Trust but verify

Percaya, pada prinsipnya, tapi ditelusuri, dikawal, kalau bahasanya kawan-kawan sampai betul-betul kejadian dan jadi kenyataan.

Frase, “Trust, but verify” ini dipopulerkan oleh Ronald Reagan di tahun 1980an dalam negosiasi dan diskusi soal nuklir dengan Soviet Union, di jaman itu.

Asalnya? Justru dari bahasa Rusia, Doveryai, no proveryai (Russian: ???????, ?? ????????), artinya ya diatas tadi, pada dasarnya kita percaya, tapi apa artinya percaya kalau kenyataan bisa bicara lain.

Kita percaya Jokowi punya judgement dan komitmen untuk membawa Indonesia terus maju, bersama-sama, adil untuk semua pihak.

Itu berarti apapun konsekwensi politik, apapun kompromi yang harus dilakukan, kepentingan utama tidak boleh jadi korban. Trust, but verify.

Itu berarti komitmen pada pemberantasan korupsi, hak-hak masyarakat sipil, penggunaan sumber daya alam, kebebasan berbicara, sistem demokrasi dan rasa keadilan publik jangan pernah mundur, apalagi berbalik. Trust, but verify.

Itu berarti juga melihat bahwa ada rasa yang mengganggu dan kekhawatiran akan kuasa yang semena, yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena untuk apa berpanas-panas di jalan kalau bukan karena peduli? Trust, but verify.

Karena ada yang bersorak senang kalau negara ini gaduh, karena ada yang tertawa-tawa kalau ada korban yang jatuh, karena ada yang bernafsu kalau pemerintah gagal dan mengaduh.

Jangan jadi bodoh karena takut, jangan setia karena ikut-ikut. Trust, but verify.