January 2007 Archives
Hari senin kemarin jam 18.00 sudah mendarat lagi di Bangkok, setelah sekitar 10 hari berada di Indonesia.
Perjalanan dimulai dari Bangkok, menginap semalam di Kuala Lumpur disambung besoknya langsung menuju Bandung menggunakan Air Asia, everybody can fly! (but sometimes late hehe).
Sabtunya menghadiri pernikahan adiknya Nita, Rezki dan Didit di Jakarta (gue bertugas sebagai utusan keluarga lo hehe)
Setelah 2 malam di Jakarta, sempet ketemuan dengan beberapa temen-temen Tukang Lenong dan ID-GMAIL, juga Indowpm, kemudian menetap deh di Bandung.
Sempet ketemuan dengan para junker ID-GMAIL Bandung lagi dua kali, ketemu dengan Ibu Intan Alamsyah.net yang baru melahirkan dan juga Yanti-nya JalanKenangan.net
Yang terus tgl 22 kemarin kembali ke Bangkok, via Kuala Lumpur (LCCT) lagi.
Alhamdulillah semua lancar, Gaga dan kita berdua sehat-sehat selama di Indonesia, tidak ada aral serius melintang kecuali stroller-nya Gaga ketinggalan di KL dan ga ketemu lagi.
Mudah-mudahan janji mau pulang tahun ini ke Indonesia bisa tecapai secepatnya, biar ketemu dan kumpul lagi sama temen-temen dan keluarga di Bandung, terutama Nin, Neti, Aki, Atok, Om Iyam, Om Farid, Om Adi, Om Kiki, Tante Didit, Uwa Jono + Uwa Mila, Teh Nia + Teh Ina.
Flickr set liburan ini disini: Liburan Indonesia 2007

Apakah kita memilih bagaimana kita hidup atau hidup yang sudah memilih kita?
Ada yang bilang bahwa hidup adalah jumlah total dari semua pilihan yang kita pilih. Apakah itu benar atau cuma ilusi?
Apa yang coba gue tulis adalah tentu tentang Free Will. Konsep dimana katanya manusia dianugrahi kebebasan untuk memilih, dan dari situ pula, katanya, turun konsep tentang moral dan tanggung jawab.
Karena orang yang bisa memilih harus bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan pilihannya.
Orang yang memilih dengan sadar untuk melakukan kejahatan atau sebuah usaha kriminal (seperti pembunuhan terencana) dianggap lebih buruk daripada kejahatan yang dilakukan karena terpaksa atau tidak memiliki pilihan lain (seperti mebunuh karena membela diri, atau, well.. karena sakit jiwa).
Free Will karena itu pada dasarnya adalah kombinasi antara kemampuan berpikir dan kemampuan untuk mengontrol diri. Suatu kombinasi kemampuan yang dianugrahkan pada manusia saja dan tidak pada mahluk hidup lain.
Binatang, dari anjing, kucing, hingga jerapah dan gajah (berima!) tidak memiliki Free Will, semua tindak tanduk, perilaku yang mereka lakukan hanya dipandu oleh insting dan naluri alami mereka. Berhadapan dengan makanan atau kehendak seksual maka mereka tidak bisa memilih, tidak dapat berpikir dan mengendalikan diri (kecuali di film animasi) karena itu tidak dapat kita minta tanggung jawabnya atas tindakan yang mereka lakukan.
Manusia berbeda dengan binatang (katanya), manusia memiliki free will, dapat berpikir dan mengendalikan diri, dan kemudian memilih, karena itu harus bertanggung jawab pada apa yang mereka perbuat dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, biasanya di hari akhir.
Dalam tradisi filosofi barat, free will, akan lebih banyak kamu temukan. Dari tradisi ini pula diturunkan banyak pemikiran dan diskusi seperti determinisme dan individualisme. Sebaliknya dalam tradisi filosofi timur dengung priwil ini akan lebih jarang terbaca. Karena beberapa sebab yang ga jelas, tidak ada bentuk keakuan dalam filosofi timur. Manusia dan Tuhan dan Alam merupakan sebuah kesatuan. The Tao of Silent, karangan Raymond Smullyan mengkontraskan dengan cantik Free Will dengan konsep ketimuran dalam bentuk dialog antara Tuhan dan Manusia. Dalam sebuah kesempatan manusia dalam dialog itu bertanya, “kalo memang aku diberi anugrah kebebasan untuk memilih maka bolehkan aku memilih untuk menolak kebebasan itu?”. Dan seterusnya.
Tumbuh besar sebagai orang Islam, gue juga ga pernah mendengar tentang free will dalam pemikiran Islam (elunya aja itu nda hehe), tapi rupanya pemikiran yang nyambung-nyambung ke Theology dan Theodecy ini juga hadir (pastinya) dalam sejarah Islam
Di tahap ini, maka wajar jika kemudian timbul pertanyaan, apakah benar kita memiliki Free Will? Artikel di NYTimes.com kemarin dengan judul Free Will: Now You Have It, Now You Don’t mengabarkan bahwa berdasarkan banyak penelitian physicists, neuroscientists, computer scientists dan cognitive scientist yang hasilnya berbeda dengan apa yang kita percayai selama ini.
Manusia rupanya dikendalikan lebih banyak oleh alam bawah sadar daripada alam atas sadarnya. Dalam satu percobaan ditemukan bahwa terdapat selang setengah detik dari reaksi otak dan tindakan. Jadi 0.5 detik sebelum kita memilih mengangguk misalnya, otak kita sudah tahu duluan bahwa kita akan mengangguk.
Free Will?
Apakah mungkin setiap tindakan yang kita lakukan sekarang sudah ditentukan, mungkin bukan oleh takdir, tapi oleh sejarah genetis dan pengkondisian sosial disekeliling kita?
Lupakan mereka yang kecanduan (rokok, narkotika, seks, internet dll), karena toh mereka sudah kehilangan free will untuk hal yang mana mereka candui.
Tapi selain itu, bagaimana dengan apa yang kita inginkan, kita impikan, kita harapkan? Mungkinkan itu hasil dari kampanye marketing sebuah biro iklan yang handal dan pesan moral yang diturunkan dari puluhan generasi?
Apakah kita memilih bagaimana kita hidup atau hidup yang sudah memilih kita?
Dan kalo kita tidak memilih apa adanya diri kita sekarang, maka berhakkah kita memberi selamat pada mereka yang melakukan pilihan benar dan masihkah kita harus mempertanggungjawabkannya? Di evaluasi akhir tahun atau di evaluasi yang lebih akbar? Di hari akhir?
Terlalu banyak contoh sebuah tindakan dimana kita kehilangan free will kita dan “terpaksa” melakukan tindakan tersebut.
Tersenyum ketika wajah anak kamu muncul di otak dan teringat kelakukan lucunya, misalnya.
Melirik cewek berkaus ketat di jalanan misalnya, atau mengeklik link ini walaupun kamu tahu sudah pasti bohong: www.cewekkausketat.com
Mengupgrade ke Windows Vista misalnya, atau nambah nasi ketika masih ada nasi di tolombong.
Membaca posting ini sampai sini, padahal kamu bisa berhenti membaca dari tadi dan pergi ke blog lain.
Terlalu banyak contoh, yang kita sama-sama tahu bahwa kita tidak berdaya untuk mengambil “hak kita” untuk memilih karena tidak ada hak pilih itu sebenarnya.
Free Will, adalah ilusi. Ilusi yang berguna karena memberikan kita gambaran bahwa kita memegang kendali dalam hidup ini. Bahwa ada makna dalam pilihan-pilihan yang kita ambil.
Padahal kita tahu bahwa, tindakan kita dimotivasi insting dan naluri alami, seperti halnya gajah dan jerapah (berima!)
Jadi… di tahun baru ini, tahun 2007, gue ga memiliki Free Will dan tidak bisa tidak untuk berucap: SELAMAT TAHUN BARU 2007, dan semoga kita semua diberkahi kemampuan dan kecakapan untuk mengambil pilihan-pilihan yang benar di tahun ini.
Dan… kamu pun tidak memiliki Free Will dan tidak bisa tidak untuk meninggalkan komen di posting ini. ![]()












