June 2006 Archives

Surga dan Neraka rasanya lebih dekat bersama kita saat kita kecil.
Perkenalan pertama gue dengan Surga adalah tentunya saat gue dikasih tau semua orang supaya jangan nakal dan jangan membuat ibu (terutama) marah-marah, karena surga katanya ada di telapak kaki ibu.
Sebagai anak kecil sejati, apalagi yg punya adik laki-laki cuma beda setahun, tentu informasi ini ga cukup kuat menghalangi kita berbuat seperti anak kecil. Untungnya walaupun ibu dulu suka marah-marah kalo kami nakal, kita tetep punya waktu idul fitri untuk minta maaf dan ibu selalu maafin. Jadi tentunya jatah surga di telapak kaki beliau masih ada. :)
Neraka gue kenal dengan lebih graphic lewat komik serem, yang dibeli emang-emang yang menjual komik dari rumah ke rumah (komik kok ttg neraka gituloh), dimana di dalamnya digambarkan siksaan neraka yang dialami oleh mereka yang jahat saat hidup. Orang-orang dibakar, dicambuk, ditusuk, wanita digergaji payudaranya dan segala macam siksaan. (Siapa sih yg bikin komik ini!?)
Takut sih saat liat gambarnya. Tapi itu kan cuma komik (hakhaka). Terlalu jauh dari realitas sehari-hari yang melibatkan sebagian besar lari-lari sampe keringetin dan ga pulang sampe sore.
Kadang-kadang memang kedua konsep abstrak itu muncul di hadapan gue. Misalnya saat belajar ngaji terbata-bata di rumah dulu kalo memang ada ayat ttg surga atau neraka.
Atau muncul saat ada anak cewek di kelas waktu SD (selalu cewek), sok alim yang ga bisa ngomong apa-apa lagi waktu kami gangguin ini selain bilang, "Ntar masuk neraka lho!"
Dan saat dia ngomong gitu tentu gambaran neraka buku komik muncul di benak kami dan membuat kami terdiam sejenak (paling lama 5 menit) lalu ngeganggu anak cewek lain yg ga bawa-bawa neraka.
Di lain waktu seorang teman (yg gue udah lupa namanya) memberi peringatan dengan penuh keseriusan, "Eh jangan maen sama si A dia kan nanti masuk neraka."
Gue ga ngerti saat itu kenapa dia bakal masuk neraka. Besoknya baru gue "ngeh" rupanya menurut sang teman si A bakal masuk neraka karena beragama X.
"Tapi kenapa gue ga boleh maen sama dia sekarang, toh masuk nerakanya masih lama?" adalah pertanyaan gue selanjutnya yang terpikir dan tidak terjawab.
Kalo neraka jadi sebuah alat untuk melarang-larang kita, maka surga jadi sebuah tempat menyenangkan yang cukup sering gue bayangin waktu kecil.
Gue ngebayangin, nanti di hari akhir kalo gue, adik gue, ibu, bapak dan keluarga-keluarga gue bakal ngumpul bersama di surga dan kita bakal seneng banget bisa ketemu satu sama lain diantara milyaran manusia yang dibangunkan di hari akhirat.
Ga hanya keluarga, tapi terus gue juga pengen temen-temen gue masuk surga juga. Tetangga karena baik sama gue juga. Bahkan bintang film yang gue suka, dalam dan luar negeri juga. Kita nanti semua ketemuan di surga pokonya! (padahal pas idup aja ga pernah ketemu hehe)
Surga bagaikan sebuah country club dimana orang-orang yang gue sukai dan gue anggap baik boleh masuk.
Setelah agak besar gue kemudian belajar bahwa masing-masing agama punya Surga dan Nerakanya sendiri-sendiri.
Bagaimana hubungan antara surga masing-masing agama ini tidak begitu jelas diterangkan. Apa sebenarnya itu semua satu tempat yang sama, atau misalnya bertetangga. Tempatnya beda tapi berdekatan. Dan kalo memang berbeda, surga mana yang lebih bagus?
Surga sendiri berasal dari kata Hinduism, Swarga yang letaknya ada di puncak Gunung Mitologis Semeru (bukan Semeru yg di Jawa) yang artinya tempat transisi, menunggu antara proses reinkarnasi. Bukan tempat akhir, yg disebut Moksha yg justru lebih mirip dengan Surga.
Orang Polinesia, memiliki 10 lapisan surga Kiko-rangi, Waka-maru, Nga-roto, Hau-ora, Nga-Tauira, Nga-atua, Autoia, Aukumea, Wairua dan Naherangi. Dimana masing-masing diperintah oleh seorang dewa.
Sedang agama yang berasal dari Tradisi Ibrahim kurang lebih memiliki konsep yang sama tentang Surga, dimana intinya kalo kamu jadi orang baik, maka kemungkinan kamu masuk surga bakal jauh lebih tinggi daripada kalo kamu jadi orang jahat.
Beranjak dewasa (beranjak dewasa kakakku rani tercintaaaa...) Surga dan Neraka (ini juga dari Hinduism, Naraka) karena suatu sebab, kemudian jadi kehilangan tempat istimewa lagi dalam kehidupan gue.
Tentu gue masih berusaha jadi orang baik yang melakukan ritual dan kewajiban agama gue. Sholat, puasa, zakat menikah, bertanggung jawab. Tapi entah kenapa surga dan neraka seperti kehilangan relevansinya dari kehidupan sehari-hari.
Gue ga inget kapan gue terakhir mikirin surga dan neraka sebelum gue nulis posting ini.
Kapan terakhir kali surga dan neraka jadi hal yang memotivasi gue untuk melakukan sesuatu?
Gue bangun pagi ah dan kerja, supaya nanti masuk surga
Gue ngisi kencleng waktu jumatan, supaya nanti masuk surga
Gue dengerin curhatnya temen ah yang lagi susah, supaya nanti masuk surga
Ga pernah pikiran-pikiran di atas terlintas di kepala gue. Saat gue ngerjain sesuatu, motivasi gue udah lain berlapis-lapis seperti surganya orang polinesia.
Dan begitu juga orang banyak rasanya.
Apa Sergey dan Larry bikin Google karena pengen masuk surga?
Apa Bill Gates mundur dari Microsoft karena pengen masuk surga?
Apa Warren Buffet mau mendonasikan $37 bilyun (80% dari kekayaannya) untuk amal karena pengen masuk surga? (kalo ini iya kayanya hehe)
Apa kita diet atau ganti handphone karena pengen masuk surga?
Apa kita ngikutin gosip artis karena pengen masuk surga?
Apa adik-adik yang ikut Ujian Nasional juga karena pengen masuk surga?
Apa kita begadang nonton sepakbola karena pengen masuk surga?
Apa gue ngeblog karena pengen masuk surga?
Sedihnya, gue merasa jawaban "biar masuk surga" sebagai alasan terdengar kekanak-kanakan dan bukan sebab valid untuk menjelaskan sesuatu.
Sekian banyak hal yang gue kerjain hari ini, dan sayangnya ga satupun yg gue kerjain, yang kalo ditanya, gue bisa jawab karena pengen masuk surga.
Semoga itu cuma gue, dan semoga surga dan neraka masih memotivasi kamu setiap hari.
Dan semoga kamu ga pernah liat komik serem tentang neraka tadi waktu kamu kecil.

Gue benci diri gue sendiri, dan kayaknya gue ga sendirian. (Maksudnya ada orang lain yang membenci diri mereka juga, bukannya membenci gue hehe.)
Di 43Things.com setidaknya ada 135 orang yang menyatakan bahwa Stop hating myself sebagai tujuan mereka. Bahwa mereka pengen berenti ngebenci diri mereka sendiri.
Membenci diri sendiri kayaknya merupakan salah satu gejala manusia modern.
Lagipula how can we not hate ourself? Begitu banyak hal di luar sana yang kayaknya berkonspirasi membuat kita ngerasa ga enak sama diri kita sendiri.
Temen kuliah yg kayaknya lebih sukses, temen SMA yang lebih pinter, lebih cantik/ganteng, lebih keren, lebih banyak testimonialnya di *Friendster, pakar kurang ajar, berita korupsi, berita kriminal, tim sepak bola unggulan kalah, blog lain yg lebih keren (hehe), bencana alam, dan so on dan so on.
Dengan segitu banyak sebab untuk kita sebel ama diri kita sendiri, adalah sebuah keajaiban kita masih jadi mahluk yang bangun di pagi hari dan mau ketemu orang lain.
Terus apa obatnya? Banyak.
Salah satu pengobatan dari kebencian pada diri sendiri ini adalah dengan menyenderkan diri pada keburukan orang lain. :D
Film-film, cerita fiksi dan infotainment sudah mengajarkan kita dengan telaten bahwa (gasp!) ga ada orang yg sempurna, dan Thank God for that!
Lihat lebih dekat dan kamu bakal menemukan banyak kekurangan semua orang. Ceburkan diri kamu dalam kenyataan itu, dan bersyukur: ya mendingan gue biasa-biasa tapi gak korupsi, ya mendingan gue masih jomblo daripada diselingkuhin, ya mendingan gue ga punya mobil orang harga bensin naik terus, ya mendingan gue bukan artis tapi ga kena AIDS dst.
Kalo perasaan kamu udah lebih enak maka selamat(!), kebencian diri kamu cuma berada pada level elementary. Masih ringan. Kurangi mikirin orang lain dan coba pikirin mereka yang lebih ga beruntung daripada kamu, maka kamu akan sembuh. (istilah keagamaannya adalah "bersyukur".)
Tapi bagaimana kalo perasaan benci pada diri sendiri itu bukan datang dari luar, tapi dari dalam diri kamu sendiri?
Ini adalah level intermediate yang lebih berat.
Penyebab dari kebencian ini biasanya adalah sesuatu yang kita sesali. Sesuatu yg kita lakukan, atau yang tidak kita lakukan. Sesuatu yang kita tahu harusnya kita lakukan, tapi tidak kita lakukan.
Sesuatu yang kita tahu jelek untuk kita, tapi tetap kita lakukan juga.
Nah ada dua alternatif solusi dari masalah diatas.
Satu, yaa kerjain apa yang harusnya lakukan dong. Cari tahu kenapa kamu tidak lakukan yg harusnya kamu lakukan itu. Apa karena malas? Takut? Tidak percaya diri? Atau apa?
Cari penyebabnya dan hadapi.
Dan kalo kamu sukses mengatasinya, maka selamat! Anda layak dapat bintang.
Kamu adalah termasuk golongan mereka yang overachiever, yang percaya pada diri mereka sendiri, mau melakukan sesuatu dan berhasil melakukannya. Kamu termasuk 1% dari umat manusia dan juga akan mati duluan karena kanker. (hehehe kidding!)
Karena the rest of us ga bisa melakukan apa yang kamu lakukan, maka kami harus tetap membenci kamu(!) tentunya yang pertama dan kemudian membenci diri kami sendiri karena kenapa ga bisa seperti kamu.
Rahasianya adalah, karena kita membenci diri kita sendiri bukan karena sesuatu yg tidak kita lakukan atau kerjakan, tapi kita membenci diri kita sendiri justru karena diri kita sendiri.
We hate ourselves not because of what we do or what we don't do, but because of who we are.
Dan kita ga bisa mengubah who we are.
We are what we are kata orang-orang bijak. Dengan naluri dan instink yang sudah menjadi bagian dari diri kita.
Kamu ga bisa jadi orang lain. Kamu ga bisa jadi saya dan saya ga bisa jadi kamu. Kita adalah kita.
Dan kalo kita membenci diri kita, karena kita adalah kita, maka... ya itu adalah kita. :)
Dan siapalagi yang bisa kita benci dengan bebas kalo bukan diri kita sendiri?
Dan setelah kamu menyadari ini, membenci diri sendiri bukan soal besar kok. Biasa aja. Agak membosankan malah. Ada yang baru ga?
Minimal dengan menyadari bahwa kita adalah kita dan ga ada yg bisa kita lakukan untuk mengubah kita, maka kita akan berhenti menghabiskan waktu setiap saat berusaha menjadi diri kita yang lebih baik dan mulai menikmati hidup apa adanya. (anjis kalimatnya panjang)
Dan sesekali, saat kamu bener-bener sebel ama diri kamu sendiri, dan bener-bener down salahin perasaan itu sama sesuatu yang ada diluar kendali kamu, seperti bulan purnama.
Oh, lagi bulan purnama, pantes gue down gini. Oh, lagi hujan pantes gue down gini. Oh, lagi tanggal tua, pantes gue down gini. Oh, lagi hari kamis, pantes gue down gini. Oh, lagi bulan Oktober, pantes gue down gini. Oh, lagi tahun genap, pantes gue down gini. Dst.
Dan kalo masih juga (MASIH?) benci sama diri kamu sendiri, kamu boleh salahin posting blog ini.
Di lain waktu kamu mikir, kok gue benci ya ama diri gue sendiri, inget posting ini. Posting ini penyebabnya!
Yap. Posting ini. Tepat disini, saat ini. Gue menyerahkan posting blog ini untuk kamu jadikan semua sebab kenapa kamu benci sama diri kamu sendiri.
Dengan satu syarat bahwa kamu harus tersenyum setelah mikir itu. Ayo senyum! :)
Senyum sekarang juga, karena besok bakal lebih buruk.










