Choice or Necessity

Waktu sudah berjalan beberapa bulan sejak George W. Bush, presiden US, memutuskan buat menyerang Irak dan menurunkan Saddam Hussein. Masalahnya sekarang sementara makin banyak tentara US yang mati di Irak dan ditambah lagi dengan biaya pembangunan yang mahal, US$ 87 BILYUN, ternyata alasan utama US melakukan preemptive strike yaitu bahwa Saddam memiliki Weapon of Mass Destruction (WMD) ternyata tidak terbukti.
Irak sudah disisir oleh tentara US dan oleh para penyeledik tapi WMD tidak ditemukan dimanapun! Publik US, terutama dari kalangan liberal/demokrat mulai nyaring meneriakan label PEMBOHONG pada Bush, karena dengan alasan apapun seorang presiden tidak bisa membenarkan tindakannya dengan berbohong.
Seorang kolumnis NYT, Thomas Friedman mengatakan bahwa Bush bersalah karena telah berbohong, tapi ia juga menyatakan bahwa perang untuk menurunkan Saddam Hussein adalah war of choice dan memang bukanlah war of necessity. Suatu pilihan dan bukan suatu kebutuhan, dan seharusnya Bush menjelaskan itu pada publiknya dan bukannya berbohong menjadikan perang tersebut sesuatu yang harus, yg dibutuhkan, suatu necessity.
Friedman punya alasannya sendiri ketika ia mengatakan bahwa US perlu memilih menurunkan Saddam, dimatanya seorang diktator seperti Saddam harus dilenyapkan bila kita mau membangun sebuah dunia yang aman. Disisi lain hal ini membuat gue memikirkan masalah choice dan necessity tadi.
Sering dalam hidup kita sehari-hari kita menemukan suatu hal yang kita pilih untuk lakukan karena alasan yg sudah kita pikirkan dengan baik, dan berapa sering pula kita memilih sesuatu karena harus, karena necessity, karena tidak ada pilihan lain.
Misalnya Sabtu kemaren adalah kali ke empat gue ke dokter gigi dalam rangka ngebenerin gigi gue. Sang dokter menyarankan bahwa gigi geraham ujung kiri gue atas dan bawah (wisdom tooth) perlu dicabut. Padahal gue ga merasa ada keluhan apa-apa di gigi itu dan karena belum perlu maka gue memilih untuk membiarkan aja gigi tersebut. Dalam hal ini gue memilih menunggu sampai gigi itu harus dicabut, sampai pencabutan gigi tersebut menjadi act of necessity. Gue ga mau memilih (act of choice) melakukannya sekarang, karena dicabut gigi itu sakit bow! 🙂
Contoh lain tentang act of necessity dan act of choice ini misalnya di pagi hari kamu mau berangkat ngantor atau kuliah. Kamu belum pengen kebelakangan buat boker karena belum terasa tanda-tanda apa-apa. Tapi kamu tau bahwa setiap pagi kamu biasanya ke belakang. Nah daripada nanti dijalan tau-tau terasa hal-hal aneh, maka kamu punya pilihan untuk boker sekarang sebisa mungkin (act of choice) padahal belum perlu dan belum pengen. Karena kamu tidak ingin membiarkan hal ini menjadi act of necessity karena jangan2x saat harus boker, kamu lagi di bus atau lagi di jalan yg susah mencari toilet misalnya yg hasilnya jadi berabe. Hehehe.
Di keseharian dan di hidup kita, tentu kita sering mengalami hal ini. Memilih melakukan sesuatu sekarang atau menundanya hingga kita tidak punya pilihan lain. Kadang kita berbohong (seperti Bush) supaya kita punya pembenaran akan tindakan kita, berpura-pura bahwa kita tidak punya pilihan lain.
Atau kadang kita tidak ingin mengambil suatu pilihan, tidak ingin memutuskan sesuatu dan membiarkannya hingga kita tidak punya pilihan lain (atau seperti tidak punya pilihan lain).
“Saya harus pilih baju yang coklat atau yang hitam, saya pilih baju yang coklat deh akhirnya karena yang hitam ternyata sudah dibeli orang …”
“Saya jadian sama si Abang atau si Akang ya? Oh sama si Akang deh karena ternyata si Abang hu hu, sudah duluan jadian sama orang lain …”
Dalam banyak hal act of choice seringkali adalah ide yang bagus, karena kita melakukan pilihan secara rasional saat semua option masih tersedia, tapi dalam realitanya sering kali kita susah melakukan pilihan tersebut karena banyak hal.
Misalnya, kita tidak punya informasi yang dibutuhkan informasi, tidak mau ambil resiko, atau pun bayaran yg terlalu mahal untuk mengambil suatu pilihan. Kita bisa menunggu atau kita bisa memilih melakukannya sekarang.
Jangan menunggu terlalu lama karena suatu saat kita akan kehilangan kesempatan kita untuk memilih dan ini bisa jadi sesuatu yang buruk yang akan kamu sesali.
Saat act of choice sudah berubah menjadi keharusan (act of necessity), saat itulah, tanpa pilihan lain, kita terpaksa mengambil pilihan yang tersedia.
Boker dicelana.