Instead of giving the virus samples to health agencies (such as WHO) for vaccines development, Indonesia apparently are now selling it to an American Company. The question is who gets the money? The Indonesian people? I don't think so.
Lagi2 ini bisa jadi berita yang berat sebelah dan memojokkan Indonesia. Adalah wajar untuk siapapun mendapat royalti dari perusahaan mendapat keuntungan dari penjualan vaksin.
Dari Kompas:
"Dalam kesempatan itu, Menkes kecewa terhadap sejumlah perusahaan yang mengakses spesimen virus asal Indonesia di laboratorium rujukan WHO untuk kepentingan komersial, tanpa seizin Pemerintah Indonesia. Padahal, katanya, Indonesia mengirimkan spesimen itu ke laboratorium WHO untuk kepentingan diagnosa penyakit."
yep, ada blog post di sini yang kurang lebih melihat dua sisi, satu sisi Indonesia marah liat WHO ngasih virus sample ke perusahaan asing yang mendevelop komersial vaksin tanpa bilang2x atau minta ijin.
Di lain sisi, virus harusnya ga bisa di owned oleh satu negara
Solusinya, perlu semacam koperasi virus yg non-profit, lah WHO yang harusnya ngurusin ini.
sebenernya bukan hanya marah soal ijin. tapi masalahnya, setelah mereka punya vaksin, hampir pasti indonesia nggak bisa dapetin vaksinnya dalam jumlah cukup. selain karena harganya mahal juga karena pastinya negara kaya minta duluan dapet vaksin.
permainan ini ada dimana2 dan indonesia cenderung selalu jadi korban (jangankan virus yg dimiliki satu negara, kadang gen pun dimiliki satu perusahaan-konyol bukan? padahal gen itu ada juga di badan kamu dan saya).
kebetulan aja ini tentang flu burung dimana banyak orang peduli jadi lebih mungkin ada kerja sama.
Leave a comment
About this Entry
This page contains a single entry by enda published on February 7, 2007 4:49 PM.
really, wow! baxter's stock price gonna soar.. yay
Lagi2 ini bisa jadi berita yang berat sebelah dan memojokkan Indonesia. Adalah wajar untuk siapapun mendapat royalti dari perusahaan mendapat keuntungan dari penjualan vaksin.
Dari Kompas:
"Dalam kesempatan itu, Menkes kecewa terhadap sejumlah perusahaan yang mengakses spesimen virus asal Indonesia di laboratorium rujukan WHO untuk kepentingan komersial, tanpa seizin Pemerintah Indonesia. Padahal, katanya, Indonesia mengirimkan spesimen itu ke laboratorium WHO untuk kepentingan diagnosa penyakit."
yep, ada blog post di sini yang kurang lebih melihat dua sisi, satu sisi Indonesia marah liat WHO ngasih virus sample ke perusahaan asing yang mendevelop komersial vaksin tanpa bilang2x atau minta ijin.
Di lain sisi, virus harusnya ga bisa di owned oleh satu negara
Solusinya, perlu semacam koperasi virus yg non-profit, lah WHO yang harusnya ngurusin ini.
sebenernya bukan hanya marah soal ijin. tapi masalahnya, setelah mereka punya vaksin, hampir pasti indonesia nggak bisa dapetin vaksinnya dalam jumlah cukup. selain karena harganya mahal juga karena pastinya negara kaya minta duluan dapet vaksin.
permainan ini ada dimana2 dan indonesia cenderung selalu jadi korban (jangankan virus yg dimiliki satu negara, kadang gen pun dimiliki satu perusahaan-konyol bukan? padahal gen itu ada juga di badan kamu dan saya).
kebetulan aja ini tentang flu burung dimana banyak orang peduli jadi lebih mungkin ada kerja sama.