Menahan Diri

Untuk suatu sebab tertentu umat manusia selalu memberikan tempat yang lebih tinggi pada keberadaan "surgawi" dibanding dengan keberadaan "duniawi"
Segala hal yang berhubungan dengan "duniawi", jelas, kongkrit, nampak nyata, bisa dilihat, bisa dipegang, bisa dirasa lebih rendah kedudukannnya dibanding segala sesuatu yang tidak jelas.
Yang tidak jelas ini termasuk dengan akal budi, pikiran, jiwa, nyawa, kemauan, keberanian, kebaikan.
Yang di dalam lebih berharga daripada yang di luar.
Yang halus lebih bernilai daripada yang kasar.
Pikiran harus mengalahkan badan.
Hawa segar harus mengalahkan hawa nafsu.
Ketika kita sukses mengendalikan diri kita sendiri [berhasil mengendalikan hawa nafsu] maka katanya kita telah memenangkan peperangan yang terberat yaitu peperangan melawan diri kita sendiri.
Ini terjadi di semua agama dan budaya.
Naluri alami manusia, yang jadi mekanisme kita untuk bertahan hidup, lapar, haus, berhubungan seks, marah, takut, gembira, sedih hampir semua pada suatu waktu atau suatu tempat menjadi terlarang untuk dilakukan.
Di semua agama dan budaya.
Umat manusia memberlakukan larangan-larangan dan peraturan, sebagian diantaranya, dalam konsep meningkatkan level dirinya, membedakan dirinya dengan mahluk hidup lain di bumi ini.
Makin sulit dan berat larangan yang dijalani oleh seseorang, makin tinggilah derajat seseorang tersebut dalam hierarki kemanusiaan.
Makin cuek dia terhadap semua larangan dan aturan, makin bebas dan makin semua diperbolehkan, maka makin rendahlah seseorang tersebut dimata manusia lainnya. Terancamlah dia akan proses degradasi. Makin dekatlah posisinya untuk masuk ke liga seri B.
Itu kalo kita mau percaya. :p
Seperti juga muslim lainnya di seluruh dunia, gue sampai bulan depan sedang menjalankan ibadah puasa.
Dan buat gue, puasa bukanlah sebuah larangan. Tidak boleh makan, tidak boleh minum.
Bukanlah sebuah perintah untuk tidak menjadi manusia yang alami, menuju bentuk yang bahkan tidak berbentuk manusia [inhuman]. Mencoba menjadi sesuatu yang lebih tinggi peringkatnya di liga kemanusiaan, mencoba menghindari dari proses degradasi.
Karena gue menyukai bentuk kemanusiaan gue sekarang ini. Dengan kelemahannya, dengan kekurangannya.
Buat gue, puasa adalah undangan untuk menahan. Menahan untuk makan, menahan untuk minum.
Menahan adalah sebuah proses dan bukan suatu tujuan. Ga pernah ada tindakan yang tujuannya menahan. [Kecuali nahan boker kali].
Karena sebuah proses maka kita tidak tahu apa hasilnya nanti. Dan ketidaktahuan itu minimal sekarang, buat gue, agak melegakan.
Juga dalam proses menahan, kita tetap kita, tidak ada yang dikalahkan, tidak ada yang menang, karena toh kita cuma menahan.
Menahan mata, menahan mulut, menahan perut, menahan kaki, menahan telinga, menahan nafsu.
Menahan tidak ngejunk, menahan tidak browsing, menahan tidak ngemail, menahan tidak chatting, menahan tidak arisan, menahan tidak posting.
Menahan tidak komen? :D



menahan tidak komen? mana tahan!
napsu nih mau komentar....hiiiiaaaaattt :p
(celingukan)
gue nggak bermaksud komen kok karena ini bukan komen dan memang tidak dimaksudkan untuk jadi komen. duh, garingnya
lho, bukannya menahan diri dari tidak melakukan hal yang tidak baik? komen itu baik. ngejunk juga baik, utk ngetes kemampuan gmail dalam menerima dan mengirimkan email. iya, khan?
REPLY !
ya..ya..bapak blog yg ngomong sih percaya
puasa ngeblog yuk?
setuju deh nda...:D
puasa fs aja dehhh...nagihhhh banget tuh om...
bisa dimulai dengan menahan ngejunk, mungkin.
tapi sehubung perintah puasa tak spesifik mengatakan 'jangan ngejunk dari terbit fajar hingga terbenamnya', yaaah gapapalah kali!
"Menahan tidak ngejunk,... menahan tidak posting."
Beda ya shaumnya blogger :D
barusan buka puasa.
jadi sekarang boleh komen..
[legaanyyaaa]
saya percaya dan sepakat dengan lontaran anda, bung enda. mengelola hidup, agar tak semata menuruti naluri dalam sekejap, adalah seni.
bRAVO BRAVO!!
sangat menyentuh mba
nembakin senapan 3x
mnahan tidak komen
waaaduh udah ke klik tombol post nya
:D
menahan supaya gak lirik-lirik barang 'manis' ..
duh susahnya..
gw berhasil nahan ngga posting hihihihi emang males itu mah ya :P
Saya menahan untuk tidak berkomentar di artikel ini. Saya bisa menahan.
Terima kasih.
puasa ngeblog?
puasa ngejunk?
mencoba menahan diri
Wah entar bisa2 keluar fatwa nge komen di blog ini dapat membatalkan puasa !!!
bener kok, yg dinilai oleh Allah emang prosesnya, bukan semata hasilnya
Posting - tidak membatalkan puasa, kecuali sambil makan.
Ngasih komen juga gak batalin puasa, kecuali sambil mengeluarkan kata-kata kotor.
'Selamat berproses' semoga outputnya nanti tidak 'system error' lagi. Kalau ternyata error juga lagi, berharaplah masih bisa memperbaiki 'syntax'nya tahun depan. Suaii...?
saya justru baru kali ini komen di sini
Selamat menunaikan ibadah puasa. Menahan itu seperti halnya bendungan, biasanya dialokasikan untuk hal-hal yang baik atau kebaikan. Menahan untuk membangkitkan.
tadinya gua mau nahan engga nyampah di id-gmail selama ramadhan, tapi apa daya walopun dial-up nge-junk jalan terus. cuman ya.. nyampahnya diet. :((
btw, gua juga engga nahan buat engga komen di sini. karena eh..karena ini blognya enda gitu loh...
kalem
Amiin.... untung saya bukan 'junkers', jadi tidak perlu menahan diri... :D
KAYAKNYA DI KAMPUNG GAJAH BELUM ADA YANG KUAT MENAHAN HAWA NGEJUNKNYA
Saya sudah menahan diri untuk tidak KOMEN pada artikel yang lain, tetapi tidak untuk yang satu ini (pengecualian)
*glodax
susah banget nahan ga boker, om enda!
Menahan tidak komen?
kalo malam ga perlu ditahan lagi kan, Nda?
dah buka ini... ;p
KOMEN!
selamat menahan...
Menahan diri atau melawan nafsu.:(
Nda, liga seri B itu opo tho? Bukannya masuk liga seri N? (neraka?) :D
ini ngga komen loh, tapi nanya :p
ngomentarin khan ga papa ya nda? asal jangan ngedumel,apalagi kalo di belakang ndumelnya...(serius gini gw yah ...)
ini bukan komen kok, cuman ngabuburit aja..:-P