Menahan Diri

menahan.jpg

_Puasa adalah ibadah menahan lapar dan… ngantuk -Enda_
Untuk suatu sebab tertentu umat manusia selalu memberikan tempat yang lebih tinggi pada keberadaan “surgawi” dibanding dengan keberadaan “duniawi”
Segala hal yang berhubungan dengan “duniawi”, jelas, kongkrit, nampak nyata, bisa dilihat, bisa dipegang, bisa dirasa lebih rendah kedudukannnya dibanding segala sesuatu yang tidak jelas.
Yang tidak jelas ini termasuk dengan akal budi, pikiran, jiwa, nyawa, kemauan, keberanian, kebaikan.
Yang di dalam lebih berharga daripada yang di luar.
Yang halus lebih bernilai daripada yang kasar.
Pikiran harus mengalahkan badan.
Hawa segar harus mengalahkan hawa nafsu.
Ketika kita sukses mengendalikan diri kita sendiri [berhasil mengendalikan hawa nafsu] maka katanya kita telah _memenangkan_ peperangan yang terberat yaitu peperangan melawan diri kita sendiri.
Ini terjadi di semua agama dan budaya.
Naluri alami manusia, yang jadi mekanisme kita untuk bertahan hidup, lapar, haus, berhubungan seks, marah, takut, gembira, sedih hampir semua pada suatu waktu atau suatu tempat menjadi terlarang untuk dilakukan.
Di semua agama dan budaya.
Umat manusia memberlakukan larangan-larangan dan peraturan, sebagian diantaranya, dalam konsep meningkatkan level dirinya, membedakan dirinya dengan mahluk hidup lain di bumi ini.
Makin sulit dan berat larangan yang dijalani oleh seseorang, makin tinggilah derajat seseorang tersebut dalam hierarki kemanusiaan.
Makin cuek dia terhadap semua larangan dan aturan, makin bebas dan makin semua diperbolehkan, maka makin rendahlah seseorang tersebut dimata manusia lainnya. Terancamlah dia akan proses degradasi. Makin dekatlah posisinya untuk masuk ke liga seri B.
_Itu kalo kita mau percaya. :p_
Seperti juga muslim lainnya di seluruh dunia, gue sampai bulan depan sedang menjalankan ibadah puasa.
Dan buat gue, puasa _bukanlah sebuah larangan_. Tidak boleh makan, tidak boleh minum.
Bukanlah sebuah perintah untuk tidak menjadi manusia yang alami, menuju bentuk yang bahkan tidak berbentuk manusia [[_inhuman_]]. Mencoba menjadi sesuatu yang lebih tinggi peringkatnya di liga kemanusiaan, mencoba menghindari dari proses degradasi.
Karena gue _menyukai_ bentuk kemanusiaan gue sekarang ini. Dengan kelemahannya, dengan kekurangannya.
Buat gue, puasa adalah undangan untuk _menahan_. Menahan untuk makan, menahan untuk minum.
_Menahan adalah sebuah proses_ dan bukan suatu tujuan. Ga pernah ada tindakan yang tujuannya menahan. [Kecuali nahan boker kali].
Karena sebuah proses maka kita tidak tahu apa hasilnya nanti. Dan ketidaktahuan itu minimal sekarang, buat gue, agak melegakan.
Juga dalam proses menahan, _kita tetap kita_, tidak ada yang dikalahkan, tidak ada yang menang, karena toh kita cuma menahan.
Menahan mata, menahan mulut, menahan perut, menahan kaki, menahan telinga, menahan nafsu.
Menahan tidak ngejunk, menahan tidak browsing, menahan tidak ngemail, menahan tidak chatting, menahan tidak arisan, _menahan tidak posting_.
_Menahan tidak komen?_ 😀