Filosofi “All you can eat”

Restoran atau tempat makan “All you can eat” walaupun adalah tawaran marketing yang cerdas dan menarik tapi, menurut gue, adalah sebuah *sistem yang _misleading_ dan tidak alami*, karena sebab-sebab dibawah ini.
Buat kamu yang ga familiar, “All you can eat” restaurant adalah tempat makan dengan sistem dimana kamu bayar sejumlah uang _flat rate_, yang biasanya lumayan mahal, dimana gantinya, kamu bisa makan sebanyak-banyaknya _hence_ ALL YOU CAN EAT.
Yang biasa kita sadari dan pertama kali kita bayangin adalah, “Wow bisa makan sepuasnya, ini adalah tawaran yang sangat menarik!”.
Yang jarang dan biasanya ga kita sadari adalah bahwa ada batasan-batasan _tidak terlihat_ yang perlu kita waspadai, misalnya:
* Batasan waktu: Restorannya ga akan buka 24 jam, sehingga harusnya kalo mau jujur, tulisannya harus dilengkapi dengan _”All you can eat today, until we are close”_.
* Batasan perut: Berapa banyak sih sebenernya yang bisa kamu makan. Ini sangat krusial, karena yg bisa kamu makan dan yg bisa cewek kamu makan berbeda, bisa jadi _yg bisa kamu makan_ mungkin nilainya lebih sedikit daripada harga yang kamu bayar.
* Batasan malu: Percaya deh, kamu bakal malu buat terus-terusan makan dan nambah walo kamu masih bisa makan! Nilai-nilai hubungan manusia menghalangi kita untuk bisa bener-bener “All you can eat”. Pada suatu garis, dibawah tatapan merendahkan para pelayan restoran, kamu akan berhenti makan, apalagi kalo kamu cewek.
Dari tiga batasan diataslah kenapa gue bilang “All you can eat” restoran adalah sistem yang _misleading_.
Lalu apa filosofinya?
Ini berhubungan dengan pendapat gue yang menyatakan bahwa “All you can eat” juga *tidak alami*.
Sistem “all you can eat” memberikan ide bahwa dengan harga yang sama kamu bisa *mendapatkan semua yang kamu mau*.
[_This is sooo not true (baca dengan gaya Chandler)_], karena berlawanan dengan sifat alami tentang kehidupan.
Hidup sudah jelas dirancang untuk tidak mengikuti sistem “all you can eat”, kita tidak membayar sebuah harga _flat rate_ untuk mendapatkan semua yang kita mau.
Masing-masing orang “membayar” apa yang dia mau dalam hidup dengan harga yang berbeda-beda tergantung pada apa yang dia mau dan berapa dia bersedia membayarnya.
Gue pengen pacar, bayar. Pengen lulus S1, bayar. Pengen punya kerjaan, bayar. Pengen punya istri, bayar. Pengen punya anak, bayar. Pengen punya mobil, bayar. Pengen punya rumah, bayar. Pengen punya kerjaan baru, bayar.
_(Jangan dibaca literal yee)_
Tiap kepengen harus kita “bayar”, ga ada yang gratis dalam hidup. *Untuk setiap keinginan harus ada yg kita lakukan* dan sudah pasti tidak ada “all you can eat” dalam hidup.
Tidak ada sekali bayar dan kita mendapatkan semua yang kita mau.
Kita harus membayar segala sesuatunya dalam hidup, mungkin “bayar” di depan atau “bayar” di belakang (bayar belakangan) atau dengan sistem kredit.
Tapi yang pasti tidak ada sistem dimana kita *membayar sekali* dan bisa mendapatkan semua yang kita mau, karena teman… (sebuah kutipan by me mau lahir).. _[*Hidup bukan lah all you can eat restoran*]_

  • iwan

    1.ga pernah ada rasa malu kl kita makan bnyk,krn memang itu tempatnya sengaja dibuat AYCE.
    2.ada beberapa tempat AYCE yg asik untuk bdua sama cewek lo,lg juga mo 3-5 jam disitu ga kena cas.
    3.filosofinya,AYCE ;’makan ko mikir,makan ya ngunyah’ gtu aja ko repot(gaya gusdur)

  • bintil

    tips makan ga rugi di hartz chiken buffet.
    hindari sarapan pagi klo perlu puasa dr malam sebelumnya. huahaha niat banget.
    1 ekor ayam tewas harganya 25rb – 30rb, hartz chicken buffet tmnya skitar 60rb. berarti.. minimal target hrs makan sekitar 8 potong paha/dada ayam.
    hindari makan nasi atau mashed potato krn akan menyebabkan perut cpet kenyang sblm pertempuran selesai. hindari softdrink , minum air putih saja dulu atau jgn minum dulu sblm ritual makan selesay.
    hindari makanan yg ga penting! prasmanan is not the target. krn menunya kadang rasanya jg abalabal.
    nah setelah ritual makan ayam selesai. baru dehhhhh mo makan salad kek mo makan kue or ice cream terserah.

  • DEDE

    smuanya tidak ada yang gratis!!!
    mau makan ya bayar. minimal utang lahhh!!!

  • garlique

    Kalau gw dan gwng gw yang makan, pasti restorannya yang dijamin rugi… Apalagi kalau ngajak Takeru “Prince” Kobayashi. Pasti deh restonya langsung tutup setelah kita orang makan… Hwahahaha

  • mira

    ga mislead jg sih, tergantung msg2 orglah, kalo makannya byk y ga bakal rugi, gw cw, tp gw bisa mkn banyaaak! slurp! hehe.. ga usa malu, napain malu, toh gw da bayar ini, soal waktu kan ada resto bufet yg ga ngasi batas wktu..

  • ina

    aku sih suka banget sama all u can eat restaurant. Bagiku itu tidak misleading kok, tergantung dari kitanya sendiri, kalau memang bisa makan banyak ya bagus-lah disitu. Lagipula wajar saja if ada yang makan dikit vs banyak. Toh seperti subsidi silang. Kita hidup tidak seharusnya membayar apa yang mau kita dapat, if kita berlebih sewajarnya bayar tax,etc lebih-kan? So if makannya dikit di all u can eat, ya itu salah sendiri. Oh iya, untuk traktir keluarga,temen juga ok coz at least bisa tahu budgetnya berapa, apalagi kalau all u can eat-nya dah termasuk minum.

  • Sebaliknya gue pikir hidup itu all you can eat restaurant!
    Our potential is GREAT!
    Dan untuk mengoptimalkan itu kita perlu untuk berani, tidak malu-malu, dan mengatur waktu dengan baik…
    (kalo ada tanggapan email gue yah, skalian kenalan… gue ikut friendster loh)

  • arsyad

    you can’t always get what you wanted …(rolling stones)
    even when you pay.
    tapi ada yang lebih seru
    dalam kuantitas mungkin kalah dari “A U C E” tapi lebih memuaskan yaitu all you wanted to eat( garing nya! bodo amat ah ga ‘da k’jaan lain euy) you can eat all you can , tapi kayanya ane lebih prefer makan yang ane mau makan aja

  • arsyad

    you can’t always get what you wanted …
    even when you pay.
    tapi ada yang lebih seru
    dalam kuantitas mungkin kalah dari “A U C E” tapi lebih memuaskan yaitu all you wanted to eat( garing nya! bodo amat ah ga ‘da k’jaan lain euy)

  • wikan

    ada cerita, dulu jaman Nabi Sulaiman … Sang Nabi kan terkenal kaya raya dan dermawan, terus minta kepada Tuhan untuk diperbolehkan menjamu seluruh mahluk ciptaan Tuhan, dan Tuhan pun mengijinkan. Tibalah hari yang dinanti-nantikan, Nabi Sulaiman mempersiapkan tumpukan makanan untuk dibagikan ke mahluk-mahluk Allah. Belum sempat dibagikan, eh muncul seekor ikan kecil mungil yang menghadap Nabi Sulaiman dan meminta jatah pertama. Ternyata si ikan yang kecil mungil itu menghabiskan seluruh makanan yang sudah disiapkan oleh Nabi Sulaiman berhari-hari, yang direncanakan buat seluruh mahluk Allah. Moral of the story: coba ikan kayak gitu masih ada ya … bener2 abis tuh restoran “All you can eat” πŸ™‚

  • opie

    coba bawa “sumanto” ke restoran model gitu.dijamin sampe ke pelayan2nya dimakan abis.HE…He…..Peace Man :>

  • Rasanya kalo kita udah memilih utk makan di resto all you can eat, berarti udah tau risikonya dong, kalo nggak kekenyangan karena makan berkali-kali (gak mau rugi), atau makannya cuma dikit tapi bayarnya kemahalan…
    Aku sih kayaknya akan nerapin prinsip gak mau rugi, udah bayar mahal, sesuaikan dong dengan filosofi all you can eat itu…malu sih nomor seribu, heheheh…

  • All you can eat ituh artinya postingannya dobel yah….atu monitor gw yg dobel πŸ˜€

  • kang enda mah gimana, namanya juga promosi dan trik penjualan, it’s called capitalism ;p you can’t eat possibly everything, but ‘they’ eat all the profit, for sure… ;p

  • hmm gw akui kalo “all you can eat” itu strategi marketing yang bagus, tapi merugikan konsumen karena biasanya resto beginian menunya ga enak :((

  • babe, as oprah once said it. You CAN have everything, but you CAN’T have everything at once *wink* she’s right and you are too, that’s why I don’t like watchin’ sinetron bidadari *lol*

  • jupiter

    hartz chicken buffet!!! all you can eat!!! nyam nyam nyam

  • Lacsar

    ayo kita nyanyi lagu Rush – Something For Nothing sama-sama pak…

    You don’t get something for nothing
    You can’t have freedom for free
    You won’t get wise
    With the sleep still in your eyes
    No matter what your dreams might be

    What you own is your own kingdom
    What you do is your own glory
    What you love is your own power
    What you live is your own story
    In your head is the answer
    Let it guide you along
    Let your heart be the anchor
    And the beat of your own song!

    kalo saya mah rugi makan all you can eat, volume perut saya terbatas soalnya. Tapi saya pake GPRS matrix yg flat 25ribu sebulan, 24 jam sehari, all you can browse πŸ™‚

  • tapi kalo ditraktir di allucaneat mah gue seneng2 aja…

  • Aku pikir ?All you can eat? hanya sebuah trik pasar!
    Memang benar, untuk setiap keinginan harus ada yg kita lakukan. Dan itu perlu perjuangan!

  • Hihihi, dia kayanya terinspirasi sama mbak2 yang bete gara2 dimintain garpu sama piso terus ama kita ya..
    hehehe…

  • ah ga malu ah nda bolak balik ngambil makanan… hehehehe… saya tidak ada masalah dengan makan banyak dan tanpa malu πŸ˜‰

  • kamu akan berhenti makan, apalagi kalo kamu cewek.–> feminis radikal bakal mencak2 nih. hihihih.

    All you can eat, Terus Terang Philips Terang Terus, Go To Hell With Your Aid, dan semua slogan2, jargon2, iklan2 memang tidak menggambarkan hidup yang sebenarnya, ya? mungkin karena nyatanya hidup itu susah, jadi orang2 seneng2 aja dibikin lupa sejenak ama slogan2 dkk tsb. Can you eat all? Could I beeee more eating (gaya Chandler juga)? wuih. semuanya mengabdi untuk akselerasi perputaran uang, padahal, life is not a buffet!

  • ipan

    all you can eat bakalan rugi, kalo yang dateng orang-orang kayak saya.
    peduli amat diliatin orang. yang penting makan πŸ™‚

  • gak semua all u can eat elo mesti bayar..

    ada kadang kadang.. kita ditraktir….

    HUEUUUHUE πŸ˜›

  • mengenai batasan malu: lho.. wait wait wait? bukannya kita udah secara sadar membuat keputusan untuk dateng ke resto yang ‘all you can eat’? dengan artian, kita harusnya udah sadar akan semua resiko dan keuntungan yang kita dapetin dgn masalah malu. klo udah gitu sih, kita tinggal berasumsi aja kalo semua orang yang ada disana juga menyerahkan dirinya pada kesadaran bahwa mereka ada di resto ‘all you can eat’ dgn semua resiko dan keuntungan yang mereka akan dapetin (dlm urusan malu). kalo udah gitu, seharusnya si manajer atau para karyawan resto-nya tidak berhak untuk memelototin kita kalo ngambil bener2 dengan porsi ‘all you can eat’ dong. iya gk? hehehhehe..
    jadi in that sense, kita enggak seharusnya merasa malu, karena itu hak kita kan? ‘lha kita udah mbayar kok..’
    gimana?
    terus ttg restoran all you can eat-nya sendiri, mungkin cara itu bisa digunakan untuk mencoba segala variety menu yg disediakan tapi dalam porsi yg lebih kecil, ngerasain a little bit of everything.
    tapi, hmm…klo hidup menawarkan semuanya in a little bit of everything, would you still take it?

  • Iyah! all you can eat gak selalu bikin happy (hehe emangnya ngeganja..) gara gue selalu diplototin sama manager’managernya kalo ngambilnya udah gak pake urat malu dan urat kenyang. Hajar ‘bleh aja semuanya.. Memang kalo mo itung’itung soal ke’ekonomis’an yah ‘mbok diliat dulu siapa yang makan.. kalo jaminan rugi mah mending makan di warteg, kenyangnya sama, harganya 1/100nya (maklum.. anak kos..). Tapi kalo di theme’park kayak ancol dsb gimana yah? ‘Filosofi’nya sama.. all you can play.. tapi ada bates waktu bukanya juga, ada bates kita capeknya juga, and so’on and so’on.. hehehe

  • bahasa kerennya : “paying my dues…”
    btw, kalo ke resto yg all u can eat gw pasti carinya makanan yg biasanya paling mahal diluar…terus makannya berulang-ulang
    *konsep ga mo rugi :)*

  • an

    sistem flat rate begini kayanya bukan cuman di restoran. pernah tau kan toserba yg serba lima ribu. kaos kaki lima ribu. panci lima ribu. gantungan baju lima ribu. ini lebih aneh lagi. apa mereka gak tau bahwa bank indonesia juga mengeluarkan uang pecahan 10 ribu, 20 ribu dan 50 ribu ?
    hebatnya, sistem ini juga ditiru oleh pedagang asongan di bus2 waktu saya ke jakarta atau ke luar kota lah. begitu naik, bagi2 bungkusan. semua harganya sama, seribu rupiah. tapi bendanya beda2, kadang gak matching. pulpen, batere, notes kecil = 1000. notes kecil, permen, jepit rambut = 1000. bagaimana kalo kita butuh satu benda doang, dan gak butuh yg dua lagi. jatuhnya lebih mahal krn kita membuang uang untuk 2 benda tidak dibutuhkan lainnya.
    makanya saya setuju kalo ini tidak efisien. tapi di sisi jualan, inilah yg namanya trik. sekali bayar, makan sepuasnya. harga cuman 5000, seolah2 harga itu yg paling mahal di toko itu. meskipun 5000, tp ternyata panci cuman dapet gagangnya gagangnya gimana juga ? seribu dapet 3 barang. atau harga hanya 4 ribu 9 ratus 9 puluh 9. yg pertama keinget ya 4 ribunya, meskipun ditambah 1 rupiah sama dengan 5 ribu. atau harga hanya Rp.4545. ditambah pajak 10 persen Rp.454, jatuhnya ya 5 ribu lagi.
    semua trik ini memainkan persepsi konsumen. kalo konseumennya cerdas, ya akan berpikir kayak kang enda. πŸ™‚

  • bahkan terkadang cinta orang tua oun ada harganya. kalo gak naik kelas marah. kalo ngedrugs, marah. (ok, i do admit, they’re right) kalo gak ranking satu, gak dapet sepedah.
    tapi semua itu gak salah juga ya?

  • mungkin as simple as cost benefit ratio aja:(1) tau brapa banyak kemampuan kamu makan, (2) totalin harganya kalo beli satuan, (3) bandingin sama flat ratenya all u can eat, (4) pilih yang lebih murah and menguntungkan…kalo implikasinya untuk hidup? hmm…ada beberapa hal dalam hidup yang barangkali bisa diefisienkan (ini kuncinya: bukan ‘all’ tapi ‘efisien’), kaya masuk universitas bagus biar nantinya dapet kerja gampang (walau jelas mesti kerja lebih keras ato bayar lebih mahal di awal), yang jelas ujungnya ya itu: itung2an dan pilihan (manusia = homo economicus).

  • roi

    tapi kawan….di sini adalah Indonesia. Dimana semuanya yang berlaku disini adalah anomali dari negara-negara laen…
    btw, kayanya di sini juga lagi mulai menjamur tuh sistim all you can eat, but you must cook it first..:) biasanya restoran jepang yang kaya gituan

  • Hehehe… kalo diitung2 kemampuan makan gue di all you can eat gak beda dengan beli paketan fast food, padahal bayarnya dua kali lipat :p

    Dasar emang bisa aja tuh orang jualan.

  • Disini hidup sepertinya malah jadi : “You can get all you can pay”.
    Masalahnya tinggal menambah kemampuan untuk “pay”, atau kalo cape, mengendalikan dan mengurangi apa aja yg pengen di “get”.

  • *kedua, tta !*
    kalau hidup all u can eat restoran… nggak ada akan ada seni-nya berjuang dan nggak butuh nilai yg didapat dari perjuangan itu…

  • yup; hidup bukanlah all u can eat restoran. keep fighting!… πŸ˜€