December 2004 Archives

Pengakuan Seorang Pemalas

| | Comments (92)
Pemalas
Hai.

Nama saya tidak penting. Saya laki-laki, dilahirkan 30 tahun yang lalu di Jakarta, dengan bintang Leo. In relationship, punya pekerjaan bagus. Tinggal sendiri di kota besar ini.

Kamu tidak kenal saya, saya juga tidak kenal kamu. Saya orang baru disini.

Di tulisan ini saya mau mengakui sesuatu tentang diri saya yang tidak ada orang lain yang tahu.

Yaitu, saya, seorang pemalas.

Saya memulai hari dengan malas. Setiap bangun yang pertama kali saya pikirkan adalah, apa saya harus masuk kerja? Berapa hari lagi jatah sick leave saya? Dan kenapa sih orang harus kerja?

Dan kalo pun akhirnya saya bangun, mandi dan pergi ke kantor itupun saya lakukan dengan terpaksa dan dengan satu tujuan: sebisa mungkin tidak mengerjakan apa-apa hingga jam pulang kantor tiba!

Oh jangan khawatir, banyak hal yang bisa dilakukan dikantor sambil terlihat kerja. Ada ruang pantry tempat berlama-lama membuat kopi sambil ngobrol, ada meeting berjam-jam dimana kamu cuma perlu duduk manis, ada lunch hour, (!) really loooong lunch hour. Dan ada komputer dan internet (ah penemuan yang brilian luar biasa) dimana kamu bisa duduk berjam-jam terlihat bekerja padahal sibuk mem-forward email lucu (yang kadang jorok) ke teman-teman kamu.

Kalo satu hari terbuang percuma maka saya akan menepuk dada dan memberi selamat pada diri saya sendiri. Selamat bung, kamu berhasil membuang waktu sehari penuh tanpa kerja!

Ya saya seorang pemalas, keahlian saya adalah membuang-buang waktu.

Oya jangan salah, tidak ada yang tahu tentang hal ini, tidak teman kerja saya, tidak boss saya. Sepengetahuan saya, semua orang menyangka saya seorang yang normal. Tapi mereka salah.

Kuncinya adalah, cukup mengerjakan pekerjaan yang benar-benar harus disaat yang benar-benar penting. Di luar itu, jangan kerja! Cukup duduk manis di depan komputer, berpakaian rapih dan terlihat sibuk.

Saya bukan orang yang bodoh, justru karena saya pintar maka saya malas dan menerima tawaran pekerjaan ini (saya terlalu malas buat ngirim-ngirim lamaran).

Saya malas kuliah dulu, tapi didaftarkan oleh orang tua saya. Saya lulus karena berpegang pada prinsip kemalasan saya tadi, mengerjakan hanya hal yang harus dikerjakan.

Ya saya seorang pemalas, dan saya tidak sendirian.

Sudah dengar cerita tentang lomba malas sedunia? Intinya kira-kira begini.

Tiga pemenang lomba malas sedunia diwawancara dalam sebuah talk show.

Juara 3 ternyata ditempati oleh orang yang tidak makan dan minum selama 12 hari karena untuk makan saja dia MALAS. Juara 2 ditempati oleh orang yang tidak buang air besar selama sebulan, dan menurut pengakuannya, itu dia lakukan karena dia MALAS.

Dan ketika kamera beralih ke juara 1, ternyata sang pemenang sedang menangis tersedu-sedu.

"Kenapa?", tanya si pembawa acara, "Kok malah sedih? Harusnya Anda senang dong menjadi juara 1."

"Oh bukan itu, saya senang kok juara. Ini ANU saya kejepit di resleting", jawabnya sambil terus tersedu-sedu.

"Loh!? Terus kenapa tidak dibuka?", tanya pembawa acara keheranan.

"Abis saya malaass".

Saya seorang pemalas, dan website favorite saya adalah malesbanget.com

Bukannya saya tidak punya inspirasi atau cita-cita. Saya merasa banyak orang yang salah paham tentang pemalas dan saya ingin membenarkan pandangan itu.

Sekitar tahun 2001-an saya sudah mau mulai membeberkan true story ttg para pemalas dalam bentuk artikel, buku dan seminar-seminar, sayang terus sayanya malas.

Dan karena itulah, sejak Januari 2004 saya memulai menulis pengakuan ini untuk meluruskan permasalah kemalasan itu. To keep the record straight. Akhirnya setelah 11 bulan, karena nulisnya males-malesan, pengakuan ini syukur rampung juga.

See, untuk hal-hal penting, selesai juga kok akhirnya. Bukannya saya tidak punya prioritas buktinya saya punya pekerjaan tetap, punya pacar, punya kehidupan.

Saya seorang pemalas, dan tokoh favorite saya adalah Kabayan.

Dunia penuh oleh para pemalas, bukankah pepatah mengatakan laziness is the mother of all invention?

Orang malas jalan, maka diciptakanlah mobil, orang malas membuat tabel dan menghitung dengan sipoa maka terciptalah Excel, orang malas memasak maka terciptalah instant food dan microwave.

Tanpa para pemalas, dunia ini akan tetap di jaman batu.

Jadi tidak ada yang salah dengan berlaku malas. Mungkin saya akan menciptakan sesuatu, mungkin sebuah robot yang persis saya yang akan mengerjakan segala sesuatu yang harus saya kerjakan.

Ya saya seorang pemalas, dan utopia saya adalah dunia penuh robot dimana saya bisa hidup di dalam mesin mimpi.

"Apakah kamu bahagia?", kamu mungkin bertanya, "bukankah kebahagiaan, salah satunya datang dari rasa kepuasaan disaat kamu mengerjakan sesuatu, disaat kamu tahu ada hasil dari yang kamu kerjakan, ada reward, perasaan puas (wekdor)?"

Oh terima kasih, tapi saya tidak punya waktu (!) untuk memikirkan kebahagiaan saya cukup sibuk mempertahankan kemalasan saya.

Saya cukup senang (apakah bahagia itu senang? bukan, senang itu hitut dina se'eng) dengan hidup saya sekarang.

Di akhir sebuah hari, jika saya berhasil tidak mengerjakan apa-apa di hari itu maka saya akan merayakan hari tersebut dengan makan malam yang enak dan menghibur diri dengan cara apapun.

Kadang sendiri, kadang dengan teman yang tidak merepotkan atau dengan pacar yang tidak menyusahkan, tapi seringkali sendiri. Orang lain adalah pekerjaan dan saya malas mengurusnya.

Habis itu saya akan pulang kerumah, memarkirkan mobil ke garasi rumah saya yang tidak pernah ditutup (males nutupnya), masuk ke tempat tidur, melihat langit-langit, mengingat lagi bahwa hari ini saya tidak mengerjakan apa-apa. Satu hari lagi terbuang percuma dan saya pun menangis tersedu-sedu.

Tidak apa, tidak apa, saya tidak apa-apa, tinggalkan saja saya, saya butuh sendiri, saya sudah terbiasa dengan rasa sakit ini.

Anu saya sudah kejepit resleting sejak 7 tahun yang lalu. Tiap pagi robot saya menjepitkan anu saya di resleting, dan tiap malam dia melepaskannya lagi.

Ya saya seorang pemalas.

Dan inilah pengakuan saya.

 

NGIMOD (A tribute to Kiki Sagir)

| | Comments (28)
ngimod1.jpg
Sudah dari jaman dulu umat manusia selalu terobsesi dengan yang namanya mimpi. Karena bentuknya yang macam-macam, dari yang aneh, yang realistis, yang blur, yang basah (!!? hehe) serta yang pada intinya sih ga jelas, maka mimpi jadi barang yang terus menerus jadi bahan penelitian.

Ada yang berpendapat bahwa mimpi itu adalah alam bawah sadar yang mengambang ke permukaan kesadaran saat kita tidur. Sebagian orang bilang mimpi punya kemampuan meramalkan kejadian di masa depan. Mimpi itu tanda. Menurut primbon, seorang gadis memimpikan ular misalnya berarti akan mendapat jodoh (ular = cowok, get it? hehe) sedang kalo kamu bermimpi pergi ke WC yg kotor (katanya) itu berarti kamu akan berutung (kok bisa??). Bahkan soal mimpi ini, banyak cerita di buku dan kitab-kita agama tentang mimpi yang berupa pesan gaib.

Mimpi bisa jadi hal yang menyenangkan (basah!!? hehe) atau hal yang ga enak, misalnya kalo mimpi serem, atau bisa juga jadi pengalaman yang luar biasa ga enak.

Baru-baru ini gue diingetkan lagi pada sebuah konsep yang berhubungan juga dengan so called mimpi. Konsep yang berdasarkan pada filosi fatalistis ini berhubungan dengan sebuah hukum (yg pernah dibahas disini juga) yaitu hukum Murphy atau Murphy's Law, yang menyatakan bahwa segala sesuatu kegagalan yg mungkin terjadi akan terjadi.

Sejarah umat manusia karenanya, selain penuh mimpi, juga penuh kegagalan. Kegagalan yang berarti sesuatu yg jelek yang terjadi yang tidak kita sangka-sangka. Dan tanpa sebab, entah karena nasib, karena apes atau karena hal lain yang tidak bisa kita kontrol.

Dan ketika ini terjadi (jangan sampeee ama gue he) tidak ada yang bisa kita lakukan. Yang bisa kita lakukan cuma (mungkin) menyangkal, menghela nafas, memaki-maki, menolak dan akhirnya menerima (tidak selalu dalam urutan ini).

Lalu apa hubungannya dengan mimpi?

Ternyata menurut penelitian bertahun-tahun para pakar dan pengalaman orang bijak dari dulu hingga sekarang yang diturunkan dari generasi ke generasi, mengalami nasib buruk atau apes itu dekat rasanya dengan sebuah mimpi.

Nah gue belum pernah merasakan mimpi ini :) tapi katanya mimpi ini adalah the worst kind of dream you can dream of.

Yang gue maksud disini adalah mimpi buang air besar, atau mimpi boker. Atau dalam bahasa Sunda (mohon maaf) disebut ngimpi modol ... (hence the singkatan = ngimod) :P

Saking ga enaknya pengalaman ngimod ini dan karena sifatnya yang tidak bisa dikendalikan (karena siapa yang bisa ngendalikan mimpi?), sampe-sampe ketika kamu apes, sial, bernasib buruk atau kena sesuatu yang jelek, ekspresi yang bisa kita bandingkan dengan keapesan itu adalah: ngimod.

Misalnya kamu lagi ujian akhir di mata kuliah yang kamu harus lulus dan dosennya superduper galak. Kamu udah belajaaarr keras (padahal biasanya ga pernah), udah beli buku, udah latihan soal. Segala sesuatu udah kamu kerjain. Pas hari ujiannya, kamu bangun, mandi, senyum-senyum dengan penuh percaya diri, datang ke kampus, masuk ke kelas dan si pengawas ujiannya dengan bengong bilang ke kamu:

"Loh mas ini bukan Analisa Struktur 9, kalo ujian itu udah kemarin, lah si mas ga punya jadwalnya apa?"

Jreng jreng.

Nah dalam situasi seperti itu, ketika temen kamu denger apa yg terjadi sama kamu, ekspresi yang pas diucapkan (dan dengan penuh simpati serta kedalaman perasaan) adalah:

"Ah itu mah, (maaf) ngimpi modol ajah namanya..." :D

Ada keputusasaan disana, ada ketidakberdayaan, tapi ada juga sedikit (sangat sedikit) elemen ke-optimisan bahwa apa yang terjadi sama kamu (yang intinya sih mau gimana lagi?) juga bisa bikin ketawa, terutama bisa bikin ketawa temen-temen kamu, yang gue jamin ketawanya pasti pada enak banget semuanya. :D

Tapi ya tadi itu, mau gimana lagi? "Ya sudahlah", kamu bilang itu sama diri kamu, sedang disekeliling kamu temen-temen kamu ga berhenti ketawanya.

"Mungkin memang harus begitu", kamu yakinkan diri kamu, percaya sepenuhnya bahwa itu bukan salah kamu sambil temen kamu masih mengucapkan, "Ngimoooooddd, ngiiimoooodd" ga berhenti berhenti.

"Pasti masih ada jalan lain", kata kamu di dalam hati. Minggu depan, saat kelas sebelah giliran ujian mata kuliah yang sama, kamu merencanakan untuk ikut ujian dengan mereka, toh nanti dosennya sama, dinilai sama. Tidak masalah saya ikut ujian di kelas saya atau tidak?

Betul juga, kamu tersenyum meninggalkan temen-temen kamu.

Minggu depan datang, kamu yakin kamu sudah mengusai materi ujiannya 100% (700% malah kalo boleh), kamu bangun pagi, mandi, siap-siap, penuh percaya diri datang di kampus, kamu cek lagi peralatan ujian kamu. Lengkap.

Ruang kelas sudah keliatan dari jauh. Terbayang di benak kamu muka temen-temen kamu yang ngejekin kamu ngimod minggu lalu. "Heh," kamu pikir, "kita liat siapa yang ngimod sekarang."

Kamu buka pintu kelas, kamu langkahkan kaki kamu mantap, tegap, teguh, jujur, bersahaja dan sekali lagi si pengawas ujian (masih sambil bengong bilang ke kamu):

"Loh mas ini Teknik Beton 3.5, ujian Analisa Struktur 9 tadi pagi jam 07.00, wah salah si mas. Percis minggu lalu ada juga mahasiswa yang salah jadwal ujian, mas kenal?"

Nah teman-teman, pada situasi ini bahkan "ngimod" pun tidak cukup untuk menggambarkan ke-apesan yang terjadi sama kamu. Kita perlu ekspresi lain yang lebih luar biasa daripada sekedar ngimod.

Kita perlu "super ngimod", kita perlu "ngimod to the max", kita perlu "nguiimhooodd", tapi tetep aja bagaimanapun kamu berusaha mencari ekspresi yang menggambarkan perasaan kamu, ekspresi itu tetep ga ketemu.

Sampai akhirnya temen kamu, setelah mendengar cerita kamu, dengan senyum lebar tidak kuat menahan tawa, menyumbangkan solusi yang cuma bisa diberikan oleh seorang sahabat sejati.

"Itu mah bukan (maaf) ngimpi modol lagi, itu mah ngimpi modol pas dicabak aya'an!!"

Bayangkan saudara-saudara, kamu sedang tidur, kamu bermimpi. Kamu mimpi buang air besar, boker. Kamu ngerasa tersiksa banget karena kamu GA MAU mimpi boker. Tapi akhirnya dalam mimpi kamu boker juga.

Sesaat kemudian kamu bangun, kamu merasa lega karena itu cuma mimpi, tapi kamu mulai curiga karena mimpinya terasa sangat nyata.

Kamu menjulurkan tangan kamu ke celana, dan ternyata memang ada...

Itulah artinya.

Itulah rasanya*

"Ngimpi modol pas dicabak aya'an!!"

NGIMOD! :p

Enda Nasution's Facebook profile
TEDIndiaFellows 2009

Twitter Visitors


About this Archive

This page is an archive of entries from December 2004 listed from newest to oldest.

November 2004 is the previous archive.

January 2005 is the next archive.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Barack Obama Logo

Join My Community at MyBloglog!

View blog authority

Powered by Movable Type 4.01




KoinKeadilan.com Prita



Pesta Blogger 2009



Blog Action Day 2009



Justice for Prita!



100 Days Obama



Support Wikipedia

Wikipedia Affiliate Button