January 2005 Archives

Tentang nakal, batas dan dosa

| | Comments (39)
apakah kamu nakal?
The purpose of life is to fight maturity. —Dick Werthimer

Dari kita kecil kita selalu diajarkan bahwa kita mendapat skor negatif alias DOSA untuk setiap perbuatan jahat dan tidak baik yang kita lakukan.

Orang jahat, yang kelakuannya jahat punya banyak dosa. Makin jahat seseorang, maka makin berdosalah dia.

Jadi jangan berbuat jahat. “Hindarilah kejahatan..” kata kitab suci dan orang-orang tua nan bijaksana.

Nah, kalo kita dilarang dan berdosa ketika kita jahat, bagaimana kalo kita tidak jahat tapi… nakal?

Ada sih “nakal” yang memang udah jelek banget konotasinya, cewek nakal, polisi nakal, petugas nakal, wartawan nakal, politisi nakal, si kancil anak nakal, nyamuk-nyamuk nakal dan lain-lain. Ini adalah orang2x yg udah lebih lagi nakalnya dari nakal biasanya, dan punya konsekwensi penjara juga.

Tapi.

Apakah jahat = nakal? Rasanya nggak.

Apakah nakal = jahat? Rasanya juga nggak.

Tapi kok mirip. Hehe. :)

Pengalaman pertama kenakalan kamu pasti terjadi waktu kamu kecil. Kamu pasti udah ga inget, tapi kalo kamu tanya sama ortu kamu apakah kamu nakal atau ga waktu kamu kecil, jawabannya pasti: “Nakal, nakal, nakal. Kamu waktu kecil itu naaaaakaaaaaaaal banget!”

Ga nurut, ga mau diem, ga bisa dilarang.

Bonyok kamu bilang gitu, tante kamu bilang gitu, tetangga kamu bilang gitu, apalagi PEMBANTU kamu, PASTI bilang gitu. :D

Tapi coba inget-inget, kapan terakhir kali ada yang bilang kalo kamu nakal? [gue minggu lalu, waktu gangguin Abel hehe]

Pasti malem minggu kemaren kan, waktu lagi pacaran dan kamu sibuk “usaha”! [Hakahkahakkaka]

Anyway, society juga punya hubungan love and hate dengan yang namanya nakal, bandel dan baong.

Ketika kita nakal, disuruh jangan nakal, tapi kalo ga nakal, apalagi anak kecil [apalagi kalo cowok] wah, justru harus nakal. Bukan anak cowok kalo ga nakal katanya. Gimana sih? :)

Mungkin kebingungan ini lahir karena dalam kenakalan ada niat [yang sering kali kekanak-kanakan] untuk meregang batas-batas norma, hukum dan aturan, sejauh-jauhnya yang mana pada gilirannya, entah gimana, ada gunanya. [?] :)

Kenakalan rasanya adalah bagian dari kemanusiaan, sesuatu yang manusiawi. Sebaliknya dari hidup yang bersih, licin, terang benderang dan sterile.

Bener ga sih? Kagumkah kita pada orang-orang yang bisa “nakal”? Atau dunia akan lebih baik jika jenis kenakalan seperti apapun dilarang oleh hukum. Singaporism? Really?

Kalo gue harus membayangkan tokoh nakal yang muncul di otak gue adalah Tristan Ludlow dan Chairil Anwar. Yang satu kerasukan nyawa beruang sampe harus berkelana sampe New Guinea, yang satu meninggal karena raja singa tapi masih dipuja bahkan oleh Rangga dan Cinta.

Kalo boleh memilih, mungkin gue akan memilih buat at least sedikit nakal, berdoa dikasih kemampuan itu buat selalu punya tenaga buat berjalan di batas-batas terluar aturan dan norma sambil masih having fun melakukannya.

Kalo bisa memilih, gue akan memilih untuk berharap untuk selalu tahu batas-batas mana yang bisa gue dorong-dorong sejauh-jauhnya dan batas mana yang harus kita buang sekalian. :)

Kalo harus memilih, maka nanti kalo anak gue nakal, gue akan tersenyum diam-diam, mengucapkan rasa syukur dan berharap kualitas nakal itu akan selalu bersamanya, tapi tentunya sambil gue marahin dan omelin, “Nakal, nakal, nakal. Kamu ini ga nurut, ga mau diem, ga bisa dilarang!!” :D
 

BUKTI

| | Comments (43)
trust.jpg
Faith is believing what you know ain’t so.. :)

Setiap tahun majalah Edge.org mengajukan pertanyaan pada para saintis dan pemikir lainnya untuk dijawab. Di tahun ini pertanyaan mereka adalah “What do you believe is true even though you cannot prove it?”

Apa yang kamu percaya BENAR walaupun kamu tidak bisa membuktikannya?

Pertanyaan sederhana tapi dalem ini dijawab oleh 120 saintis, pemikir dan peneliti [bisa kamu lihat disini] dan mendapat ratusan respon di Internet serta dari berbagai media massa.

Berbagai jawaban dari berbagai bidang didapat, dari yang lumayan umum seperti misalnya seorang saintis yg percaya pada true love hingga hal yang kayaknya agak-agak rumit seperti “Tuhan” atau misalnya percaya bahwa pada manusia selalu melakukan pilihan tidak rasional ketika harus memilih hal-hal penting: karir, pasangan, jurusan.

NAH! Yang lucu adalah: Apa hebatnya pertanyaan diatas tadi? Apa yang luar biasa?

Yang gue tangkap sekilas, pertanyaan tadi jadi “heboh” karena para saintis, peneliti dan akademisi ini adalah mereka-mereka yang kerajingan dengan BUKTI. Mereka yang ga akan ngeluarin pernyataan apapun tanpa BUKTI NYATA [bubuk tai dina mata], yang gandrung, yang tergila-gila pada apa yang namanya prove.

Dan [rupaya ini yg lucu, aneh dan heboh] ketika mereka ditanya ada ga sih yg kamu percaya benar, tapi ga ada [atau belum ada] buktinya? Ternyata ada.

New York Times, di artikel yang membahas pertanyaan ini malah sampe niat harus nulis besar-besar “Scientists Take a Leap”.

Adalah sebuah demonstrasi “luar biasa” ketika mereka ini ternyata juga punya [GASP!]: FAITH.

Punya “kepercayaan”, punya “keimanan” terhadap sesuatu yang mereka TAHU, tidak bisa mereka buktikan tapi mereka IMAN bahwa hal tersebut benar adanya.

Kalo kita gimana?

Oh jangan kuatir. Dalam pendapat gue, kita [apapun “kita” disini artinya], hidup dalam dunia sebaliknya dari mereka.

Kalo mereka hidup dalam dunia BUKTI, dalam dunia kepastian. Kita hidup dalam dunia keimanan, dalam FAITH, dalam sisi dunia lainnya.

Kita percaya dengan apa yang ditulis oleh para teman jurnalis di media massa. Kita percaya dengan janji-janji anggota DPR dan mentri. Kita percaya dengan ancaman pengkhotbah di mimbar-mimbar. Kita percaya dengan celotehan selebritis di layar tivi. Kita percaya dengan forward-an email di milis-milis dari email2x gratisan [hekehke!!].

Padahal tidak ada bukti yang menyertai.

Kita terlatih untuk percaya.

Pada orang tua, pada guru, pada dosen, pada sesepuh, pada ketua RT, pada “pemimpin”, pada kyai, pada pacar, pada iklan, pada do’a.

Padahal tidak ada bukti yang menyertai.

Dan apakah kamu pengen tahu apa sebabnya? Kenapa kita begitu mudah percaya. Begitu mudah beriman tanpa menuntut? Begitu gampang menggangguk tanpa membuka mulut?

Buat gue, karena rasanya kita tidak sanggup untuk tidak percaya, tidak sanggup untuk tidak beriman.

Tidak sanggup, untuk meminta bukti dan menangguhkan keimanan kita hingga bukti tadi muncul.

Tidak sanggup untuk tidak percaya ketika teman bicara kita memulai kalimat dengan “Pokoknya…”.

Ada dorongan kuat yang mendasar di dalam diri kita, keinginan raksasa untuk… percaya.

Jadi, kembali ke pertanyaan majalah Edge.org diatas tadi. Apa susah, apa istimewa. kalo pertanyaan itu diajukan pada kita, saya, kamu dan Anda?

Hehe.. rasanya ga ya. Karena begitu BANYAK hal yang kita percaya BENAR tapi kita ga punya BUKTI-nya.

Termasuk gue.

Dibawah ini hal-hal yang gue percaya, gue imani adalah benar, walau gue ga punya buktinya:

  • Gue percaya, bahwa manusia pada dasarnya memiliki karakteristik yang cenderung pada kebaikan, sehingga bagaimanapun rasanya begitu banyak berita brengsek tentang “kita” yang kita dengar gue percaya semua itu karena faktor luar dan bukan karena manusianya jahat.
  • Gue percaya, bahwa dengan usaha dan apa yang kita punya sekarang Indonesia dan dunia insya Allah akan selalu jadi baik, akan selalu sanggup berkelit dari perangkap kesempitan otak dan mampu memperbaiki diri terus menerus, karena inilah tempat dimana gue, kamu, kita dan Anda akan membesarkan anak dan cucu kita.
  • Gue [masih] percaya, sama kita.
     

Gimana kamu? :)

Apa yang kamu percaya BENAR tapi kamu ga punya BUKTI-nya?
 

Noda Kemanusiaan

| | Comments (39)
noda kemanusiaan
Akhir tahun lalu gue sempet nonton The Human Stain yang maen Anthony Hopkins dan Nicole Kidman. Film yang berasal dari novel dengan judul yang sama ini bercerita tentang hidup seorang kulit hitam, yang saking putihnya warna kulitnya, dia bisa berpura-pura dan akhirnya mengambil identitas serta hidup sebagai seorang kulit putih. Kenyataan yang dia sembunyikan selama hidupnya.

Philip Roth yang menulis novel ini [gue belum baca] kind of a big deal di US sana. Buku-bukunya yang dianggap sebagai sastra sana, banyak yang mendapat penghargaan. Filmnya sendiri yah biasa aja buat gue. Ga gimana gitu. Maksudnya gue ga nangkep what so big deal about the story? :)

Setelah baca-baca dari sumber lain baru gue ngerti apa yang dia maksud dengan Human Stain disitu.

Setiap novel yang ditulis Philip Roth dimulai dengan sebuah IDE. Dalam Human Stain, IDE-nya adalah bahwa setiap manusia dalam masanya dia berjalan di muka bumi ini selalu dan setiap saat meninggalkan noda, meninggalkan sisa.

Dari napas yang kita keluarkan, dari jejak langkah yang kita tinggalkan, dari partikel kulit yang kita jatuhkan, dari rambut yang jatuh, dari suara yang keluar dari mulut kita.

Manusia modern karenanya punya “jatah” lebih dalam usaha penodaan segala yang murni dan bersih di bumi ini.

Setiap pikiran yang kita utarakan adalah “noda” kita di bumi ini. Setiap gambar, setiap kata, setiap tulisan adalah “kotoran” kita yang kita tinggalkan untuk generasi yang akan datang.

Apalagi di jaman ini.

“Noda” itu jadi segala sesuatu yang tercecer atas nama kita.

Kalo kamu seorang komentator, setiap komentar yang kamu keluarkan. Kalo kamu seorang pejabat, setiap janji yang kamu gantungkan. Kalo kamu seorang jurnalis, setiap berita yang akhirnya terbit dan dibaca banyak orang. Kalo kamu seorang pemusik, setiap lagu yang kamu senandungkan. Kamu kamu seorang lelaki, setiap rayuan yang kamu kumandangkan.

Kalo kamu seorang penulis, setiap buku yang kamu terbitkan. Kalo kamu seorang filmmaker, setiap film yang kamu produksi [sukses Janji Joni-nya jok hehe]. Kalo kamu seorang penyair, setiap puisi yang kamu ciptakan.

Setiap gosip yang kita sebarkan, setiap email yang kita forwardkan, setiap upaya kita dalam mencari kepopuleran.

Kalo kamu seorang blogger, setiap entry yang kita post-kan.

Ah.

Kenapa harus mulai peduli?

Mungkin gue mulai tua.
 
 

Selamat tahun baru semua. Di tahun baru ini gue akan mencoba mengurangi jumlah kotoran yang gue bagikan ke kamu semua. :)

Nothing was solved when the fight was over, but nothing mattered. -Fight Club

Enda Nasution's Facebook profile
TEDIndiaFellows 2009

Twitter Visitors


About this Archive

This page is an archive of entries from January 2005 listed from newest to oldest.

December 2004 is the previous archive.

February 2005 is the next archive.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Barack Obama Logo

Join My Community at MyBloglog!

View blog authority

Powered by Movable Type 4.01




Pesta Blogger 2010

I'm attending Pesta Blogger 2010


Global Voices 2010



KoinKeadilan.com Prita



Pesta Blogger 2009



Blog Action Day 2009



Justice for Prita!



100 Days Obama



Support Wikipedia

Wikipedia Affiliate Button