February 2006 Archives

Abis baca judul diatas, kamu-kamu yang cewek pasti dengan semangat berkata “iya tuh!”, sedang kamu-kamu yang cowok paling tersenyum simpul dengan sorot mata ga bersalah sambil bersiul-siul “duu duuu duuu duuu” :p
Hehe, tapi sebelum kamu semangat ngasih komentar setuju atau ga setuju, coba kita garuk lagi pernyataan diatas.
Ketika saya menulis: “Semua laki-laki pembohong!” maka ada sesuatu yang aneh disitu, karena:
1. Saya seorang laki-laki
2. Saya berkata semua laki-laki pembohong
Maka dari dua elemen diatas terlihat kalimat “semua laki-laki pembohong” pun adalah sebuah kebohongan karena yang mengucapkannya adalah seorang laki-laki.
Artinya, semua laki-laki pembohong itu adalah bohong = semua laki-laki bukan pembohong?
Paradoks diatas dikenal luas diungkap oleh seorang filsuf dan penyair Yunani bernama Epimenides yang hidup diabad 6 sebelum masehi.
Epimenides, seorang Cretan, dilaporkan berkata: The Cretans are always liars.
Karena dia sendiri seorang Cretan, dan semua orang Cretan menurut dia adalah seorang pembohong, maka pernyataan Orang cretan selalu berbohong adalah juga tidak benar.
Contoh paling sederhana lain dari paradoks yang sama adalah kalimat:
Pernyataan ini salah
Kalo pernyatan diatas benar, maka seharusnya kalimat diatas mengandung kebenaran, tetapi kalimatnya sendiri sudah berkata bahwa kalimat tersebut salah. Maka pernyataannya jadi benar atau salah?
Kalau saya berkata “Saya berbohong”, maka apakah saya sedang berbohong bahwa saya bohong?
Kalo saya berkata “Jangan pedulikan kalimat ini”, maka apakah saya harus peduli pada peringatan jangan pedulikan kalimat tersebut?
Kita tidak bisa 100% berkata bahwa kalimat diatas salah atau benar. Yang terjadi adalah kontradiksi, karena sebuah kalimat bisa benar sekaligus salah dan bisa salah sekaligus benar.
Kalau begitu mana yang benar? Dan mana yang salah?
Hal yang paling mengganggu dari paradoks yang dikenal dengan nama Epimenides Paradox atau Liar Paradox ini adalah karena ia menunjukkan bahwa kepercayaan yang kita pegang erat tentang mana yang benar dan mana yang salah ternyata membawa kita pada sebuah kontradiksi.
Tulisan This is Not the Title of This Essay mencoba menjawab bahwa masalah dari Liar Paradox adalah self-reference.
Paradoks terjadi karena kita mengambil referensi dari diri kita sendiri.
Apa yang saya katakan salah, maka pertanyaan salah ini mengambil referensi dari kalimat itu lagi.
Paradoks diatas jadi masalah besar, terutama buat para matematikawan, dimana dunia adalah 0 dan 1 dan, sebuah pernyatan harus punya nilai jelas antara True (T) atau False (F).
Kurt G�del, di tahun 1931, menjelaskan problema self-reference diatas dalam sebuah teorema yang dikenal dengan nama G�del’s Theorem, yang mengatakan:
To every ω-consistent recursive class χ of formulae there correspond recursive class signs r, such that neither v Gen r nor Neg(v Gen r) belongs to Flg(&chi) (where v is the free variable of r)
Teorema G�del yang terlihat persis seperti sebuah paradoks sendiri (karena sumpah saya ga ngerti apa maksudnya hehe), pada intinya berkata bahwa niscaya kamu akan bertemu dengan kontradiksi kalo kamu melakukan self-reference atau kalaupun kamu melakukan self-reference pastikan kamu tahu bahwa itu adalah self-reference:) (btw jangan percaya sama G�del hehe)
Lalu buat kita yang bukan matematikawan dan bukan G�del apa artinya Liar Paradox ini?
Ada dua artinya.
Pertama, bahwa permasalahan ini adalah masalah khas manusia karena cuma manusia yg punya consciousness, dan cuma mahluk ber-consciousness yang bisa berbohong.
Kedua, berhati-hatilah ketika ada orang atau pihak yang meng-claim memiliki kebenaran dan benar 100% sehingga semua yang lain salah. Karena sudah kita sama-sama tahu bahwa benar dan salah adalah sebuah kontradiksi
Yang penting bukan benar atau salah karenanya, yang penting adalah percaya.
Tidak penting apakah kita benar dan dia salah, yang penting adalah ketika kita percaya kita benar (percaya? hehe).
Makanya, ketika kita berhadapan dengan sesuatu cuma ada dua hal yang bisa kamu lakukan.
Percaya itu benar. Atau percaya itu salah.
Atau.
Kamu bisa lakukan apa yang saya lakukan, tersenyum simpul dengan sorot mata ga bersalah sambil bersiul-siul “duu duuu duuu duuu” :p
Baru-baru ini New York Times menurunkan artikel dengan judul “Shutting Themselves In” yang bercerita tentang fenomena sosial di Jepang, dimana saat ini diestimasi ada 1 juta remaja, kebanyakan laki-laki di Jepang melakukan Hikikomori yang secara literal berarti withdrawal atau menarik diri.
Pada prakteknya para Hikikomori ini, yang rata-rata berusia 13-15 tahun, pada suatu hari masuk ke kamar mereka dan tidak mau keluar lagi hingga bertahun-tahun yang pada banyak kasus bertahan hingga lebih dari 10 tahun.
Masuk kamar dan tidak keluar lagi. Meninggalkan dan menutup diri dari dunia luar. Kebanyakan menghabiskan waktu dengan bermain game atau musik, atau menghabiskan waktu di depan komputer dan entah apa lagi yang mereka kerjakan di dalam kamarnya.
Hikikomori dimungkinkan salah satunya karena budaya Jepang yang memungkinkan seorang anak untuk tinggal bersama orang tuanya melewati masa remaja [familiar ya], dan juga karena pekerjaan orang tua memungkinan mereka untuk menghidupi anaknya tersebut.
Di sisi lain ada kekhawatiran orang tua bahwa sang anak tidak akan bertahan hidup diatas kaki mereka sendiri. Apa yang terjadi jika sang orang tua tidak bisa menghidupi para Hikikomori lagi? Para Hikikomori tidak memiliki teman, pengetahuan dan keahlian untuk hidup bersama orang lain, atau untuk mencari penghasilan mereka sendiri.
Tekanan lingkungan, terutama di sekolah, dan juga tekanan dari orang tua dan masyarakat disebut sebagai penyebab utama Hikikomori terjadi. Mereka yang tidak tahan lagi dari tekanan-tekanan ini kemudian melakukan Hikikomori, sebagai bukan suatu solusi, tapi mungkin sebagai upaya melarikan diri dan lari dari tekanan hidup.
Terus terang gue bisa ngerti perilaku Hikikomori. Berkali-kali gue melakukan Hikikomori dalam versi gue sendiri. Untungnya periodenya sangat pendek. Biasanya satu atau dua hari. Saat gue ngerasa udah males banget, lakukan Hikikomori, ga pergi sekolah atau ga ngantor. Dan, alhamdulillah besoknya gue ngerasa bisa lagi menghadapi dunia. Ga sampai Hikikomori sampai bertahun-tahun.
Tapi yang pasti proses withdrawal itu gue lakukan.
Hikikomori karenanya jadi fenomena yang cukup khusus ke terjadi ke cowok karena cowok rasanya ga punya kebutuhan besar untuk berbagi tekanan yang dirasakan seperti cewek. Cukup didiemin aja dan mudah-mudahan bisa hilang. Lari. Lari dari tanggung jawab dan lari dari kenyataan.
Yang menarik di dunia online kamu bisa melakukan Hikikomori lebih mudah. Tidak perlu proses masuk kamar. Jika tekanan dunia online sudah terasa sangat berat, belum lagi ditambah informasi overload kamu bisa tinggal lari dan meninggalkan identitas online kamu: Hikikomori Online.
Dan mungkin muncul dengan identitas online baru, tanpa beban dan tekanan dari identitas yang lama. Fresh, seperti baru lahir.
Di dunia International, mungkin Hikikomori juga ya yang terjadi pada beberapa negara yang merasa: “Perlu ga sih gue bergaul dan menerima tekananan dari banyak negara lain?” Apa ga bagusnya gue menutup diri aja, lari dari kenyataan sekitar? Kuba, Myanmar, Iran, Korea Utara: Hikikomori Bangsa.
Mungkin Indonesia perlu melakukan Hikikomori barang setahun dua tahun. Lupakan dunia luar sementara dan kerjain apa yang bisa dikerjain sendiri dengan sumber daya sendiri. Akankan jadi lebih baik atau lebih buruk saat kita keluar nanti?
Atau perlukah kita yang melakukan Hikikomori dari Indonesia? Mungkin itu sebuah bentuk yang gue dan teman-teman di luar negri lain lakukan.
Minggu lalu gue bercakap-cakap di Bangkok dengan seorang seorang teman yang akan bekerja di Vietnam. Hidupnya sudah lumayan stabil di Jakarta sebenarnya, mobil, rumah dan pekerjaan serta salary bagus. Entah kenapa menurut dia kok rasanya capek banget hidup di Jakarta.
Mungkin, gue mencoba menebak dan menjawab kebingungan dia, karena elu ga bisa cuek sama sekeliling elu. Setiap ada berita kriminal, kemiskinan, bencana alam, ketidakberesan, seketika itu pula terasa bahwa yang terjadi itu merupakan bagian dari identitas elu sendiri.
Di sini, di Bangkok. Gue bisa memilih untuk ga peduli kalo pemerintahnya korupsi. Kalo ada bencana alam, kalo ada yang ga beres, kalo ada yang kacau, karena gue cuma numpang disini bukan pemilik. Tekanan lingkungan itu lebih sedikit di sini karenanya.
Kalo elu pemilik elu ga bisa cuek. Kalo elu numpang elu bisa.
Atau kalo elu pemilik yang serasa atau berasa numpang elu bisa cuek dan lari dari tekanan.
Masalahnya sekarang, dia cerita lagi, gue ga yakin sebenarnya apa gue pemilik apa bukan?
Mungkin elu perlu melakukan Hikikomori kata gue.
Apa tuh? Dia bertanya.
Menutup diri.
Menutup diri dari diri sendiri?
Hikikomori Otak.












