May 2006 Archives

Waktu gue mulai ngeblog 5 tahun yang lalu, jumlah blogger Indonesia masih bisa dihitung dengan jari. Dan sebagai blogger yang baik, tentu gue selain nulis di blog sendiri, juga rajin ngasih berkunjung ke blog teman-teman lain dan meninggalkan komentar di posting mereka.
Caranya gimana supaya kita tahu ada kalau posting baru di blog teman kita?
Waktu itu cara paling praktis adalah nge-klik-in satu-satu semua blog (blogwalking) yang kita link dari blog kita (blogrolls).
Jadi bayangin, pagi-pagi setelah cek email, gue buka blog jebot gue [skrg masih bisa diliat disini] dan ngeklik satu-satu alamat blog temen disitu.
Waktu itu, dalam 10 menit biasanya semua udah kekunjungin. :)
Blog waktu itu adalah this social things. Everybody always knows everybody.
Sekarang, dalam kurun waktu 5 tahun, blogger Indonesia sudah mencapai hitungan puluhan ribu, dari berbagai kalangan, dari berbagai umur dan dengan berbagai cara menggunakan blognya sendiri-sendiri.
Priyadi, dalam estimasi-nya yang kemudian dia ralat, bilang ada 10 ribu blogger Indonesia. Setelah menghitung-hitung blog-blog di Multiply, LiveJournal, Indosiar Blog dan Boleh.com, maka jumlah ini diralat menjadi kurang lebih ada 30 ribu blogger di Indonesia.
David Sifry, pemilik Technorati, mesin pencari blog masih melaporkan dalam laporan ttg blogospherenya April 2006 ini bahwa ada satu blog lahir setiap detiknya, setiap hari. Dan jumlah blog bertambah 2 kali lipat setiap 6 bulan sekali.
Kalo kita mengasumsikan hal yang sama untuk Indonesia saja [padahal harusnya lebih cepat pertumbuhannya] maka akan ada 45 ribu blog di Indonesia pada akhir tahun ini. Dan akhir 2007 jumlah blog di Indonesia akan menembus 100 ribu blog!
Makin banyak blogger, makin bagus. The more the merrier. Makin banyak isi kepala yang bisa kita intip dan kita curi ilmunya, makin bagus. Makin banyak suara makin terdengar.
Blog, dalam jumlah sekian, tidak lagi mungkin untuk didatangin satu-satu untuk ngecek apakah ada posting baru atau ga. Kita butuh alat lain untuk itu.
Di sinilah feed memainkan peran. Feed, atau lebih umum disebut Web Feed atau Web Syndication adalah dokumen berbasiskan XML yang dapat digunakan untuk mengirimkan informasi terstruktur, salah satunya adalah posting blog kamu.
Format web feed yang paling populer saat ini adalah RSS dan Atom. Dan feed sudah jadi bagian tidak terpisahkan dari sebuah blog, seperti juga fasilitas meninggalkan komentar [comment system].
Kalo kamu atau teman kamu ngeblog di Blogger.com (Blogspot) atau situs penyedia blog lain, maka jangan khawatir 99% dipastikan bahwa blog kamu sudah memiliki Web Feed.
Nah, yang kamu perlukan sekarang adalah sebuah reader atau aggregators untuk membaca Web Feed tersebut.
Dengan menggunakan reader, kamu bisa subscribe pada sebuah web feed tertentu, baik itu RSS atau Atom, dan si reader akan memberitahu kita setiap ada postingan baru.
Ada dua jenis reader yang bisa kamu gunakan. Yang berupa software yang harus kamu install di komputer kamu [desktop application/based] dan yang berupa layanan web, yang bisa kamu akses dimana aja [web application/based].
Disini, NewsonFeeds, kamu bisa liat list penyedia layanan aggregators/readers baik web-based atau desktop-based.
[Kelebihan dari web-based aggregators/readers] yaitu karena bisa digunakan di komputer mana saja, selama ada akses Internet dan browser. Jadi kalo kamu menggunakan dua komputer di rumah dan kantor seperti gue, kamu bisa tetap mengakses aggregators yang sama dan ga ketinggalan posting dari blog favorit kamu.
Banyak pilihan web-based aggregators, gue belum coba semua, tapi sampe sekarang gue pake Bloglines untuk membaca blog-blog yang pengen gue baca dan belum pernah kecewa. :)

Trus apa cuma untuk baca blog? Sama sekali tidak, selama sebuah website menyediakan web feed, maka kamu bisa subscribe ke feed tersebut dan membacanya lewat aggregator/reader.
Web feed lain juga tersedia seperti pada misalnya, foto-foto contact kamu di flickr, hasil pencarian di Blog Search Engine Google atau di Technorati, atau bahkan Ramalan Cuaca di kota tertentu.
List blog yang gue baca sendiri bisa dilihat disini: Enda on Bloglines
Perhatikan icon XML
atau ATOM
, atau tulisan RSS atau XML atau Syndication di setiap blog atau situs yang artinya mereka menyediakan sindikasi untuk kamu baca.
Kalo kamu menggunakan Bloglines, maka tinggal memasukan alamat blog/situsnya aja, maka mereka akan menemukan alamat dari web feed-nya.
Dan untuk pengguna Blogger.com [Blogspot], maka alamat web feed kamu biasanya adalah http://[namakamu].blogspot.com/atom.xml
THAT’S IT! :D
Dengan menggunakan aggregator/reader, hidup kita jadi lebih gampang. Ga masalah ada 100 ribu blog, kalo mau, semua bisa kita baca hehe.
Sekarang cepet register dan cobain Bloglines, kalo kamu belum coba.
[Dan jangan lupa subscribe ke blog ini], baik yang blog utama, maupun bagian Quicklinks-nya. Hehe. :D
Ini alamat feed-nya:
- Blog ini: http://enda.goblogmedia.com/index.xml
- Quicklinks: http://enda.goblogmedia.com/quicklinks/index.xml
Sementara itu gue mau ngeklik-in blog orang-orang lagi ah, satu-satu. :)

Waktu Jonathan Rauch menulis artikel dengan judul Caring for Your Introvert di bulan Maret tahun 2003, dia ga menyangka sama sekali kalo artikelnya itu jadi begitu sangat populer dan menerima begitu banyak respon.
Saking populernya artikel tersebut, hingga di bulan Februari 2006, diturunkan artikel susulan berupa interview dengan Jonathan Rauch, dengan judul Introverts of the World, Unite!.
Ya artikel awalnya sekarang sudah jadi semacam Introvert Manifesto, sebuah deklarasi, sebuah rallying milestone dari para introvert sebagai kelompok yang tidak dimengerti dan dianggap aneh, dimana para introver berkata CUKUP!, kami juga ingin dimengerti. :)
Di jaman penuh toleransi ini, dimana kita meng-adjust diri terhadap semua preferensi individu, baik itu seksual, hobby, gaya hidup, maka toleransi terhadap para introvert memang terasa tertinggal di belakang.
Stigma masyrakat modern adalah selalu, ekstrovert baik, introvert buruk. Mereka dengan tipe personaliti ekstrovert akan lebih sukses daripada mereka yang introvert. Lebih populer, lebih punya banyak teman dan simplenya lebih bahagia dalam hidup.
Jonathan Rauch, seorang yang mengaku seorang introvert, dalam artikelnya diatas membantah hal tersebut. “Kami, para introvert memang berbeda, tapi kami juga manusia biasa katanya. Dan kalau saja kamu (para ekstrovert) mau mengerti kami, maka kita bisa hidup berdampingan dengan lebih damai.” :)
Tapi lalu apa itu Introvert dan apa itu Ekstrovert dan darimana mereka datang?
Malcom Gladwell, dalam tulisannya di NewYorker, September 2004 dengan judul Personality Plus yang membahas, bener ga sih personality test bisa mengukur kepribadian seseorang, mengungkap sedikit tentang sejarah dari test yang menggolongkan apakah seseorang itu Introvert atau Ekstrovert yang namanya Myers-Briggs Test atau lebih populer dikenal sebagai Myers-Briggs Type Indicator
Myers-Briggs Test dirumuskan oleh seorang ibu rumah tangga yaitu Katharine Briggs di Washington DC, pada tahun 1920an yang mengamati perbedaan kepribadian dari dirinya dan anaknya Isabel Briggs dengan menantunya Clarence Myers yang sangat kontras.
Setelah beberapa tahun pencarian, akhirnya ibu katherine mendapat penjelasan tentang perbedaan tersebut dari teori Carl Jung tentang psikologi personality dan ia kemudian membuat test untuk menentukan tipe personality kita.
Ada 4 kategori personality yang ditentukan oleh Myers-Briggs test yaitu: [(I)ntroversion/(E)xtroversion, i(N)tuition/(S)ensing, (T)hinking/(F)eeling dan (J)udging/(P)erceiving.]
Jadi hasil dari test, kita akan tahun apakah seseorang memiliki kombinasi Introvert, Intution, Thingking, Judging = INTJ, misalnya.
Yang jadi masalah dari Myers-Briggs Test menurut Gladwell, adalah pengkategorian ini terlalu deterministik, kita harus termasuk dalam salah satu kategori, sedangkan menurut Jung personality itu adalah suatu yang kontinyu, jadi kita bisa jadi ada diujung ekstreme ekstrovert misalnya, atau justru hanya sedikit introvert.
Kembali ke artikelnya Jonathan Rauch, menurut kalo kamu memiliki seorang teman yang Introvert, cobalah untuk mengerti kepribadiannya. Jangan selalu mendorong-dorongnya untuk ngomong lebih banyak, atau disuruh bergaul.
Seorang introvert, senang akan kesunyian dan tidak terlalu suka berinteraksi tanpa maksud dengan orang banyak.
Ini yang menurut dia salah satu perbedaan mendasar dari seorang Introvert dan Ekstrovert.
Seorang ekstrovert akan senang berkomunikasi, ngobrol, berbasa-basi dengan orang banyak tanpa ada informasi yang memang perlu untuk dikomunikasian.
Untuk seorang ekstrovert, bahasa adalah alat untuk bersosialisasi.
Sedang untuk seorang introvert, apa point-nya ngobrol, basa-basi kalo tidak ada yang mau disampaikan? Dia hanya akan bicara dan ngomong kalo memang ada informasi yang ingin dia sampaikan. Bahasa untuknya adalah alat untuk menyampaikan informasi.
Dan kalo memang tidak ada informasi, maka diam tidak apa-apa. Dua orang di satu tempat berdekatan, tanpa bicara satu sama lain itu oke-oke aja.
Karena sebab diatas Internet, menjadi media yang populer bagi para introvert. Karena di Internet sebagian besar komunikasi dilakukan untuk menyampaikan informasi.
Mereka yang “rame” saat chatting, atau di blog-nya atau di milis atau di forum, tapi tiba-tiba pendiam saat ketemu langsung mungkin adalah seorang introvert, yang ga tau harus ngomong apa kalo ketemu langsung.
Jadi ada yang namanya online extrovert, lagipula kalo saat online tapi terus introvert, bakal berabe jadinya hehe.
Kalo kamu penasaran pengen tahu tipe personality kamu, ini ada Personality Test yang bisa kamu coba.
Tapi kemungkinan besar kamu kira-kira pasti udah bisa nebak apakah kamu seorang Introvert atau Ekstrovert. Apakah kamu sering lebih banyak diam, atau seseorang yang “gaul”. :)
Kata Nita, gue seorang yang Introvert. Kalo ketemu orang, atau lagi dalam kumpulan orang lebih banyak diem, kecuali kalo sama temen-temen yang udah lama deket.
“Kurang akrab”-lah gitu istilahnya. Ga mingle kali yaa :)
Yang menarik adalah, gue ga ngerasa bahwa gue introvert, rasanya ya biasa-biasa aja. Walau memang ada orang-orang lain yang lebih ekstrovert dari gue, lebih gaul, misalnya sepupu gue [halo bie! hehe] sampe gue kagum dan pengen bisa ekstrovert dan “gaul”.
Yang lucu, dari beberapa kali test-test kepribadian, justru seringnya gue jatuh pas di tengah-tengah antara Introvert dan Ekstrovert.
Jadi buat yang ekstrovert gue pendiem, tapi buat yang introvert gue mungkin dipandang sibuk ga jelas hehe.
Makanya gue kadang-kadang basa-basi juga, kadang-kadang nyapa duluan juga. Tapi ada saat-saatnya gue pengen sendirian, dan maleeeesss banget basa-basi sama orang.
Bokap gue introvert, nyokap ekstrovert, Nita menurut gue ada introvertnya, tapi lebih ekstrovert daripada gue, terutama perhatian buat orang lainnya.
Papah, mertua gue introvert, mamah, ibunya Nita, lebih ekstrovert.
Dan gue ga tau apakah Gala nanti bakal jadi Introvert atau Ekstrovert.
Yang pasti, mudah-mudahan, abis baca posting ini, kalo kamu punya temen atau sodara yang pendiem banget coba dimengerti. Kemungkinan besar dia adalah seorang introvert. Buat dia usaha nyapa atau bersosialisasi butuh energi besar dan harus disengaja, atau dalam istilah di artikel Jonathan Rauch mengakibatkan brain tension.
Dan buat kamu yang memang introvert abis hehe, bukan berarti kamu kurang atau lebih rendah daripada yang lain. Kamu cuma berbeda aja. Dan ga ada yang salah dengan itu.
Di jaman internet, IT dan komputer ini, mungkin justru kamu yang introvert, yg bakal bisa jadi lebih sukses.
Siapa yang perlu jadi MC Kondang atau artis sinetron kalo kamu bisa jadi Blogger Kondang, Raja Chatting atau Ratu Milis. Hehe.
Introverts of the World, Unite! :D












