Yunani

achilles_brad.jpg *ACHILLES! ACHILLES! ACHILLES! ACHILLES!*
Begitu, para serdadu *Yunani* (biasa juga dipanggil mbak nani) yang baru saja mendarat di pantai *Troya*, berteriak mengelu-elukan (ELU! ELU!) *Achilles* waktu dia mengacungkan pedangnya, tanda kemenangan.
Bagaimana tidak membahana teriakan nama “Achilles”:http://www.pantheon.org/articles/a/achilles.html (dibaca Akiles: aki-aki lesu) saat itu, sang setengah dewa ini, putra dari *Peleus* dan *Thetis* (pencipta game terkenal), _the mightiest of The Greeks_, yang bergerak seperti angin, efektif dalam membunuh seperti *Terminator 3*, baru saja menerobos garis pertahanan pantai pasukan *Troya* bersama pasukan istimewanya ([_think of RPKAD in G30SPKI the movie_]), menguasai kuil *Apollo*, dan membantai semua isinya dan ini dia lakukan SEBELUM (!!) 999 kapal Yunani lainnya sempet selesai menyebrangi laut *Aegean*, menyentuh tanah *Troya* di daratan *Turki*
*Achilles*, dia yang ingin namanya abadi selamanya, 1000 tahun seperti *Chairil Anwar*, yang gemanya masih kita dengar sampai sekarang, terdengar dari speaker *Dolby Stereo* di Teater 5 yang pasti ga kebayang oleh *Achilles* _(“Apaaa itu teater mbak yu?”, mkn begitu tanya Achilles pada mbakyu Nani-nya)_.
*Achilles* yg dimainkan oleh *Brad Pitt* di “Troy”:http://troymovie.warnerbros.com/ itu bukan saja seorang pahlawan penentu kemenangan raja *Agamemnon* di setiap peperangan, tapi juga seseorang yang sangat mengerti akan _showmanship_ dan *berperang hanya untuk dirinya sendiri*. Tidak untuk *Tuhan* (para dewa), tidak untuk *bangsa* dan sudah pasti tidak untuk *almamater*.
*Achilles* berperang dan meraih kejayaan untuk dirinya sendiri, dalam perang yang tidak akan dilupakan orang.
Namun begitu, raja *Agamemnon* dan pejuang *Yunani* lainnya seperti *Odysseus* sangat mengerti bahwa *Achilles* lah *faktor* penentu utama kemenangan pasukan mereka, tanpa *Achilles*, Yunani tidak akan bisa menang dan bertemu dengan *Sersan Herman* (pacarnya).
Kenapa bisa begitu? Kenapa bisa satu orang, *SATU ORANG!* menempati perang begitu penting dalam sebuah peperangan?
Secara *literal* ini memang terjadi di masa *Yunani kuno*, ternyata peperangan bisa diselesaikan *satu lawan satu*. Daripada korban banyak jatuh, kenapa tidak kita adu prajurit paling tangguh dari dua belah pihak, satu lawan satu untuk menentukan siapa yang menang perang.
Secara *simbolis* ternyata melihat ketangguhan seseorang berperang, sebuah pasukan bisa bangkit semangatnya. Kemenangan dan semangat seseorang ternyata mengangkat *moral* yang lain. Memberi suntikan semangat, menjanjikan kemenangan.
Satu orang itu di *Mycenae Yunani* saat itu adalah *Achilles*.
Jaman kemudian berjalan, perang *Troya* terjadi *1250 SM* (dituliskan oleh [“Homer 750 SM”:http://darkwing.uoregon.edu/~joelja/iliad.html]), teknologi dan masyarakat berkembang, dan para politisi dan militer profesional memastikan bahwa tidak lagi sebuah peperangan bisa ditentukan hanya oleh SATU ORANG. Terlalu berbahaya jek, beresiko, [_too risky_].
Apa jadinya kalo satu orang itu sakit perut, kalo dia kelilipan, atau lebih bahaya lagi, kalo dia *BETE*?
Itulah mengapa *senjata pemusnah massal* dibuat, nuklir, bomb, peluru kendali, semua dibuat, agar perang, tidak lagi tergantung pada satu orang. Keselamatan sebuah bangsa tidak bisa tergantung hanya pada *satu orang*. Terlalu bahaya jek, terlalu beresiko.
Itulah kenapa *”Achilles”* di jaman ini tidak lagi berperang untuk kita.
Di jaman ini, *kita sibuk “berperang”* supaya orang yg kita anggap *”Achilles”* bisa menang.
Baik lewat *pemilu* ataupun lewat *SMS*.
*ACHILLES! ACHILLES! ACHILLES! ACHILLES!*