March 2010 Archives

Berkah Dunia Maya

| | Comments (4) | TrackBacks (0)
20100326_103234_ilustrasi-national2.jpg

Untuk pertama kalinya, jaringan bytes dan kode tidak lagi dingin dan logikal, membawa angka 1 dan 0, tapi juga membawa pikiran, perasaan dan emosi. Mentransfer bukan saja ilmu dan ide tapi juga budaya dan kebijaksanaan.

Internet mempersatukan dan juga menghargai perbedaan. Di Internet tidak ada yang lebih tinggi daripada yang lain. Tidak penting siapa namamu dan dari mana, tapi apa yang sudah kamu kontribusikan pada komunitas dan ide yang kamu lontarkan yang lebih penting.

Untuk pertama kalinya sejak manusia mengenal Internet kita menggunakannya untuk kebutuhan yang lebih manusiawi. Internet bukan sebuah saluran lain saja setelah cetakan, radio dan televisi. Internet juga bukan sekedar pipa yang bisa diisi lagu dan video, mp3 dan unduhan torrent, tapi juga sebuah kesempatan untuk berpartisipasi dalam sebuah percakapan global.

Sebuah undangan untuk proaktif, untuk menentukan arah kehidupan kita sendiri, untuk membuka pikiran dan berinteraksi dengan manusia dan kepercayaan lain yang ada di dunia ini. Yang mungkin berbeda dengan yang kita percayai, yang mungkin berbeda dengan yang ada di sekitar kita.

Sebuah ajakan untuk berdialog, bertukar pendapat, bertemu dengan teman-teman lama dan berkata hai. Bertukar foto bayi dan foto culun saat kita masih SMA. Dan sejak tahun 1997 itulah, dimulai dengan kata "weblog" lahirlah Internet yang baru yang kita kenal berkembang hingga sekarang, orang marketing menyebutnya Web 2.0. Kita menyebutnya "social web".


Tulisan lengkap "Berkah Dunia Maya" oleh yours trully di Majalah Rolling Stone Indonesia, edisi April 2010 tentang Internet, Social Web, Blog, Kebebasan Berekspresi dan RPM Konten dapat dibaca lengkap di: "Berkah Dunia Maya", Rolling Stone Indonesia April 2010


Tentang Rivalry

| | Comments (3) | TrackBacks (0)
proton-post2.jpgPiring di rak hanya berdenting dengan piring terdekatnya - Nenek Radio Ardiwinata

Nenek almarhum saya dari ibu, yang saya kutip diatas, bukan orang yang sekolahnya tinggi, tapi beliau cukup bijaksana untuk mengetahui bahwa perselisihan dan persaingan, atau rivalry, sering terjadi justru pada orang yang punya hubungan dekat.

Dalam hubungannya dengan nenek, yang dia maksud biasanya adalah diantara anak-anaknya yang ada 12 orang (ibu saya no 10).

Rivalry karenanya sering terjadi antara adik-kakak, sepupu, sehabat dekat, tetangga.

Rivalry bukan saja persaingan karena sekedar bersaing, tapi juga karena banyak persamaan.

Dalam skala yang lebih besar misalnya, rivalry antara SMA 3 dan SMA 5, antar jurusan, antar universitas, antara Yogya dan Solo.

Dan kemudian juga antara Malaysia dan Indonesia?

We share too many things sampai-sampai kita males kalau dibandingkan atau disama-samain.

Rivalry antara Malaysia dan Indonesia ini juga kemudian berbuntut panjang, dari soal "curi-mencuri" hasil kebudayaan dari Batik, lagu Rasa Sayange dll, indon sampai isu pelecehan TKI di Malaysia.

Kita bilang Malaysia kampungan, Malaysia bilang kita miskin.  

Menkominfo Tifatul Sembiring, kita harus belajar dari Malaysia tentang Internet.

Pak Tif lupa Indonesia punya Pesta Blogger yang selalu dibuka oleh Mentri, dari Menkominfo Pak Nuh, Menristek hingga Menkominfo Pak Tif sendiri tahun 2009.

Tanya ke Pemerintah Malaysia apa ada dukungan Kerajaannya pada Blogger di sana?

Tapi kita juga jangan lupa Malaysia punya Multimedia Super Corridor, sebuah National ICT Initiatives, apa pemerintah Indonesia pernah punya program seperti itu?

Malaysia bilang kita Indon, kita bilang Malaysia kuno.

Siapa yang lebih maju, apa ukurannya?

Iri tapi benci, rindu tapi cinta.


Rivalry bisa jadi sesuatu yang sehat, keep us in check, give us fighting spirit. Tapi jadi jelek kalau kemudian jadi kebencian.

Produk-produk Malaysia misalnya, Pom Bensin Petronas di Jakarta, masih saja sepi pengunjung.

Proton, mobil buatan Malaysia, bukan saja masih harus bersaing dengan merek2x mobil yang sudah merajai pasaran, dari sisi teknologi, desain, harga, tapi juga harus melawan stigma Malaysia itu sendiri.

Katakanlah dengan kualitas, harga, support yang sama dengan produk mobil dari negri lain, akankah kamu memilih Proton buat jadi kendaraan sehari-hari kamu?

Apakah kamu akan bangga? Apakah kamu akan malu?

Kalau bangga kenapa? Kalau malu kenapa?

Padahal ada sebuah sudut percakapan yang menarik buat Proton misalnya, untuk angkat bicara di Indonesia.

Khususnya karena keberadaan mereka yang berasal dari Malaysia itu sendiri.


Using the weakness as strentgh, if you can play it right.

Komunikasi Proton perlu diubah sebagai mobil yang paling mengerti orang Indonesia, yang paling depan mendukung Indonesia, yang paling tekun menawarkan persahabatan dengan Indonesia.

Apakah itu dari sisi teknologinya, desainnya, sumber daya manusianya dan sikapnya. Hingga pada satu titik Proton bisa bilang: Proton, kami Indonesia juga!

Hehehe.

Playing the nationalism card seems working for T-Shirt sales, mari kita lihat apakah juga bekerja untuk jualan mobil :D

Proton bahkan bisa menjadi duta Malaysia di Indonesia dan menjadi jembatan bagi orang Indonesia dan Malaysia.

Teman-teman seperti Unspun, orang Malaysia yang sudah berpuluh tahun tinggal di Indonesia dan Fairy Mahdzan, MyIndo.com, orang Malaysia yang ngefans berat terhadap all things Indonesia bisa jadi ambassador dan orang yang diajak ngobrol duluan.

The brand will be bigger than just brand, it won't be about car, but about an Idea of shared cultures, common tribes.

Hingga suatu hari, orang Indonesia juga bisa bangga naik dan punya Proton.

Hingga suatu masa, kita juga bisa bilang, Proton mobilnya Indonesia juga.


Rivalry ga harus selalu jadi masalah, tapi juga bisa jadi berkah.

Nenek saya tau itu, dan kalau almarhumah masih hidup, mungkin saya kebayang dia masih memberikan nasihat yang sama, sambil naik Proton. :D

Coming Home

| | Comments (1) | TrackBacks (0)
young-obama.jpgWe are the ones we have been waiting for. -Barack Obama


This is me. Barack Obama, Presiden Amerika Serikat. Orang no 1 di negara paling dominan di planet ini saat ini.

Saya sibuk setiap harinya. Banyak urusan yang harus saya selesaikan. Dari masalah ekonomi hingga jaminan kesehatan. Dari masalah perusahaan pada bangkrut sampai perdamaian dunia.

Entah kenapa, rupanya saya harus ikut ngurusin semua itu. Mungkin karena kita perlu tempat mengadu, mungkin karena manusia perlu bersatu.

Jadi di sinilah saya, ngurusin semua itu.

Saya, Barack Obama, ayah saya Kenya, ibu saya Kansas. Kakek nenek saya dari Hawai.

Waktu kecil, saya tinggal di Jakarta, Indonesia. Di Menteng tepatnya.

Jakarta cuma jadi bayangan buat saya. Jadi setting background di foto-foto yang saya masih suka lihat, ketika saya kangen dengan ibu saya.

Tidak banyak yang saya ingat tentang Jakarta, umur saya 6 tahun waktu itu. Ada rumah, ada sekolah, ada kehidupan dan ada ibu. Tempat saya bertanya.

Saya kangen ibu saya, kangen untuk dipeluk dan ditenangkan waktu saya bertanya padanya, "Ma, kenapa saya berbeda dengan anak-anak lain di sekolah?"

Ibu saya bilang karena kamu istimewa, dan dia pandang saya, menguatkan saya.

Saya tidak sedih padahal, saya cuma ingin tahu, "Ma, dimana ayah kandung saya?",  Saya suka dengan Papa Lolo Soetoro dan sayang dengan adik saya Maya Soetoro, tapi saya ingin tahu juga tentang ayah. Hanya ingin tahu.

Dan ibu akan bilang, suatu saat kamu akan tahu, suatu saat kamu akan mengerti.

Dan saya akan tersenyum, karena ibu juga tersenyum. Suatu saat saya akan mengerti dan saya percaya. Saya kan masih anak-anak waktu itu.


Empat tahun lamanya saya tinggal di Jakarta. Sejak saya pergi, tidak banyak yang saya tahu lagi tentang Indonesia.

Saya masih bisa bahasanya. Sedikit-sedikit. Saya masih hapal namanya. Dan dalam banyak kesempatan, saya masih sering teringat akan kehidupan kami saat itu.

Dan itulah dia. Kehidupan.

Kehidupan yang membawa saya ada di posisi ini sekarang. Kehidupan juga yang membawa ibu dulu tinggal di Jakarta.

Dan kini, kehidupan juga yang akan membawa saya kembali di Jakarta lagi.

Saya akan datang dengan pengawalan, dengan jabatan, dengan wartawan. Akan ada pidato, janji dan sensasi.

Akan banyak negosiasi, kepentingan dan seremoni. Itu pasti.

Tapi mudah-mudahan juga. Akan ada kesempatan untuk saya melihat lagi Jakarta. Untuk melihat lagi kehidupan kami yang dulu.

Untuk jalan di tempat saya berjalan dan berlari dulu. Untuk berkenalan dengan teman yang saya pernah kenal dulu.

Untuk mencium, bau yang pernah saya hirup dulu. Untuk makan, makanan yang pernah saya rasakan dulu.

Karena kali ini saya tidak hanya datang.

Kali ini juga. Saya.

Pulang.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

makan-apa-obama.jpgBarack Obama, Presiden US ke 44 dijadwalkan untuk berkunjung ke Jakarta, Indonesia tanggal 20-22 Maret 2010.

Ikut terus info terbaru tentang kehadiran beliau dan selama melakukan kunjungan bisa didapat dengan menjadi Fans di Facebook Page US Embassy Jakarta

Berikan sedikit rasa tentang "kehidupan" yang dulu Barack pernah rasakan, pilihkan makanan Indonesia apa yang perlu dia coba saat dia di Jakarta dengan memberikan vote di sini: Sarankan makanan untuk dicoba Presiden Obama!

Klik di sini untuk bergabung di Facebook Group Indonesia for Obama

Tentang Popularitas

| | Comments (5) | TrackBacks (0)
"Popular opinion is the greatest lie in the world" kata Thomas Carlyle, sejarawan Inggris yang hidup di abad ke 19.

Datangnya dari orang kebanyakan, orang-orang biasa, yang kita lihat sehari-hari, tapi tidak pernah kita sentuh.

Karena siapa yang akan mendengar nasihat dari sang office boy saat kita bingung mau nonton special show yang mana di JavaJazzFest minggu ini, misalnya?

Atau pendapat dari sang tukang parkir tentang produk mobil paling canggih atau paling ramah lingkungan?

Opini populer karenanya adalah sebuah produk massal, seperti mie instant. Cepat saji, dengan rasa standar dan harga murah. Dan tidak baik jika dikonsumsi terus menerus.


Opini populer juga tidak peduli tentang mana yang benar dan mana yang betul. Opini populer memuja kesesaatan, simbol bala, dan air mata.

Keadilannya adalah keadilan yang populer, pemihakannya adalah pada insting kita yang paling kuno.

Itu kenapa sang jagoan bisa melanggar hukum dan James Bond bisa membunuh dengan izin.

Itu juga kenapa penjahat pasti buruk rupa dan sang putri pasti berakhir dengan sang pangeran di akhir cerita.

Karena sesaat, maka paketnya harus lengkap dan menghibur. Penampilan lebih penting daripada isi. Bungkus lebih menarik daripada substansi.

Karena sesaat. Maka kedalaman hanya buang-buang waktu. Durasinya hanya cukup mengisi ruang yang dangkal, tapi tetap full color, bahkan kalau bisa 3D.


Tapi begitu rendahkah opini populer? Bukankah popularitas berarti disukai oleh orang banyak? Dan apa yang disukai oleh orang banyak tidak bisa jelek.

Dan karena tidak bisa jelek, maka berarti BENAR (is right). Dan karena benar maka kita mencampurbaurkannya dengan BETUL (is true).

Dan oh begitu menyenangkan ketika kita populer. Menjadi populer membukakan pintu lebih banyak. Menjadi populer menghemat waktu untuk tidak menerangkan berulang kali.

Menjadi populer memberikan kebahagiaan bagi orang banyak. Membuat orang banyak menjadi lebih baik. Membuat orang banyak hidup DENGAN lebih baik. Lebih SUUPPEERRR.

ririn-dumin-page.jpgRirin Dumin misalnya. Ririn ingin jadi bintang. Karena menjadi bintang berarti menjadi populer.

Untuk menjadi bintang Ririn ngeblog dan memasang video-video amatir yang ia buat, memohon (dan bercerita) tentang keinginannya menjadi seorang bintang

Ririn seperti anak muda jaman sekarang, tidak pusing keliling kota atau ikut manggung di SMA-SMA

Ririn menggunakan Facebook dan Twitter untuk berpromosi. Kita bisa menjadi temannya atau fans-nya.

Kita bisa melihatnya dalam video minta di-casting atau saat Ririn menunjukkannya kebolehan ber-acting.

Tapi.

Justru itu.

Karena kemudian.

Begitu salahkah menjadi populer? Begitu salahkah kemudian ketika kita INGIN populer?

Begitu salahkah ketika anak-anak kita, lahir, menangis dan ingin menjadi peserta Indonesian Idol?

Hidup ini singkat. Jalani hidup dengan maksimal. Eksis, narsis, be populer.

Karena rupanya, menurut opini populer, menjadi populer juga berarti menjadi dicintai.

Karena rupanya, menjadi dicintai, adalah cita-cita kita semua, terutama cita-citanya Ririn Dumin.


Enda Nasution's Facebook profile
TEDIndiaFellows 2009

Twitter Visitors


About this Archive

This page is an archive of entries from March 2010 listed from newest to oldest.

January 2010 is the previous archive.

June 2010 is the next archive.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Barack Obama Logo

Join My Community at MyBloglog!

View blog authority

Powered by Movable Type 4.01




Pesta Blogger 2010

I'm attending Pesta Blogger 2010


Global Voices 2010



KoinKeadilan.com Prita



Pesta Blogger 2009



Blog Action Day 2009



Justice for Prita!



100 Days Obama



Support Wikipedia

Wikipedia Affiliate Button