Gentlemen dan Priyayi
A true gentleman is one who is never unintentionally rude. --Wilde, Oscar
Kebanyakan kita udah pernah denger kali ya kata gentlemen seringnya mungkin dalam pertandingan tinju (Laddiiiesss and gentlemeeennnnnn, tonight we are proooudddd to presseeenttt too youuuu.. hehe), tapi baru sekarang lagi gue nyadar bahwa ternyata para gentlemen ini ga sedikit sumbangsih-nya dalam dunia ilmu pengetahuan, terutama di bidang fisika, geologi dan kimia, sekitar abad 17, 18, 19 sampai 20.
Seperti juga di kebudayaan Yunani (bukaaan, bukan orang jawa ini) yang maju ilmu pengetahuannya karena tenaga budak tersedia banyak sehingga orang berada tidak perlu kerja dan punya banyak waktu buat memikirkan filsafat serta hal lainnya, begitu juga yang terjadi di Eropa, khususnya di Inggris abad segituan diatas.
Pada abad itulah, para saintis di bidang fisika, geologi dan kemudian kimia lahir pertama kali bukan sebagai profesi tapi sebagai HOBI para gentlemen itu.
Sebagai bahan obrolan diantara brendi dan cerutu setelah makan malam.
Begitu besar perhatian mereka dan waktu yang para gentlemen itu miliki pada saat itu sehingga bidang-bidang diatas bisa berkembang pesat. Lahirlah Royal Society, Geological Society, Chemical Society dan perkumpulan gentlemen lainnya di berbagai bidang yang melahirkan para raksasa di bidang sains seperti Isaac Newton, Henry Cavendish, James Hutton, Charles Darwin, Richard Owen, Mendeleyev, Max Planx hingga masuk ke abad 20.
Lalu apa sebenernya definisi gentlemen itu sendiri?
Ada beberapa arti yang relevan disini, dari dictionary.com yaitu:
- A man of gentle or noble birth or superior social position.
- A well-mannered and considerate man with high standards of proper behavior.
- A man of independent means who does not need to have a wage-paying job.
Ketiga definisi diatas, somehow berkaitan satu sama lain. Seorang noble birth atau bangsawan biasanya kaya (wealthy) sehingga dia tidak perlu lagi bekerja untuk hidup (no 3).
Seorang darah biru juga biasanya di-expect untuk memiliki well-manner dan high standards of proper behavior walau tidak selalu. Sebaliknya, seorang yang well-mannered juga tidak harus selalu noble maupun berasal dari kelas mereka yang tidak bekerja (idle class), karenanya para gentlemen, seiring dengan berjalannya waktu tidak selalu identik dengan bangsawan tapi juga bisa berasal dari kalangan orang biasa (common people) dan kelas pekerja (working class) selama dia memiliki tingkah laku dan tutur kata yang baik (no 2).
(Ah dipikir-pikir alangkah bergunanya ternyata para royal blood, para gentlemen dan bangsawan saat itu ya. Kalo kamu kaya, dan tidak perlu kerja untuk hidup, maka waktu yang mereka punya serta resource lainnya (otak dan uang) mereka gunakan untuk mengejar hobi yang berguna juga untuk orang banyak.)
Masuk ke abad 20, gue rasa, sejalan dengan banyak revolusi sosialis yang berontak terhadap pengkelas-kelasan masyarakat, ide ttg bangsawan dan gentlemen mulai memudar. Para gentlemen dan perilakunya kemungkinan besar diejek-ejek sebagai perilaku yang pretentious dan penuh kepura-puraan (think of karakter Jack Dawson-nya DiCaprio dengan karakter Cal Hockley-nya Billy Zane di Titanic)
Bagaimana dengan di Indonesia? Tentu kita juga punya yang namanya darah biru cuma sayang sebatas keikutsertaan mereka dalam beberapa even di kemerdekaan Indonesia, ga banyak lagi pengaruh mereka dalam keseharian kita sekarang, saat pendidikan terbuka untuk semua orang (jaman dulu itu yang boleh sekolah cuma yang bangsawan).
Yang paling deket dengan para gentlemen ini, yang terpikir ama gue, di Indonesia mungkin dengan yang disebut dengan PRIYAYI walau ada perbedaan dasar. Para priyayi walau banyak yang memiliki darah bangsawan bukanlah mereka yang tidak bekerja, tapi justru yang bekerja kantoran (seperti Sastrodarsono yang diceritakan dengan indah oleh Umar Kayam di novelnya "Para Priyayi") mereka yang bekerja sebagai juru tulis, pejabat gupermen atau bahkan guru. "Kelas" priyayi dibuat untuk membedakan mereka yang bekerja bertani, berdagang dan yang bekerja menerima gaji.
Kemiripannya dengan gentlemen adalah justru dari sisi tingkah laku, well-manner dan lifestyle tadi. Sebutan priyayi juga melambangkan mereka yang dianggap lebih berpendidikan dan menghargai hal-hal seperti seperti harga diri dan kehormatan lebih dibandingkan dengan "orang biasa", walau belum tentu kaya.
Lalu, sebenernya, tingkah laku yang seperti apa yang disebut tingkah laku gentlemen atau mriyayi ini? Apa ada yang disebut gentlemen code atau panduan tingkah laku dan sikap hidup priyayi?
George Washington (iya yang presiden US pertama itu) menuliskan aturan versi dia tentang gentlemen yang mana diantaranya adalah:
- Tunjukkan sikap hormat pada siapapun yang bersama kita.
- Batuk, bersin, menguap tidak di depan umum.
- Tidak tidur saat orang lain bicara, tidak duduk saat orang lain berdiri, tidak bicara saat lebih baik diam dan tidak berjalan saat orang lain berhenti.
- Dan lain-lain, dan lain-lain (ada 110 aturan di halaman diatas waks)...
Tulisan pendek Charles Dickens dengan judul Sketches of Young Gentlemen juga sering dikutip bilamana seseorang ingin menggambarkan yang namanya gentlemen ini.
Anak muda jaman sekarang (hehe) mungkin menyebut sikap ini "jentel" (mirip ga sih sama ksatria?) yang diasosikan dengan cara kamu memperlakukan cewek.
Jalan disisi terdekat dengan jalan, bukain pintu, narikin kursi, ngasih bunga dll. Dalam list ini juga termasuk didalamnya seperti memberikan kursi buat wanita dan yang lebih tua, ngasih jalan duluan kalo nyupir dan ngga nyelip di depan sebuah antrian (ada lagi?).
Tapi yang lebih penting, kayaknya, selain manner, sopan santun dan tingkah laku adalah justru kualitas gentlemen itu sendiri. Kualitas yang mendekatkan dan dimiliki oleh para gentlemen jaman Victoria dulu dan kualitas para priyayi jaman kolonial tersebut.
Kualitas yang bertumpu pada prinsip-prinsip kehormatan, harga diri, kesetiaan dan omongan yang bisa dipercaya.
Mereka yang tindakannya berdasarkan dari niat baik dan dilakukan dengan cara-cara yang baik pula. Mereka dengan kemampuan kendali diri yang sama di setiap situasi, yang tidak menjatuhkan mereka yang kurang, yang juga tidak tinggi hati, tidak memamerkan kekayaan ataupun kesuksesan dan tidak takut pada kekuasaan.
Yang bicara dengan terus terang tapi dengan ketulusan dan simpati. Yang selalu memikirkan hak dan perasaan orang lain. Yang tidak pamer ketika menang dan tidak berteriak "curang!" dan ngambeg ketika kalah (hehe). Mereka yang tidak rese' (kata anak sekarang).
Yang merasa senang berada bersama siapa saja dan mereka yang bersamanya kehormatan adalah suci dan kebenaran tidak perlu merasa khawatir.
I'll say, bring back the gentlemen! :)



kapan yah ada kontes 'indonesian gentlemen'? khusus buat yang hobi sains _ biar Indonesia ini cepet maju gitu looh serius-amat-ya-komen-gw
Apa kata Oscar Wilde tentang gentlemen selain epigram di atas?
Wilde emang paling enak buat dikutip :)
gentlement memang terjemahan indonesianya "ksatria"... inget engga film: sang perwira dan sang ksatria... buseeett.. njiplak langsung "officer and gentleman"... btw, ladies and gentlement, tumben2an nih gue jadi orang pertama yg kasih komen...
(ternyata tidak! dasar internet super lelet)
duh pengomen 5 besar nih di blog nya enda... dan tidak ada hubungannya dgn 5 besar... postingan kali ini bikin gimanaaa gitu (gimana coba nda?)... btw, enda jentel ga sih? :) saya kadang2 masih suka nguap didepan umum, kadang2 kudanil pun tersaingi hehehe da tunduh atuh susah nahannya (tapi ditutup)
selain tentang perilaku, status gentlemen di jawa kuno ada hubungannya juga ama bahasa nda. pada mereka yg royal blood, rakyat selalu bicara pake bahasa kromo inggil, bukan kromo ato ngoko. nggak peduli si royal blood tadi lebih tua ato lebih muda. normalnya sih kalo ngomong ama yg lebih muda rakyat pake bahasa ngoko.
mal, entar bentar lagi diselenggarakan oleh indosiar ala AFI heheh
waduh mbang, nanti yah dicari dulu :D
hikhihk leo telat :)
hi ninit, gimana gitu gimana nit? :D
fahmi, iya, bahasa juga kan termasuk manner itu juga kan. :)
kalo kata gue, basically, seharusnya gentleman itu adl orang yg tulus, yg selalu rela dan ikhlas memberi yang terbaik tanpa meminta..
apakah gue seperti itu? hmmm.. belom juga sih.. :p
ladies and gentlemen..!!!
nu geulis ngagelom permen..!!! :p
andai negeri kita dipimpin seorang yg gentlemen; ... yang tindakannya berdasarkan dari niat baik dan dilakukan dengan cara-cara yang baik pula.
kesatu...
kok ya gw sekarang lebih ngeliat yang namanya gentlement itu bisa agak lebih dihargai ketika dia ngomong; mengungkapkan sesuatu yang nyelekit dengan cara yang bisa diterima semua orang...nggak gampang lho
kedua
gw jadi keingetan postingannya okke tentang dia yang mau ngasih tempat duduk di angkutan umum buat ibu-ibu, tapi ternyata niatnya nggak kesampean gara-gara diserobot orang lain...apa yang dilakukan seorang gentlement kalo kejadian kaya gini terjadi?...kalo gw mungkin bisa nyengir kuda doang...dan semoga gw waktu kejadian itu nggak bawa golok...
hehehe
Yang merasa senang berada bersama siapa saja...
org yg seperti ini dah langka, Nda. coba gw mo nanya, risih apa senang ga sih loe jalan ma gay? huehuehue... 'balasan comment elo di blog gw nih ;P'
kenapa yach kiemas disebut2 sebagai the first gentlemen?
apa ia mempunyai kriteria2 diatas :| gak ngerti2 :(
bung karno contoh gentlemen indo bukan nda..? hehe..
btw, ai punya url ganti yah.. ;)
Kalo ngikutin yang dibilangin George Washington mah, kamu belom gentleman ya hon.. abis masih suka lupa ..... hihihi
Tp bagi gue, you're the most perfect-gentlemen I've ever met :)
ntar duit belanja naek ya? hihihi
Washington punya standar aturan untuk menjadi seorang Gentlement, what about us? Berarti aturan itu sifatnya local banget ya..
apakah istilah gentlement itu hanya buat cowo? trus klo buat cewe istilah lainnya apa?
satu lagi, mau dunk punya satu orang gentlement heuhue :P
gentlemen di eropa lebih mengarah ke otak yang kuat sepertinya kebanyakan gentlemen disana scientist semua yah. :)
speechless nda.. speechless..!! tumben berat bener.
dan memang, we all miss those type of people we call, gentlemen, i think... yaa pas di jalan raya, di angkutan umum, bahkan di 'kursi-kursi sakti itu' :D
heeyyy, gentlemen, where are you now ??
Wah, di tengah penghitungan suara pilpres, kok tulisan ini seperti aga2 politis? hehe. KIDDING!
ooooh, gentlemen itu yg kerjaannya nonton tinju... syamsul anwar gentlemen kalo begitu ya... :D
Gentlemen itu kan utk laki-2 ya nda? kalo utk perempuan gentlewati ya? :D
rada-rada mirip janji pramuka gitu ya fan? apa pramuka = gentlemen? hehee
iya ya ratna mudah2xan aja :D
emang napa kalo bawa golok roi? hekheke
lah napa risih ndy? nah elu risih ga jadi gay? huehekheekek :p
oh imponk, kalo itu sih istilah aja, karena kalo istri presiden kan disebut first lady, jadi kalo yg jadi presidennya cewek, ya suaminya jadi disebut first gentleman, walo belum tentu berlaku gentlemen hehe
ya ampun om balq selamat ya rumah barunya! :D
lupa apa hooonnn?? hekheke
hi ranukama, kayaknya sih emang lokal, mau ga mau berkaitan sama budaya akhirnya :D
nah ayooo sapa disini gentlemen yang mau sama nukew, langsung aja ke blognya, recommended louh hehe :D
hi randi, mungkin di jaman victorian itu kayaknya iya :D, walo bukan berarti ga ada yg brengsek juga kali ya
tiwiw, napa spichleus? heheheh :D
dodi, kok "agak2x"? emang iya ini hehehe :D
benul an! hekehkee
kalo buat perempuan saya juga belum nemu woer. menurut bahasa indonesia yang disempurnakan sih harusnya begitu hehehe :D
kalo di buahbatu itu namanya gentle-euy! _
jentel2 yg bikin sains itu bertingkah kaya gitu sbg individu. sains jmn itu sangat bersifat individu. jadi salah satu kondisi biar jentel yg berguna muncul adalah individualisme. tentu individualisme ngga sama dengan egoisme. dlm bhs aa gym individualisme ini 'mulai dari diri sendiri'. :D
bukankah priyayi membeda=bedakan kasta?.
kayaknya ga ada hubungannya dan jangan dihubung-hubungkan deh antara gentlemen ato priyayi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi... malah menyuburkan sebuah masyarakat dimana yang kuat menindas yang lemah dengan previlege-nya.. sementara si lemah kaya working class harus bekerja dan tak punya akses thd iptek.. menciptakan keregantungan spt negara dunia ketiga kepada negara maju.. just a thought aja.. toh ini bukan jaman feodal..
hehe dik, gentle-euy teh naon euy? :D
wah repot dong ya rob, kalo harus ngedepanin individualisme dulu di Indonesia sih, maunya sama-samaisme lebih maju heheh :)
bukan kasta kali son, kelas, pada saat itu iya memang priyayi adalah kelas tersendiri, tapi bukan berarti kelas lain ga bisa jadi priyayi. skrg kita ambil kualitasnya aja, bukan membeda-bedakan orangnya :)
au contraire my friends pey hehe gentlemen dan feodalisme SANGAT berhubungan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Society pada jaman itu simply ga punya resource buat mengejar iptek, sama aja sih kayak skrg, negara ketiga mana punya duit buat riset? ya ga? hehe coba baca lagi sejarah sains deh. tapi kamu bener, skrg bukan jaman feodal, tapi gentlemen dan priyayi tidak sama dengan royal atau bangsawan kok. :)
bang enda! haw way yu?! i mo posing dan lupa password berikut tampilan blogger ku tak kenal lagiw huhuhu
bring back the gentlemen? I guess it is equally difficult as bring bang the dodo bird. Indonesia alone need gentlemen in their educating bisnis (sekarang sekola itu bisnis loh) and parenting bisnis... so I heard
hallo Enda, sy baca quotes ('Rene Descartes')anda tadi pagi di suplemen "Belia" Koran PR hari ini.. nice to read your blog, anyway.. semoga aja dengan adanya gentlemen2 ituh, kita ngga harus bertingkah sumuhun dawuh ala feodalisme.
Andai aja ada yang jual ramuan khusus penumbuh gentleman, bakalan laris tuh. Kita bisa paksa pejabat-pejabat kita minum itu ramuan, biar tahu diri kapan mundur dan meletakkan jabatan. Kapan bisa bilang bahwa kesalahan adalah tanggung jawab dia dan bukan tanggung jawab kita bersama. Dan tahu bilang 'maaf' dan 'terimakasih'
IMHO, gentleman bukan hanya dilihat sosok fisiknya, tapi lebih ke behaviour, betul begitu ?...kira-kira ada gak ya kampanye "Program jadi gentleman nasional", nanti udah pasti bang enda yang jadi head of campaignnya :D
i say.. bring back OUR gentlemen! Not THEIR gentlemen! hahahah
as long as we're equal.. i wont mind at all!!
hallo salam kenal om enda, maaf ini baru bisa comment padahal udah sering mampir :(..btw. baca para priyayi-nya umar khayam juga ya :)
Sori, aku cuma mo numpang ngasih info azah neeh, situs mu aku masukin ke fren list ku, thanks ya...
Aku tunggu mampir ke situs ku.
hmmm... 'gw udah nemuin satu gentlemen sejak 10 bulan terakhir ini. doain aja lancar terus :)
numpang nanya, kok bisa nyampe ke blog saya? makasih uda mampir. btw, habis ospek berarti gatel2 ya :)
buat baru lagi bos topiknya
jangan yang pilosopis..
yang ringan 2 aja bang
HEPPY BELSDAY KANG ENDAAA..!!!! HAUAUAUANAU
SUKSES SELALU :D
Keluarga Cemara is wishing you a very HAPPY BIRTHDAY and many happy returns.
Makan-makannya ditunda sampai September aja ya, Nda - when we got there. He..he..he...
my natali always says: being a gentleman is to make other feels comfortable :)
bagus banget topik-nya Bang :)
wah kalo indonesia sudah tidak mementingkan perut pasti bakalan terjadi perobahan besar, sekarang sih byk terjadi priyanyi cuma gaya rokoknya aja tapi isi kosong. jarang sekarang orang kaya beneran, s hargai setiap org, yang ada sebaliknya karena lebih mementingkan perut. kamu punya resepnya diskusi yuk....