March 2006 Archives

Sekali lagi, ini hanya untuk kepentingan umat semata. Setuju?
SETUJUUUUU
Nah begitu bagus. Apa jadinya nanti anak-anak kita, istri-istri kita, kakak adik kita kalo tanpa undang-undang dan peraturan ini. Apa jadinya negara kita ini, nanti akan menjadi negara tidak bermoral! Semua harus kita kontrol!
HAAAAAA KONTROOOOOOOOLLLLLL?
Eh bukan. Maksud saya harus kita kendalikan. Ibaratnya ya seperti kita mau memotong terong..
HIHIHIHI IH IH TEROOOOOOOONGGG!
Loh bukan-bukan, sodara-sodara maksud saya, misalnya ya undang-undang ini adalah pisau dan kita mau memotong wortel..
IH IH IH… WORTELLLLL!
Iya wortel! Kenapa wortel?! Jadi misalnya kita mau memotong wortel, kan kita ini sekarang di daerah yang banyak gunungnya ya…
HO HO HO GUNUUUUUUNG! GUNUUUUUUUUUUNG!
…Dan daerah yang banyak lembahnya juga..
HAUHAUHA LEMBAH! LEMBAH! LEMBAH!
Loh sodara-sodara jangan berpikir ngeres, ini saya bicara serius tentang masa depan kita. Kita harus berani dan percaya diri demi kemajuan kita bersama! Kita harus maju kedepan dan menunjuk ini dadaku!
HIHIHIHIHI.. DADA! DADA! DADA!
Loh bukan maksud saya… maksud saya… kita harus pokoknya! Pokoknya harus!
Dan ingat di pemilu mendatang Anda-Anda semua harus mencoblos partai saya ya!
IH IH IIIIIIIIIH COBLOOOOOOOOOOS!
Iya coblos… eh maksud saya colok…
HIHIHIH COLOK! COLOK! COLOK!
Ya ampun, bukan maksud saya ketika Anda-Anda masuk kamar…
HAHAHA KAMAR! KAMAR! KAMAAAAAAAAAAAR!
Tenang sodara-sodara, tenang! Mungkin saya salah melangkah dalam memilih kata-kata saya. Ijinkan saya memulai lagi.
Jadi tadi pagi saya sempat sarapan bersama istri saya, kami berdua sarapan lemper dan bakpau..
HUAHAUHAUA LEMPER! HUAHAUHAUHA BAKPAU!
Ya ampun, bukan-bukan! Maksud saya… Tenang! Tenang! Kita semua harus berpikiran jernih dan bersih! Ya?! Setuju ya bahwa berpikiran bersih itu penting?
YAAAA YAAAAA YAAAAA
Ya Tuhan, maksud saya. Coba kita pikirkan satu hal yang sama sekali bersih dan tidak membangkitkan syahwat. Coba sodara-sodara, mari kita menggali ke dalam diri kita untuk berpikir tentang… tentang… tentang sapi misalnya. Ya sapi!
HUAHUAHUA SAPI! SAPI! SAPI!
Loh iya sapi! Sapi kan binatang biasa toh. Hewan ternak yang kita makan dagingnya dan kita minum… susunya…
The mind is its own place, and in itself, can make heaven of Hell, and a hell of Heaven. —John Milton

Posting ini saya dedikasikan untuk kamu.
Bukan kebetulan kamu membaca posting ini, ini semua sudah ada yang merencanakan.
Sudah menjadi takdir bahwa kamu, hari ini, jam ini, menit ini dan detik ini akan membaca posting ini.
Jangan takut dan jangan kecewa, kamu tidak punya peran dalam rencana ini. Ini telah direncanakan jauh sebelum kamu tahu, sebelum kamu sadar.
Bahkan sebelum kamu lahir, takdir telah merencanakan peristiwa membaca posting blog ini dalam hidup kamu.
Jutaan kejadian dan kebetulan yang sudah ditakdirkan harus terjadi agar peristiwa ini bisa terjadi.
Tuhan, pada suatu momen dimana t = 0, harus merasa membutuhkan alam semesta dan menciptakannya dalam ledakan besar.
Planet bumi harus tercipta. Formasi gas, cairan dan batuan harus terbentuk dan mendingin.
Kehidupan harus terjadi dan muncul di planet baru ini. Asam amino harus menari, molekul-molekul organik harus menggeliat kegelian.
Mahluk hidup harus mencari jalan. Tumbuhan menghijau dan lautan harus menyurut.
Daratan menjadi arena baru perlombaan takdir ini.
Semuanya sudah ditakdirkan, agar kamu bisa membaca blog ini.
Dinosaurus harus punah karena meteorit yang harus datang. Abad es harus membekukan bumi.
Bangsa kera yang mendapat petunjuk harus meninggalkan pepohonan dan hidup di savana. Makin kuat dan makin cerdas. Bediri diatas dua kaki.
Api harus ditemukan. Keterampilan tangan membentuk alat berburu harus diahlikan.
Nenek moyang kita harus bertahan hidup di gua-gua dan berburu macan dengan gigi pedang.
Dewa-dewa harus punah, Hercules harus memberi jalan pada satu Tuhan. Nabi-nabi harus diturunkan dan penguasa-penguasa harus dinaikan.
Jutaan manusia harus mati dalam ribuan perang. Agama, kebudayaan dan ilmu pengetahuan harus disebarkan.
Benjamin Franklin harus iseng main layang-layang dan kesamber kilat. Vint Cerf harus cukup baik membiarkan TCP/IP jadi protokol tak berbayar.
Stalin dan Hitler harus kalah oleh tentara sekutu. Dan Indonesia harus merdeka.
Semuanya sudah ditakdirkan, agar kamu bisa membaca blog ini, membaca posting ini.
Ada 40 generasi dari kamu ke manusia pertama dan mereka semua harus hidup cukup lama agar kamu bisa lahir.
Ada jutaan sel sperma yang mencari telurnya dan kamu harus cukup ulet dan kuat untuk bisa lahir.
Kakek kamu harus ketemu dengan nenek kamu. Kakeknya kakek kamu harus ketemu dengan neneknya nenek kamu. Dan anak-anak mereka harus kuat hingga bisa melahirkan sehingga ada kamu.
Lupakan masalah keluarga, lupakan pacar-pacar lama. Ayah dan ibu kamu harus bertemu dalam hari yang tepat, menit yang tepat, sehingga takdir berkata ada kamu.
Kamu harus lahir sehat dan kuat, harus hidup, harus masuk sekolah, belajar membaca dan membuka mata.
Kamu harus kerja di kantor yang menyediakan akses Internet atau kamu harus punya uang, untuk membeli komputer atau masuk ke warnet.
Kamu harus tahu ada yang namanya Internet.
Kamu harus ngeklik link di feed reader atau di email kamu atau di bookmark kamu untuk sampai kesini.
Semuanya sudah ditakdirkan untuk terjadi, hanya untuk satu peristiwa.
Supaya saat ini kamu bisa membaca posting ini.
Sudah takdir bahwa posting ini berjudul Takdir, dan sudah takdir pula bahwa kalimat ini dimulai dengan kata “Sudah”.
Sudah takdir bahwa kalimat ini diakhiri dengan kata “sapi”. Dan sudah takdir kamu bingung kenapa harus “sapi”?
Sudah takdir juga bahwa gue punya blog dan bahwa hari ini gue ngeblog posting dengan judul “Takdir” ini.
Jutaan peristiwa yang sudah ditakdirkan terjadi harus terjadi, hanya agar kamu saat ini bisa duduk di depan komputer dan membaca posting ini.
Semuanya untuk sebab yang gue sendiri belum tahu kenapa…
Dan sekarang, sudah takdir bahwa posting ini akan berakhir disini dan sudah takdir bahwa kamu akan memberikan komen dibawah ini. :p












