November 2006 Archives
We built this city, we built this city on rock and roll! —Starship
Seperti yang gue tulis dalam post terdahulu, minggu lalu gue mendapat kesempatan diundang untuk hadir dalam Asia 21 Young Leaders Summit di Seoul, Korea.
Summit 3 hari yang diorganisir oleh Asia Society dan bertempat di Shilla Hotel, Seoul ini berjalan lancar dan sukses. Perjalanan gue dari Bangkok ke Seoul juga alhamdulillah lancar tanpa halangan maupun rintangan apapun, kecuali kejadian sempat menghilangnya teman seperjalanan dari Bangkok yang orang nepal yang ditahan 45 menit oleh imigrasi Korea.Karena waktu yang mepet, gue ga sempet jalan-jalan banyak di Seoul. Jadi selain acara jalan-jalan summit ke Korea House yang disuguhi sama Korean Cultural Performance dan sessi Karaoke buat semua peserta yang mengakibatkan momen-momem memalukan, gue cuma sempet jalan-jalan beberapa jam ditemenin Hary Devianto yang sedang PhD di SNU beserta istri sebagai penunjuk jalan, di kota Seoul yang lumayan dingin (10-14ºC) tapi cantik dihiasi pohon-pohon cherry kekuningan.
Di bawah ini beberapa catatan pendek tentang Korea, Seoul khususnya dan apa yang gue dapet dari Asia 21 Summit:
- Para peserta summit terdiri dari mereka yang sudah established dari berbagai latar belakang. Ada beberapa anggota parlemen muda dari Filipina, India, Pakistan, Australia, Singapura dan New Zealand (politisi). Ada anggota militer, sutradara, jurnalis, pemilik perusahaan, pengacara, NGO activist, mantan student activist, pengusaha muda, akademisi, ekonomis, medical doctor, researcher, saintis, googler turn buddhist monk dan bermacam latar belakang menarik lainnya (termasuk blogger hehe). Berada di antara para highly accomplished individuals ini aja adalah sebuah pengalaman tersendiri. Sangat menyegarkan melihat gimana mereka ngomong dan berinteraksi sama mereka, berkenalan dan cerita tentang diri kita masing-masing. Dan bagaimana satu sama lain bertuker ide, menyumbangkan opini sesuai dengan background dan pengetahuan mereka masing-masing it’s truly amazing. One cannot help to feel optimistic tentang masa depan umat manusia berada di antara mereka. Membuat kita berpikir ketika begitu mudah kita menemukan kesamaan antara kita dan orang lain, tapi di lain sisi manusia jugalah yang membuat kerusakan dan menimbulkan penderitaan diantara kita.
- Penyelenggaran summit berlangsung lancar dan menarik, kudos to Asia Society dan para sponsor baik hati yang menyelenggarakan konferensi ini. Kehadiran Korean VIP’s seperti PM dan Mantan Presiden-nya juga tentu memberi bobot lebih tentang pentingnya event ini bagi para peserta dan bayangan gue untuk publik Korea juga.
- Young dalam Young Leaders itu sendiri berarti relatif disini. Kebanyakan peserta berumur di akhir 30an atau awal 40an dan masih masuk dalam kategori “muda”. Gue mungkin salah satu dari peserta yang paling muda.
- Amerika dan belahan dunia barat menghabiskan banyak resource dan memberikan posisi penting bagi mereka yang ahli dan menguasai landscape belahan dunia lain. Mereka yang ahli di bidang finansial, budaya, politik untuk daerah Asia seperti Jepang, Korea, China, India. Apakah mereka yang duduk di pusat-pusat research dan studies, para koresponden asing yang ahli di masing-masign negara ataupun mereka yang tinggal di dua dunia (pernah mengenyam pendidikan di barat atau orang asia yang kelahiran barat/amerika) berperan sebagai jembatan dan pemasok informasi ke Amerika/Barat. Ada sejenis kehausan Amerika/Barat terhadap informasi dari Timur dan belahan dunia lain. Yang mengherankan adalah, yang sebaliknya tidak terjadi. Jarang kita melihat ada seorang pakar Indonesia yang ahli tentang Amerika atau Eropa misalnya. Dan kalaupun ada kita tidak menempatkan dia setinggi posisi counterpart nya di sana.
- Gue sempet jadi panelis di session yang membahas tentang Citizen Journalism dan Blogging. Dua hal yang berbeda, sayang waktunya ga banyak, karena sebenarnya topik ini bisa jadi konferens sendiri. Jadi menurut gue session itu lebih tepat dikatakan sebagai introduction to blogging for young leaders. Karena terus terang masih banyak yang belum kenal bahkan belum tahu tentang apa itu blog. Karena hal itu pula maka menyenangkan berada disana dan menerangkan apa itu blog dan apa yang bisa dilakukan tentang blog, tapi IMO session itu sendiri kurang menyangkutkan blogging dengan topik besar summitnya sendiri yaitu Shaping Asia Pacific: Challenges and Choices, terutama sebagai untuk para leaders. Pendapat gue sendiri, Internet dan Blogs (tanpa keraguan) adalah hal besar in the near future yang akan merubah banyak lanskap region ini.
- Korea, Seoul khususnya (40% populasi Korea tinggal di Seoul!) sendiri luar biasa untuk dilihat. Sudah sama dengan negara maju lainnya. Tingkat ekonomi tinggi dan harga-harga mahal (makan di restoran 10,000 won = Rp 100,000 per porsi) tapi ini juga berarti mereka tidak mendapat kesulitan mengkonsumsi barang-barang bermerek dari barat. Nike, Hermes, BMW, DVDs, CDs, softwares, games, semua dalam jangkauan ekonomi mereka. Tidak ada masalah dengan pembajakan karena tidak perlu, dan karenanya tidak ada masalah dengan hak cipta pula. Dan karenanya lagi, market yang menarik untuk dunia. Luar biasa mengingat semua ini dicapai hanya dalam kurun waktu 50 tahun! Ini ditambah dengan nasionalisme Korea yang tinggi sehingga mereka lebih suka mereka dalam negri, Samsung (ternyata yang bener dibaca Samsong), Daewoo, Lotte, LG yang juga merek-merek kelas dunia. Korea juga hidup dalam alam demokrasi sebenarnya setelah sempat berada di bawah kekuasaan diktatorial, dengan mantan presiden pemegang Nobel Perdamaian dan Sekjen PBB sekarang yang berasal dari Korea, pantas aja mereka bangga dengan pencapaian negaranya. Saingan Jepang nomor satu ini bisa diperdebatkan apakah Korea lebih baik atau tidak. Di Korea tidak ada gempa dan ancaman tsunami di Korea, tapi memang ada ancamam Korea Utara. Dari Hary, gue juga baru tahu bahwa standar jam kerja mereka (minimum!) dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam! Ini luar biasa, buat gue kalo jam kerja begitu lama, ngerjain apa aja? :D
- Delegasi Indonesia memiliki tempat sendiri di summit itu rasanya. Pertama kayaknya banyak yang jadi pembicara panelis kedua ngetop waktu karaokean bersaing sama delegasi Filipina. Delegasi Indonesia terdiri dari Pak Anies Baswedan mantan Ketua Senat UGM ini baru pulang Amerika tahun lalu sekarang menjabat sebagai Direktur Risert The Indonesian Institute. Pak Daniel Budiman dari Mahanusa Capital. Meutya Hafid, anchor Metro TV News yang mengalami peristiwa penculikan di Irak. Tentunya ga banyak yg bikin Meutya takut sekarang ini hehe. Mbak Lia Sunarjo GM-nya Young & Rubicam Ad Agency di Jakarta. Mbak Veronica Colondam pendiri Yayasan Cinta Anak Bangsa yang bergerak di bidang pencegahan narkoba. Mbak Christina Lim dari Harita Securities dan Pak Sandiaga Uno ketua HIPMI dan juga pendiri Saratoga Investama Sedaya. Nice to meet and know you all, keep in touch! :)
- People I met. Sadanand Dhume, orang India yang tinggal di NY sekarang bisa bahasa Indonesia. Mantan koresponden Indonesia untuk Far Eastern Economic Review, bukunya tentang radikalisasi Islam akan terbit. Shugo Yanaka dari Jepang, fellow di Matsushita Institute of Government and Management, nice guy yang ternyata seorang DJ/Penyiar radio di Tokyo dan ketika gue tanya, kamu ngetop dong di Tokyo dia jawab “iya” :D. Gilbert Remulla, anggota kongress Filipina, dari dia gue baru tahu kalo di Filipina ada batasan masa jabat anggota DPR/MPR, jadi ga bisa terus-terusan. James Gomez, kedua kali ketemu setelah di Manila, blogger yang juga politisi oposisi Singapura yang tinggal di Swedia dan menghadapi tuntutan hukum di Singapuranya sendiri. Pak Dokter Piya Hanvoravongchai dari Thailand, ahli di bidang Public Health Policy, kandidat doktor dari Harvard. Max Erdstein, mantan Global Advertising Manager-nya Google, sekarang jadi pendeta Buddha, banyak menghabiskan waktu di Jepang dan Thailand. Kalo ga salah termasuk 25 orang pertama yang kerja di Google yang artinya beliau kaya raya sekarang. Jaykumar Menon, Indian-American, besar di Amerika sekarang membangun usaha Bio Fuel, pernah ke Indonesia juga. Madison Nguyen, mbak keturunan Vietnam ini adalah salah seorang anggota badan legislatif untuk kota San Jose, California. Major Dennis Eclarin, kalo ngeliat tampangnya ga nyangka kalo dia ini tentara dengan combat experience. Mendapat didikan di West Point dia juga memiliki usaha sendiri di bidang Micro Finance. Menurut dia sendiri, setelah sering ngebunuhin orang, dia mikir gimana caranya berkontribusi juga, hasilnya perusahaan dia itu yang ngasih kredit untuk rakyat kecil. Gen Kanai orang Jepang yang besar dan sekolah di Amerika, Business Development Director-nya Mozilla Foundation untuk Asia, seorang blogger dan fellow internet freaks hehe. Banyak lagi orang yang gue ketemu disana, terlalu panjang untuk ditulis semua kayaknya. :)
- Ada beberapa kritik tentang Indonesia, terutama dari Sadanand yang gue sempet ngobrol lumayan panjang beberapa kali. Menurut dia Indonesia akan menjadi lebih baik di tahun-tahun kedepan tapi akan tertinggal di belakang negara-negara tetangga. Selamat tinggal pada label keajaiban ekonomi yang dipegang oleh Indonesia sebelum masa krismon. Pengagum Gus Dur dan dekat dengan beberapa tokoh budaya Indonesia ini juga berpendapat ada bahaya dalam kondisi Indonesia kita orang tidak lagi bebas mengungkapkan pendapatnya. Menurutnya society dapat melepaskan potensinya secara maksimum ketika terjadi kondisi dan situasi dimana orang dapat berpendapat (betapapun subversif, atau “berbahaya”nya) tanpa ancaman dan intimidasi fisik atau bahaya terhadap jiwa. Dia terus terang menggambarkan dirinya sebagai orang yang pesimis melihat kondisi Indonesia sekarang, sesuatu yang menurut gue justru tidak tergambar dalam artikel terbarunya tentang Indonesia yang terbit di Wall Street Journal bersamaan dengan kunjungan Bush ke Indonesia berjudul “Indonesia’s Promise” (bisa dibaca disini). Silahkan berbeda pendapat, memegang opini masing-masing dan bawa ke meja diskusi, tapi upaya untuk melenyapkan pandangan yang berbeda dan menutup diri terhadap perbedaan, di bidang apapun, budaya, politik, agama, seksualitas, teknologi dan sains hanya akan membawa masyarakat ketertutupan dan kejumudan yang berujung pada ketertinggalan, menurutnya. Tradisi, budaya dan penghormatan pada pendapat yang berbeda serta kebebasan untuk mengungkapkannya adalah nilai berharga yang harus dijaga.
Dalam point yang satu ini gue setuju dan sepakat dengannya dan karena itu juga gue sangat yakin akan peran penting blog di abad ini sebagai sarana berekspresi dan bertukar ide untuk mempertahankan kebebasan tadi.
Sori panjang, mudah-mudahan ada manfaatnya sharing ini untuk gue dan untuk teman-teman semua.
- Foto-foto di Seoul dan Asia 21 Summit di akun Flickr gue: Asia 21 Seoul Set
- Foto-foto Asia 21 Summit di akun Flickr-nya Gen Kanai
- Blognya Asia 21 Summit Blog
The only way to make a man trustworthy is to trust him. —Henry Stimson (1867 - 1950)
Asia 21 Young Leaders Summit 2006 yang pertama akan diselenggarakan mulai Jumat malam ini tanggal 17-19 November 2006 di Seoul, Korea Selatan
Mengambil tempat di Hotel Shilla, dekat Dongguk University, summit 3 hari ini menghadirkan PM Korea Selatan Han Myeong-sook dan mantan President Korea Selatan, Kim Dae-Jung sebagai keynote speaker.
Di co-host oleh Asia Society, organisasi yang bermarkas di New York Amerika Serikat dan The Sejong Institute Korea, summit ini mengundang kurang lebih 250 delegasi dari 23 negara di Asia Pasifik dan Amerika Serikat.
Insya Allah, kalau lancar di perjalanan dan tanpa hambatan maka saya gue hadir di summit tersebut, terbang malam ini ke Seoul.
Yang paling mengundang mata mengerinyit melihat judul summit ini tentunya kata “Leaders” disitu.
Gue masih “geli” ngebacanya. Hehe. Gue sampai sekarang bukan pemimpin.
Mencoba sih, minimal buat keluarga kecil kami yang anggotanya cuma dua, Nita sama Gaga.
Tapi jelas bukan pemimin dengan huruf “P besar” yang tampangnya muncul di billboard-billboard propaganda atau mata uang.
Pemimpin, seperti juga aktivis atau pakar (hehe) bukan sebuah label yang bisa kamu tempel-tempelkan sendiri ke badan. Orang lain harus menganugrahkannya ke kamu atas apa yang sudah kamu lakukan dan kamu kontribusikan. Dan kalaupun itu sudah terjadi, masih akan tersisa selalu pertanyaan dan keraguan, apa benar? Memang iya?
Membaca, mendengar dan melihat sekeliling kita, rasanya makin susah kita memberikan gelar seorang pemimpin pada tokoh-tokoh disekeliling kita.
Siapa yang bisa kita gelari pemimpin dan pemimpin untuk siapa?
Apakah Ketua Partai pemimpin? Ustad dan ustadzah pemimpin? Walikota, Gubernur, Pemimpin?
Kemana hilangnya pemimpin disekeliling kita? Yang menjadi idola? Yang memberi inspirasi, menatahkah garis ideologi, melukiskan visi dan yang mulutnya tidak berbusa ketika berjanji?
Mengingat definisi leader saat SMA dan kuliah dulu, bahwa:
A leader is one who; knows the way, shows the way and goes the way
Maka rasanya sekarang ini terlalu banyak pemimpin yang knows the way dan tidak sedikit juga yang shows the way, berkomunikasi dengan baik melukiskan visi-nya. Tapi sangat sedikit yang benar-benar goes the way.
Dan kalo pun goes the way, nobody really follows him. Karena kita tidak percaya.
Kita tidak percaya bahwa ada orang yang benar-benar tulus mau memimpin kita, yang benar-benar tahu jalan keluar dari masalah kita.
Kita lebih mudah percaya pada berita jelek tentang seseorang daripada berita baik tentang seseorang.
Tidak ada lagi kekuatan untuk percaya. Sudah kosong rekening bank kepercayaan kita untuk diberikan pada sang calon pemimpin karena sudah habis dikuras oleh puluhan tahun keberadaan masyarakat yang… tidak didasarkan atas kepercayaan.
Anyway, gue berangkat dengan harapan summit ini bisa memberikan gambaran lebih terang tentang “sang pemimpin” ini. Mudah-mudahan dalam diskusi dan keynote speak serta dengan berkenalan dengan delegasi dari negara lain ada manfaat yang bisa didapat, tentunya bukan buat gue seorang, tapi juga hal-hal yang bisa di-share di blog ini.
Dan mudah-mudahan juga sesuatu itu bisa membuat kita bisa lebih percaya
Setelah GVO Summit di London dan Conference SEAPA di Manila adalah sebuah kehormatan lagi untuk diundang dan dibayarin untuk hadir dalam acara seperti ini, terutama karena kehadiran tersebut terjadi karena adanya blog ini :)
Gue juga dijadwalkan sebagai salah satu pembicara panel di hari ketiga tentang blog dan media dengan tajuk “The Citizen’s Media Revolution”. Jadwal lengkap summit di sini.
Dari daftar peserta ada 8 orang delegasi Indonesia termasuk gue, diantaranya Meutya Hafid, Anchor Metro TV dan Veronica Colondam dari Yayasan Cinta Anak Bangsa. List lengkap seluruh daftar peserta bisa dilihat di sini.
Untuk teman-teman media, press release mengenai Asia 21 Young Leaders Summit bisa didapat di sini dalam bentuk [.html] dan [.doc].
Situs resmi summit bisa diliat di: Asia 21 Young Leaders.org dan ke situs ini tentang Asia Society sendiri: AsiaSociety.org
Dan blognya di: Asia 21 Summit Blog
Terakhir, mohon dua restu (kayak naik haji hehe), dan mudah-mudahan cepet balik ke rumah lagi biar bisa maen sama anak. :D

Harinya hari minggu.
Tepat dua bulan setelah 9/11
Di sebuah gedung di Jalan Cicendo Bandung
Aku duduk di sebuah meja
Dengan mu di depan ku
Aku bilang, saya terima nikahnya.
Alhamdulillah, berguman di sekeliling kita
Ketika aku berbisik sendiri
Semoga langgeng selamanya
Dan hari itu sudah 5 tahun yang lalu.
Selamat hari anniversary ya hon, buat istri
terkeren di dunia.

[Email yang pertama bisa dibaca di sini.]
——- Original Message ——-
From: <editor@****.worldnet>
To: “whoever” <whoever@g****.com>
Sent: Fryday, October 11, 3768 9:19 PM Planet Bumi
Subject: Untuk kamu yang mau baca 2
Halo semua,
Di bawah ini akan saya teruskan cerita dunia kami, dunia yang penuh warna.
Dunia memang tidak lagi HITAM dan PUTIH sekarang, di tahun 3618 warna telah menyebar begitu cepat, 250 tahun setelah turunnya warna yang pertama 50% penduduk planet kami telah menjadi pemeluk salah satu warna.
Mereka yang menyebut dirinya berpendidikan, berbudaya dan beradab bisa dipastikan telah memeluk salah satu warna dan memanggil manusia lain yang belum mengenal warna tidak beradab, liar, barbar!
Ketika ditanya apa sebabnya warna begitu cepat menyebar, dan apa keuntungan dari memeluk warna, maka 80% pemeluk warna menjawab bahwa warna memberikan mereka sesuatu untuk dipercaya. “MERAH itu indah dan penuh kekuatan”, kata Karma Suwarna, bapak 3 anak berumur 45 tahun yang memiliki perusahaan sendiri.
“Dengan adanya MERAH maka hidup saya jadi berarti dan memiliki makna, begitu juga hidup anak dan istri saya”, dia meneruskan, “saya tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa warna MERAH.”
Sarwa Sukarma, juga memiliki pendapat yang kurang lebih sama tentang warnanya. “HIJAU adalah kehidupan dan membuat saya percaya pada kekuatan alami dan perlindungan lingkungan”, dia berkata di depan rumahnya yang dikelilingi hamparan sawah milik keluarganya. “Pada HIJAU saya menemukan ketenangan karena saya percaya dan saya beriman” tandasnya.
Bagi para pemeluk warna KUNING, MERAH, HIJAU, BIRU dan UNGU, warna-warna yang mereka percayai itu selain memberikan panduan tentang hidup berdasarkan nilai-nilai yang dibawa oleh warna-warna tersebut (menurut mereka) juga memberikan perlindungan, penghargaan, karunia kalau mereka mengikuti aturan warnanya, dan hukuman jika mereka melanggar apa-apa yang dilarang (menurut mereka) oleh warna tersebut.
Aturan sosial dan norma dalam hubungan sosial manusia medapat legitimasi suprawarna, karena aturan-aturan tersebut seolah-olah datang dan dipandu dari warna-warna tersebut, walaupun sebenarnya sudah ada sebelum warna-warna ada, ketika dunia masih HITAM dan PUTIH.
Warna karenanya, baik itu KUNING, HIJAU atau manapun dianggap sebagai sumber kebaikan dan hidup setelah ada warna sebagai masa yang lebih baik dan lebih berwarna daripada masa sebelumnya yang gelap dan pucat.
Hingga tahun 3868, kehidupan di planet kami mendengung dinamis dengan diskusi, pemikiran, ide dan inovasi yang berkaitan dengan warna-warna.
Selain nilai-nilai kebaikan yang katanya “berasal” dari warna, salah satu kelebihan warna yaitu: Karena warna adalah sesuatu yang sosial, dan karena manusia adalah mahluk sosial.
MERAH akan berkumpul dengan MERAH, dan KUNING akan berkumpul dengan KUNING, karena warna tersebut adalah sesuatu yang mereka miliki bersama, sesuatu yang mereka share, dan karena itu sesuatu dimana mereka terikat dan mengikat diri.
“Dengan warna, maka kami menemukan persamaan diantara wajah-wajah yang asing”, begitu ungkap Rahwarna Karma, aktivis muda calon pemimpin bangsa.
Berkumpul bersama warna yang sama jauh lebih mudah daripada berkumpul bersama warna lain, karena pertama, lebih enak dimata, kedua pada saat itu masing-masing warna telah memiliki kebiasaan dan gaya mereka masing-masing sehingga berkumpulnya warna yang berbeda akan membuat situasi yang kurang nyaman.
Warna juga diturunkan pada pada keturunan. Bapak ibunya yang berwarna HIJAU, maka anaknya juga HIJAU misalnya.
Karena itu perkawinan, pertemanan, hubungan sosial maupun ekonomi sebaiknya pun harus dalam warna yang sama. Bertemanlah dengan teman dari warna yang sama. Menikahlah dalam warna yang sama. Berkumpulan dalam warna yang sama. (ini semua ada di kitab masing-masing warna).
Warna juga merubah cara manusia melihat dunia. Pemeluk MERAH akan melihat dunia dengan kemerah-merahan. KUNING dengan kekuning-kuningan. Hijau akan melihat dunia dengan bernuansa HIJAU.
Karena ini maka masing-masing warna tidak bisa melihat warna lain dengan sebenarnya. HIJAU yang dilihat oleh KUNING akan menjadi HIJAU kekuning-kuningan. MERAH yang dilihat oleh mereka yang hijau akan menjadi hijau kemerah-merahan.
Yang menarik adalah, walaupun ikatan dan tekanan untuk mempertahankan sebuah warna sangat kuat, tapi orang bukan tidak mungkin berganti warna. Bukan tidak mungkin untuk berganti warna, terutama tentu untuk mereka yang sudah istilahnya sudah “tercerahkan” atau sudah mendapat cahaya, menurut warna barunya. KUNING menjadi HIJAU. HIJAU menjadi MERAH. MERAH menjadi KUNING.
Ini tentu ditentang dan dihujat dengan keras oleh masing-masing pemeluk warna. Orang yang berpindah warna dari warna manapun akan dicap sebagai pengkhianat, walaupn yang mereka lakukan hanya berubah warna. Orangnya sama dan hampir semua warna mengajarkan nilai-nilai yang sama.
Di tahun 4031, lebih dari 1000 tahun setelah warna pertama turun, kehidupan warna di planet kami telah menjadi begitu established. Warna adalah sesuatu yang menuntut ekslusivitas, pemeluk warna tertentu hanya bisa memeluk warna tersebut dan tidak yang lain.
Masing-masing pemeluk warna percaya bahwa warnanyalah yang benar dan warna lain salah.
Pemikiran yang menyebabkan sebagian orang-orang melek warna geleng-geleng kepala, bagaimana mungkin ada warna yang benar dan warna yang salah?
Ini kan “WARNA”.
MERAH tidak lebih benar daripada KUNING, dan KUNING tidak lebih benar daripada HIJAU.
Bagaimana menetukan warna mana yang lebih benar atau lebih baik? WARNA tidak bisa dibandingkan, mereka cuma berbeda tapi bukan berarti yang satu lebih baik daripada yang lain.
Walaupun begitu toh para pemeluk warna yang lebih banyak tidak peduli. Apalagi ini sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan mereka, dengan keimanan mereka, buat banyak orang warna adalah segalanya.
Karena mereka percaya warna mereka adalah yang terbaik, maka penyebaran warna menjadi krusial karena dengan begitu mereka menyebarkan kebaikan bagi mereka yang belum tahu.
Niatan ini dan digunakannya warna oleh mereka yang berkuasa menjadi sumber konflik, kesedihan dan kesusahan pertama yang dibawa oleh warna di planet kami.
Penguasa senang menggunakan warna karena orang lebih bersedia mati untuk warna daripada untuk penguasa dan warna bisa menyatukan kekuasaannya dengan lebih sempurna
Pemimpin warna pun senang berdekatan dengan penguasa karena bisa menyebarkan warnanya lebih luas dan dengan kekerasan
Konflik antar warna tidak terhindarkan, untuk menghindari konflik maka ada dua alternatif, hidup dengan memisahkan diri dan tidak bercampur, atau mencari sebuah mekanisme khusus yang mengatur hubungan antar warna.
Walaupun konflik antar warna cukup keras tapi ternyata itu belum apa-apa.
Sejarah telah menunggu untuk memperlihatkan kami antara konflik dasyhat antara warna itu sendiri.
 
Pada tahun 3242, 1200 tahun dari warna pertama turun, warna-warna telah menjadi begitu bervariasi sesuai dengan selera dan kebiasaan masing-masing tempat.
MERAH tidak lagi cuma “MERAH” tapi juga ada merah marun, merah tua, merah muda, merah darah, merah menari, merah konservatif, merah tradisional, merah kota, merah desa, merah santri, merah liberal dan tentu, merah fundamentalis.
Masing-masing merasa sebagai MERAH, sebagian lagi merasa sebagai MERAH yang paling benar dan memaksakan merahnya pada yang lain.
Konflik di dalam warna ini untuk sementara waktu membuat konflik antar warna mereda.
Perbedaan paham dan iman yang berlangsung selama beratus-ratus tahun juga menyebabkan perbedaan pemahaman akan warna yang sama.
MERAH MARUN bermusuhan sengit dengan MERAH MUDA. Masing-masing mengkafirkan MERAH yang lain. Menjadi MERAH MARUN bahkan dilihat sebagai lebih buruk daripada menjadi HIJAU atau KUNING.
Ketika terjadi peperangan antara MERAH MUDA dan HIJAU maka MERAH MARUN akan diam menunggu dan melihat-lihat keadaan.
Tidak berlaku my enemy’s enemy is my friend. MERAH MARUN memilih untuk bermusuhan dengan semua pihak, thus berlaku my enemy’s enemy is stil my enemy.
Dan ini masik berlaku hingga sekarang.
Pada tahun 3542, kelompok-kelompok HIJAU terbagi menjadi dua bagian besar. HIJAU MUDA dan HIJAU TUA, dan dengan didukung oleh kekuatan militer dan raja-raja, konflik antara hijau muda dan hijau tua ini terjurumus pada konflik paling berdarah selama sejarah planet kami, yang melibatkan penyiksaan, pemaksaan warna dan lain-lain.
Di ujung masa konflik ini, beberapa kelompok orang berpindah mecari lokasi baru dan BERSUMPAH untuk mencari tempat dimana mereka bisa bisa bebas dari ketakukan dan kejaran para pemeluk WARNA. Suatu tempat dimana semua orang bisa memiliki kebebasan memilih WARNA yang mereka inginkan tanpa rasa takut.
Singkatnya mereka berangkat untuk mencari surga.
1,500 tahun telah berlalu sejak WARNA pertama hadir di dunia kami dan sudah sedemikian lama pula kami terlupa akan realita planet kami sebelumnya dimana hanya ada HITAM dan PUTIH, dimana kami semua sama.
Bukannya WARNA tidak membawa kebaikan dan manfaat bagi kami, hanya sekarang ini banyak orang bertanya-tanya manakah yang lebih besar, manfaatnya atau keburukannya dari warna. Apakah kita akan lebih baik jika WARNA tidak pernah ada? Jika dunia hanya HITAM dan PUTIH.
Sebagian orang menuduh bahwa WARNA adalah ciptaan manusia biasa dan bukan diturunkan dari langit dan karenanya tidak dimaksudkan untuk dipercaya apalagi, dijadikan alasan untuk memerangi orang lain yang berbeda WARNA-nya.
Tapi sejarah belum lagi berhenti.
Akankah mereka yang mencari surga di dunia menemukannya?
Dan bagaimana akhir cerita dunia kami?
Kamu bisa baca di email terakhir saya berikutnya…
















