Tentang Free Will

Aside

tentang-free-will.jpg

_A human can very well do what he wants, but cannot will what he wants. –Albert Einstein_
Apakah kita memilih bagaimana kita hidup atau hidup yang sudah memilih kita?
Ada yang bilang bahwa hidup adalah jumlah total dari semua pilihan yang kita pilih. Apakah itu benar atau cuma ilusi?
Apa yang coba gue tulis adalah tentu tentang “Free Will”:http://en.wikipedia.org/wiki/Free_will. Konsep dimana katanya manusia dianugrahi kebebasan untuk memilih, dan dari situ pula, katanya, turun konsep tentang moral dan tanggung jawab.
Karena orang yang bisa memilih harus bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan pilihannya.
Orang yang memilih dengan sadar untuk melakukan kejahatan atau sebuah usaha kriminal (seperti pembunuhan terencana) dianggap lebih buruk daripada kejahatan yang dilakukan karena terpaksa atau tidak memiliki pilihan lain (seperti mebunuh karena membela diri, atau, well.. karena sakit jiwa).
_Free Will_ karena itu pada dasarnya adalah kombinasi antara kemampuan berpikir dan kemampuan untuk mengontrol diri. Suatu kombinasi kemampuan yang dianugrahkan pada manusia saja dan tidak pada mahluk hidup lain.
Binatang, dari anjing, kucing, hingga jerapah dan gajah (berima!) tidak memiliki _Free Will_, semua tindak tanduk, perilaku yang mereka lakukan hanya dipandu oleh insting dan naluri alami mereka. Berhadapan dengan makanan atau kehendak seksual maka mereka tidak bisa _memilih_, tidak dapat berpikir dan mengendalikan diri (kecuali di film animasi) karena itu tidak dapat kita minta tanggung jawabnya atas tindakan yang mereka lakukan.
Manusia berbeda dengan binatang (katanya), manusia memiliki free will, dapat berpikir dan mengendalikan diri, dan kemudian memilih, karena itu harus bertanggung jawab pada apa yang mereka perbuat dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, biasanya di hari akhir.
Dalam tradisi filosofi barat, free will, akan lebih banyak kamu temukan. Dari tradisi ini pula diturunkan banyak pemikiran dan diskusi seperti *determinisme* dan *individualisme*. Sebaliknya dalam tradisi filosofi timur dengung *priwil* ini akan lebih jarang terbaca. Karena beberapa sebab yang ga jelas, tidak ada bentuk keakuan dalam filosofi timur. Manusia dan Tuhan dan Alam merupakan sebuah kesatuan. “The Tao of Silent”:http://www.amazon.com/Tao-Silent-Raymond-M-Smullyan/dp/0060674695, karangan *Raymond Smullyan* mengkontraskan dengan cantik Free Will dengan konsep ketimuran dalam bentuk dialog antara *Tuhan* dan *Manusia*. Dalam sebuah kesempatan manusia dalam dialog itu bertanya, _”kalo memang aku diberi anugrah kebebasan untuk memilih maka bolehkan aku memilih untuk menolak kebebasan itu?”_. Dan seterusnya.
Tumbuh besar sebagai orang *Islam*, gue juga ga pernah mendengar tentang free will dalam pemikiran Islam (elunya aja itu nda hehe), tapi rupanya pemikiran yang nyambung-nyambung ke “Theology”:http://en.wikipedia.org/wiki/Free_will_in_theology dan “Theodecy”:http://en.wikipedia.org/wiki/Theodicy ini juga hadir (pastinya) dalam “sejarah Islam”:http://en.wikipedia.org/wiki/Free_will_in_theology#In_Islamic_thought
 
Di tahap ini, maka wajar jika kemudian timbul pertanyaan, apakah benar kita memiliki Free Will? Artikel di NYTimes.com kemarin dengan judul “Free Will: Now You Have It, Now You Don’t”:http://www.nytimes.com/2007/01/02/science/02free.html?em&ex=1167973200&en=228e9bd028992d08&ei=5070 mengabarkan bahwa berdasarkan banyak penelitian _physicists, neuroscientists, computer scientists_ dan _cognitive scientist_ yang hasilnya berbeda dengan apa yang kita percayai selama ini.
Manusia rupanya dikendalikan lebih banyak oleh *alam bawah sadar* daripada alam atas sadarnya. Dalam satu percobaan ditemukan bahwa terdapat selang setengah detik dari reaksi otak dan tindakan. Jadi *0.5 detik* sebelum kita memilih mengangguk misalnya, otak kita sudah tahu duluan bahwa kita akan mengangguk.
_Free Will?_
Apakah mungkin setiap tindakan yang kita lakukan sekarang sudah ditentukan, mungkin bukan oleh “takdir”:http://enda.goblogmedia.com/takdir.html, tapi oleh sejarah genetis dan pengkondisian sosial disekeliling kita?
Lupakan mereka yang kecanduan (rokok, narkotika, seks, internet dll), karena toh mereka sudah kehilangan free will untuk hal yang mana mereka candui.
Tapi selain itu, bagaimana dengan apa yang kita inginkan, kita impikan, kita harapkan? Mungkinkan itu hasil dari kampanye marketing sebuah biro iklan yang handal dan pesan moral yang diturunkan dari puluhan generasi?
Apakah kita memilih bagaimana kita hidup atau hidup yang sudah memilih kita?
Dan kalo kita tidak memilih apa adanya diri kita sekarang, maka berhakkah kita memberi selamat pada mereka yang melakukan pilihan benar dan masihkah kita harus mempertanggungjawabkannya? Di evaluasi akhir tahun atau di evaluasi yang lebih akbar? Di hari akhir?
 
Terlalu banyak contoh sebuah tindakan dimana kita kehilangan free will kita dan “terpaksa” melakukan tindakan tersebut.
Tersenyum ketika wajah anak kamu muncul di otak dan teringat kelakukan lucunya, misalnya.
Melirik cewek berkaus ketat di jalanan misalnya, atau mengeklik link ini walaupun kamu tahu sudah pasti bohong: “www.cewekkausketat.com”:http://www.cewekkausketat.com
Mengupgrade ke *Windows Vista* misalnya, atau nambah nasi ketika masih ada nasi di tolombong.
Membaca posting ini sampai sini, padahal kamu bisa berhenti membaca dari tadi dan pergi ke blog lain.
Terlalu banyak contoh, yang kita sama-sama tahu bahwa kita tidak berdaya untuk mengambil “hak kita” untuk memilih karena tidak ada hak pilih itu sebenarnya.
 
_[*Free Will*]_, adalah ilusi. Ilusi yang berguna karena memberikan kita gambaran bahwa kita memegang kendali dalam hidup ini. Bahwa ada makna dalam pilihan-pilihan yang kita ambil.
Padahal kita tahu bahwa, tindakan kita dimotivasi insting dan naluri alami, seperti halnya gajah dan jerapah (berima!)
 
Jadi… di tahun baru ini, tahun 2007, gue ga memiliki _[*Free Will*]_ dan tidak bisa tidak untuk berucap: *SELAMAT TAHUN BARU 2007*, dan semoga kita semua diberkahi kemampuan dan kecakapan untuk mengambil pilihan-pilihan yang benar di tahun ini.
Dan… kamu pun tidak memiliki _[*Free Will*]_ dan tidak bisa tidak untuk *meninggalkan komen* di posting ini. tongue.gif

Tentang Blogging dan Budaya Balasan

Aside

blogging-counterculture-budaya-balasan.jpg

_Letting a hundred flowers blossom and a hundred schools of thought contend… – Chairman Mao_
Kalo sejak kecil kamu punya bakat melawan orang tua (awas dosa lo), atau guru atau ga percaya kata koran, majalah, tv, suka bertanya “Kenapa?” dan “Mengapa?” maka kemungkinan besar kamu punya bakat _[“Anti-authoritarian”:http://en.wikipedia.org/wiki/Anti-authoritarian]_. Yaitu mereka yang mengambil posisi berlawanan, apalah itu dengan konsentrasi kekuasaan dalam tokoh seorang pemimpin atau kelompok elite, atau terhadap doktrin, dogma dan kepercayaan.
Kalo kamu punya bakat buat berpikir beda sama kebanyakan orang, menolak apa yang _umumnya sudah diterima_, ga mau ikut-ikutan apa yang lagi trend, bikin gaya kamu sendiri, percaya apa yang orang lain ga percaya dan sebaliknya ga percaya apa yang banyak orang mempercayai dengan sepenuh hati maka mungkin kamu seorang _[“Contrarian”:http://en.wikipedia.org/wiki/Contrarian]_. Mereka yang secara sosiologis diterangkan memiliki sikap melawan establishme dimasanya.
Jika kamu punya salah satu bakat diatas maka kemungkinan besar kamu akan menyukai hidup ditahun 60’an di Amerika, saat gerakan “Counterculture”:http://en.wikipedia.org/wiki/Counterculture#1960s_Counterculture_in_the_USA (budaya balasan) bermula dan marak sebagai reaksi terhadap norma-norma _konformis_ 50an dimana segala sesuatu tampak seragam juga terhadap intervensi militer amerika di Vietnam.
Selama ini budaya balasan diatas terkenal karena simbol-simbolnya, para _Hippie_ berambut panjang, komunal-komunal dimana orang hidup bersama dan bikin teknologi sendiri, dan tentu juga yang paling ngetop (selain free sex!) adalah eksperimen dengan *LSD*, acid dan obat-obatan _psychedelic_ lainnya, sebagai alat meng-[_enhance_] kapasitas otak manusia.
Kebayang kan, para _dudes_ dan _dudettes_ pada masa itu, terutama para pemikirnya adalah mereka yang _Anti-authoritarian_ dan _Contrarian_. Mereka yang memandang sebel dan curiga pada semua institusi dan establishme elites, apakah itu korporasi, pemerintah, militer, orang tua, akademisi, universitas dan agama. Mereka hadir dengan ide dan nilai-nilai baru yang tidak sama dengan generasi sebelumnya. Untuk melawan “The Man” kata *Jack Black* di School of Rock, yang berseru _power to the people!_. 😀
Dan tidak itu aja, kalo kamu baca posting di blog ini, di _a thing_ yang namanya Internet ini, chatting sama temen kamu, kirim2x email ga jelas, “ngejunk di milis”:http://id-gmail.info, ngerjain tugas di komputer pribadi, maka kamu perlu berterimakasih juga sama mereka.
_Tech Revolution_, dari komputer pribadi, gadget, Operating System, Microsoft, iPod, Internet dan Blog (!) semua perlu berterima kasih pada _counterculture_ hampir 50 tahun yang lalu itu.
*[“RU Sirius”:http://en.wikipedia.org/wiki/R._U._Sirius]* (bukan nama asli tentunya) seorang penulis dan musisi, menulis dalam postingnya _”[“Counterculture and the Tech Revolution”:http://www.10zenmonkeys.com/2006/11/19/counterculture-and-the-tech-revolution]”_ sebuah summary perjalanan antara _counterculture_ hingga _tech revolution_ dimana kita berada sekarang ini.
Berangkat dari dua buku baru yang membahas tentang perjalanan ini yaitu _”[“What the Dormouse Said: How the 60s Counterculture Shaped the Computer Industry”:http://www.amazon.com/What-Dormouse-Said-Counterculture-Personal/dp/B000IOEU90/sr=8-1/qid=1165979425/ref=pd_bbs_1/102-9947389-0217722?ie=UTF8&s=books]”_ karangan *John Markoff* dan _”[“From Counterculture to Cyberculture: Stewart Brand, the Whole Earth Network, and the Rise of Digital Utopianism”:http://www.amazon.com/Counterculture-Cyberculture-Stewart-Network-Utopianism/dp/0226817415/sr=8-1/qid=1165979218/ref=pd_bbs_sr_1/102-9947389-0217722?ie=UTF8&s=books]”_ karangan *Fred Turner*, dia menggambarkan bagaimana budaya _sharing_, penggunaan internet sekarang ini, komunitas-komunitas di Internet, riset, personal expression, budaya hacking dan development di berbagai bidang, cybernetics, enkripsi dan lain-lain lagi memiliki akar di pemikiran dan ide yang bisa ditelusuri ke _counterculture_
*Steve Wozniak* dan *Steve Jobs* pendiri “Apple Computer”:http://en.wikipedia.org/wiki/Apple_Computer adalah contoh jelas tokoh yang muncul dari budaya counterculture dan hingga sekarang Silicon Valley masih berhutang budi pada gerakan budaya balasan ini.
Teknologi khususnya Personal Computer (PC) hadir didasarkan pada pemikiran yang sama yaitu teknologi pribadi yang menambah kemampuan berpikir dan produktifitas manusia, sebagai alat agar manusia bisa melihat lebih dari apa yang bisa kita lihat biasanya, sama seperti *LSD*.
 
Mencermati dan menarik benang merah dari latar belakang diatas sangatlah jelas kalo kita merasa bahwa *Internet* (dalam bentuk teknologi dan budaya yang tumbuh disekitarnya), sebagai salah satu produk dari gerakan tersebut, secara alaminya juga bersifat _Anti-authoritarian_ dan _Contrarian_.
Selalu ada sesuatu yang pas saat kita menyandingkan kata _revolusioner_ dan _phenomenon_ terhadap segala sesuatu di Internet. Dari ecommerce, napster, p2p, paypal, web2.0, Wikipedia, Google, YouTube dan blog tentunya.
Masing-masing adalah sebuah “revolusi” yang mau menggantikan apa yang sudah umum dan sudah _established_.
*Napster* mempopulerkan MP3 dan akan membangkrutkan perusahaan rekaman, *Wikipedia* yang disusun oleh orang biasa dan anonim menggantikan ensiklopedia sebagai katalog pengetahuan umat manusia, *Paypal* bermula dengan ide untuk menggantikan sistem monetari dunia, *Google* memberikan akses informasi dan membuatnya berarti tanpa melihat siapa yang bikin selama materinya relevan dan berguna, dan *Blog* tentunya hadir sebagai revolusi ekspresi pribadi yang mengancam jalur informasi mapan seperti media massa.
Satu fenomena diatas fenomena lainnya. Semua lahir dari sebuah gerakan yang menolak otoritas dan sebel sama kemapanan.
 
Berangkat dari situ, yang menarik adalah begitu cepat fenomena-fenomena diatas kemudian _menjadi sebuah kemapanan itu sendiri._ Masing-masing revolusi berubah menjadi sebuah institusi dengan aturan, norma, etiket yang seolah-olah haram untuk dilanggar.
*Blogging misalnya*. Yang menarik dari blog adalah sifatnya yang merusak tatanan dan sifat media. Tidak lagi kita perlu modal banyak untuk mempublish materi yang dibaca oleh ribuan orang, tidak lagi kita dibatasi oleh seorang editor dan pemilik modal yang mengawasi apa yang boleh publish dan apa yang tidak. Tidak lagi seseorang perlu bekerja di media massa menjadi wartawan atau jurnalis untuk melaporkan sesuatu yang dibaca khalayak ramai.
Tapi _blogosphere_ pun cepat kemudian berubah _mengadopsi tatanan kemapanan_ yang ada.
Yang paling sering ditanyakan adalah, _apakah ada etiket dan norma dalam penulis blog? Bagaimanakah blog yang baik itu? Bagaimanakan agar blog kita sukses? Bagaimana menulis blog yang benar?_
Iya mungkin pertanyaan diatas itu pertanyaan yang wajar, tapi blogging bukan tentang itu, bukan tentang mengikuti aturan yang ada, blogging justru tentang melanggar aturan, melanggar konvensi, melanggar kemapanan. _Blogging adalah sebuah budaya balasan_.
Kenapa harus ada, misalnya, yang namanya “seleb blog”:http://ironmaid3n.blogspot.com/2006/12/seleb-blog-dan-egonya.html (hehe), blogger senior, bapak blog dan lain sebagainya, yang seolah-olah perlu diminta restunya agar blog jadi lebih baik, seolah-olah mereka telah menjadi sebuah institusi sendiri (“institut teknologi blogging”:http://enda.goblogmedia.com/institut-teknologi-blogging.html), terlah ter-[_institutionalized_].
Untungnya, kemapanan pada saatnya, toh pasti akan tergantikan. Rejim datang dan pergi, yang asalnya diatas kemudian turun dan yang muda menggantikan yang tua.
Segala bentuk kemapanan, dari tokoh hingga institusi harus memberi jalan (dan pasti memberi jalan) pada _counterculture_-nya sendiri yang akan membawa kita pada perubahan, dan sesuatu yang lebih baik.
Apakah itu melalui proses yang disengaja atau tidak sengaja. Proses sukarela atau terpaksa, atau sebuah proses _self-destruct_ seperti berpoligami dan merekam video pribadi, tidak ada yang pasti.
Karena yang pasti dari perubahan adalah perubahan itu sendiri.
 

Catatan dari Asia 21 Summit

Aside

_We built this city, we built this city on rock and roll! –Starship_
Seperti yang gue tulis dalam “post terdahulu”:http://enda.goblogmedia.com/asia-21-young-leaders-summit-2006.html, minggu lalu gue mendapat kesempatan diundang untuk hadir dalam “Asia 21 Young Leaders Summit”:http://www.asia21youngleaders.org/ di Seoul, Korea.

Summit 3 hari yang diorganisir oleh “Asia Society”:http://www.asiasociety.org/ dan bertempat di *Shilla Hotel*, Seoul ini berjalan lancar dan sukses. Perjalanan gue dari Bangkok ke Seoul juga _alhamdulillah_ lancar tanpa halangan maupun rintangan apapun, kecuali kejadian sempat menghilangnya teman seperjalanan dari Bangkok yang orang nepal yang ditahan 45 menit oleh imigrasi Korea.
Karena waktu yang mepet, gue ga sempet jalan-jalan banyak di Seoul. Jadi selain acara jalan-jalan summit ke Korea House yang disuguhi sama _Korean Cultural Performance_ dan sessi Karaoke buat semua peserta yang mengakibatkan momen-momem memalukan, gue cuma sempet jalan-jalan beberapa jam ditemenin *Hary Devianto* yang sedang PhD di “SNU”:http://www.useoul.edu/ beserta istri sebagai penunjuk jalan, di kota Seoul yang lumayan dingin (10-14ºC) tapi cantik dihiasi pohon-pohon _cherry_ kekuningan.
Di bawah ini beberapa catatan pendek tentang Korea, Seoul khususnya dan apa yang gue dapet dari Asia 21 Summit:
* Para peserta summit terdiri dari mereka yang sudah established dari *berbagai latar belakang*. Ada beberapa anggota parlemen muda dari Filipina, India, Pakistan, Australia, Singapura dan New Zealand (politisi).

Ada anggota militer, sutradara, jurnalis, pemilik perusahaan, pengacara, NGO activist, mantan student activist, pengusaha muda, akademisi, ekonomis, medical doctor, researcher, saintis, _googler turn buddhist monk_ dan bermacam latar belakang menarik lainnya (termasuk blogger hehe). Berada di antara para _highly accomplished individuals_ ini aja adalah sebuah pengalaman tersendiri. *Sangat menyegarkan* melihat gimana mereka ngomong dan berinteraksi sama mereka, berkenalan dan cerita tentang diri kita masing-masing. Dan bagaimana satu sama lain bertuker ide, menyumbangkan opini sesuai dengan background dan pengetahuan mereka masing-masing _it’s truly amazing_. _One cannot help to feel optimistic_ tentang masa depan umat manusia berada di antara mereka. Membuat kita berpikir ketika begitu mudah kita menemukan kesamaan antara kita dan orang lain, tapi di lain sisi manusia jugalah yang membuat kerusakan dan menimbulkan penderitaan diantara kita.
* Penyelenggaran summit berlangsung *lancar dan menarik*, _kudos to Asia Society_ dan para sponsor baik hati yang menyelenggarakan konferensi ini. Kehadiran Korean VIP’s seperti PM dan Mantan Presiden-nya juga tentu memberi bobot lebih tentang pentingnya event ini bagi para peserta dan bayangan gue untuk publik Korea juga.
* _Young_ dalam *_Young Leaders_* itu sendiri berarti relatif disini. Kebanyakan peserta berumur di akhir 30an atau awal 40an dan masih masuk dalam kategori “muda”. Gue mungkin salah satu dari peserta yang paling muda.
* *Amerika dan belahan dunia barat* menghabiskan banyak _resource_ dan memberikan posisi penting bagi mereka yang ahli dan menguasai _landscape_ belahan dunia lain. Mereka yang ahli di bidang finansial, budaya, politik untuk daerah Asia seperti Jepang, Korea, China, India. Apakah mereka yang duduk di pusat-pusat research dan studies, para koresponden asing yang ahli di masing-masign negara ataupun mereka yang tinggal di dua dunia (pernah mengenyam pendidikan di barat atau orang asia yang kelahiran barat/amerika) berperan sebagai jembatan dan pemasok informasi ke Amerika/Barat. Ada sejenis kehausan Amerika/Barat terhadap informasi dari Timur dan belahan dunia lain. Yang mengherankan adalah, yang sebaliknya tidak terjadi. Jarang kita melihat ada seorang pakar Indonesia yang ahli tentang Amerika atau Eropa misalnya. Dan kalaupun ada kita tidak menempatkan dia setinggi posisi _counterpart_ nya di sana.
* *Gue sempet jadi panelis* di session yang membahas tentang *Citizen Journalism* dan *Blogging*.

Dua hal yang berbeda, sayang waktunya ga banyak, karena sebenarnya topik ini bisa jadi konferens sendiri. Jadi menurut gue session itu lebih tepat dikatakan sebagai _introduction to blogging for young leaders_. Karena terus terang masih banyak yang belum kenal bahkan belum tahu tentang apa itu blog. Karena hal itu pula maka menyenangkan berada disana dan menerangkan apa itu blog dan apa yang bisa dilakukan tentang blog, tapi IMO session itu sendiri kurang menyangkutkan blogging dengan topik besar summitnya sendiri yaitu _Shaping Asia Pacific: Challenges and Choices_, terutama sebagai untuk para _leaders_. Pendapat gue sendiri, Internet dan Blogs (tanpa keraguan) adalah hal besar _in the near future_ yang akan merubah banyak lanskap region ini.
* *Korea, Seoul* khususnya (40% populasi Korea tinggal di Seoul!) sendiri luar biasa untuk dilihat. Sudah sama dengan negara maju lainnya. Tingkat ekonomi tinggi dan harga-harga mahal (makan di restoran 10,000 won = Rp 100,000 per porsi) tapi ini juga berarti mereka tidak mendapat kesulitan mengkonsumsi barang-barang bermerek dari barat. Nike, Hermes, BMW, DVDs, CDs, softwares, games, semua dalam jangkauan ekonomi mereka. Tidak ada masalah dengan _pembajakan_ karena tidak perlu, dan karenanya tidak ada masalah dengan _hak cipta_ pula. Dan karenanya lagi, market yang menarik untuk dunia. Luar biasa mengingat semua ini dicapai hanya dalam kurun waktu *50 tahun*! Ini ditambah dengan nasionalisme Korea yang tinggi sehingga mereka lebih suka mereka dalam negri, Samsung (ternyata yang bener dibaca Samsong), Daewoo, Lotte, LG yang juga merek-merek kelas dunia. Korea juga hidup dalam alam demokrasi sebenarnya setelah sempat berada di bawah kekuasaan diktatorial, dengan mantan presiden pemegang Nobel Perdamaian dan Sekjen PBB sekarang yang berasal dari Korea, pantas aja mereka bangga dengan pencapaian negaranya. Saingan Jepang nomor satu ini bisa diperdebatkan apakah Korea lebih baik atau tidak. Di Korea tidak ada gempa dan ancaman tsunami di Korea, tapi memang ada ancamam Korea Utara. Dari *Hary*, gue juga baru tahu bahwa standar jam kerja mereka (minimum!) dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam! Ini luar biasa, buat gue kalo jam kerja begitu lama, ngerjain apa aja? 😀
* *Delegasi Indonesia* memiliki tempat sendiri di summit itu rasanya. Pertama kayaknya banyak yang jadi

pembicara panelis kedua ngetop waktu karaokean bersaing sama delegasi Filipina. Delegasi Indonesia terdiri dari Pak *Anies Baswedan* mantan Ketua Senat UGM ini baru pulang Amerika tahun lalu sekarang menjabat sebagai Direktur Risert “The Indonesian Institute”:http://www.theindonesianinstitute.or.id/. Pak *Daniel Budiman* dari “Mahanusa Capital”:http://www.mahanusa.com/. *Meutya Hafid*, _anchor_ “Metro TV News”:http://www.metrotvnews.com/ yang mengalami peristiwa penculikan di Irak. Tentunya ga banyak yg bikin Meutya takut sekarang ini hehe. Mbak *Lia Sunarjo* GM-nya Young & Rubicam Ad Agency di Jakarta. Mbak *Veronica Colondam* pendiri “Yayasan Cinta Anak Bangsa”:http://www.ycab.org/ yang bergerak di bidang pencegahan narkoba. Mbak *Christina Lim* dari “Harita Securities”:http://www.haritasec.net/ dan Pak *Sandiaga Uno* ketua HIPMI dan juga pendiri Saratoga Investama Sedaya. _Nice to meet and know you all, keep in touch!_ 🙂
* _People I met_. *Sadanand Dhume*, orang India yang tinggal di NY sekarang bisa bahasa Indonesia. Mantan koresponden Indonesia untuk *Far Eastern Economic Review*, bukunya tentang radikalisasi Islam akan terbit. *Shugo Yanaka* dari Jepang, _fellow_ di Matsushita Institute of Government and Management, _nice guy_ yang ternyata seorang DJ/Penyiar radio di Tokyo dan ketika gue tanya, kamu ngetop dong di Tokyo dia jawab “iya” :D. *Gilbert Remulla*, anggota kongress Filipina, dari dia gue baru tahu kalo di Filipina ada batasan masa jabat anggota DPR/MPR, jadi ga bisa terus-terusan. *James Gomez*, kedua kali ketemu setelah di Manila, blogger yang juga politisi oposisi Singapura yang tinggal di Swedia dan menghadapi tuntutan hukum di Singapuranya sendiri. Pak Dokter *Piya Hanvoravongchai* dari Thailand, ahli di bidang Public Health Policy, kandidat doktor dari Harvard. *Max Erdstein*, mantan Global Advertising Manager-nya Google, sekarang jadi pendeta Buddha, banyak menghabiskan waktu di Jepang dan Thailand. Kalo ga salah termasuk 25 orang pertama yang kerja di Google yang artinya beliau kaya raya sekarang. *Jaykumar Menon*, Indian-American, besar di Amerika sekarang membangun usaha Bio Fuel, pernah ke Indonesia juga. *Madison Nguyen*, mbak keturunan Vietnam ini adalah salah seorang anggota badan legislatif untuk kota San Jose, California. *Major Dennis Eclarin*, kalo ngeliat tampangnya ga nyangka kalo dia ini tentara dengan _combat experience_. Mendapat didikan di West Point dia juga memiliki usaha sendiri di bidang Micro Finance. Menurut dia sendiri, setelah sering ngebunuhin orang, dia mikir gimana caranya berkontribusi juga, hasilnya perusahaan dia itu yang ngasih kredit untuk rakyat kecil. “Gen Kanai”:http://www.kanai.net/weblog/ orang Jepang yang besar dan sekolah di Amerika, Business Development Director-nya “Mozilla Foundation”:http://www.mozilla.com/ untuk Asia, seorang blogger dan _fellow internet freaks_ hehe. Banyak lagi orang yang gue ketemu disana, terlalu panjang untuk ditulis semua kayaknya. 🙂
* Ada beberapa kritik tentang Indonesia, terutama dari *Sadanand* yang gue sempet ngobrol lumayan panjang beberapa kali. Menurut dia Indonesia akan menjadi lebih baik di tahun-tahun kedepan tapi akan tertinggal di belakang negara-negara tetangga. Selamat tinggal pada label keajaiban ekonomi yang dipegang oleh Indonesia sebelum masa krismon. Pengagum *Gus Dur* dan dekat dengan beberapa tokoh budaya Indonesia ini juga berpendapat ada bahaya dalam kondisi Indonesia kita orang tidak lagi bebas mengungkapkan pendapatnya. Menurutnya _society_ dapat melepaskan potensinya secara maksimum ketika terjadi kondisi dan situasi dimana orang dapat berpendapat (betapapun subversif, atau “berbahaya”nya) *tanpa ancaman dan intimidasi fisik* atau bahaya terhadap jiwa. Dia terus terang menggambarkan dirinya _sebagai orang yang pesimis_ melihat kondisi Indonesia sekarang, sesuatu yang menurut gue justru tidak tergambar dalam artikel terbarunya tentang Indonesia yang terbit di _*Wall Street Journal*_ bersamaan dengan kunjungan Bush ke Indonesia berjudul _[*”Indonesia’s Promise”*]_ (bisa dibaca “disini”:http://www.asia21youngleaders.org/blog/?p=101). Silahkan berbeda pendapat, memegang opini masing-masing dan bawa ke meja diskusi, tapi upaya untuk _melenyapkan pandangan yang berbeda_ dan menutup diri terhadap perbedaan, _di bidang apapun, budaya, politik, agama, seksualitas, teknologi dan sains hanya akan membawa masyarakat ketertutupan dan kejumudan yang berujung pada ketertinggalan_, menurutnya. Tradisi, budaya dan penghormatan pada *pendapat yang berbeda* serta *kebebasan* untuk mengungkapkannya adalah nilai berharga yang harus dijaga.
Dalam point yang satu ini *gue setuju dan sepakat* dengannya dan karena itu juga gue sangat yakin akan *peran penting blog* di abad ini sebagai sarana berekspresi dan bertukar ide untuk mempertahankan kebebasan tadi.
Sori panjang, mudah-mudahan ada manfaatnya _sharing_ ini untuk gue dan untuk teman-teman semua.
 
* Foto-foto di Seoul dan Asia 21 Summit di akun Flickr gue: “Asia 21 Seoul Set”:http://www.flickr.com/photos/enda/sets/72157594383633884/
* Foto-foto Asia 21 Summit di akun “Flickr-nya Gen Kanai”:http://www.flickr.com/photos/gen/sets/72157594383436487/
* Blognya “Asia 21 Summit Blog”:http://www.asia21youngleaders.org/blog/