatnya panjang)_
Dan sesekali, saat kamu bener-bener sebel ama diri kamu sendiri, dan bener-bener _down_ salahin perasaan itu sama sesuatu yang ada diluar kendali kamu, seperti *bulan purnama*.
_Oh, lagi bulan purnama, pantes gue down gini. Oh, lagi hujan pantes gue down gini. Oh, lagi tanggal tua, pantes gue down gini. Oh, lagi hari kamis, pantes gue down gini. Oh, lagi bulan Oktober, pantes gue down gini. Oh, lagi tahun genap, pantes gue down gini. Dst._
Dan kalo masih juga (MASIH?) benci sama diri kamu sendiri, kamu *boleh salahin posting blog ini*.
Di lain waktu kamu mikir, kok gue benci ya ama diri gue sendiri, inget posting ini. Posting ini penyebabnya!
Yap. Posting ini. Tepat disini, saat ini. Gue menyerahkan posting blog ini untuk kamu jadikan *semua sebab* kenapa kamu benci sama diri kamu sendiri.
Dengan satu syarat bahwa kamu harus tersenyum setelah mikir itu. *Ayo senyum!* πŸ™‚
_[*Senyum sekarang juga, karena besok bakal lebih buruk.*]_
 

43 thoughts on “Hating yourself with style

  1. thanx, banget saya baca ini disaat saya benar2 butuh untuk meyakinkan diri, bahwa kita masih banyak punya kelebihan dibanding yg kekurangan disana, thx

  2. guwe buka bloig ini atas rekomendasi sebuah milis yang bilang kalo bang Enda ini “The Fathers of indonesian Blogger”, iya nggak sih? Gile bener, ada juga toh istilah ini? BTW, postingan yang bagus kok, gw jad nggak merasa bersalah kalo hating myself, terpuruk banget gitu, kasian deh gw kalo lagi pas kayak gitu, mau bunuh diri aja…tapi, ayo semangat!

  3. gue ‘benci’ perancis karena ngalahin Portugal. gue ‘benci’ Jerman karena ngalahin Argentina. tapi, benci diri sendiri???
    mmm… sama nggak sama mengasihani diri sendiri *seperti mengasihani diri sendiri karena tim-nya kalah melulu???*

  4. yang paling ok tuh kalo kita udah bisa ngenikmatin kebencian kita dan menyadarinya sebagai sebuah ‘arts of life’. it’s better gitchu loh !
    some kind of the higher level of life (ah mosok?!) truly, hate and love comes to the earth together, with harmonics relationship. cuman manusianya aza yang mbeda-mbedainnya. cuman mau sama yang bagus2 tok, tp yang jelek seperti “hate feeling” malah ditolak mentah mentah. by the way, it’s a pleasure to share it.. :p

  5. hehe..
    salahin bulan purnama..
    salahin postingan ini..
    buat saya nyalahin keadaan itu agak menyedihkan walaupun efektif untuk sekedar menghibur diri.. πŸ˜€
    yah, theres no other way around, selain bangkit dan hadapi sendiri.

  6. Pada beberapa orang hanya ada
    sedikit keindahan, pada orang lain terdapat lebih
    banyak. Itu hanyalah perbandingan yang membuat kita
    berpikir bahwa orang yang satu lebih baik daripada
    yang lain. Bila kita tak membandingkan, maka setiap
    orang akan baik. Perbandingan itu membuat kita
    menganggap satu hal lebih indah dari yang lain. Namun
    bila kita mengamati dengan lebih teliti, kita akan
    melihat keindahan pada yang lain pula. Seringkali
    perbandingan kita tidak benar karena meskipun hari ini
    kita menetapkan dalam pikiran apa yang baik dan indah,
    kita dapat berubah konsepsi dalam waktu sebulan atau
    setahun. Ini menunjukkan bahwa bila kita melihat
    sesuatu, kita hanya mampu menghargainya bila
    keindahannya tampak dalam pandangan kita. Tak perlu
    heran bila seseorang sampai ke suatu tahapan dan
    berkata, “Segala sesuatu yang kulihat di dunia ini,
    semuanya kucintai biarpun menimbulkan rasa sakit,
    perjuangan dan kesulitan; semuanya pantas.” Tetapi
    yang lain berkata, “Sungguh menyedihkan, hidup ini
    begitu buruk, tiada keindahan yang tampak di dunia ini
    “. Keduanya benar menurut sudut pandang masing-masing.
    Keduanya jujur, tetapi berbeda karena mereka
    memandangnya secara berbeda. Masing-masing mempunyai
    alasan untuk menerima atau menolak hidup. Tetapi, yang
    satu memperoleh manfaat dengan menikmati keindahan,
    sedangkan yang lain rugi dengan tidak menerimanya,
    dengan tidak melihat keindahan di dalamnya. Karena
    itu, dengan sikap yang keliru, di dalam pikirannya
    orang mengumpulkan kesan-kesan yang tak menyenangkan
    dari orang lain, padahal tak seorang pun di dunia ini
    yang sempurna. Setiap orang memiliki sisi yang dapat
    dicela dan perlu diperbaiki. Bila orang melihat ke
    sisi itu, ia mengumpulkan kesan yang membuatnya
    semakin tak sempurna karena ia mengkoleksi
    ketaksempurnaan, yang kemudian menjadi dunianya. Dan
    ketika pikiran menjadi spons yang penuh dengan kesan
    yang tak menyenangkan, maka apa yang dipancarkan juga
    tak menyenangkan. Tak seorang pun mengatakan hal buruk
    mengenai orang lain tanpa ia membuatnya sendiri,
    karena seseorang yang berkata buruk tentang orang
    lain, ia sendiri buruk. Dari sudut pandang moral,
    penyucian pikiran perlu dipelajari dalam kehidupan
    sehari-hari: dengan berupaya memandang segala sesuatu
    secara simpatik, dengan memandang orang lain seperti
    memandang diri sendiri, dengan menempatkan diri pada
    posisi mereka, bukan mencela orang lain bila melihat
    kekurangan mereka. Jiwa-jiwa di bumi terlahir tak
    sempurna dan menunjukkan ketaksempurnaan, dan dari
    sini mereka berkembang secara alami, ke kesempurnaan.
    Sekiranya kita semua sempurna, tak akan ada tujuan
    dalam penciptaan mereka. Manifestasi telah terjadi
    sedemikian rupa hingga setiap orang dapat meningkat
    dari tak sempurna menjadi sempurna. Itulah tujuan dan
    kegembiraan hidup, dan untuk itulah dunia diciptakan.
    Bila kita mengharap setiap orang dan keadaan sempurna,
    maka tak akan ada kegembiraan dalam hidup dan tiada
    tujuan kedatangan kita di sini. Penyucian pikiran
    berarti membersihkannya dari semua kesan yang tak
    menyenangkan. Bukan hanya kekurangan orang lain,
    tetapi kita harus sampai ke tahapan di mana kita
    melupakan kekurangan kita sendiri. Ada orang baik yang
    mencela diri sendiri atas kesalahannya hingga ia
    menjadi berbuat keliru sendiri. Memusatkan perhatian
    setiap waktu pada kesalahan-kesalahan berarti mengukir
    kesalahan di dalam pikiran. Cara terbaik ialah
    melupakan kesalahan orang lain dan melupakan kesalahan
    diri sendiri, dan mengumpulkan semua hal yang baik dan
    indah di dalam pikiran.

  7. Sindrom taun genap? Hahahhaa… gw banget tuh. Gw emang suka tjari2 alesan klo lg males dan kebetulan taun genap.
    Postingan menarik. πŸ™‚

  8. Benti Bilang Cinta? atau Cintan BilaG Benci? kayak Radja aja he hee
    —-
    Saya sedih waktu SMA kenapa ndak sekolah itu? kok malah sekolah ini?
    —-
    Benci kenapa saya kawin?
    Kenapa?
    Kenata tidak dari dulu he hee

  9. opini gw yah..
    mungkin kita benci diri kita sendiri karena kita belum tau kelebihan dan kekurangan kita.
    kelebihan kita mungkin masih jauh terpendam, dan kita ga tau kalo itu bener2 ada.. jadinya kita suka ngerasa ga bisa apa2 deh.
    sedangkan kekurangan, kita mungkin selalu membandingkan kekurangan2 kita dengan kelebihan orang lain. padahal sebaiknya kita berkonsentrasi meningkatkan kelebihan dan bukannya pada kekurangan kita. kalo itu terjadi kita pasti bakal bangga banget, dan ga akan membenci diri kita.
    coba bayangin kalo Einstein main bola, bukannya ngerjain soal2 fisika. gw yakin dia bakal benci banget ama dirinya ampe rambutnya dari keriting jadi lurus!
    hehe sori nih commentnya kepanjanga =) maklum pengalaman pribadi

  10. how can we not hate ourselVES, gitu loh!
    *satu cara pelampiasan: cari2 kesalahan bahasa postingan orang hqihiqhqhiq*

  11. akhir2 ini gw sering membenci diriku sendiri, setelah membaca blog mas enda, mungkin gw bakal mencoba solusi yg ada.. hehe.. *senyum*

  12. Waduhhh postingan yang bagus! (tumben urang muji nya hihihi) tapi bener, tulus sedalam samudra hihihi, intinya mah liat ke bawah yah? makasih dah diingatkan..
    Kumaha masih benci dengan perut yang seperti hamil? hahahahha…dasar enda lieur komen teh lucu pisan..huahahhaa

  13. Iya. Mayoritas blog anak-anak ABG menulis tentang kebencian mereka terhadap lingkungan, dan terutama, diri mereka sendiri. Quote favoritnya, tentu saja, adalah milik Kurt Cobain. “I hate my self and I want to die” πŸ˜€

  14. ini pertama kalinya gua ngisi komentar, dan ternyata gua seneng.
    soalnya ada pilihan untuk “forget after i post”, jadi bisa langsung lupaken setelah menyatakan kebencian pada tulisan yang membuat benci ini. πŸ˜›

  15. aku udah senyum nih. tapi terpaksa. abis di kalimat akhirnya disebutin “senyum sekarang karena besok lebih buruk.”
    waduh! baru kali ini gue senyum pake acara deg-degan…

  16. aaah pantesan gw kesel ma diri sendiri, it’s time of the month πŸ˜› πŸ˜› πŸ˜›
    same old song – the most classical (sometimes as lame as it could ever be) reason that woman often use. blame our womanhood πŸ˜‰

  17. mendingan gue bukan artis tapi ga kena AIDS
    memang Title artis pasti kena aids ya? nah loe situ kan artis… “artis Blog” jangan-jangan.. AIDS lagi πŸ˜€ (KIDING!)

  18. masih ada orang lain yang lebih tidah beruntung dari gw.
    Kenapa harus benci diri sendiri?
    tapi ada orang yang lebih beruntung dari gw.
    Ikhlas saja, mungkin peruntungan kita tidak seperti dia.

  19. mosok cuman sampai intermediate??
    lagi.. lagi.. lagi…
    ;-p
    menurut saya sih membenci diri sendiri adalah sebuah skema pertahanan diri..
    yaaah begitulah pokoknya

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.