kalo mbak kawin ama Mas Adji ntar mo masuk islam gak?
erlista said:
diary tentang percintaanya dgn adjie terlalu datar, gak ada yg terlalu menarik, jadi inget SMA
Edu said:
Blog itu justru menunjukkan kalau Angelina Sondakh yang katanya pintar itu ternyata bodoh dan murahan
joker said:
Angel yang cantik tapi kurang merkayat tuch
Urip said:
Setuju ngk dgn RUU PP, Kalau ngk stju mau ngk jadi model majalah Play Boy.
Nduk Jowo said:
my mom said : "Iya skrg adjie lg sukses, sayang sama adjie dan anaknya! Coba ntar kl adjie ga punya apa2, apakah jg masih sayang???."
Dan Tampang angie yg jutek itu sangat meragukan untuk menjadi ibu dari anak adjie.
claudia said:
Untuk pembaca: "Biarkan dia memilih siapa yg akan menjadi pendampingnya, susah dan senang dialah yang akan menghadapinya."
Untuk Mas Adji:
"hormatilah dia & sayangilah dia jika dia memang dihatimu"
UNTUK ANGIE: "Berpikirlah sebelum membuat keputusan dan ingat buat Adjie menikah mungkin bisa berapa kali tapi buat kau orang Kristen menikah harusnya untuk sekelai" Sampai jumpa.
arline said:
untuk pembaca: Ngapain sih pada ngurusin orang..kita juga belum tentu lebih baik dari dia..nasehati diri kita sendiri aja,baru nasehati orang lain..
koq menurut saya .. klo itu bener blog mba Angel berarti diya wanita yang hebat, di sela kesibukannya sejibun gethu ... beliau sempet browsing ... nyari apaan yah ???? :)
Kurnas Sentralistik, Pendidikan Belum Memerdekakan
Kamis, 28 Ags 2008 09:07:05
JOGJA-- Dalam sejumlah hal, pendidikan telah gagal menempatkan dirinya dalam konteks pemerdekaan. Disadari atau tidak, hingga saat ini pendidikan hanya menjadi perpanjangan tangan kekuasaan dan birokrasi. Pengalaman melaksanakan kurikulum yang sentralistik merupakan bukti yang sulit dibantah. Ketidakberanian para pelaksana pendidikan dalam "menawar harga" kurikulum nasional (kurnas) adalah bukti adanya "komandoisme" yang menindas dalam jagat pendidikan di negara ini.
Paparan tersebut disampaikan oleh budayawan sekaligus Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Dr Suminto A Sayuti saat menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional "Membedah Kembali Nilai-nilai Kemerdekaan" yang digelar oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE) UNY, Rabu (27/8) kemarin. Selain Suminto, seminar ini menghadirkan tiga tokoh dari ranah yang berbeda untuk memaknai kemerdekaan, yakni Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PUSTEK) UGM Revrisond Baswir, Direktur Pusat Kajian Anti Korupsu (PUKAT) UGM Denny Indrayana, serta artis sekaligus politikus Marissa Haque.
Menurut Suminto, "situasi penindasan" tersebut salah satu ujungnya hanya melahirkan "kebudayaan bisu", yakni munculnya ketakutan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan sendiri. Budaya semacam ini pun tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum, tapi menjadi situasi khas di kelas-kelas pengajaran dan perkuliahan.
"Yang namanya merdeka, bukan hanya terbatas pada pengertian merdeka politik dalam batasan negara dan bangsa, melainkan juga merdeka dalam hal pemikiran dan jiwa," tegasnya.
Memaknai kemerdekaan dalam ranah lain, ekonom dari UGM Revrisond Baswir mengungkapkan, perbedaan antara "terjajah" dan "merdeka" nampaknya tidak memiliki makna apa-apa bagi sebagian besar ekonom.
Mengaitkan masalah ekonomi dan politik, ekonom yang akrab disapa Sonny ini mengambil contoh banyaknya tokoh yang mulai mengiklankan diri jelang Pemilihan Presiden 2009 mendatang.
"Kalau mesin politik mereka saja mahal, konsekuensinya jelas mengarah ke kapitalisme. Kalau ekonominya sudah kapitalistik, mau tidak mau dunia pendidikan juga akan ikut menjadi kapitalistik," tuturnya.
Sementara itu, artis sekaligus politikus Marissa Haque mengungkapkan, saat ini yang dibutuhkan oleh Indonesia ialah pemimpin yang memiliki strong leadership.
"Idealnya, presiden yang terpilih minimal berpendidikan S3, tahu tentang hukum dan konstitusi, dan paham.
Leave a comment
About this Entry
This page contains a single entry by enda published on January 26, 2006 6:51 AM.
Adji ato Adjie seeeh?
Masak nama pacar sendiri ga tau?? hehe.
wah, bukannya ngeblog itu diharamkan oleh ketua kominfo partai demokrat? :)
#2 dia kan sudah punya fans yang bikin blog khusus dia :))
yg punya kyknya ngga pernah ngurusin ya? ngga ada sama sekali komentar balik dari orangnya.
kirain blog-nya seru..masih dangkal tuh isinya
oce deeeeeech...apa kata mba angel aja,ya?!
kalo mbak kawin ama Mas Adji ntar mo masuk islam gak?
kalo mbak kawin ama Mas Adji ntar mo masuk islam gak?
diary tentang percintaanya dgn adjie terlalu datar, gak ada yg terlalu menarik, jadi inget SMA
Blog itu justru menunjukkan kalau Angelina Sondakh yang katanya pintar itu ternyata bodoh dan murahan
Angel yang cantik tapi kurang merkayat tuch
Setuju ngk dgn RUU PP, Kalau ngk stju mau ngk jadi model majalah Play Boy.
my mom said : "Iya skrg adjie lg sukses, sayang sama adjie dan anaknya! Coba ntar kl adjie ga punya apa2, apakah jg masih sayang???."
Dan Tampang angie yg jutek itu sangat meragukan untuk menjadi ibu dari anak adjie.
Untuk pembaca: "Biarkan dia memilih siapa yg akan menjadi pendampingnya, susah dan senang dialah yang akan menghadapinya."
Untuk Mas Adji:
"hormatilah dia & sayangilah dia jika dia memang dihatimu"
UNTUK ANGIE: "Berpikirlah sebelum membuat keputusan dan ingat buat Adjie menikah mungkin bisa berapa kali tapi buat kau orang Kristen menikah harusnya untuk sekelai" Sampai jumpa.
untuk pembaca: Ngapain sih pada ngurusin orang..kita juga belum tentu lebih baik dari dia..nasehati diri kita sendiri aja,baru nasehati orang lain..
koq menurut saya .. klo itu bener blog mba Angel berarti diya wanita yang hebat, di sela kesibukannya sejibun gethu ... beliau sempet browsing ... nyari apaan yah ???? :)
Detail news : CyberNas > > 6976
Selasa, 30 September 2008 | 20:43:41 wib
Kurnas Sentralistik, Pendidikan Belum Memerdekakan
Kamis, 28 Ags 2008 09:07:05
JOGJA-- Dalam sejumlah hal, pendidikan telah gagal menempatkan dirinya dalam konteks pemerdekaan. Disadari atau tidak, hingga saat ini pendidikan hanya menjadi perpanjangan tangan kekuasaan dan birokrasi. Pengalaman melaksanakan kurikulum yang sentralistik merupakan bukti yang sulit dibantah. Ketidakberanian para pelaksana pendidikan dalam "menawar harga" kurikulum nasional (kurnas) adalah bukti adanya "komandoisme" yang menindas dalam jagat pendidikan di negara ini.
Paparan tersebut disampaikan oleh budayawan sekaligus Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Dr Suminto A Sayuti saat menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional "Membedah Kembali Nilai-nilai Kemerdekaan" yang digelar oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE) UNY, Rabu (27/8) kemarin. Selain Suminto, seminar ini menghadirkan tiga tokoh dari ranah yang berbeda untuk memaknai kemerdekaan, yakni Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PUSTEK) UGM Revrisond Baswir, Direktur Pusat Kajian Anti Korupsu (PUKAT) UGM Denny Indrayana, serta artis sekaligus politikus Marissa Haque.
Menurut Suminto, "situasi penindasan" tersebut salah satu ujungnya hanya melahirkan "kebudayaan bisu", yakni munculnya ketakutan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan sendiri. Budaya semacam ini pun tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum, tapi menjadi situasi khas di kelas-kelas pengajaran dan perkuliahan.
"Yang namanya merdeka, bukan hanya terbatas pada pengertian merdeka politik dalam batasan negara dan bangsa, melainkan juga merdeka dalam hal pemikiran dan jiwa," tegasnya.
Memaknai kemerdekaan dalam ranah lain, ekonom dari UGM Revrisond Baswir mengungkapkan, perbedaan antara "terjajah" dan "merdeka" nampaknya tidak memiliki makna apa-apa bagi sebagian besar ekonom.
Mengaitkan masalah ekonomi dan politik, ekonom yang akrab disapa Sonny ini mengambil contoh banyaknya tokoh yang mulai mengiklankan diri jelang Pemilihan Presiden 2009 mendatang.
"Kalau mesin politik mereka saja mahal, konsekuensinya jelas mengarah ke kapitalisme. Kalau ekonominya sudah kapitalistik, mau tidak mau dunia pendidikan juga akan ikut menjadi kapitalistik," tuturnya.
Sementara itu, artis sekaligus politikus Marissa Haque mengungkapkan, saat ini yang dibutuhkan oleh Indonesia ialah pemimpin yang memiliki strong leadership.
"Idealnya, presiden yang terpilih minimal berpendidikan S3, tahu tentang hukum dan konstitusi, dan paham.