April 2006 Archives

Seperti diceritain di posting sebelum ini gue mendapat kesempatan untuk hadir di konferensi Free Expression in Asian Cyberspace di Makati, Manila, Philippines.
Peserta yang tercatat datang sekitar 50-80 orangan, tergantung session dan hari. Konferensinya sendiri di co-host oleh Southeast Asian Press Alliance dan Philippine Center for Investigative Journalism [PCIJ ini cukup ngetop di Philippina].
Peserta konferensi terbagi dua antara blogger dan jurnalis. Sebagian pembicaraan adalah tentang bagaimana menggunakan Internet atau bagaimana Internet digunakan sebagai media penyampaian informasi di negara-negara di Asia, terutama mereka yang bermasalah dengan kebebasan berekspresi.
Dari Indonesia sendiri cuma ada satu blogger [ini yg blognya lagi kamu baca], dan beberapa teman lain yang jadi kenal saat konferensi. Ada Mbak Dini Widiastuti dari Article 19, NGO dibidang kebebasan media yg berkedudukan di London. Sedang dari Jakarta, ada Pak Tedjabayu dan Mas Lalang Wardoyo dari Institute Studi Arus Informasi ISAI yang ditemani oleh Heni dari LSM tentang keluarga Berencana. Serta juga Mas Heru Hendratmoko Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen AJI yang juga Program Director Radio 68h
Beberapa catatan dan pelajaran yang bisa diambil dari Konferensi dan menarik buat gue:
- Vietnam, Cambodia, Burma (Myanmar), Malaysia, Singapore, Pakistan, Nepal masih berjuang mencapai kebebasan yang sudah kita nikmati sekarang di Indonesia.
- Banyak pihak berkepentingan terutama dengan isu yang berkaitan dengan Kebebasan Berekspresi atau Media serta perlindungan jurnalis. Jadi jangan kuatir. Beberapa diantaranya yang berpartisipasi pada konferensi ini adalah Open Society Institute bagian dari Soros Foundation Network penyandang dana konferensi ini, Article 19 yang udah gue sebut diatas, Reporters sans fronti�res dan Committee To Protect Journalists
- Piyapong Phongpai, dari Thailand: Ga soal apakah blogger ngeblog tentang hal politis atau cuma kegiatan sehari-hari [katarsis], yg penting mereka ngeblog! Karena saat terjadi sesuatu yang berdampak pada keseharian mereka, maka ga susah buat mereka mengungkapkan hal tersebut di blognya hence politis.
- Sedang yang paling menarik buat gue adalah yang diungkap oleh Owais Aslam Ali, direktur dari Pakistan Press Foundation bahwa pengguna Internet dan media didalamnya, termasuk blogger _bias terhadap mereka yang memiliki akses internet [kelas menengah atas] dan bias terhadap mereka yang bisa berbahasa inggris [kaum intelektual] yang tidak mewakili suara kebanyakan orang.

Jadi “suara blogger”, karenanya memiliki bias terhadap kepentingan para blogger sendiri atau kelas/kalangan dimana para blogger tersebut berada.
Anyway, banyak lagi materi yg lumayan menarik dari konferensi diatas, file presentasi bisa di-UNDUH di blog ini: FREE EXPRESSION in Asian Cyberspace
Catatan terakhir adalah. Minggu lalu di milis ITB, ada miliser yang berkata “Persetan dengan kebebasan berekspersi dll, yg penting bisa hidup enak, bensin, makanan murah dsb”.
Gue cuma mau bilang: Persetan kebebasan? PIKIR LAGI!
Sudah cukup banyak yang berkorban untuk kemewahan yang kita nikmatin sekerang. Bisa ngeblog dengan bebas, bisa bermilis/berforum ria dengan bebas, tanpa harus takut-takut kalo tiba-tiba kita digelandang ke kantor polisi atau ke markas kodam karena kita ngeritik atau mengecam seseorang atau suatu institusi.
Kalo mendengar cerita teman-teman dari negara lain rasanya miris, dan mengingatkan saat kita masih dibawah Rezim Soeharto. Dua orang Jurnalis dari Vietnam ditangkap saat mereka hendak menghadiri konferensi. Organisasi jurnalis di Vietnam seluruhnya masih dibawah tanah. Dan mereka yang berani berbicara atau mengkritik akan mendapat tekanan berat, bukan pada mereka sendiri tapi pada semua orang dilingkungannya. Istri, suami, anak dan keluarganya tidak bisa mendapat kerja, dan semua teman menjauh. Ini terdengar sangat familiar.
Sudah saatnya kita tidak melupakan dan tidak taken for granted kebebasan yang kita miliki sekarang.
Mungkin kita terlihat seperti terlalu bebas sekarang, tapi niscaya yg kita punya sekarang adalah modal dasar untuk membangun masyarakat yang sehat, berdiri sendiri, transparan dan akuntabel dan bukan sekedar masyarakat stabil tapi dipaksakan.
Bakal makan waktu, tapi sabar aja. Ga semuanya begitu gampang seperti membalik telapak tangan. Setidaknya kita sudah di track yang benar.
» [Foto-foto yang gue ambil saat Konferensi dan beberapa disekitar Makati, Manila bisa dilihat di Account Flickr gue.]
» [Sedang foto-foto blogger lain dan semua orang yang juga ngeupload ke Flickr bisa diliat dengan tag feac2006.]
» [Dan materi presentasi (file2) speaker dan kilasan materi pembicara, termasuk video dari setiap pembicara bisa dilihat di blog yang dibuat saat konferensi dilaksanakan: FREE EXPRESSION in Asian Cyberspace.]

Beberapa jurnalis Indonesia ngeblog dan menggunakan blognya sebagai media pribadi seperti Atta, Roi, Saljudiparis, Hera, Dodi, Windede untuk menyebut beberapa diantaranya.
Ridwan Sanjaya dan Budi Putra juga rajin memposting kembali tulisan mereka di media ke blog milik mereka sehingga dapat diakses online.
Sedang jurnalis yang lebih senior seperti Farid Gaban dan Andreas Harsono juga memiliki Blog. Mas Yosef Ardi dengan Indonesia Today-nya adalah fenomena lain lagi. Di blog-nya, hampir tiap hari, dapat ditemukan posting baru tentang dunia bisnis dan politik Indonesia, dengan kekayaan informasi menyaingi atau bahkan lebih dari media tradisional.
Di sisi lain, ada juga blogger yang kemudian postingnya di republish di media, seperti Pak Priyadi dan Mas Amal dengan Direktif-nya yang dapat ditemukan tulisannya di Detikinet.
Blogger lain yang menurut saya tidak kalah dalam soal menulis dan melaporkan diantaranya seperti Jay, Imponk dan Hericz dengan posting-posting yang kaya informasi, bahkan sering menjadi rujukan layaknya seorang jurnalis profesional
Blogger yang jadi jurnalis. Jurnalis yang ngeblog.
Tidak semua blogger adalah jurnalis dan tidak semua jurnalis adalah blogger.
DAN tidak semua jurnalis yang punya blog, ngeblog. Sebagian hanya memindahkan (atau mengkoleksi) tulisan mereka saja di blog tersebut.
Walaupun begitu, mungkin ga salah kalo ada bagian yang bertindihan antara apa yang Jurnalis lakukan dan apa yang dilakukan oleh Blogger. (Apalagi jurnalis berasal dari kata latin diurnalis yang artinya daily atau pembuat jurnal? blogger dong hehe)
Yang membedakan tentu Jurnalis dibayar untuk menulis dan melaporkan. Sedang blogging (minimal sampe sekarang) masih merupakan labour of love tanpa imbalan materi. Jurnalis juga punya perlindungan hukum dan kejelasan hak serta kewajiban yang lebih jelas.
Walaupun begitu blogger punya kebebasan untuk menulis hanya yang kita mau dan kita suka, tanpa tanggung jawab melayani audiens atau pemasang iklan manapun. Kemerdekaan yang mana tentu tidak dimiliki oleh para jurnalis yang bekerja pada sebuah media.
Blogger juga, khususnya di Indonesia masih bertanya dan meraba aturan dan kelaziman yang bisa dilakukan, terutama tentang mahluk belum jelas yang namanya kebebasan bereskpresi.
Saya sendiri bukan seorang jurnalis dan belum pernah berprofesi jadi seorang jurnalis, walau selalu ikut dalam media sekolah, Majalah 3 waktu di SMA 3 Bandung dan Boulevard ITB saat di kampus dulu. Tapi jangan cari tulisan saya dulu disana, rasanya ga ada hehe.
Reporting rasanya kurang cocok buat saya, kalaupun ada cita-cita yang ingin dicapai yaitu jadi kolumnis tetap, seperti Goenawan Mohamad, almarhum Umar Kayam atau ya, Carrie Bradshaw :p
Karena tidak pernah jadi jurnalis itu maka saya jadi tertarik ingin tahu, apa yang dipikirkan oleh para jurnalis tentang blog.
Kebetulan, 3 hari kedepan, dari Rabu (19 April) minggu ini hingga Jumat (21 April) saya mendapat undangan untuk hadir di Conference on Free Expression in Asian Cyberspace, di Manila, Filipina.
Konferensi yang diselenggarakan oleh Southeast Asian Press Alliance (SEAPA) yang judul lengkapnya: “Free Expression in Asian Cyberspace: A Conference of Asian Bloggers, Podcasters, and Online News Providers” ini dari program acaranya dijadwalkan akan membicarakan tentang kasus dan pengalaman kebebasan berekspresi di negara-negara Asia, hak dan kewajiban media online (blogger termasuk?) juga Technical Workshop yang berkaitan dengan isu diatas.
Kebetulan saya ketemu dengan direktur dari SEAPA yg berkedudukan di Bangkok ini saat Global Voice Summit di London, Desember kemarin. Dan atas rekomendasi dari Global Voice juga, jadinya dapat undangan dengan tanggungan tiket dan akomodasi selama di Manila.
SEAPA sendiri didirikan oleh 5 organisasi jurnalis di Asia Tenggara, 2 diantaranya dari Indonesia yaitu The Alliance of Independent Journalists (AJI) dan The Institute for Studies on Free Flow of Information (ISAI). Semoga nanti bisa ketemu dengan orang Indonesia yang lain, yg berangkat dari Indonesia. :)
Konferensinya sendiri akan dilakukan di gedung pertemuan Asian Institute of Management di Makati, Metro Manila.
Mudah-mudahan ketika pulang nanti banyak informasi, pengalaman, ilmu dan tekhnik baru tentang jurnalisme yang bisa dibagi dan digunakan oleh para blogger, khususnya blogger Indonesia.
Atau minimal foto-foto deh hehehe.

brings more love
than words can say-
Love that holds you
close in thought
and close in heart
each day!
Happiness on Your Birthday
and Always!
Met ulang tahun mama. Katanya mama hari ini ulang tahun ya. Ke berapa? Rahasia ya? Hehe.
Beda ya ma, ulang tahun kali ini. Kan kali ini ada Gaga ya. Tahun lalu kan belum ada.
Ulang tahun, tahun lalu, Gaga masih di perut mama. Masih bayi.
Gaga mau ngasih kado sendiri sih, tapi kata Papa, udah kadonya satu aja, hihihi. Tahun depan, Gaga kasih kado sendiri yaaaa. :D
Met ulang tahun sekali lagi. Panjang umur, sehat selalu. Makasih buat jadi mama yang baik buat Gaga, maafin Gaga kalo suka ngeselin, Gaga kan masih kecil yaaa :D
Semoga tambah dewasa, tambah bijaksana.
Semoga segala sesuatu yang Mama harapin selalu tercapai, dikasih dan diberkahi sama Allah SWT. Amien. :)

Akhirnya setelah 34 hari demonstrasi marathon yang dimotori oleh People’s Alliance for Democracy (PAD) menuntut agar PM Thaksin Shinawatra mundur dari jabatan Perdana Menteri membuahkan hasil.
Tadi malam, di televisi setelah mengucapkan maaf karena menggunakan TV Pool (nah gitu kalo pake TV Pool minta maaf dulu karena mengganggu hehe) selama 15 menit Thaksin mengatakan bahwa dia tidak akan lagi menjadi PM pada pemerintahan yang akan datang.
Dia juga meminta maaf pada 16 juta orang, dari 28 juta pemilih yang sudah memilih partainya, Thai Rak Thai [Orang Thai Cinta Thai] pada pemilu dadakan hari minggu kemarin, 2 April 2006, karena mengecewakan mereka.
Tapi, dia menerangkan alasannya, kehadiran dia sebagai PM ternyata menyebabkan perpecahan diantara orang Thai, dan karena dalam waktu 60 hari, Juni nanti akan diadakan peringatan 60 tahun Raja Bhumibol Adulyadej menjadi raja, dan perlu persiapan matang, maka dia akhirnya memutuskan untuk tidak akan menjabat kembali sebagai PM.
Keputusan yang dia ambil setelah beraudiensi dengan Raja Bhumibol, yang besar artinya bahwa kemunduran ini disarankan juga oleh Raja.
Dengan kemunduran ini maka tuntutan para demonstran yang dimotori oleh Sondhi Limthongkul pemilik suratkabar besar di Thailand dan mantan pendukung Thaksin serta Chamlong Srimuang, demonstran kawakan, mantan jendral, mantan Gubernur Bangkok dan mantan mentor politik Thaksin berhasil sudah.
Dengan teriakan para pendemo “Thaksin Ok Pai!” yg artinya “Thaksin get out!”, maka tuntutan demonstran terfokus pada mundurnya Thaksin semata, sedang reformasi di bidang politik dan hukum, serta modifikasi konstitusi Thailand agar pemerintah lebih terkontrol oleh masyarakat masih jadi pertanyaan besar.
Hasil Pemilu Dadakan, 2 April hari minggu kemarin, masih menghasilkan Partai Thai Rak Thai (TRT) sebagai pemenang mayoritas. Yang artinya TRT masih akan memimpin Thailand hingga pemilu berikutnya lagi.
Demonstrasi Anti Thaksin, dipicu oleh penjualan perusahaan telekomunikasi Shin Corp milik keluarga Thaksin Shinawatra ke investor konglomerat milih pemerintah Singapura, Temasek Holding pada 23 Januari 2006 lalu.
Penjualan bernilai US$ 1.9 milyar [Rp 17.3 trilyun] ini, dimata kaum menengah Thailand, walaupun memenuhi syarat legal tapi dinilai tidak etis, karena memanfaatkan celah hukum yang baru disyahkan 2 hari sebelumnya oleh parlemen Thailand, yang memungkinkan pemindahan kepemilikan tanpa harus membayar PAJAK.
Karena demonstrasi yang berkelanjutan maka pada 24 Februari, Thaksin membubarkan Parlemen Thailand untuk mengembalikan mandat pada rakyat serta menjadwalkan pemilu kembali pada 2 April.
Thaksin yang mendapat dukungan besar dari kalangan bawah dari daerah pedesaan, yakin bahwa dalam waktu singkat (1.5 bulan), dia akan kembali memenangkan pemilu.
Dukungan kalangan bahwa ini, terutama di Chiang Mai di utara Thailand, kota kelahiran Thaksin, didorong oleh kenyataan kebijakan populis Thaksin selama dia memerintah yang memberikan banyak bantuan pada kalangan bawah, diantaranya: layanan kesehatan universal 30 Baht. Tidak peduli sakitnya apa, kecelakaan motor, diabetes dll. Layanan kesehatan bagi mereka yang tidak mampu ini, termasuk obat hanya men charge 30 baht saja (Rp 7,000).
Yang lainnya termasuk pinjaman mudah dan lunak untuk masing-masing desa, pembekuan pembayaran hutang selama 3 tahun, pembasmian pengedar obat terlarang (walau ini berbatasan dengan pelanggaran hak asasi, mirip petrus) dll.
Partai Oposisi dan elemen-elemen anti Thaksin menyatukan barisan dalam People’s Alliance for Democracy (PAD) menyerukan agar pemilih melakukan abstain atau memilih pilihan “NO VOTE” serta menyerukan bahwa pemilu kali ini adalah pemilu tanpa legitimasi.
Selama waktu tersebut demonstrasi berjalan terus, sebagian besar mengambil tempat di Sanam Luang, lapangan luas di dekat istana raja yang memang merupakan mimbar demokrasi jalanan di Thailand.
Minggu lalu, dengan dihadiri 200,000 orang, demonstran merubah strategi dengan melakukan demonstrasi berjalan yang berujung di depan lokasi turis dan perbelanjaan terkenal di daerah SIAM, dihadapan mall yang baru dibuka Desember lalu, Siam Paragon
Beberapa hal yang bisa dipelajari dari pengalaman Thailand 2006 diatas:
- Pemilu bukanlah demokrasi. Penguasa yang mendasarkan legitimasi berkuasanya pada diadakannya pemilu tidak bisa mengklaim berada dalam tatanan demokrasi sejati. Indonesia harus ingat akan ini dimana selama 32 tahun Soeharto sebagai presiden selalu menang dalam “pemilu”.
- Adalah mungkin mengusir penguasa dengan mempermalukannya. Strategi dengan asumsi penguasanya memang punya malu.
- Vox Populi tidak selamanya Vox Dei. Sadly this is true.
- Demonstrasi tidak selalu berujung pada kekerasan. Tidak ada kekerasan atau kericuhan yang berkaitan dengan demonstrasi selama aksi protes dilangsungkan. Dengan 100-200 ribu orang di jalan, ditandingin oleh kekuatan massa lain, kita akan mengira, minimal akan terjadi clash, tapi ini sama sekali tidak terjadi.
- Kehidupan tidak harus berhenti karena demonstrasi. Kalo ke Bangkok di saat-saat demonstrasi kemarin, maka dijamin akan heran karena secara sekilas tidak ada perbedaan yang terjadi. Orang tidak takut untuk keluar, kantor dan mall tetap buka, turis tetap datang. Bahkan hari ini ketika PM turun, tidak ada euphoria berlebihan.
- Militer tidak perlu ikut campur. Militer di Thailand membuat pernyataan di awal demonstrasi dengan mengatakan tidak akan ikut campur sama sekali dalam proses politik.
- Tangan-tangan kekuasaan tidak bisa turun di negara yang mengaku “demokratis”. PM Thaksin tidak bisa dan memang tidak memerintahkan untuk melenyapkan lawan politik, atau mengintimidasi dengan menangkap dan memasukkan ke penjara, karena image Thailand sebagai negara “demokratis”. Lain halnya dengan negara tanpa image demokratis yang harus dipertahankan.
- Negara bukan perusahaan. Tidak bisa menjalankan sebuah negara dengan gaya menjalankan sebuah perusahaan, kecuali kalo mau semi-diktatorial ala Singapura, karena rakyat tidak bisa dipecat.
- Punya Raja sangat menguntungkan sebagai pemberi jalan keluar kebuntuan politik. Dengan adanya Raja yang mengambil keputusan atau “menyarankan” agar satu pihak mengalah, maka tidak perlu ada pihak yang malu karena bisa beralasan bahwa keputusan yang dia ambil semata-mata karena raja dan rakyat seluruhnya. Hal ini berkali-kali terjadi dalam politik Thailand, dimana Raja menjadi pengambil kata akhir yang tidak lagi bisa ditantang oleh pihak manapun. Kelemahannya tentu hal ini sepenuhnya tergantung pada pribadi raja, disaat raja yang berkuasa tidak bijaksana, maka campur tangan raja pada situasi politik bisa berakibat fatal.
Kesimpulan:
Business as usual kemungkinan besar akan terjadi di Thailand, karena TRT tetap berkuasa, ini tergantung pada pemerintahan yang akan dibentuk nanti. Tapi memang minimal Thaksin tidak lagi ada di pucuk pimpinan, walau dia masih tetap akan menjadi anggota parlemen.
Tapi mudah-mudahan, ada pembelajaran (walau mahal) yang bisa diambil oleh orang Thai, dan oleh kita semua negara tetangga di Asia Tenggara ini.
Sekian laporan dari Bangkok, Thailand, the land of smile. Signing out for now hehe
Related Links:
- Foto-foto demo di The Media Slut
- Thaksin Get Out.org, kampanye online anti Thaksin
- Thaksin Shinawatra di Wikipedia
- Thaksinomics tentang policy ekonomi Thaksin












