June 2005 Archives

Ketika kita melihat realita disekeliling kita yang sering kita lakukan adalah mengkategorikan realita tersebut dalam berbagai kategori:
Laki-laki, wanita, anak-anak, orang tua.
Heteroseksual, homoseksual, gay, lesbian, transvestite, belum pasti.
Indah, jelek, biasa aja.
Benar, salah.
Pakar beneran, pakar boongan, pakar-pakaran dan banyak lagi.
Dengan cara ini realita menjadi lebih mudah untuk dimengerti, gampang dipelajari dan terlihat rapih.

Tertata rapih dalam sebuah struktur hirarki dengan bentuk seperti pohon yang bercabang-cabang.
Jika sebuah situs dapat dimasukkan dalam beberapa kategori, maka Yahoo! dengan baiknya melink kategori satunya lagi di kategori tersebut, terjadilah hubungan relasi antara beberapa kategori.
Ini realita kita. Dunia yang terbagi dalam kategori-kategori deterministik dimana setiap hal, setiap orang, setiap benda memiliki kategori, memiliki tempatnya.
O ya, kita bisa masuk dalam dua atau lebih kategori yang berbeda, tapi masih tetap dalam tatanan struktur hirarki tersebut.
Dulu mungkin begitu.
Clay Shirky dalam tulisannya Ontology is Overrated: Categories, Links, and Tags menggambarkan sebuah realita yang berbeda.
Yang dia contohkan adalah layanan social-bookmark yang namanya del.icio.us. Di layanan ini, berbeda dari Yahoo dengan struktur hirarki-nya yang dibuat oleh Yahoo, setiap situs tidak masuk dalam kategori tapi pengguna layanan ini bebas menempelkan tag-tag terhadap situs yang ingin mereka tandai. [My del.icio.us here http://del.icio.us/enda]

Blog ini misalnya: Enda Nasution’s Weblog bisa kamu beri tag: enda indonesia bandung blog male ngaco atau apa aja yang kamu mau.
Satu situs, satu hal, satu benda, tidak perlu jatuh hanya di satu kategori. Blog gue diatas bisa ditemukan dalam enda indonesia bandung blog male dan siapa saja yang menggunakan tag diatas akan menemukannya, dan siapa saja bebas menggunakan tag-nya masing-masing.
Tidak ada kategori, tidak ada struktur, tidak ada hirarki.
Lalu realita apa yang bisa diambil dari situ? Bukannya malah kacau ketika setiap orang bisa menempelkan tag-nya masing-masing? Ketika tidak ada struktur?
Ternyata tidak ketika dan hanya ketika ada cukup banyak orang yang menggunakan tag tersebut dan berbagi tag yang sama.
Ketika ada 200 [misalnya hehe] orang yang mem-bookmark blog ini, dan 100 diantaranya menandai [menge-tag] blog ini sebagai indonesia dan 50 orang bandung, maka blog ini 50% Indonesia dan 25% Bandung.
Blog ini tidak harus masuk dalam salah satu kategori Indonesia atau Bandung, tapi masuk di kedua tag tersebut dengan probabilitas 50% Indonesia dan 25% Bandung.
Dan begitu juga dengan situs-situs lain di Internet. Kategori sebuah situs tidak lagi tergantung pada editor direktori tapi terserah pada jumlah orang yang menge-tag situs tersebut [cek tag-tag paling aktif di del.icio.us: web design programming howto etc.]
Inilah realita baru yang lebih benar dan setia pada lingkungan disekeliling kita.
Tidak lagi sesuatu harus ditentukan secara deterministik hitam atau putih atau abu-abu sekalipun tapi dengan data yang cukup, maka kita bisa mengatakan bahwa sesuatu itu hitam 46%, putih 34% dan merah 20%.
Seseorang tidak perlu jadi laki-laki atau wanita. Tapi dengan data yang cukup kita bisa mengatakan dia laki-laki 80%, atau dia wanita 75%.
Seorang hakim di muka pengadilan tidak harus berkata “bersalah” atau “tidak bersalah”, tapi bisa berkata dia “85% bersalah” atau “34% bersalah”
Realita dunia, dengan cukup data dan informasi, dikuasai oleh rezim probabilitas dan sama sekali tidak deterministik.
Dengan data dan informasi yang cukup:
Tidak ada lagi cap dan kategori “kawan” dan “lawan”, tapi “kawan 96%” dan “lawan 43%”.
Tidak ada lagi “dia juara satu”, tapi “98% dialah juara satunya”.
Tidak ada lagi “saya paling benar”, yang ada adalah “saya benar 93%”.
Tidak lagi “ini kekerasan”, tapi “ini kekerasan 30% dan pendidikan 70%”.
Tidak ada lagi “dia itu pakar cybercrime yang terkenal itu ya?” Tapi “oh dia sebenarnya ga tau apa-apa”. :p
Tidak ada lagi “dia programmer atau manager?” Tapi “dia 45% programmer dan 55% manager”.
Tidak ada lagi “saya seorang blogger”, tapi “saya 30% blogger, 30% suami, 30% ayah dan 10% belum jelas”. :)
Tidak ada lagi “mainstream media” atau “blog”. Semua BLOG! :p
Tidak ada lagi 1 dan 0 semuanya fuzzy.
Tidak ada lagi kebenaran 100%. Karena tidak ada yang memiliki kebenaran.
Yesterday I dared to struggle. Today I dare to win. —Bernadette Devlin
Skinheads, mereka yang mencukur rambutnya hingga licin, sering diasosikan dengan gerakan Neo-Nazi atau Nazi Skinheads yang mana merupakan gera’an sosial dan politikal yang mendambakan kelahiran kembali Nazism yang rasis dan berdasarkan pada keunggulan ras arya.
Gerakan Neo-Nazi ini mengidentifikasikan diri dengan kesetiaan pada Adolf Hitler seperti pada seruan “Heil Hitler!” dan penggunaan simbol-simbol Nazi seperti swastika.
Kepopuleran gerakan ini di German, dipupuk dan digemari oleh kaum muda kulit putih di negara tersebut ketika mereka melihat sekeliling dan mendapati bahwa penghidupan mereka bertambah susah, ketika mereka harus bersaing dengan para pendatang.
Racism memang bukan monopoli orang German, setiap gerakan ultra-nasionalism dan extremism, berdasarkan ras, agama dan kebanggaan masa lalu lainnya, semuanya, didasarkan pada rasa takut melihat perubahan dan ketidakberdayaan merespon perubahan tersebut. Apakah itu di German, di US, di Australia atau di Indonesia.
Yang menarik justru bahwa original Skinhead bukan berasal dari German, dan tidak membawa misi racism sama sekali. Dari halaman Skinhead di Wikipedia dapat dibaca bahwa sejarah dari munculnya subculture skinheads ini dimulai di Inggris pada tahun 60-an.
Gera’an skindheads original di Inggris ini adalah manifestasi identitas dari kegelisahan anak muda kelas pekerja di Inggris sebagai reaksi terhadap kelas anak muda lain yang berasal dari kelas yang lebih berada.
Ketika The Mods, subculture kelas atas, menandai diri mereka dengan aksi kosumerisme dan kecintaan pada musik, style dan scooters, maka The Skinheads menandai diri mereka dengan sepatu boots, jeans ketat dan.. skind heads alias kepala gundul.
Selain kepala botak dan atribut kelas pekerja lainnya, para skinheads juga terkenal karena sikapnya yang menolak otoritas dan sebel pada pemerintah serta korporasi.
Budaya skinhead meledak pada 1969 dan pada pertengahan 1970-an melahirkan Punk Rock. Generasi Punk Rock pun lahir.
Di tahun 2005 ini sebuah gera’an yang juga berakar pada britain working class struggle telah kembali lahir dengan atribut yang sama, kepala gundul.
Cekinhead, dia menamakan dirinya, tidak muncul karena ketakutan akan lingkungan seperti para Neo-Nazi skinhead, dan bukan juga merupakan subculture dan reaksi terhadap golongan anak muda kelas atas manapun.
Dia tidak mengenal kelas, tidak mengenal lelah dan tidak takut terhadap apapun.
Cuma ada dunia di depannya dan perjuangan yang dia lakukan baru sebatas mengangkat kepala ketika tidur telungkup serta sorotan mata antusias ketika berhadapan dengan susu ibunya.

“Ini dadaku!” kata sang cekinhead, “Aku ciap menghadapi apapun” serunya.
“Jangan telat beri aku cucu ya, kalo tidak aku akan menangis cekeras-kerasnya”
Watchout the world and skinheads everywhere, CEKINHEAD is coming.












